Jangan Menunduk Terus, Berbahaya!

Screen Shot 2016-09-03 at 4.18.06 PM

Sebulan yang lalu, hari Kamis tanggal 4 Agustus 2016, pagi hari aku pergi ke kantor dengan menggunakan Kreta Api. Sebelum berangkat, aku sempat bilang pada ibuku bahwa hari Senin depan aku akan ke dokter bila sakit di leher dan punggungku tidak kunjung sembuh. Kereta pagi selalu penuh, tapi aku lebih memilih moda transportasi ini karena (normalnya) lebih cepat dari pada moda transportasi lainnya.

Aku masuk gerbong wanita yang paling depan. Setelah dua stasiun, orang yang duduk di depanku turun sehingga aku dapat duduk. Puji Tuhan. Karena saat berdiri itu rasa sakit tidak hanya di pundak, bahu dan punggung tapi menjalar sampai ujung jari jemari. Kedua tangan seperti kesemutan tapi sakit.

Kupikir setelah duduk sakitnya akan berkurang. Ternyata tidak. Duduk tegak salah, menyandar pun salah. Dari tadi aku sudah berkeringat dingin. kejadian serupa nyaris setiap hari kurasakan dalan 2 minggu kebelakang. Malam hari aku sulit tidur karena sakitnya.

Aku seharusnya turun di stasiun Tanah Abang, tapi sejak di stasiun Tebet aku sudah berpikiran untuk segera ke rumah sakit. Tidak sanggup menunggu hingga Senin depan. Setahun lalu aku pernah di rawat di RS Pusat Pertamina (RSPP), dan aku suka RSPP karena dokter spesialisnya lengkap dan semua fasilitas medis ada. Aku memetakan, stasiun mana yang paling dekat dengan RSPP, kemudian kuputuskan turun di Stasiun Sudirman, dan lanjut naik ojek supaya cepat sampai.

Seperti biasa, rumah sakit ini selalu ramai. Setelah nomor antrianku dipanggil, aku menuju meja 3. Seorang pria yang melayaniku.

“Mau ke dokter siapa?” tanyanya ramah.

“Belum tahu.” Jawabku, “Dokter umum ada?”

“Ada.” Jawab Bapak itu ramah. Trus lanjutnya, “Sakit apa?”

”Punggungku sakit, juga bahu sampe ujung jari.” Kataku.

“Pernah jatuh?” tanyanya lagi.

“Tidak.” Jawabku

“Lagi olah raga apa?”

“Aku sedang tidak melakukan olah raga apa-apa beberapa bulan ini.”

“Hmmm…” dia berguman, “Ke dokter syaraf aja ya, mbak!” katanya.

“Lhooo? Kok syaraf?” tanyaku kaget. Tidak menyangka sama sekali.

“Melihat gejalanya, kemungkinan syaraf kejepit. Kemungkinan loh. Makanya ke dokter syaraf saja, biar diperiksa.” Katanya meyakinkan.

Syaraf kejepit? Aku pernah dengar penyakit itu, tapi sama sekali aku tidak pernah kepikiran akan mengalaminya.

“Ada dokter yang dikehendaki?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

“OK, sama Dokter Jubelki ya!” katanya.

Aku mengangguk dan menunggu dia mempersiapkan dokumenku untuk kubawa ke Poli Syaraf. Dua kali aku ke rumah sakit ini dengan hanya meminta dokter umum, tapi disarankan ke dokter spesialis, dan keduanya benar seperti diperkirakan. Salut buat para resepsionisnya.

*********

Di Poli Syaraf, aku menunggu sekitar 5 pasien, dan akhirnya bertemu sang dokter ahli. Dia ramah sekali. Dari melihat dataku, dia tahu kalau aku orang Batak, dan dia langsung memanggilku dengan sebutan “Ito”. Hatiku langsung senang. Ito itu adalah panggilan akrab orang Batak terhadap saudaranya yang berlawanan jenis kelamin. Aku senang karena dia seperti menganggapku adik perempuannya.

Kembali aku ditanya seperti pertanyaan di bagian registrasi tadi; Sakitnya bagaimana? Pernah jatuh? Olah raga atau tidak? Kemudian dia menekan kepalaku ke bawah, dan aku sedikit berteriak. Kemudian katanya, “To, sepertinya syaraf kejepit. Foto aja dulu ya! Biar ketahuan masalahnya dengan pasti.” Katanya.

Aku mengangguk, kemudian dia mempersiapkan dokumen untuk ke bagian Radiologi.

Sejam kemudian aku kembali jadi model radiologi. Tahun lalu aku pernah foto untuk paru-paru. Tapi kali ini untuk leher. Ternyata foto untuk leher ini 4x jepret, pantas harganya 2x lipat dari harga foto untuk paru. J

Foto Radiologi dan hasil analisanya akan selesai jam 2. Saat itu sudah nyaris jam 12, aku memutuskan makan siang dulu di kantin. Sekitar jam 3, aku kembali ke ruangan Dr. Jubelki dengan membawa foto hasil Rontgen. Dia segera meletakkan foto tersebut pada alat di dinding di belakang mejanya, kemudian menyalakan lampu di belakang foto tersebut, dan terlihatlah foto tulang belulang bagian leher dari 4 sisi. Dokter menjelaskan satu per satu. Intinya adalah, benar ada syaraf yang terjepit di bagian leher sebelah kanan.

Dokter menjelaskan, “Penyakit seperti ini bisa sembuh hanya dengan operasi, tapi aku tidak rekomendasi. Untuk jangka pendek, pengobatannya adalah obat yang akan ku resepkan dan fisioterapi. Tapi itu tidak akan menyembuhkan, tapi hanya mengurangi rasa sakit.”

Saat dokter menjelaskan, aku merasa ada yang hilang dari duniaku, bahwa aku akan tidak sebebas dulu lagi. Bahwa ada duri dalam daging di tubuhku sehingga aku tidak akan merasa nyaman sepanjang umurku. Sedih rasanya.

Mungkin dokter melihat mendung di wajahku atau dia sering melihat hal yang sama pada pasien-pasiennya yang syock, kemudian katanya, “To, enggak usah takut. Banyak orang yang mengalami penyakit ini kok. Banyak yang mengalami syaraf kejepit malah tidak mengobatinya dan tidak masalah. Nggak usah dipikin.” katanya untuk membesarkan hatiku. “Aku sarankan Ito melakukan fisiotherapy dan MRI untuk mendapat kepastian yang lebih akurat.”

“Boleh. Jadwalkan Senin depan saja, Dok.” Kataku.

Kemudian dia mengantarkan aku ke depan pintu sambil berkata, “Senin ke sini sekalian langsung opname ya, To!”

Aku menyalaminya dengan senang. Dokter yang baik. Itulah mengapa aku suka RSPP.

Hari Senin, 8 Agustus 2016, aku masuk RSPP. Juga dilakukan tes darah lengkap dan urin untuk mengetahui apakah ada penyakit lain. Besoknya aku MRI, fisioterapi tiap hari, hari ketiga aku bertemu lagi dengan Dr. Jubelki untuk membaca hasil MRI. Syaraf kejepit yang kualami levelnya medium. Tidak mengkhawatirkan. Tapi posisi leher harus dijaga untuk tidak menunduk lama. Kemudian aku disuruh untuk berenang 3x seminggu dengan gaya dada. Alasannya, gerakan leher ke depan dan ke belakang saat berenang itu dapat memperbaiki posisi syaraf. Hasil urin dan darah, tidak ada yang mengkhawatirkan, semuanya bagus. “Pulang ajalah, To. Nggak usah lama-lama di sini. Rajin berenang saja ya!” katanya.

“Kalau senam, senam apa yang bisa kulakukan, Dok?”

“Oh bisa, gerakan menoleh ke kiri dan ke kanan dengan itungan 4x. pelan-pelan.”

Setelah mengucapkan terima kasih pada dokter yang baik hati itu, aku kembali ke kamar rawat inap, membereskan barang-barangku dan nonton sidang Jessica sambil menunggu proses administrasi. Dokter membekaliku obat untuk 10 hari.

Kemudian tanggal 16 aku dijadwalkan untuk kontrol. Pada saat kontrol, dia tidak memberikan lagi obat tambahan. Obat yang untuk 10 hari itu pun baru kumakan separoh, aku tidak ingin memakannya bila tidak sakit sekali. Kalaupun ada rasa sakit di leher atau kepala, aku segera melakukan senam leher, dan ternyata bisa menghilangkan rasa sakitnya.

Sebelum pulang, Dokter Jubelki juga sudah mempuat program fisioterapi selama 6x yang bisa kulakukan dalam masa rawat jalan. Jadi beberapa hari setelah itu, aku bolak balik ke RSPP untuk fisioterapi. Kata perawat di bagian fisioterapi yang kutanya, dua tahun terakhir ini pasien syaraf kejepit semakin banyak. Bahkan ada yang anak-anak. Penyebabnya terbayak karena gadget. Main gadget berjam-jam dengan menundukkan kepala, dan posisinya tidak berubah dalam waktu yang lama. Juga bila sering membawa tas yang berat yang disampirka di bahu.

Aku teringat beberapa tahun lalu, hidupku di depan laptop siang malam. Laptop pun di bawa ke tempat tidur dan mengetik dengan posisi menunduk yang sangat lama. Kegiatan yang terlihat jauh dari resiko yang ternyata berbahaya. Juga tas kantorku sangat berat. Waktu di RSPP kutimbang, beratnya nyaris 4 kg!!!

Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari penyakitku. Jangan menunduk melihat gadget dalam waktu lama. Dulu setiap kali di ruang tungg, di dalam bis, kreta atau mobil, aku dan juga banyak orang, selalu tertunduk memperhatikan HP. Sekarang aku lebih banyak melihat-lihat yang lain. Kalaupun melihat HP, aku usahakan tidak terlalu menunduk dan tidak lama.

Guys, hati-hati! Kalau sedang bermesraan dengan HP atau gadget, sering-sering lah mengangkat kepala. Jangan menunduk terus, berbahaya!

 

Jakarta, 3 September 2016

Mery DT

Foto: dokumen pribadi.  Aku sedang di-tens, bagian dari fisioterapi.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s