Kode Etik Di Ruang Sidang; Hati-hati Ada Yang Baper

ahok

Pada saat sidang Jessica dulu, aku baru tahu bahwa JPU dan tim pembela hukum terdakwa bebas bertanya apa saja kepada saksi, dengan tujuan mencari kebenaran materil. Pengamat persidangan pun beberapa kali kudengar mengatakan, cara bertanya ke kanan dan ke kiri adalah tehnik atau strategi untuk mendapatkan kebenaran yang diinginkan dari yang ditanya. Kalo kesannya muter-muter, itu tidak salah.

Sehingga saat kita mengikuti sidang Jessica, ada beberapa pertanyaan yang kita anggap tidak nyambung, tapi dibiarkan oleh Hakim, dengan alasan mereka ingin mencari cara untuk mendapatkan pernyataan yang diinginkan untuk mendukung argumen masing-masing. Ada pula saksi yang dicerca habis-habisan.

Kemudian aku jadi ingat dialog yang kocak saat JPU bertanya kepada Jessica;

JPU      : Saat itu anda memesan minuman apa?

Jessica: Vietnamese iced coffee.

JPU      : Itu minuman panas atau dingin?

Jessica : Menurut Bapak?

Pengungunjung sidang dan pemirsa di rumah pun geeerrrrr…. Kalau bahasa okemnya, “Menurut ngana?” 🙂

Bukan kekonyolan itu yang mau aku soroti, tapi kira-kira begitulah model pertanyaan JPU atau tim pembela terdakwa, demi mendapatkan bukti atau dukungan argumennya. Demikian yang aku ketahui.

Kemudian kemaren siang, saksi yang dihadirkan di persidangan dugaan penistaan Agama yang dituduhkan kepada Ahok adalah KH Ma’aruf Amin (KHMA) sebagai Ketua MUI yang telah mengeluarkan Fatwa penistaan Agama terhadap Ahok. KH Ma’aruf Amin juga sekali gus Rois Am PBNU, yang merupakan kelompok Islam terbesar di Indonesia selain Muhammadyah.

Sidangpun berjalan. KHMA ditanyai berbagai hal hingga 7 jam. Sampailah pada pertanyaan tentang “Apakah KHMA menelpon SBY tgl 6 Oktober 2016.” KHMA mengatakan tidak. Ditanya sampai 3 kali dan dikatakan tidak. Akhirnya pengacara meminta Hakim mencatat bahwa mereka punya bukti bahwa KHMA dan SBY melakukan hubungan telpon.

Kemudian hari ini, hal tersebut menjadi masalah karena banyak orang menganggap cara bertanya Tim Pembela Ahok tidak sopan, terlalu menekan, terlalu mendikte, dll. Aku langsung teringat kepada saksi-saksi pada sidang Jessica, tekanan kepada saksi-saksi tersebut jauh lebih kejam dari pada kepada KHMA. Tapi kenapa ini menjadi masalah?

Kemudian aku pun merenung sambil mengelus-elus Cibi yang tidur di sampingku. Kenapa KHMA yang merupakan junjungan sebagian besar umat Islam negeri ini diajukan jadi saksi di persidangan? Kemungkinan dia akan ditanya secara detailkan sangat mungkin. Kenapa Ulama-ulama NU membiarkan KHMA bersaksi kalau tidak bisa ditanya?

Ada yang bilang, bisa saja ditanya, tapi yang sopan dong! Tanya dong, ukuran sopan itu di mana? Skala ukuran sopan setiap orang itu berbeda. Kalau kita pakai ukuran kesopanan pada palu Hakim, kemaren hakim tidak mengetokkan palunya. Kalau ukuran sopan itu berdasarkan perasaan masing-masing, maka kita akan tersesat dalam ketidakpastian aturan.

Ternyata SBY melalui konperensi pers nya sore ini, mengakui ada telpon-telponan dengan KHMA. Beberapa media online pun mengkonfirmasi hal itu. Tentang isi konpres SBY berbeda topik, akan kutulis secara terpisah.

Seharian ini media social memanas. sebagian warga NU tersinggung pada cara bertanya tim pembela Ahok dan juga komentar Ahok.  Dibumbui pula oleh lawan politik Ahok yang “pura-pura” membela ulama NU yang sedang dizolimi. Padahal orang yang sama, juga yang menyesat-nyesatkan Pak Quraish Shihab, menghina Gus Dur, meng-endas-endaskan Gus Mus, menghujad KH Said Aqil, dan lain-lain.

Ahok dibenturkan dengan NU. Mereka sangat lihai menggoreng isu. Mungkin dulu profesi lamanya penjual tahu bulat yang digoreng dadakan. Jangankan tahu, isu pun mereka sangatlah lihai menggorengnya.

Syukurlah Ahok dan tim pengacaranya segera menyadari situasi dan mereka langsung mengeluarkan pernyataan atau klarifikasi, dan meminta maaf. Bagiku sih, sebenarnya tak perlu minta maaf. Itu kan perkataan di dalam ruang sidang pengadilan yang seharusnya tidak untuk konsumsi publik. Tapi demi tercapainya situasi yang kondusif, permintaan maaf itu bisa membantu. Informasi terakhir tadi, KHMA juga telah menyatakan memaafkan Ahok.

Tetap sambil mengelus-elus perut Cibi, aku bertanya dalam hati, “Sampai kapan hukum positif bisa tegak di negeri, bila selalu harus mempertimbangkan perasaan orang, walaupun di dalam ruang persidangan?”

Enggo me yah nake, kena kap ngenca si empuna negara enda. Kami numpang ngenca. Aturken kena yah! Mejuah-juah, Horas!

Jakarta, 1 February 2017

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Negeriku & Politik and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s