Areal Khusus Wanita dan Agama

scania-transjakarta

Tadi pagi saat perjalanan dari Ragunan menuju Thamrin, di atas bus Trans Jakarta (TransJkt) gandeng, ada sebuah insiden pertengkaran antar gender yang … yach seharusnya mungkin tidak perlu terjadi. Memalukan!

Bagi yang belum pernah menggunakan bus TransJkt, atau orang di luar Jakarta yang tidak paham dengan kondisi transportasi umum ini, aku akan jelaskan sekilas.

TransJkt itu ada 3 tipe, bus sedang ukuran metromini, bus panjang ukuran bus damri, dan bus gandeng yaitu bus panjang yang ditambah satu badan bus lagi dibelakangnya.

Aku lupa kapan mulai aturan ini, tapi sudah terjadi bertahun-tahun dimana penumpang wanita dipisah dengan penumpang pria. Pada bus sedang, kernetnya akan meneriakkan supaya penumpang wanita ke area depan dan penumpang pria di area belakang. Pada bus panjang sudah tertulis “Area Wanita” pada bagian depan bus, yaitu dari pintu masuk ke bagian depan.

Pada bus gandeng, separoh bus bagian depan adalah areal wanita dan dari batas gandengannya ke belakang adalah areal umum. Pada bus hanya ditulis “Area Wanita” tidak ada “Area Pria” artinya wanita pun boleh berada di bagian belakang bus. Misalnya yang berpasangan akan memilih di bagian belakang.

Nah, tadi pagi saat jam berangkat kerja, bus gandeng dari Ragunan sudah penuh. Aku rela berdiri (padahal dari terminal awal) karena memburu waktu untuk meeting di The Plaza. Orang yang mau antri di terminal pemberangkatan awal biasanya memilih duduk. Bila sudah penuh, mereka akan menunggu bis berikutnya. Karena buru-buru putuskan berdiri saja.

Kemudian di halte berikutnya (Pertanian) – seperti biasa – masuk puluhan orang. juga di halte-halte lainnya hingga bus jadi penuh sesak. Setelah di Buncit, terdengar pertengkaran kecil di sampingku. Awalnya aku tidak perduli karena asyik ngecek Twitter dan Instagram. Sebenarnya hampir semua penumpang bus sibuk dengan gedgetnya, atau tidur bagi yang beruntung dapat duduk.

Ada suara ribut, bertengkar. Ini hal yang sangat jarang terjadi di TransJkt. Ternyata ada lelaki yang ikutan berdiri di area wanita. Perempuan yang duduk di depannya menyuruh dia pindah ke bagian belakang. Tetapi Lelaki itu tidak mau pindah karena ingin menjaga istrinya yang berdiri di sebelahnya.

Rupanya perempuan yang duduk ini merasa tidak nyaman karena dilihati oleh pria tersebut. Mungkin pria itu tidak suka karena sudah di tegur sehingga dia melihat perempuan tersebut. Sehingga terjadilah adu mulut.

Ada 2 perempuan yang berdiri di antara aku dan lelaki itu pun mengomel supaya pria itu pindah ke belakang. Si pria ngotot tidak mau pindah ke belakang karena dia mau menjaga istrinya. Dia bilang tidak mau berpisah dengan istrinya karena kewajiban dia sebagai suami untuk menjaga istri.

Aku bingung juga sik, bisa ada bahaya apa di areal perempuan ya? Trus beberapa perempuan bilang supaya dia membawa istrinya saja ke bagian belakang. Si pria tidak mau karena di belakang padat katanya. Istrinya ikut menambahi dia tidak mau di belakang.

Si suami sempat mengatakan “Kenapa saya harus ke belakang? Saya tidak suka dengan system pemisahan seperti ini. Saya ingin emansipasi pria.” Aku sempat tersenyum saat dia mengatakan itu.

Karena saat ini ada gerakan emansipasi pria di dunia barat sana di mana pria merasa haknya tidak setara dengan wanita dalam beberapa hal. Misalnya kalau di kendaraan umum, pria akan memberikan tempat duduknya pada wanita. Atau, bila pria menampar perempuan maka pria itu bajingan, tapi bila perempuan menampar pria maka si pria pasti telah melakukan kesalahan.

Terus terang, aku pun tidak suka dengan pemisahan areal lelaki dengan wanita ini. Kalau di kereta api malah ada 2 gerbong khusus untuk wanita. Dan selalu gerbong wanita itu lebih penuh sesak dari gerbong umum. Aku pun lebih suka di gerbong wanita walaupun lebih penuh. Kenapa? Karena merasa lebih aman.

Di gerbong umum, selalu saja ada pria yang mencoba mengambil keuntungan dengan menggesek-gesekkan paha atau pantatnya ke badan kita. Aku pernah menangkap jari tangan orang di belakangku dan mematahkannya karena dia meraba pantatku. Untung dia mengikuti gerakanku sehingga jarinya tidak patah. Setelah itu dia menjauh dariku. Aku pernah duduk di gerbong umum, dan pria yang berdiri di depanku beberapa kali meremas-remas kemaluannya. Sakit nih orang.

Jadi menurutku, bila kenderaan umum kita terlalu penuh sesak, maka penumpang perempuan memang selalu jadi korban pelecehan. Bila kendaraan umum tidak terlalu sesak, menurutku, boleh-boleh saja digabung pria dengan wanita. Kesempatan untuk melakukan pelecehan sangat kecil kalau tidak penuh sesak. Sedih mengatakan bahwa masih banyak pria yang memanfaatkan situasi kejepit tersebut untuk mengambil kesempatan.

Kernet dalam bus tadi perempuan. Mungkin dia takut bertindak tegas. Dia membiarkan saja pria tersebut. Tapi biasanya kalau kernetnya pria, akan selalu tegas menyuruh supaya pria pergi ke bagian belakang. Apapun alasanya dia akan tetap disuruh ke belakang.

Kembali ke pertengkaran di bus tadi, awalnya aku tidak membela siapa-siapa, tapi setelah si pria bilang “Agama saya menyuruh saya melindungi istri. Ngak tahu kalau di agamamu?” Aku langsung, “yachhh ketaker juga nih otaknya…” Pria ini dengan istri berjilbab, sedangkan perempuan yang memprotesnya itu dari penampilannya kita tahu dia keturunan Tionghoa, tidak berjilbab. Kemungkinan besar dia bukan muslim.

Ah, kenapa harus membawa-bawa agama dalam perselisihan dalam menaati aturan? Dia mencari pendukung dengan mengangkat agama? Malas banget. Masyarakat kita, sering sekali membenturkan agama dalam perselisihan pribadi. Mungkin dengan cara itu gampang mendapatkan simpati dan dukungan. Lihat saja tragedy Ambon dulu. Berawal dari pertengkaran biasa dua orang yang kebetulan beragama Islam dan Kristen. Selanjutnya sudah tahukan? Ambon hancur karena perang agama.

Aku tidak tahu kenapa si bapak tadi melakukan hal seperti itu. Kalau dia tidak setuju dengan aturan bus Transjkt sih ok saja. Silakan arahkan ketidaksetujuannya pada management TransJkt. Bikin surat keberatan, atau bikin class action. Jangan bungkus perselisihanmu dengan agama. Masyarakat kita masih terlalu sensitive dengan perbedaan. Maka janganlah dibentur-benturkan dengan agama.

Jakarta, 25 April 2016

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Negeriku & Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Areal Khusus Wanita dan Agama

  1. woredirs says:

    People Nowadays ckckck
    Sama mba, saya jg kurang suka tuh kalo udah bawa2 agama
    Kesel aja, semuanya disangkutpautkan sama agama
    Heran -.-

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s