Pengujian Pasal Kesusilaan di MK dan Kriminalisasi LGBT

rose-rosie-02

 

“Why would two people in love, in love in one thing, and they feel it, how is that offensive? Like, there is so much hate in the world. Why would people being in love, ever, be insulting to someone? I don’t understand, I never understand it.” – Rose Ellen Dix

Itu adalah kata-kata dari Rose, seorang youtuber yang sangat terkenal di kalangan LGBT di dunia maya. Dalam video ini, dia nampak kesal sebab ada yang merasa terganggu atau terhina karena melihat pasangan sejenis yang saling mencintai.

Rose dan istrinya, Rosie, adalah pasangan sejenis yang sangat terkenal dan dijadikan role model bagi lesbian dan biseksual muda dari berbagai negara. Rose yang tinggal di London saja masih mengeluh tentang perlakuan orang terhadap pasangan sejenis, apa kabar bila seandainya dia tinggal di negara berkembang yang kehidupan rakyatnya sangat kental dengan agama seperti Indonesia?

Inggris telah meratifikasi pernikahan sejenis, sehingga setiap orang — apa pun orientasi seksualnya — sama kedudukannya dihadapan hukum. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap homoseksual dan pernikahan sejenis. Tapi faktanya dalam masyarakat, tetap saja ada satu atau dua orang yang masih memandang homoseksual atau pasangan sejenis itu masalah.

Ach, seandainya Rose pernah tinggal di negara seperti Indonesia, mungkin dia akan sangat bersyukur dengan capaian atau dukungan yang telah diberikan negaranya untuk kelompok LGBTIQ.

Beberapa bulan ini aku sungguh terusik dengan Judicial Review (JR) tentang Kriminalisasi LGBT yang saat ini sedang berlangsung di Mahkamah Konstitusi (MK). Aku tidak paham hukum, itu yang membuat aku tidak menuliskannya selama ini. Tapi saat ini rasanya aku ingin menuliskannya walaupun tidak nyaman dibaca.

Sidang tersebut telah berjalan lebih dari 14 kali. Pemohon adalah seorang Guru Besar IPB, Prof Dr Euis Sunarti dengan 11 orang temannya — beberapa diantaranya adalah akademisi — memohon kepada MK untuk memperluas makna larangan perzinaan, pemerkosaan, dan homoseksual (hubungan sesama jenis) sesuai jiwa Pancasila, konsep HAM, nilai agama yang terkandung dalam UUD 1945.

Dalam gugatannya itu, Euis berharap kumpul kebo dan homoseks bisa masuk delik pidana dan dipenjara. Salah satu pasal yang digugat adalah Pasal 292 KUHP. Pasal itu saat ini berbunyi:

Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Pemohon meminta pasal itu menjadi:

Orang yang melakukan perbuatan cabul dengan orang dari jenis kelamin yang sama, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun.

Hingga sidang ke-14, (16/11/2016) pihak Pemohon sudah menghadirkan 9 ahli yang mendukung dalil permohonannya. Mereka menganggap permohonan ini sangat penting dalam upaya mencegah dan menyelamatkan generasi muda Indonesia dari “serangan” seks bebas termasuk lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) sebagai perilaku seks menyimpang.

Salah satu saksi ahli Pemohon, Agung Frijanto, Psikiater, mengatakan, “Anggapan perilaku homoseksual hal yang normal dan alamiah amatlah berbahaya. Padahal, perilaku ini mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologi masyarakat,” Bayangkan, seorang psikiater saja memiliki pandangan seperti ini.

Pihak yang kontra terhadap permohonan ini pun telah didengar keteranganya seperti Komnas Perempuan, ICJR (Institute for Criminal Justice Reform), Koalisi Perempuan Indonesia, Yayasan Peduli Sahabat, dll.

“Apabila permohon diterima, berdasarkan penelitian yang dilakukan di dalam dan luar negeri, kita bisa melihat salah satu dampak besar adanya over kriminalisasi. Kelebihan beban pada negara,” kata Direktur ICJR, Erasmus Napitupulu dalam sidang di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016).

Menurut Erasmus, ada 3 hal pokok mengapa over kriminalisasi sangat berbahaya bila permohonan ini dikabulkan, yaitu;

Pertama, tingginya penghukuman dan besarnya jumlah pelaku pidana. Kondisi ini akan mengakibatkan berubahnya prioritas kebijakan kriminal pemerintah. Kedua, negara akan masuk terlalu jauh untuk mengontrol privasi masyarakat. Negara akan mudah mencampur adukkan persoalan privat dengan publik. Ketiga, negara akan sangat bebas mencampuri hak privasi warganya.

Seharusnya aku tidak perlu khawatir negara ini berubah menjadi negara agama bila sekiranya para Hakim di MK bisa melihat hal ini dengan jernih. Faktanya adalah, agama diberi porsi cukup besar dalam memberikan batasan-batasan norma kesusilaan termasuk dalam mendefinisikan homoseksual. Menurut agama, homoseksual adalah penyimpangan, sedangkan berdasarkan ilmu pengetahuan, homoseksual adalah salah satu dari banyak orientasi seksual, dan semuanya adalah normal.

Aku resah karena mayoritas hakim mendukung nilai-nilai agama yang dipaparkan pihak pemohon. Mereka kurang memberi ruang pada fakta ilmiah tentang orientasi seksual.

Bila pasal ini disetujui, aku melihat Indonesia mundur jauh ke belakang karena menafikan Hak Azazi Manusia (HAM) seperti yang tercantum dalam ICCPR (International Convenant on Civil & Political Right) atau Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui UU No. 12 Tahun 2005.

Keikutsertaan Indonesia dalam ICCPR karena Dasar Negara Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai HAM yang tercantum dalam Idiologi Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 sebagai konstitusi. Sila ke-2 dari Pancasila mengamanatkan penghormatan terhadap kemanusiaan yang adil dan beradab.

Inti ICCPR adalah penghormatan kepada hak sipil dan politik semua orang, termasuk hak untuk hidup, kebebasan memeluk agama, kebebasan berkumpul dan berpendapat.

Salah pasal dalam ICCPR adalah kebebasan menikah bagi pasangan sejenis, yaitu pada pasal 23 ayat 2, yang berbunyi: The right of men and women of marriageable age to marry and to found a family shall be recognized. Saya terjemahkan kurang lebih seperti ini; Laki-laki dan perempuan yang sudah memasuki usia dapat menikah diakui (oleh lembaga negara) haknya untuk membentuk keluarga (termasuk pernikahan sesama jenis).

Pasal 26 ICCPR berbunyi, “Semua orang sama kedudukannya di depan hukum dan berhak atas semua perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi. Dalam hal ini, hukum harus melarang setiap bentuk diskriminasi dan menjamin perlindungan yang sama kepada semua orang dan efektif melindungi terhadap diskriminasi atas dasar apapun seperti ras, warna, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya, atau asal usul sosial, kekayaan, kelahiran atau status lainnya.”

(Article 26. All persons are equal before the law and are entitled without any discrimination to the equal protection of the law. In this respect, the law shall prohibit any discrimination and guarantee to all persons equal and effective protection against discrimination on any ground such as race, color, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status.)

Yang dimaksud diskriminasi di atas juga termasuk diskriminasi berdasarkan orientasi seksual, dalam hal ini homoseksual. Bila JR yang diajukan oleh Euis Sunarti dkk disetujui oleh MK, maka bersiap-siaplah untuk melambaikan tangan pada Hukum Positif yang semakin tersisih.

Dan aku akan berduka untuk penzoliman yang dilakukan Negara atas kelompok minoritas dalam orientasi seksual yaitu homoseksual, biseksual, panseksual, dll.

 

Jakarta, 28 November 2016

Mery DT

Note:  Artikel ini sudah pernah diterbitkan di qureta.  Saya publish lagi di sini sebagai arsip.

 

Sumber;

  1. Minta LGBT Dibui 5 Tahun, Guru Besar IPB Harusnya ke DPR dan Bukan ke MK => http://news.detik.com/berita/3256667/minta-lgbt-dibui-5-tahun-guru-besar-ipb-harusnya-ke-dpr-dan-bukan-ke-mk?_ga=1.246676292.1531750713.1468925146
  2. ICJR Tolak Perluasan Pasal Kesusilaan => https://news.detik.com/berita/d-3286793/icjr-tolak-kumpul-kebo-dipidana-over-kriminalisasi
  3.  Pengujian Pasal Kesusilaan Diklaim Bukan untuk Kriminalisasi LGBT => http://www.hukumonline.com/index.php/berita/baca/lt582fe00657183/pengujian-pasal-kesusilaan-diklaim-bukan-untuk-kriminalisasi-lgbt
  1. Perluasan Pasal Zina Dapat Dukungan Ahli yang Dihadirkan MUI => http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt582c41fa3b38a/perluasan-pasal-zina-dapat-dukungan-ahli-yang-dihadirkan-mui
  2. Sidang LGBT, Hakim Konstitusi Gali Batasan Moral dan Hukum dalam Bernegara => http://agenjudiayam.com/sidang-lgbt-hakim-konstitusi-gali-batasan-moral-dan-hukum-dalam-bernegara/
  3. MK Menolak Permohonan Guru Besar IPB Kriminalisasi LGBT => http://www.suarakita.org/2016/07/mk-menolak-permohonan-guru-besar-ipb-kriminalisasi-lgbt/
  4. International Covenant on Civil and Political Rights http://www.ohchr.org/en/professionalinterest/pages/ccpr.aspx

 

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in LGBT, Sexual Orientation and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Pengujian Pasal Kesusilaan di MK dan Kriminalisasi LGBT

  1. ahyunimiwa says:

    aku baru aja baca tulisan ini tadi sore di qureta, bagus mbak 😊😊

    Like

  2. Jwan says:

    Very very sad, saya sangat prihatin buat org glbt yg tinggal di indonesia. Saya gak optimis hak2 gay rights akan berubah di indonesia, indonesia adalah negara mayoritas muslim, ambil contohnya negara2 middle east yg mayoritas muslim, gak ada satupun negara middle east yg gay friendly kecuali israel. Disana kaum glbt bener2 ditindas, bahkan kalo sampe ketauan if u’re gay, bisa masuk penjara seumur hidup atau death penalty, just for being who we are. Biar pun saya bersyukur sudah meninggalkan indonesia, tpi saya bener2 sangat prihatin buat glbt people yg tinggal di indonesia.

    Like

  3. Pingback: Hanya di Indonesia, Words Speak Lauder Than Actions | Apaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s