Ahok dan Susu Sebelanga

ahok

Tulisan ini merupakan tanggapan komentar atas tulisan AKSI BELA ISLAM

Tiga hari lalu, seorang teman memposting tulisan Mas Eko Kuntadhi tentang Aksi Bela Islam di sebuah group WA. Awalnya aku abaikan. ‘Paling isinya gitu-gitu aja,’ batinku. Tapi akhirnya kubaca, dan aku terharu. Kemudian kukatakan pada teman yang memposting tulisan itu, “Mbak, boleh aku share di Facebook?” Trus katanya, “Sebarkan sesebar-sebarnya, Mer! Semoga banyak yang membacanya.”

Kemudian kuposting tulisan itu di wall Facebook-ku, kulanjutkan dengan mempostingnya di akun twitterku, dan taraaaaa…. Postingan itu meledak!!! Hingga saat ini retweet belum berhenti walau frekuensinya semakin sedikit. Lalu kukatakan pada teman itu, “Doamu terkabul, mbak! Tulisan Mas Eko itu sudah meyebar, sesebar-sebarnya.”

Sekali lagi kukatakan, itu bukan tulisanku. Aku hanya mempostingnya. Semoga Mas Eko (sayangnya hingga saat ini aku belum mengenalnya) membaca tulisan ini, supaya aku bisa minta maaf memposting tulisannya sebelum mendapat izin darinya. Berikut tulisan Mas Eko yang mengugah itu, tidak kutambah pun tidak kukurangi dari sumber pertama yang kuterima.

AKSI BELA ISLAM
Oleh : Eko Kuntadhi

Islam melarang pelacuran. Hukumnya sangat pasti dan tegas. Ketika Ahok menutup komplek pelacuran terbesar di Kalijodo, adakah aksi atas nama Islam untuk mendukungnya?

Islam melarang Narkoba. Ketika Ahok menutup diskotik Stadium dan Milles yang menjadi sarang peredaran narkoba, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam melarang korupsi. Ketika Ahok bergelut kekeuh tidak mau toleran dengan bancakan proyek-proyek APBD yang biasanya dilakukan oknum-oknum serakah, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mewajibkan orang melaksanakan amanah. Ketika Ahok secara ketat memerintahkan semua pegawai Pemda DKI untuk bekerja melayani rakyat, sebab gaji mereka selama ini dibayar oleh duit rakyat, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam memerintahkan membangun rumah ibadah. Ketika Ahok membangun mesjid di Balaikota dan Mesjid Raya Jakarta di Daan Mogot, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan kebersihan. Ketika Ahok mengeruk kali-kali dan membersihkan sampah agar Jakarta terhindar dari banjir, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan seorang yang diamanahkan memegang jabatan untuk memperhatikan semua warganya. Ketika Ahok setiap pagi meluangkan waktu menyelesaikan masalah semua orang yang datang ke Balai Kota, dengan menggunakan dana operasional Gubernur, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan berhati-hati saat mencari rezeki. Gubernur DKI mendapat dana operasional Rp 60 milyar setahun. Dana itu bisa diambil untuk diri sendiri. Tapi Ahok menggunakannya untuk membantu banyak orang, dan ketika masih tersisa diakhir tahun, dana itu dikembalikan ke kas negara. Padahal jika dia membawa pulang, itu bukan pelanggaran hukum. Itu sudah menjadi hak pemangku jabatan Gubernur. Adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan pentingnya pendidikan. Ketika Ahok kondisiten membagikan KJP dan angka putus sekolah di DKI nyaris 0%, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan kesejahteraan. Ketika kini angka pengangguran di DKI menurun drastis (salah satunya karena program pasukan Biru, Oranye, Ungu) adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan pengembangan psikologi anak-anak. Salah satunya dengan ruang beremain yang sehat. Ketika Ahok membangun ratusan ruang bermain hijau untuk anak-anak Jakarta, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan memuliakan wanita dan memperhatikan anak-anak. Ketika Ahok dalam banyak fasilitas publik (bus, ruang laktasi, RPTRA) memperhatikan kaum wanita, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan bicara yang baik. Ketika Ahok terpeleset omongan di P. Seribu, dan sudah meminta maaf, banyak orang tergerak untuk membela agamanya. Publik juga tahu omongan itu viral salah satunya karena teks yang diedit. Polisi juga sudah mengusut kasusnya, tapi pembela-pembala agama itu tidak cukup puas. Mereka ingin Ahok dipenjara.

Dipenjara karena tindakan jahatnya? Atau karena korupsi? Atau karena mengabaikan amanah? Bukan!

Ahok harus dipenjara karena kepleset mulutnya!

===============

Hingga detik ini, tweet aslinya sudah mencapai 3,6K retweet dan 1,7K like-nya, belum lagi tweet dengan tambahan narasi yang dibikin oleh beberapa selebtwit seperti mas Sahal dan Mas Adie MS. Juga banyak tweet dengan tambahan narasi yang dibuat beberapa akun lainnya. Jadi aman bila kukatakan, sekiranya semuanya digabung maka ada sekitar 7.000 notifications untuk tulisan ini di twitter. Sedangkan di facebook ada 44 shares dan 113 likes. Luar biasa.

screen-shot-2016-12-03-at-11-18-13-pm

Dari semua notification itu, mayoritas adalah retweet & like. Tweet yang memberi tambahan komentar mungkin sekitar 1.000 yang mayoritas mengatakan terharu dan sejenisnya. Tapi yang ingin ku-highlight adalah komentar-komentar yang kontra walaupun jumlahnya sangat sedikit, mungkin cuman 1% kalau ada.

Awalnya aku tidak peduli dengan semua komentar baik yang pro ataupun kontra, sangkin banyaknya membuat aplikasi twitterku melambat. Tapi tadi aku mencoba melihat lagi dan mengumpulkan komentar yang kontra. Aku mencoba scroll down beberapa kali, tapi aplikasi berhenti sebelum mencapai mention yang pertama. Berikut beberapa contoh yang masih bisa ku scroll down.

  • Karena aqidah ngak bisa dicampur sama hal hal muamalah yg tadi disebutin panjang lebar mas.
  • Di mana mata hati mu ketika agama mu dinistakan? Dan kau dituduh membela karna maksud lain, astagfirllah.
  • Harus berhati2 dalam menyikapi masalah ini, bnyak org yg sensitif dengan topik ini.
  • Seandainya Pak Ahok bisa menjaga lisan….
  • Semua itu menjadi tidak berarti ketika mulutnya keseleo ngurusin ayat kitab agama lain.
  • Ingetin Bpk Ahok nya ya kak biar ga smpe kebablasan ngomong lgi 🙂 smoga bisa lebih mengontrol dlm berbicara
  • Lah kok,, itu bukannya tugas pemimpin? Apa cuman islam juga yang ngajarin tugas-tugas di atas? Agama lain ngehalalin emang yah?

Aku sungguh-sungguh merenungkannya. Batinku, ‘betapa besar harapan banyak orang untuk seorang manusia yang bernama AHOK, sehingga semua hal baik yang sudah dia lakukan belum cukup.’ Kita sering mendengar atau malah mengucapkan sendiri bahwa manusia itu tempatnya salah dan khilaf, tapi itu tidak berlaku untuk Ahok. Kita tidak bisa mentolerir bila dia yang melakukan kesalahan.

Lama aku merenung. Kenapa sebagian kita tidak bisa mentolerir kesalahan Ahok dengan menyebutnya penista agama? Padahal dia sudah menjelaskan tidak ada niatan untuk menista dan telah meminta maaf berkali-kali.

Aku sering mendengar teman-teman muslim yang sangat bangga atas akhlak Nabi Muhammad, yang tetap memberi makan si Jahudi buta walaupun dia diludahi. Aku merenungkan kekontrasan itu. Apakah itu hanya sebuah cerita untuk dituturkan? Bukan untuk diteladani dan diamalkan?

Beberapa berkomentar seperti ini: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Bila kita mengumpamakan susu putih itu adalah kesucian atau perbuatan baik, adakah manusia yang seumur hidupnya putih? Nila yang mewarnai hidup kita itulah yang membuat kita tetap manusia. Bila kita menuntut Ahok putih bersih tanpa nila, bukankah kita sedang menuju kemusrikan karena menganggapnya malaikat?

Mari kita renungkan!

 

Jakarta, 3 Desember 2016

Mery DT

Note:  Artikel ini sudah pernah diterbitkan di qureta.  Saya publish lagi di sini sebagai arsip.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Negeriku & Politik and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s