Curahan Hati Sopir Taksi Online

taxi-online

Satu atau dua tahun terakhir ini, warga kota besar, terutama Jakarta, sangat dimudahkan dan diuntungkan dengan adanya moda transportasi berbasi aplikasi yakni ojek dan taksi. Kita tidak perlu berjalan kaki ke pangkalan ojek dan negosiasi harga. Cukup mengaktifkan aplikasi ojek daring, kita akan dijemput di mana saja walaupun dalam gang sempit.

Demikian juga dengan taksi. Kita dapat bepergian dengan jarak dekat tanpa harus membayar biaya minimal seperti yang diberlakukan taksi konvensional bila dipesan. Turun di lobby mall atau perkantoran jadi lebih bergengsi karena seperti diantar oleh sopir pribadi.

Sesuai Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No. 32 Tahun 2016 pasal 18 tentang Penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek, menjabarkan bahwa mobil berkapasitas silinder kecil, di bawah 1300cc, tidak boleh dijadikan sebagai angkutan komersil berbasis aplikasi. Sehingga mobil tipe LCGC (Low Cost Green Car) tidak memenuhi syarat.

Peraturan di atas mulai berlaku sejak tanggal 1 Oktober 2016. Mobil yang dijadikan taksi daring maksimal berumur 5 tahun. Karena taksi daring dianggap bisnis yang menjanjikan, maka cukup banyak orang yang membeli mobil untuk dijadikan taksi. Avanza dan Xenia laris manis untuk bisnis ini.

Kepemilikan mobil taksi daring ini beraneka ragam. Ada yang disewa dari rental, memanfaatkan mobil milik saudara yang “menganggur” dan milik si sopir. Biasanya bila menggunakan taksi daring, saya suka ngobrol dengan sopirnya. Saya mengorek info tentang penghasilan, mobil siapa, tinggal di mana, berapa jam nariknya perhari, suka duka, dll.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang bisnisnya, tapi romantika hubungan penumpang dengan sopir taksi daring. Hubungan yang seharusnya mesra karena saling menguntungkan, kadang harus berakhir dengan saling menyakiti, atau menyakitkan bagi sang sopir.

Hingga saat ini, saya tidak pernah bertemu sopir yang menyebalkan. Tapi bukan berarti semua sopir taksi daring menyenangkan. Malah pernah ada supir yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada penumpangnya.

Saya juga punya saudara yang menjadi sopir taksi daring yang memakai mobilnya sendiri. Bila bertemu, dia sering menceritakan hal-hal yang kurang menyenangkan dari beberapa penumpang. Dalam tulisan ini saya mencoba merangkum uneg-uneg mereka. Sebelumnya, saya akan menjelaskan sistem penilaian yang berpengaruh pada penghasilan sopir taksi daring.

Ada tiga sistem penilaian yang harus dijaga dengan sangat ketat pada zona aman oleh sopir supaya mereka mendapatkan bonus, yaitu;

  1. Nilai Penerimaan. Menurut prosedur, bila ada order masuk pada aplikasinya, sang sopir harus mengambilnya. Sopir yang selalu mengambil semua order, maka nilai penerimaanya 100%. Bila ada order yang tidak diambil maka nilainya berkurang. Sopir tidak mendapat bonus bila Nilai Penerimaan di bawah 80%.
  2. Penilaian. Ini dilakukan oleh penumpang dengan memberikan bintang setelah menyelesaikan perjalanan. Ada 5 bintang. Bila akumulasi bintang sopir di bawah 4.5, maka dia tidak berhak mendapat bonus.
  3. Prosentase pembatalan oleh sopir maksimal 30%. Di atas itu mereka tidak berhak mendapat bonus. Setiap sopir yang melakukan pembatalan order, maka prosentasinya langsung naik. Misalnya satu kali pembatalan langsung mendapat 10%.

Ketiga penilaian di atas bisa berdiri sendiri atau saling terkait. Kata mereka, sangat susah menjaga tiga penilaian itu berada dalam zona aman. Sering kali mereka harus menahan emosi, mengurut dada, bersabar, supaya bonus dapat dibawa pulang.   Karena bila hanya mengandalkan ongkos dari penumpang, hanya cukup untuk membayar BBM dan setoran atau cicilan mobil. Sedangkan untuk biaya rumah tangga, mereka harapkan dari bonus.

Untuk diketahui, sopir tidak tahu tujuan dan biaya perjalanan penumpang – apakah jarak dekat atau jauh dengan biaya murah atau mahal – sampai mereka menekan tombol “ambil” pada aplikasinya.

Berikut beberapa kelakuan penumpang yang sering membuat sopir kesal tapi menahan diri dan berusaha tetap ramah.

  1. Tempat penjemputan yang tertera pada order berbeda dengan tempat penumpang menunggu. Ini sering terjadi pada pengguna gaptek atau pemula memakai layanan taksi daring. Biasanya kalau kita mengetik tujuan, misalnya Pluit, maka akan muncul banyak pilihan di layar; Pluit A, Pluit B, Pluit C dan lain-lain. Si penumpang gaptek atau ceroboh ini biasanya asal klik salah satu. Klik Pluit A padahal lokasi sebenarnya di Pluit C, yang jaraknya bisa 1 atau 2 km. Akhirnya sopir mencari ke sana ke mari. Syukur-syukur kalau calon penumpang bisa ditelpon. Kesel? Pasti. Tapi bila mereka batalkan maka akan menambah prosentase pembatalannya dan berakibat kehilangan bonus.
  1. Tempat tujuan yang ditulis pada oreder berbeda dengan yang dimaksud. Kasus ini sama dengan no. 1. Bedanya penumpang sudah di dalam mobil.   Berpotensi ada kesalahpahaman yang berujung penumpang kesal bila sopir menjelaskan kesalahan order tersebut. Ujung-ujungnya penumpang memberi bintang 1 atau 2.
  2. Setelah sopir melihat order, ternyata jarak penumpang ke tujuan lebih dekat dari pada jarak sopir ke calon penumpang. Bila jalanan tidak macet, biasanya sopir tetap ambil, tapi bila jam pulang kantor dan macet kadang sopir minta supaya penumpang membatalkan, tapi penumpang tidak mau. Karena penumpang tidak mau membatalkan, maka sopir harus bersusah payah mengarungi kemacetan. Dalam hal pembatalan, penumpang G tidak kena denda dan Rp. 10.000 bila memakai U.
  3. Penumpang yang pelit. Saudaraku bercerita, dia pernah menjemput karyawan di sebuah gedung perkantoran, saat jam pulang. Penumpang tiga orang diantar ke sebuat mall yang berjarak sangat dekat. Biayanya hanya Rp. 6.000 (enam ribu rupiah). Dan penumpang itu memberikan ongkos sesuai dengan yang tertera di aplikasi dengan pecahan satu lembar Rp. 5.000, dan 2 koin lima ratusan. Teganya!!!
  4. Penumpang yang bossy. Order taksi tapi belum siap berangkat, ada yang masih mandi, ada yang masih makan atau belanja di mall, dll. Sementara si sopir disuruh muter-muter mall dulu atau parkir. Masih mending kalau nantinya diberi tips yang sepadan untuk menunggu, seringan tidak sama sekali. “Saya pakai kartu kredit ya, Pak.” Trus keluar mobil.
  5. Penumpang yang memaksa dijemput dalam gang sempit sampai-sampai dia harus menekuk spion dan berusaha supaya mobil tidak baret tergores pagar atau dinding. Bila saja mobil tergores, pasti si penumpang tidak mau mengganti biaya perbaikannya.
  6. Gerombolan penumpang melebih kapasitas mobil, ada yang 8 atau 9 orang. Pengorder tersinggung saat diberitahu tidak semua boleh ikut. Atau pesan satu taksi lagi. Mereka tidak jadi naik, juga tidak mau membatalkan, sehingga sopir yang harus membatalkan.
  7. Penumpang yang manja. Misalnya penumpang di gedung A, posisi taksi di gedung B di sebelahnya, tapi harus putar balik dengan jarak yang cukup jauh bila menjemput ke gedung A. Sopir menelpon menyebutkan posisinya dan mengharapkan penumpang mau mendatanginya. Tapi si penumpang manja ini tetap bilang, “Saya tunggu di sini saja, Pak”.  Mau tak mau si sopir harus memutar dengan kekesalan hati. Padahal tujuannya dekat dan ongkos yang tertera hanya sekitar Rp. 15.000,- Sekiranya penumpang tersebut mau berkorban sedikit dengan berjalan ke gedung sebelah, keduanya akan saling diuntungkan. Sang sopir tidak perlu mutar jauh menghabiskan waktu dan bensin, dan penumpang tidak perlu bête karena menunggu lama.
  1. Penumpang yang merasa boss. Termasuk menyuruh angkat barang. Pernah penumpang marah karena merasa lama menunggu. Ketika mobil sampai, dia masuk dengan gaya seperti memarahi sopir pribadinya, “Lama banget sih?” katanya dengan nada tinggi.  Ketika itu si sopir juga sedang kesal karena harus menembus kemacetan untuk menjemputnya. Si sopir langsung menjawab, “Eh elu siapa? Turun dari mobil gue!!” Akhirnya penumpang turun sambil membanting pintu. Akhirnya si sopir tidak mendapat bonus karena dia harus membatalkan orderan tersebut.
  1. Penumpang yang sensitive. Sopir serba salah, menunjukkan kesalahan order penumpang akan menurunkan bintangnya. Tapi bila tidak ditegur, penumpang merasa orang paling benar. Saat closing order, si penumpang akan memberikan bintang jelak sehingga menurunkan akumulasi bintangnya. Pernah bintangnya turun jadi 4,1. Kasian.

Demikianlah beberapa keluhan mereka. Saya tanya berapa persen yang baik dan berapa yang menjengkelkan, mereka bilang 60% – 40%. Walaupun lebih sedikit, tapi yang 40% ini dapat menghancurkan bintang mereka.

Sistim penilaian bintang dengan batas minimal 4.5 itu juga sangat tidak adil. Karena satu penumpang yang menjengkelkan, bisa menghancurkan akumulasi bintang mereka. Ada juga penumpang yang sebenarnya baik, tapi tidak terbiasa memberi bintang 5, karena menganggap angka 10 atau bintang 5 itu sempurna, dan tidak ada orang yang sempurna. Semoga perusahaan aplikasi taksi daring ini dapat melonggarkan penilaian bintang tersebut.

Tulisan ini aku persembahkan untuk para sopir taksi daring. Semoga kita – para penumpang – dapat lebih memahami dan menghargai mereka. Berbaikhatilah dengan memberikan bintang 5 bila kita belum bisa memberikan mereka tips.

 

Catatan:

*Tulisan ini sudah di posting di qureta; aku posting lagi di sini hanya sebagai arsip

 

 

 

 

 

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s