Bermainlah di Taman Sorga, Intan Olivia Marbun

screen-shot-2016-11-15-at-12-43-02-am

Hari ini kumulai hariku dengan membaca berita duka. Duka yang mencabik-cabik perasaan karena seorang anak balita, korban bom molotov yang dilemparkan oleh orang sinting, kemaren pagi menjelang siang, saat anak balita itu bermain bersama temannya di halaman Gereja Oikumene Samarinda, akhirnya tadi subuh menghembuskan nafasnya yang terakhir .

Gadis kecil itu bernama Intan Olivia Marbun, baru berusia 2,5 tahun. Dia berjuang menahan kesakitan akibat luka bakar 80% disekujur tubuhnya selama 14 jam. Sekitar pukul 04.00, tanggal 14 November 2016 dia mengakhiri penderitaannya.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya itu, karena bila tanganku hanya terpercik minyak panas saat menggoreng ikan pun rasanya luar biasa panas dan perih.

Seharian ini, berita tentang Intan mengalir deras di time line social media, terutama twitter yang lebih banyak kugauli. Rasa simpati yang dalam kepada Intan mengalir membanjir berbarengan dengan cuitan yang sinis dari orang-orang tak punya hati.

Berulang kali aku harus mengusap air mata, padahal sedang di dalam bis Trans Jakarta, setiapkali aku membaca ungkapan simpati orang lain dan melihat fotonya yang berbalut benda putih itu. Sesak rasanya dada ini melihatnya.

Tatkala sebagian orang menitikkan air mata, ada pula orang yang menyuruh membandingkannya dengan anak-anak di Suriah yang bernasib sama.

Aku tidak tahu apa salah Intan sehingga untuk menangisinya pun kita harus membandingkan dengan anak-anak di negeri yang jauh.

Aku tidak tahu mengapa tewasnya Intan juga dihubungkan dengan dugaan penghujatan yang dilakukan Gubernur DKI, Ahok.

Bagiku, menangisi kepergian Intan bukan hanya pada kematian fisiknya, tapi karena aku melihat rasa kemanusiaan di negeri ini pun telah sekarat.  Rasa kemanusiaan anak negeri ini akan mati seperti kodok yang direbus secara perlahan.

Persatuan dan kesatuan NKRI ini telak tercabik-cabik oleh fanatisme dan terorisme yang kita rawat dan sirami tanpa sadar dengan segala pembenarannya.

Bau anyir perpecahan itu telah tercium sejak belasan tahun lalu dan baunya semakin tajam akhir-akhir ini.

Dan malam ini aku melihat semuanya dengan jelas.

 

Jakarta, 14 November 2016

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bermainlah di Taman Sorga, Intan Olivia Marbun

  1. Jontavit says:

    Well, kejadian ini sungguh mencengangkan, pada saat kejadian ini terjadi saat itu saya sedang diperjalanan dari Samarinda menuju Balikpapan. Begitu saya tiba di Balikpapan, sama mendapatkan berita dari sosial media tentang kejadian tersebut. Sangat disayangkan kejadian ini, kenapa harus terjadi lagi hal-hal seperti ini, saya sudah muak dengan tingkah laku ekstrimis yang diluar nalar logika. Selamat jalan adik kecil manis, sekarang engkau sudah berada dirumah Bapa. Salam Damai & Berkah Dalem.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s