Relijius yang Kebablasan

hurricane-harvey-rescue-3-ap-jt-170827_4x3_992

Hidup di tengah-tengah masyarakat yang relijius macam Indonesia ini sering bikin saya takjub. Semua hal ditarik ke wilayah keimanan. Sesuatu yang sebenarnya alamiah dan biasa, dapat terdengar jadi supranutural. Manusia menghakimi manusia lainnya dengan cara yang paling halus dan terdengar santun tapi nusuk dan menghempaskan martabat orang lain.

Saat kehilangan barang atau kemalingan, pernahkah Anda mendapat nasihat, “mungkin kamu kurang berderma atau bersedekah.” Lihat, posisi orang yang jadi korban tiba-tiba jadi pelaku tindak tercela. Baru kehilangan barang kemudian padanya ditimpakan lagi godam yang menghantam harga diri secara halus dengan menyebut “lu pelit sih, jadi wajar kalo kemalingan.”

Sekiranya tadi ucapannya, “Relakan saja. Mudahan besok lu dapat gantinya yang lebih baik.” Ini pasti jauh lebih baik bagi yang mendengar. Ada dukungan moral dan doa yang positif di dalamnya.

Dalam kasus ini, orang yang kehilangan barang itu bukan korban, tapi manusia serakah yang pantas mendapatkan hukuman. Dan di saat yang sama, si pemberi nasihat menempatkan dirinya lebih suci dari korban tersebut. Bahkan kadang ditambah dengan ayat-ayat kitab suci bahwa sebagian harta kita adalah hak orang lain.

Apa ukurannya orang kurang berderma atau tidak. Besar pemberian atau keiklasan? Berderma karena mengharap dapat kembalian yang lebih besar, menurutku tidak iklas. Coba pikirkan mana yang lebih iklas, berbuat baik karena mengharap sorga atau berbuat baik walau tidak percaya ada sorga? Bertransaksi dengan Tuhan. “Tuhan, untuk kavling 500M2 tipe mediterania, kekurangan amalku berapa kali bersedekah lagi?”

Tentu memang jauh lebih baik berbuat baik walaupun mengharap sorga dari pada berbuat jahat. Itu pasti. Cuma saya ngerasa kenapa selalu ada udang di balik rempeyek?

Hal lain yang bikin saya ngerasa “iihhhh” misalnya, ada daerah yang tertimpa bencana alam, contoh banjir, longsor, tsunami, badai topan dan lain-lain. Selalu ada saja yang mengaitkan bencana alam dengan dosa dan kemurkaan Tuhan. Bahkan pernah seorang Menteri mengatakan, “Gempa itu karena ada prostitusi.”

Yang lebih tak masuk akal lagi bagiku adalah dikatakan bencana alam karena dosa LGBT. Ya Gusti Allah!

Kenapa Anda citrakan Tuhan itu sangat bodoh yang suka sembarangan menghukum semua orang sehingga yang tidak melakukan prostitusi pun jadi korban? Anda percaya Tuhan itu mahakuasa kan? Kalau memang bencana alam itu karena prostitusi atau homoseksual, kenapa Dia tidak selamatkan terlebih dahulu umatnya yang sangat taat beribadah sebelum mengirim banjir atau gempa? Kenapa orang alim, rajin beribadah juga menjadi korban bersama orang-orang pendosa yang brengsek?

Baru-baru ini Amerika terkena topan Harvey dan Irma. Entah kenapa namanya seperti nama orang yang kita kenal, seakan-akan badai itu bisa menjadi teman kita padahal mereka sangat tidak bersahabat. Mereka seperti gendurowo yang menghancurkan semua yang dilintasi.

Banyak sekali orang yang menimpakan kesalahan badai itu karena Trump dan orang-orang yang memilih Trump. Atau karena Trump tidak mendukung upaya penanggulangan global warming. Banyak pula kaum relijius yang mengatakan itu hukuman dari Tuhan untuk orang Amerika. Ada pula yang berdoa semoga tuhannya kembali mengirimkan badai yang lebih dahsyat untuk menghancurkan Amerika.

Pantas semakin banyak orang yang menjadi pembenci Tuhan karena kaum pemuja Tuhan menggambarkan dia sebagai sosok yang supper duper kejam dan BODOH. Bodoh karena tidak bisa menyelamatkan pemujanya terlebih dahulu sebelum mengirimkan bencana. Diantara para korban itu pasti ada yang percaya Tuhan juga.

Bahkan orang yang tidak percaya Tuhan pun dengan mudahnya mengatakan itu hukuman dari Tuhan karena si A blab la bla… Karma, bi*ch. Karena ingin menyalahkan seseorang, Tuhan pun dibawa-bawa sebagai pembawa malapetaka.

Banyak pula yang berkata alam marah. Bagaimana caranya alam marah? Alam hanya menjalankan kebiasaannya ada atau tidak ada manusia. Alam tidak bergantung pada manusia, tapi manusia bergantung pada alam. Jangan dibalik ya!

Bencana alam itu bukan karena alam marah. Alam itu tidak pernah marah. Dia hanya mencari keseimbangan. Lu ngundulin hutan maka hasilnya padang pasir atau tanah longsor atau banjir. Alam menangis karena rusak? TIDAK. Manusia yang menangis karena merusak alam. Alam sih woles saja. Lu berbuat negatif, alam bereaksi negative. Lu berbuat positif, alam pun bereaksi positif. Kamu menuai apa yang kau tabur.

Trus kenapa dikatakan bencana alam terjadi karena Allah murka, karena ada umat yang melakukan prositusi atau hubungan sejenis? Padahal bencana alam terjadi karena kejahatan terhadap alam misalnya seperti menggunduli hutan, sehingga alam bereaksi menjadi banjir. Lho, kok yang disalahkan prostitusi atau LGBT? Alur logikanya bagaimana?

Jangan menghakimi, karena itu hak Tuhan, kata Kitab Suci. Tapi sayang sekali, mental orang yang relijiuslah yang paling banyak “suka menghakimi.” Alasannya disuruh Tuhan untuk mengingatkan sesama, tapi caranya lebih dari pada Tuhan. Coba pikirkan, bukankah kita mengkorupsi sedikit hak Tuhan?

Ukuran manusia beradab selalu berubah tergantung zaman dan daerah. Di suatu daerah ukuran orang beradab itu dari cara dia membantu orang lain yang membutuhkan, tak peduli dia berpakaian terbuka atau tertutup. Menghormati orang lain dan tidak merampas hak orang lain walaupun hal kecil seperti trotoar, yang merupakan hak para pejalan kaki.

Beda lagi di tempat lain di mana orang yang beradab itu dilihat dari tutur kata yang santun, pakaian tertutup, hormat pada orang yang lebih tua, dll. Bahkan korupsi besar-besaran asal dilakukan dengan cara santun tidak akan didemo, bahkan dimaklumi dan dimaafkan.

Entahlah, saya sudah capek melihat manusia bertopeng tuhan. Tuhan dengan huruf “t” kecil, Anda tentu paham maksud saya. Saya cuman ingin bersama manusia berwajah manusia saja. Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dan saya tahu, akan ada yang menulis “atheis detected” di kolom komen nantinya. Sudah biasa.

To be a great man and a saint for oneself, that is the only important thing. – Charles Baudelaire (1821-1867)

 

Jakarta, 14 September 2017

Mery DT

Noted: Foto diambil dari Google image, foto rescue korban badai Harvey.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Celoteh, Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s