Cibi, Cepat Sembuh, Nak!

screen-shot-2016-12-17-at-9-35-38-pm

Rabu Pagi, aku lihat ada muntahan Cibi di tempat tidurnya. Aku pikir, dia sakit perut seperti biasanya. Jadi aku kasi norit untuk menetralisir perutnya.

Pagi kemaren Cibi menolak makan, walaupun disuapi. Dia muntahkan. Menjelang sore, aku lihat energy Cibi drop drastis. Tiba-tiba dia nggak semangat. Hanya baring saja. Malamnya, makan pun sama, menolak walaupun disuapi ke dalam mulutnya.

Kemudian aku raba perutnya, mengeras. Dia mencoba tidur, tapi napasnya tersegal-segal. Seperti baru lari sprint. Aku sudah mulai gelisah. Badannya agak panas. Jadi kukasi obat penurun panas anak.   Ada kali dua jam dia ku elus-elus di sofa supaya bisa tidur tenang. Dan akhirnya dia memang tidur, walaupun nafasnya memburu. Aku mendekatkan telingaku ke hidungnya untuk mendengarkan irama nafasnya. Sakit rasanya hatiku mendengar bunyi nafasnya.

Beberapa kali aku sudah mau mengorder taksi online supaya membawanya ke klinik 24 jam. Tapi kuurungkan, karena aku ingin dia diperiksa oleh Drh. C. Koesharjono.  Klinik Dokter Koes hanya bukan Senin-Sabtu pukul 09.00 – 17.00.  Bagi yang belum tahu, dokter Koes, begitu dia dipanggil, adalah dokter hewan yang sangat terkenal kemampuannya mengobati hewan. Dia juga sudah sangat senior, lebih dari 70 thn.

Jam 9.30 tadi pagi, kami sampai di klinik Dokter Koes. Siapapun yang pernah ke dokter Koes, pasti tahu kalau di sana akan antri. Dan aku menunggu antrian mungkin 4 atau 5 pasien. Saat antri seperti itu, selalu ngobrol dengan sesama pet owner. Ada yang bawa anjing, kucing dengan aneka keluhan. Tadi ada tiga anjing kecil dengan keluhan sama dengan Cibi; susah makan. Jadi aku merasa penyakit Cibi pasti penyakit biasa. Perubahan iklim kali, kata kami sesama dog pawrent.

Sekitar jam 11.30, Cibi akhirnya masuk juga ke meja periksa dokter Koes. Dokter senior yang kurus tinggi namun sangat sehat itu memeriksa Cibi setelah mendengarkan informasiku. Dia memegang perutnya dan memeriksanya dengan steteskop. Kemudian katanya, “Kita periksa dengan x-ray ya. Aku curiga ada sesuatu di perutnya.”

Aku kaget dan langsung lemas. Kupikir tadi sakit biasa. Aku hanya mampu mengiyakan saja.

Awalnya saat di rontgen aku disuruh ke luar, biar mereka saja yang lakukan. tapi Cibi itu tidak bisa dipegang orang lain. Dia pasti berontak. Akhirnya aku dipanggil untuk ikut memegang.  Setelah difoto, kami disuruh tetap di tempat, mana tahu fotonya gagal dan harus diulang. Jadi aku dan Cibi menunggu sekitar 20 menit di ruangan. Aku peluk dia supaya dia tenang. Tak henti aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa padanya.

Kemudian kami dipanggil. Dari foto itu terlihat limpanya membengkak sepanjang lintang perutnya. “Nanti ku kasi obat untuk 5 hari, bila dalam 5 hari ini dia muntah terus segera bawa ke sini, kita harus operasi.” Perih rasanya hatiku mendengarnya. “Nanti kasi minum susu beb*lac FL ya!” tambah dokter Koes.

Sambil pulang, kami mencari susu yang dimaksud. Sampai rumah dia kumasakkan bubur dengan hati ayam, dan diberi susu.

Sepanjang sore hingga malam ini saat aku menulis ini, Cibi hanya tidur. Ya Tuhan, dia sama sekali tidak punya energy untuk berdiri. Tadi berjam-jam, dari siang hingga malam aku hanya mengelus-elus perutnya supaya dia merasa nyaman. Sambil menulis ini pun, mataku tidak bisa lepas dari mengamati gerakan naik turun perutnya yang sangat cepat.

Tadi sambil mengelus-elus perutnya, aku browsing informasi tentang pembengkakan limpa anjing.  Aku jadi teringat pada suatu kejadian saat Cibi tiba-tiba drop dan perutnya kencang.  Persis seperti hari ini.  Tengah malam aku bawa dia ke klinik 24 jam di Pluit. Kejadian itu tanggal 9 Mei 2016. Saat itu dia langsung ditangani oleh dokter jaga yang masih muda. Mungkin baru lulus. Dia kasi obat untuk mengempeskan bengkaknya. Saat itu dia memang sembuh.

Tapi tadi, aku baru ingat, keluhannya sama persis. Semalam memang, melihat kesakitan Cibi, ingin sekali aku bawa dia kembali ke klinik itu.  Untung kukuatkan hatiku untuk mengurungkannya.  Aku ingin Dokter Koes yang menanganinya.  Kalau sekiranya pembengkakan ini adalah tumor, maka sudah sejak Mei kemaren tumor ini sebenarnya bersarang di tubuhnya tanpa kuketahui. Goshhh…

Semoga prediksi Dokter Koes benar. Sekiranya sudah berbahaya, tadi pasti dia langsung menyuruh operasi. Dia bilang, kita lihat 5 hari ini. Semoga kondisi Cibi membaik dalam 5 hari ini.

Ya Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. 5 hari ini pasti sangat mengkhawatirkan. I wish Cibi can through it and getting better. God, please help me.

Jakarta, 17 Desember 2016

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cibi, Cepat Sembuh, Nak!

  1. Pingback: Resolusi 2017: Cibi Sehat Kembali | Apaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s