Tuhan dan Homoseksual (Tuhan yang Sama, Kita yang Berbeda)

gay-repent

Beberapa tahun terakhir saya banyak menulis tentang gender dan orientasi seksual di blog pribadi. Suatu hari saya mendapati ada komentar pada tulisan saya yang berjudul “Homoseksual Bukan Gangguan Kejiwaan, Tapi Homophobia”. Komentar yang sangat panjang (sekitar 850an kata) itu bertabur ayat-ayat Alkitab yang mengupas tuntas tentang homoseksual.

Dia pasti sudah tahu bahwa saya beragama Kristen sehingga dengan begitu antusias memaparkan banyak ayat-ayat Alkitab untuk mendukung ketidaksetujuannya terhadap homoseksual. Awalnya ada rasa malas menanggapi komentar tersebut, tapi akhirnya saya balas seperti ini.

Dari penjelasan Anda yang panjang lebar itu, saya menyimpulkan bahwa Anda menganggap hanya heteroseksual yang normal di mata Tuhan, sedangkan homoseksual adalah kekejian. Pandangan seperti ini tidak sejalan dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Kuasa dan semua ciptaan-Nya sempurna adanya.

Menurut riset Dr. Kinsey, 6% dari poulasi adalah homoseksual murni. Dengan kata lain, secara seksual mereka menyukai sesama jenis karena pengaruh gen, bukan karena pengaruh psikologi, lingkungan, social budaya dan lain sebagainya. Apakah mereka ciptaan Tuhan yang cacat karena tidak bisa menyukai lawan jenisnya?

Kekeristenan percaya bahwa ciptaan Tuhan sempurna. Jadi, bila gay, lesbian dan biseksual dianggap cacat, ciptaan siapakah mereka? Apakah ada pencipta selain Tuhan? Tidak ada bukan?

Bila homoseksual juga ciptaan Tuhan, dan saat Dia melihat ciptaan-Nya cacat, bukankah dengan mudah Dia dapat memperbaikinya karena Tuhan itu Maha Kuasa? Tentu dengan sekali tiupan saja, Dia bisa merubah orientasi seksual orang tersebut menjadi heteroseksual. Kenapa Tuhan tidak melakukannya?

Yang lebih mengerikan dari penjelasan Anda tersebut adalah bahwa Tuhan menciptakan orang yang cacat kemudian membencinya! Tuhan seperti apa itu? Kejam sekali!

Jangan tuduh saya mengolok-olok Tuhan. Atau mengatakan saya meragukan ke-MahaKuasa-an Tuhan. Tidak. Saya hanya mau mengatakan bahwa cara pandang Anda dan saya terhadap Tuhan itu sangat berbeda. Saya memahami Tuhan itu dari sisi “Dia menyayangi semua ciptaannya” dan tidak ada yang salah atau cacat dari semua ciptaannya. Termasuk orientasi seksual yang beragam.

Pada diskusi homoseksual di kalangan Kristen, argumen yang sering saya dengar adalah supaya “dia” berdoa dan minta Tuhan merubah orientasi seksualnya menjadi heteroseksual. Sudah sering saya baca dan tonton kesaksian orang yang melakukan hal tersebut, tapi yang terjadi adalah hasratnya tetap tidak berubah. Hal itu malah membuatnya frustasi dan depresi.

Banyak yang berniat bunuh diri, dan tak jarang melarikan diri ke narkoba sehingga kehidupan mereka semakin terpuruk. Ada pula yang melampiaskan rasa frustasinya pada makanan sehingga mereka menjadi obesitas. Tampak tak menarik secara fisik dan tak produktif pula sebagai generasi muda.

Mengapa bisa seperti itu? Karena mereka membenci diri mereka sendiri. Sudah memohon sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa berubah seperti yang Tuhan mau, seperti dalam dogma yang Anda jabarkan itu. Mereka membenci dirinya sendiri karena takut Tuhan akan murka terhadap mereka.

“Ah, dia hanya kurang beriman saja, makanya tidak berubah. Tiada yang mustahil bagi Allah.” mungkin demikian kata Anda menyahut saya. Bagaimana sekiranya Tuhan tidak mau merubahnya karena Dia menganggap tidak ada yang salah dalam diri orang tersebut? Pernahkah Anda berpikir seperti itu?

Tentang iman. Iman adalah perjalanan panjang yang berproses. Anda dan mereka tidak mulai dari titik yang sama, dan beban yang dipikulpun tidak sama berat. Jangan menghakimi!

“Tak mengapa gay, asal tidak melakukan hubungan sejenis yang dimurkai Tuhan.” kata banyak orang berusaha tampak bijak memberi saran. Aku pernah membaca tulisan seorang lesbian yang memutuskan berselibat, yang artinya tidak akan menjalin hubungan dengan orang lain untuk menghindari hubungan sejenis. Seperti Suster atau Pastor dalam gereja Katolik.

Itu baik. Tapi tidak semua orang bisa seperti itu. Mereka ini tidak bermaksud jadi Pastor atau Suster. Mereka umat biasa yang harus berperang menahan hasrat seksual sepanjang umurnya. Kenapa Tuhan tidak adil, sebagian orang diberi kemudahan untuk melampiaskan kebutuhan seksualnya sedangkan sebagian lagi disuruh berperang melawannya?

Taukah Anda bahwa iman yang tebal pun bisa luntur kala melihat ketidakadilan. Mereka harus menempuh perjalanan terjal mendaki sementara orang lain berjalan santai pada jalan yang rata.

Pernahkah Anda tahu bagaimana cara Tuhan berfirman? Tuhan berbicara kepada Musa dalam wujud nyala api dari semak yang terbakar. Musa mendengar Tuhan berbicara seperti suara angin yang bergemuruh. Jelaskah Musa mendengar kata per kata? Ataukah dia hanya menafsirkannya sesuai dengan hikmah yang ada padanya, pada zaman itu?

Seperti cara itu juga Tuhan berbicara kepada para nabi dan rasul, sebelum dan setelah Musa. Pernahkah Anda terpikir bagaimana bila mereka salah menafsirkan firman yang mereka terima, karena suaranya laksana angin menderu? Apakah Anda mengira firman itu diucapkan Tuhan kata per kata seperti Anda berbicara dengan orang tua Anda?

Perjanjian Lama misalnya (Alkitab terdiri dari dua bagian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) sebagian besar bahannya dalam bentuk tradisi lisan. Jadi firman Tuhan kepada Musa tidak langsung dituliskan dalam daun papirus misalnya, tapi diceritakan turun temurun kepada anak cucu.

Sumber bahan Alkitab adalah kumpulan tulisan yang sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun yang dituliskan di loh batu, kulit binatang atau daun papirus. Apakah Anda mengira tulisan pada Alkitab sama persis kata perkata dan titik komanya dengan tulisan pada media tulis zaman bahuela itu?

Tidak seperti itu. Ada penambahan kata bahkan kalimat untuk memperjelas maksud tulisan tersebut. Siapakah yang menambahinya,Tuhankah atau manusia? Tetap manusia walaupun mereka manusia-manusia terpilih karena keilmuannya. Banyak perdebatan dan tantangan dalam merumuskan susunan kalimat yang paling tepat seperti tulisan yang saat ini kita baca di Alkitab.

Apakah ada kemungkinan kepentingan manusia masuk? Misalnya, saat itu pemimpin agama sangat membenci kelakuan beberapa kaum homoseksual sehingga larangan itu dimasukkan. Sangat mungkin.

Apakah Tuhan hanya berfirman kepada para nabi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan Dia berhenti berfirman sekarang? Kalau demikian maka kita telah mengunci Tuhan di dalam sebuah buku yang bernama Alkitab?

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi saya percaya Tuhan masih berbicara sampai saat ini di dalam hati umat-Nya yang mau belajar. Dia berbicara langsung kepada Anda dan saya melalui hikmah yang dalam hati Anda dan saya.

Mempelajari Alkitab tidak boleh leterlek, tapi harus digali dan direnungkan. Mengapa pada zaman tersebut diberikan firman seperti itu? Bagaimana kondisi sosial budaya masyarakat saat itu? Apakah firman itu khusus untuk saat itu saja atau bisa berlaku untuk jaman sekarang? Dan lain sebagainya.

Zaman berkembang, kebutuhan akan Tuhan pun berubah. Banyak kaum homoseksual dan biseksual yang menjadi pembenci Tuhan karena pemuka agama mencitrakan Tuhan sebagai Tuhan yang pemarah dan pembenci bagi keberadaan mereka.

Homoseksual dan biseksual adalah kelompok minoritas yang sering menerima penolakan, penghinaan atau pun cibiran. Penolakan-penolakan tersebut sering kali menyebabkan mereka depresi. Biasanya orang yang depresi membutuhkan tempat untuk menumpahkan uneg-unegnya. Tuhan yang penuh kasih adalah yang mereka butuhkan, bukan Tuhan yang pemarah dan pembenci.

Beberapa gereja atau kongregasi gereja telah menyadari hal tersebut sehingga mereka menampilkan Tuhan yang ramah pada LGBT. Gereja tersebut bahkan melayani pemberkatan pernikahan sejenis. Salah satu pemuka agama yang mendedikasikan dirinya untuk melayani kaum homoseksual adalah Pastor John Pavlovitz. Dia pernah membuat tulisan yang sangat fenomenal berjudul “If I have gay Children”.

Sebagai penutup, saya mau katakan bahwa orientasi seksual itu cuman salah satu pembeda dari ribuan pembeda manusia yang satu dengan manusia yang lain. Mengapa kita tidak bisa berdamai dengan pembeda kecil ini? Janganlah menjadi Tuhan atas orang lain. Sering kali manusia yang menafsirkan firman Tuhan lebih kejam dari Tuhan sendiri.

Jangan kunci Tuhan di dalam kitab suci. Tuhan masih berfirman hingga saat ini di dalam hati setiap umat-Nya. Apa yang Tuhan bicarakan pada saya tentu beda dengan yg Dia bicarakan pada Anda. Tuhan menanamkan benih kebijaksanaan yang berbeda-beda dalam hati setiap umat-Nya, sesuai kapasitasnya masing-masing.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Sexual Orientation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s