Perspektif

Perspective01

Tadi sore sepintas mendengarkan renungan sebelum buka puasa yang dibawakan oleh Arman Maulan di NET. Aku memang mendengarkan sambil twitter-an, focus lebih pada twitter dari pada tayangan tivi di depanku. Dari pendengaran yang tidak focus itu aku cuman menangkap garis besar dari ceritanya. Kurang lebih seperti ini:

Ada seorang nelayan yang setiap pergi memancing membawa kayu dengan ukuran sekitar 30 sentimeter. Dia hanya mengambil ikan yang seukuran kayu tersebut karena wajan penggorengannya di rumah hanya bisa menggoreng ikan dengan ukuran seperti itu. Maaf, kurang lebih seperti itu ceritanya yang kutangkap, karena aku tidak terlalu memperhatikan.

Aku menaruh perhatian ketika Arman mengelaborasi cerita itu dengan mengatakan bahwa kita jangan seperti nelayan tersebut yang tetap mempertahankan mendapatkan hasil hanya seukuran kayu tersebut padahal kita bisa mendapat ikan yang jauh lebih besar.

Aku tertarik apa yang dikatakan Arman ini. Tertarik karena berbeda dengan apa yang kupikirkan.

Dia melanjutkan, dengan memperbesar kapasitas kita, kita bisa mendapat berkat yang lebih besar. Nelayan itu seharusnya bisa mengganti wajannya dengan membeli wajan yang lebih besar sehingga dia bisa menggoreng ikan yang lebih besar. Allah mau memberikan rezeki yang lebih besar tapi dia tidak mempersiapkan diri menerimanya.

Aku paham maksudnya adalah hal memperbesar kapasitas sehingga kita dapat menerima berkat yang lebih besar. Aku mengerti statemen tersebut yaitu bila ingin mendapat hal besar, siapkan pula tempat yang lebih besar. Kurang lebih seperti itu.

Tapi yang membuat aku terusik adalah karena aku punya cara memaknai cerita tersebut. Menurutku, nelayan yang digambarkan ini adalah nelayan sederhana yang punya prinsif kuat bahwa dia hanya mengambil ikan seukuran atau sedikit lebih kecil dari tongkat ukurnya. Benakku langsung mengatakan bahwa nelayan ini pasti penganut paham “mengambil sumber daya alam secukupnya sesuai kebutuhan, tidak berlebihan sehingga sumber daya alam dapat berkelanjutan.”

Aku langsung berpikir bahwa nelayan ini tidak ingin memperbesar wajan penggorengannya karena memang hanya segitu yang dia butuhkan. Kalau dia memperbesar wajannya dan menggoreng ikan yang lebih besar dari biasanya, maka dia akan menjadi kegemukan bila memakan semuanya, atau makanannya akan tersisa dan terbuang percuma. Aku yakin sang nelayan tersebut adalah manusia sederhana yang jauh dari sifat tamak mengambil hasil alam melebihi kebutuhannya.

Nelayan itu pasti orang yang bijaksana yang memikirkan orang lain selain dirinya. Supaya orang lain pun kebagian ikan sesuai kebutuhan mereka masing-masing. Yang mempunyai anggota keluarga lebing banyak tentu akan mencari ikan yang lebih besar dan lebih banyak.

Ah, aku mungkin terlalu idealis atau terlalu banyak mempelajari filosofi hidup orang Dayak yaitu “mengambil hasil hutan/alam secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak merusak sumbernya.”

Hal itu yang membuat terkesiap mendengar elaborasi Arman atas cerita tersebut, dan tersadar bahwa dari satu cerita, orang dapat memaknainya dengan beragam cara. Tergantung apa poin yang ingin kita sampaikan dan juga value apa yang paling kita pegang.

Apakah Arman salah? Tidak sama sekali. Apakah aku salah? Tidak juga. Masing-masing punya cara pandang dan cara menterjemhkan suatu cerita.

Selamat merayakan hari idul fitri bagi yang merayakannya!

 

Jakarta, 6 July 2016

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Alam / Lingkungan Hidup, Celoteh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s