Orang Pintar Tidak Terprovokasi SARA

cinta-laura

Tadi siang sambil menunggu di ruang tunggu kantor client, aku membaca artikel yang di-posting seorang teman di WA group. Judulnya: Gemuruh Takbir di Paripurna DPR Saat Politikus PKS Bacakan Surat Toleransi. Isinya tentang seorang anggota DPR dari fraksi PKS, yang meminta waktu untuk membacakan sebuah surat terkait dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta soal Al Maidah ayat 51. Hal itu terjadi sebelum sidang Paripurna yang akan membahas tentang Perjanjian Paris atas Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai perubahan iklim.

Sebelum aku melanjutkan membaca artikel tersebut, terbersit dalam benakku, “Ya ampun, nggak kelar-kelar nih masalah, walaupun Ahok sudah minta maaf.”

Sebelum membacakan surat dr. Gamal Albinsaid, si politikus memberi kuliah tentang toleransi sambil menyelipkan sebuah tuntutan supaya Presiden dan Kapolri membawa (Ahok) ke jalur hukum.

Bagi saya, kata dr Gamal: “The highest result of tolerance is respect and social relations”, toleransi itu adalah bentuk penghormatan kita pada perbedaan yang ada. Mulai dari hal yang kecil seperti makanan, cara berpakaian, cara beraktivitas, sampai hal yang besar soal agama, kitab suci, dan prinsip Ketuhanan.

demikian surat dr Gamal saya copy paste:

THE HIGHEST RESULT OF TOLERANCE IS RESPECT AND SOCIAL RELATIONS

Oleh dr. Gamal Albinsaid

Bismillahirrahmanirrahim…

Dua hari lalu, sebelum saya menerima penghargaan Empowering people Award dari Siemens di Jerman, salah seorang panitia mendatangi saya untuk menanyakan cara bersalaman di atas panggung karena pimpinan mereka adalah seorang wanita. Mereka menghormati ketika tahu saya tidak bersalaman dengan wanita karena tidak ingin bersentuhan dengan yang bukan muhrim saya. Saya cukup menempelkan kedua tangan saya, lalu menyapa mereka tanpa menyentuh tangannya. Mereka mengatur itu di atas panggung agar saya merasakan kenyamanan. Itulah toleransi.

Di perjalanan ke Inggris untuk kunjungan ke 15 perusahaan, pernah saya menaiki pesawat yang tidak menyediakan makanan halal. Setelah saya sampaikan kepada mereka saya hanya bisa makan makanan halal, mereka mencari sebuah mie instan yang memiliki label halal untuk saya. Itulah toleransi.

Ketika saya harus presentasi di California University yang bersamaan saat Salat Jumat, saya minta panitia menggeser jam presentasi kami, karena saya ingin melaksanakan Salat Jum’at di sana. Mereka mengijinkan menggeser waktu presentasi saya. Itulah toleransi.

Ketika makan malam dengan pangeran Charles di Istana Buckingham, mereka mengatur supaya saya mendapatkan makanan untuk vegetarian agar saya merasa nyaman. Itulah toleransi.

Di berbagai pengalaman itu, saya merasakan dan menyimpulkan bahwa bentuk toleransi adalah hormat. Bagi saya “The highest result of tolerance is respect and social relations”, toleransi itu adalah bentuk penghormatan kita pada perbedaan yang ada. Mulai dari hal yang kecil seperti makanan, cara berpakaian, cara beraktivitas, sampai hal yang besar soal agama, kitab suci, dan prinsip Ketuhanan.

UNESCO dalam publikasinya “Tolerance: The Threshold of Peace”

Menyatakan social relations adalah salah satu indikator dari suksesnya toleransi di sebuah masyarakat. Oleh karenanya hasil dari toleransi adalah kenyamanan individu dan keharmonisan sosial.

Mau tidak mau, pemimpin berperan besar dalam menjaga, membangun, dan menciptakan toleransi yang baik. Tidak boleh pemimpin itu masuk atau memberikan komentar terhadap agama, kitab suci, prinsip Ketuhanan, dan cara beribadah sebuah agama.

Peran pemimpin itu penting sekali dalam toleransi yang kita bangun. Kita rindu pemimpin yang mampu menyejukkan perbedaan kita dalam kesantunan, menciptakan keharmonisan di antara perbedaan dengan sikap saling menghormati dalam cinta kasih. Bukan pemimpin yang tidak mempedulikan perbedaan yang ada, menciptakan ketegangan dengan menghina agama, melecehkan kitab, membatasi cara beribadah. Seorang pemimpin harus menghormati agama yang berbeda dengan tidak menilai atau mengomentari agama, tidak mengomentari kitab suci, dan tidak mengomentari cara beribadah. Lalu bagaimana keharmonisan bisa hadir jika pernyataan mengarah pada pelecehan atau penghinaan pada kitab suci dan isi kitab suci?

Teruntuk Pak Ahok, before you say something, stop and think how you’d feel if someone said it to you. Sungguh menyakitkan jika anda merasakan bagaimana yang kami rasakan sebagai umat Islam, kitab yang kami baca tiap hari, kami jadikan pegangan hidup, kami hafalkan, kami baca saat banyak orang tidur, kami pelajari bertahun-tahun, lalu dengan mudahnya anda sebut sebagai alat melakukan kebohongan. Apakah Pak Ahok pernah menempuh jurusan tafsir hingga merasa berhak menafsirkan Alquran seenaknya? Pak Ahok, jangan hina kitab suci saya hanya untuk kepentingan politik anda! Tidak ada sedikitpun kebohongan dalam Alquran! Hormati Alquran kami!

“Don’t get so tolerant that you tolerate intolerance”(Bill Maher).

Kita tidak boleh mentoleransi sebuah keintoleransian.

Jangan salah mengartikan toleransi, “Tolerance does not mean tolerating intolerance”.

Saya sebenarnya tidak suka menuliskan atau memberikan tanggapan soal permasalahan politik, tapi nasehat Ayaan Hirsi Ali bahwa “Tolerance of intolerance is cowardice (mentoleransi sebuah intoleransi adalah sikap pengecut)” cukup memantapkan hati saya untuk tidak diam.

Gagasan toleransi Ayaah Hirsi Ali itu sama dengan apa yang dikatakan Haji Abdul malik Karim Amrullah atau yang biasa kita kenal dengan Buya Hamka, “Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu…. Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati…..”,

Ya, jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan. Itu jika diam.

Lalu bagaimana “jika membela orang yang menghina agamamu?” Guntur Romli dan Nusron Wahid mungkin bisa membantu saya menjawabnya.

10 Oktober 2016

==============

Kemudian kataku dalam hati; “Seberapa tolerankah anda terhadap perbedaan dengan orang lain? Seberapa tolerankah anda menerima permintaan maaf orang lain? Seberapa tolerankah anda menerima orang yang berbeda cara pandang? Karena di dalam surat itu yang kubaca hanya tentang orang lain yang bertoleransi terhadap anda. Anda sungguh beruntung karena selama perjalanan ke Eropah, orang-orang yang anda temui sangat menghormati anda.”

Dr Gamal tidak menuliskan arti toleransi yang sesunguhnya, maka aku akan membantunya. Menurut http://dictionary.cambridge.org , toleran itu adalah (1) willingness to accept behavior and beliefs that are different from your own, although you might not agree with or approve of them, and (2) the ability to deal with something unpleasant or annoying.

Kalau menurut aku, toleransi itu tidak hanya menerima hormat dari orang yang berbeda, tapi juga menghormati orang yang berbeda. Hubungan timbal balik. Dua arah. Dalam kasus Ahok, banyak juga muslim yang menganggap tidak ada yang salah dengan ucapannya. Sebaliknya banyak pula yang menganggapnya menghina Al-quran. Dan demi mengakhiri konflik menjadi bola liar, Ahok minta maaf.

Surat dr. Gamal ini bertanggal 10 Oktober 2016, pun Ahok meminta maaf pada tanggal yang sama. Aku tidak tahu apakah surat ini dia rilis sebelum atau sesudah Ahok minta maaf.

Aku tersenyum karena dr Gamal mengutip perkataan Ayaan Hirsi Ali. Karena Ayaan menuliskan quotenya itu untuk mengkritik Islam. Dr Gamal malah memakainya untuk membela Islam. Menarik ya?

Ayaan adalah muslim keturunan Somalia yang kemudian menjadi atheis, melarikan diri ke Belanda dan menjadi warga negara Belanda. Di Belanda, bersama sahabatnya Theo Van Gogh, mereka membuat film yang berjudul Submission. Film ini isinya kritikan keras terhadap Islam dalam memperlakukan perempuan. Karena film tersebut, Van Gogh dibunuh oleh warga negara Belanda keturunan Maroko, dan Ayaan pun mendapat ancaman mati dari Islamist.

Baru kemaren kami diskusi sampah di group WA, dan aku menyanjung dr Gamal untuk aksi kemanusiannya dalam pemanfaatan sampah. Tapi setelah membaca surat itu, aku kecewa dan rasa bangga itu memudar dalam dadaku.

Baik, kita tinggalkan dr Gamal dan kembali pada politikus yang memanfaatkan surat dr Gamal.

Olehnya, kasus ini dikipas lagi. Bara yang sudah hampir padam diharapkan menyala lagi. Aku terlalu naïf bila mengatakan ini murni masalah agama. Aku tahu, ada tujuan yang ingin digapai dengan menunggangi isu ini. Berharap dapat dukungan dari parlemen untuk menekan Polisi menangkap Ahok. Dengan demikian Ahok keluar dari arena pertarungan Pilgub rasa Pilpres ini.

Semua tahu bahwa si politikus ini berbeda jagoan dengan Ahok. Mengeliminir lawan akan lebih memudahkan memenangkan pertandingan. Mungkin bagi mereka pertandingan nanti terlalu berat.

Tentang kutip mengutip ayat kitab suci oleh yang bukan umatnya, aku jadi teringat Amin Rais. Beberapa tahun lalu, sepertinya ada kasus maksiat yang sedang hangat. Kasus yang melibatkan politikus atau pejabat, aku lupa.

Kemudian dalam sebuah wawancara Amin Rais berkata, “Ketika ada seorang perempuan kedapatan berzinah, dia dibawa ke hadapan Yesus untuk minta pendapat cara menghukum perempuan tersebut. Kemudian Yesus berkata “Barang siapa diantara kamu ada yang tidak pernah berzinah, dialah yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.” Ternyata tidak ada yang melempar, karena semua orang Yahudi ketika itu pernah berzinah.”

Aku terkesima menontonnya berbicara seperti itu. Tidak ada kalimat Yesus yang mengatakan “barang siapa diantara kamu tidak pernah berzinah, TAPI barang siapa diantara kamu tidak berdosa …”

Perbedaannya hanya satu kata, tapi artinya menjadi sangat berbeda.

Apakah orang Kristen memprotes kesalahan kutip yang dilakukan Amin Rais tersebut? Tidak. Karena orang Kristen memaklumi, dia bukan Kristen dan dia tidak paham apa yang dia katakan.

Itu toleransi menurut aku. Kemampuan menerima sesuatu walaupun itu mengganggu dan menjengkelkan.

Kemudian tadi sore aku juga membaca tulisan rekan Natalia Laskowska tentang Spiral Kebencian. Di akhir tulisan dia mengatakan; “Kebencian seperti ular, melilitkan pada sesuatu yang sebenarnya tidak ada, tapi menjadi persoalan, karena penghasutan yang cocok. Dan dia akan memutar terus, naik tanpa menemui ujung.”

Dalam masyarakat yang multi etnis, multi kultur, multi agama dan keyakinan, hanya satu yang bisa mempersatukan, yaitu toleransi. Bertenggang rasa terhadap hal yang berbeda, berlapang dada terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain, berlomba saling memberi hormat, dan lain sebagainya.

Sementara memelihara kebencian hanya akan menghancurkan diri kita sendiri. Lebih luasnya, negara kita sendiri. Rasa benci itu ibarat racun yang kita minum setiap hari kemudian kita berharap dapat sembuh. Tidak mungkin.

Peneliti berkata, tingkat toleransi dalam hidup kita dapat dikaitkan dengan tingkat kebahagiaan. Orang yang toleran hidupnya lebih bahagia. Atau juga orang bahagia akan menjadi lebih toleran. Dibolak-balik pun, intinya adalah rasa toleransi dan bahagia itu seiring sejalan.

Lawan kata toleransi adalah intoleransi. Intoleransi merupakan kegagalan dalam menghargai dan menghormati keberagaman, perbedaan pendapat atau keyakinan orang lain. Intoleransi tumbuh subur dalam masyarakat awam dengan tekanan ekonomi yang berat, juga dalam gelombang politik yang panas yang menjual perbedaan untuk merebut simpati.

Intoleransi akan mendorong polarisasi dalam masyarakat; pro dan kontra. Saat ini DKI sedang diguncang isu panas penistaan agama. Hebatnya, polarisasi itu tidak hanya terjadi di DKI, tapi hampir di seluruh Indonesia. Ormas Islam di satu sisi meminta Ahok di tangkap. Masyarakat Indonesia bagian Timur mengancam akan merdeka atau melakukan perlawanan bila Ahok dikriminalisasi.

Gelombang panas Pilgub DKI ini telah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Siapa pun yang bermain api, rakyat yang akan terbakar. Aku tahu sebagian besar rakyat Indonesia menginginkan perdamaian. Ada baiknya kita sebagai masyarakat tidak menari pada gendang yang ditabuh politikus nakal dan culas.

Mari tambahkan sedikit kadar lapang dada untuk menerima kekurangan atau kesalahan orang lain dalam resep toleransi kita, maka niscaya kita akan lebih bahagia. Dan bahagia akan membawa damai sejahtera.

Khusus untuk politikus yang berusaha membakar akar rumput, aku mau katakan, hentikan, coy! Itu tidak elok. Aku tahu Anda tidak bodoh, tapi Anda menjadi kelihatan bodoh.

Jakarta, 20 Oktober 2016

 

*Tulisan ini sudah di posting di qureta; ini hanya sebagai arsip

*Foto milik Cinta Laura yang diambil dari Twitter

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Negeriku & Politik and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Orang Pintar Tidak Terprovokasi SARA

  1. Jontavit says:

    Aku setuju banget mbak dengan tulisan ini, Tuhan memberkati.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s