Resolusi 2017: Cibi Sehat Kembali

screen-shot-2017-01-03-at-12-53-32-am

Ketika penutupan tahun 2016 kemaren, ingin aku menuliskan semacam resolusi atau apalah namanya. Berkali-kali aku sudah duduk sempurna di depan laptop dengan aplikasi word kosong terpampang di layar. Sampai sekian lama, word kosong itu tetap kosong, hingga aku shut down laptopnya. Iya, aku tidak mampu menuliskan apa pun. Walaupun banyak kata-kata yang bersilewaran di kepalaku minta dikeluarkan, tetap tidak bisa kusalurkan lewat jemariku. Aku buntu.

Batrerai laptop yang biasanya tiap hari diisi, kadang sampai dua kali sehari, power yang kupakai saat ini adalah hasil nge-chas tujuh hari lalu. Ah, betapa santainya laptopku minggu ini. Pasti dia senang. Semacam mendapat libur akhir tahun.

Masalahku hanya satu: CIBI SAKIT. Dan sakitnya kali ini tidak main-main. Sakit yang menguras tenaga, pikiran, air mata dan isi rekeningku. ūüė¶ ¬†Aku hanya bisa memandangi dan mengelus-elus punggung Cibi sambil berdoa semoga ada keajaiban dan Cibi bisa sembuh seperti sedia kala.

Emapat tahun lebih yang lalu, Cibi kuadopsi dari seorang teman. Anjingnya (shihtzu) melahirkan 5 anak. Dia menawariku 1 anak. Pada usia dua bulan, aku membawa satu puppy ke rumah dan kuberi nama Kirbi. Kirbi puppy yang sangat aktif, malah mungkin hiperaktif dengan nafsu makan yang sangat tinggi.

Dalam dua minggu, berat badannya membengkak. Kirbi tumbuh menjadi puppy yang tidak punya rasa takut. Sempat kubawa lari-lari sore di pinggir jalan, dan aku kewalahan mengikuti larinya.

Suatu hari aku main lagi ke rumah teman tersebut, jarak rumah kami memang tidak jauh. Ternyata ada satu puppy, saudara Kirbi, tampak seperti stress. Badannya kurus agak bergetar, ketakutan, meringkuk dipojok dibalik barang-barang. Aku tanya, kenapa dia? Anak temanku menjelaskan kalau dia baru dipulangkan oleh abangnya. Sudah seminggu puppy itu dibawa abangnya ke kostannya. Ternyata di kosan, ada anjing besar yang selalu membullynya sehingga dia stress ketakutan.

Kalo tante mau, bawa pulang saja dulu supaya dia gak stress lagi, begitu kata anak teman tersebut. Aku langsung setuju. Maka kubawalah dia pulang. Kuberi nama dia CIBI. mental puppy ini benar-benar down banget. Tak punya trust sama siapapun. Aku berusaha mendekatinya, sampai akhirnya dia menempel padaku.

Dua minggu kemudian, anak temanku itu menagih supaya Cibi dikembalikan. Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya dan Cibi sangat nempel ke aku. Aku pikir, dia mungkin akan stress lagi bila ketemu owner yang tidak memahami psikologinya. Setelah berunding dengan ibuku, akhirnya kami mengembalikan Kirbi yang super aktif, bahagia dan gendut. Dia pasti lebih kuat dengan orang baru.  Aku mempertahankan Cibi.

Cibi yang stress, gemetaran dan kurus, secara perlahan tumbuh menjadi puppy yang gemuk dan percaya diri. Tapi sampai saat ini aku belum bisa mengubah sifatnya yang kurang bersahabat, baik dengan anjing lain maupun dengan orang yang baru dia kenal. Dia akan selalu tampak lucu, kalem dan menggemaskan. Tapi saat orang yang baru dia kenal mengulurkan tangannya untuk membelainya, dia akan langsung menyalak. Sering kali aku tidak enak hati pada orang yang mau berbaik-baik mengusap Cibi malah dapat gonggongan.

Cibi juga tidak mau bersosialisasi dengan anjing lain. Dia akan menghindar bila ada anjing lain, baik besar maupun kecil. Dia akan lompat ke pelukanku dan memanjat ke bahuku hingga kepala bila ada anjing lain mendekatinya. Kupikir, pengalaman masa lalunya membuat dia seperti itu. Sepertinya aku butuh ahli untuk mengkoreksi tingkah laku Cibi. Kepikiran dari dulu untuk membawanya ke Mas Doni, founder Animal Defender, supaya dia bisa bantu memperbaiki sikapnya. Hanya belum sempat sampai sekarang.

Satu lagi, Cibi ini sangat cemburuan. Setiap aku pulang ke rumah, dia akan menyambutku dengan ciuman bertubi-tubi di wajah, telinga dan tangan. Tapi bila dia mencium ada bau anjing di tubuhku waktu pulang, dia tidak akan mau menciumku. Dia langsung menghindar, lari ke pojokan. Ngambek. Lalu aku akan segera mencuci tanganku atau mandi dan ganti baju, kemudian mendekatinya. Setelah itu dia akan mau lagi menciumi aku.

Beberapa kali aku harus mencuci tanganku dengan sabun sebelum pulang setelah bercanda dengan anjing lain di luar sana. Cibi tidak cuma cemburu pada bau anjing lain, tapi juga pada anak-anak yang kugendong. Dia akan terus menggonggong hingga aku menurunkan anak tersebut. Cibi si super dupper cemburuan.

Tiap hari aku bawa Cibi jalan di sekitar rumah, untuk menyalurkan energinya sekalian pup. Sejak tanggal 15 Desember, Cibi tidak mau kuajak jalan seperti biasanya. Tanggal 16, sejak sore dia lemas, hanya tiduran di tempat tidurnya. Saat malam, aku ketakutan sekali, nafasnya pendek dan tersegal-segal. Aku nyaris tidak tidur malam itu. Aku takut dia pergi sewaktu-waktu.

Besok paginya, 17 Desember, Sabtu, aku bawa dia ke Drh. Koes di Pondok Labu. Bagi penyayang binatang dan owner, sebagian besar mungkin tahu Drh Koes. Vet yang sudah sangat senior, ahli dalam melakukan operasi dan menangani aneka penyakit binatang.

Saat tiba giliran Cibi diperiksa, – perlu aku kasi tahu bahwa kalau berobat ke Drh Koes, siapkan waktu untuk antri barang 2-3 jam ‚Äď setelah aku menceritakan keluhanku, bahwa Cibi tidak mau makan, lemas dan susah bernafas. Saat itu kupikir Cibi mungkin kena flu atau apalah, intinya hanya penyakit ringan.

Ternyata kata Drh. Koes, ‚ÄúKita X-ray ya! Aku curiga ada sesuatu di perutnya.‚ÄĚ Aku langsung lemas. Cerita tentang ini lengkapnya ada di sini. ¬†Setelah x-ray, terlihat ada pembengkakan limpa di perutnya. Dokter memberi obat 5 hari untuk melihat apakah limpanya hanya pembengkakan biasa atau ada cancer.

Malam pertama adalah malam yang paling menakutkan. Kondisi Cibi memburuk. Nafasnya masih payah, dan dia tidak bisa tidur sama sekali. Segala posisi tidak nyaman baginya. Aku menghampar tempat tidur di lantai supaya dia tidak perlu loncat ke tempat tidurku seperti biasanya. Sepanjang malam akupun tidak bisa tidur. Termasuk ibuku. Besoknya kami tidak pergi ke gereja karena kurang tidur. Hari berikutnya nafas Cibi tetap tidak membaik. Perutnya membesar dan kencang.

Tibalah saatnya untuk control setelah 5 hari. Tanggal 22 Desember, hari Ibu, aku mengambil cuti kerja 1 hari. Sekitar jam 10 mungkin aku sampai di klinik. Saat itu Mbak TJ, personil Extravagansa, acara yang dulu pernah ngetop di TransTV, juga ada di sana membawa anjingnya, Oscar, yang mau operasi.

Giliran Cibi di periksa. Dilakukan lagi X-ray, dan hasilnya pembengkakannya lebih besar lagi. Menurut Dr koes, Cibi harus dioperasi. Sesaat nanti dia melihat limpanya, dia akan bisa mengatakan limpanya hanya bengkak atau cancer.  Tapi Dr Koes memberi aku waktu untuk berpikir dulu atau cari second opinion.

Melihat penderitaan Cibi tiap malam dengan nafas yang tersegal-segal, akhirnya aku putuskan untuk melakukan operasi saat itu juga. Sebelum operasi, aku harus menandatangan MoU yang intinya menyatakan bila Cibi meninggal setelah operasi tidak menjadi tanggung jawab dokter. Saat mengisi form itu aku menangis sambil satu tangan memeluk cibi di meja itu. Saat aku menangis itu, TJ masuk ruangan dan memberi penguatan. Terima kasih, Mbak. Means a lot to me.

Setelah itu aku keluar lagi bersama Cibi karena menunggu anjing mbak TJ yang segede gaban itu selesai di operasi. Saat menunggu di luar itu perasanku tidak karuan. Apakah ini hari terakhir aku bersama Cibi, dll. Sampai akhirnya sekitar jam 1 siang, Cibi di operasi. Perasaanku saat itu semakin tidak karuan. Bila itu cancer, maka limpanya harus diangkat. Mahluk hidup tanpa limpa itu resikonya berat. Dia akan gampang sakit, tidak bisa seaktif dulu, dll.

Kemudian aku dipanggi dokter Koes ke ruang bedah. Dengan penuh ketakutan akan mendapat informasi terburuk, aku masuk ke ruang itu. Tampak perut Cibi sudah terbuka dan Pak Koes memegang sebuah organ seperti lidah berwarna merah darah, katanya “Limpa Cibi masih bagus. Tidak ada cancer, hanya sedikit pembengkakan dan posisinya berubah”. Seketika aku berteriak ‚ÄúTerima Kasih, Tuhan.‚ÄĚ Dalam ruangan itu. Kemudian aku keluar lagi dengan perasaan lega. Baru terasa maagku sudah mulai kumat. Aku bergegas mencari warung untuk makan.

Sebelumnya, ketika mbak TJ hendak membawa pulang Oscar yang sudah mulai siuman, dia minta no HP ku karena ingin tahu perkembangan Cibi. Sekitar jam 2.30, Cibi dibawa ke luar dalam kondisi masih terpengaruh obat bius, dan tak lama kemudian mulai sadar. Setelah mendapat obat-obatan dan informasi dari dokter, aku membawa Cibi pulang.

Malam itu penjagaan terhadap Cibi lebih intens. Seharusnya dia 24 jam pakai cone collar supaya tidak bisa menjilati lukanya. Tapi aku bukan ibu yang baik. Karena kasian aku membukan cone-nya, supaya dia bisa tidur nyenyak. Seharusnya hari ke 5 Cibi control, tapi hari ke 4 dia kubawa lagi ke klinik karena plaster perutnya berdarah.

Kemudian Dokter Koes mengganti perban. Besok sorenya Cibi diare dan ada darah di ujung pupnya. Besok paginya diarenya semakin mengkhawatirkan, frekwensinya semakin sering dan darahnya semakin banyak. Aku langsung bawa dia ke klinik Pondok Pengayom di Ragunan. Setelah disuntik dan makan obat dia tidak diare sama sekali. Tapi paginya dia diare lagi. Malah ada darah keluar dari hidungnya. Parahnya lagi, aku juga sedang diare dan demam sehingga tidak bisa ke kantor.

Siang setelah diareku agak terkendali dan suhu tubuhku turun, kubawa lagi Cibi ke klinik Dr Koes. Dia mengecek fases Cibi yang kubawa, katanya normal saja, tidak ada yang perlu ditakutkan. Dia berikan obat. Sekalian memeriksa perban Cibi yang ternyata ada infeksi. Ya Tuhan. Tidaka ada henti-hentinya penyakit Cibi ini. Aku diperingatkan supaya bila sayang Cibi supaya pakai cone collar 24 jam. Aku turuti.

Diare Cibi akhirnya sembuh. Tadi pagi aku bawa lagi Cibi kontrol, kondisi jaitannya tetap tidak terlalu baik. Katanya kulit Cibi sangat sensitive sehingga menimbulkan bercak merah akibat plaster. Dan benang jahitan itu bikin lukanya tidak mengering. Jadi tadi benangnya dicabut walaupun belum mengering. Setelah lukanya diobati, ditutup kembali dengan plaster yang mudah-mudahan tidak membikin kulit Cibi memerah lagi karena alergi.

Sabtu nanti Cibi akan Kontrol lagi. Aku sangat berharap Cibi bisa sembuh total setelah itu. Sampai malam ini pun dan mungkin malam-malam lainnya selama Cibi belum sembuh, aku masih tidur melapak di lantai bersama Cibi, supaya dia merasa lebih nyaman.

Sejak operasi itu, perasaanku seperti sedang naik roller coaster, diacak-acak, diambung kemudian dihempas hingga berantakan. Air mata tidak pernah mengering. Saat-saat seperti itu, aku bersyukur ada teman diskusi yang selalu kasi ide atau nasihat dalam perawatan Cibi, dia adalah Mbak TJ. Kami selalu diskusi via WA. Saling kirim gambar, bahkan gambar fases pun kami bicarakan. Dia temanku melewati banyak kondisi. Walaupun dia entah sedang berada di mana, tapi selalu mau menjawab pertanyaanku. Kadang kami menertawakan keadaan walaupun sebenarnya menyedihkan. Hampir setiap hari kami berkomunikasi via WA. Juga tadi padi saat Cibi hendak dibawa ke klinik. Terima kasih tak terhingga untuk perhatianmu, Mbak TJ.

Aku anggap Mbak TJ lebih ahli menangani anjing dari pada aku, sehingga aku selalu minta sarannya. secara dia punya 10 anjing dan 40 kucing yang semuanya dia pungut dari jalanan ataupun karena dibuang orang. Sungguh besar hatimu, Mbak TJ, merawat anjing-anjing dan kucing-kucing yang dibuang orang. Kasihmu seluas samudera.  Aku memelihara satu saja sudah terasa banget kurasannya di dompetku, apalagi dirimu merawat 50 pets!!! Semoga rezeki yang melimpah senantiasa menghampirimu ya, mbak! Am so proud of you!

Mbak TJ, mudah-mudahan nanti kita bisa ketemu lagi saat Cibi dan Oscar sudah sembuh. Doaku buat Oscar yang saat ini sedang tidak nafsu makan. Cepat sembuh, Opa Oscar! Mamamu sangat mengkhawatirkanmu. Jangan bikin dia jadi Ade Ray karena memakan putih telur karena kamu hanya mau makan kuning telurnya.   Hahaha… Love you, Mbak TJ!!  Muachh…

dan resolusiku tahun ini adalah: CIBI KEMBALI SEHAT WALAFIAT. Itu saja!

Jakarta, 2 January 2017

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s