Homoseksual TIDAK Menular

Orientasi seksual

Bila berbicara tentang LGBT, banyak hal yang membuat keningku berkernyit, salah satunya adalah bila mendengar pejabat, tokoh masyarakat atau cendekiawan yang mengatakan homoseksual itu menular. Menyambung tulisanku sebelum ini tentang salah kaprah seputar istilah LGBT, maka ini salah satunya yang belum sempat terpikirkan kemaren, yaitu LGBT menular. Maksud mereka sebenarnya homoseksual yang menular. Tapi karena tidak paham akhirnya dikatakan LGBT yang menular. Baiklah kita maafkan saja.

Aku pernah menulis tentang penyebab yang membuat seseorang gay. Faktor penyebab menjadi gay (homoseksual pria & wanita) adalah kombinasi faktor biologi (gen), psikologi, kultur sosial, psikologi dan dorongan seksual. Ada yang berdiri sendiri, umpamanya karena genetika (baca di sini) dan ada yang karena kombinasi beberapa faktor, misalnya kombinasi dorongan seksual dan kondisi sosial yang membatasi (baca di sini).

Bila menurut Dr. Alfred Kinsey yang melakukan survey dan penelitian orientasi seksual tahun 1950an, jumlah populasi heteroseksual (murni) adalah 71%, homoseksual (murni) 6% dan biseksual 23%. (baca di sini) Aku sering menyebut biseksual ini adalah swing voter karena mereka bisa menjalani kehidupan homoseksual dan heteroseksual. Dan jumlah mereka cukup besar, yaitu 23%. Memang ketertarikan biseksual terhadap lawan jenis dan sesama jenis itu berbeda porsinya. Ada yang cenderung lebih suka sejenisnya, ada yang cenderung lebih suka lawan jenisnya. Jadi bila separoh saja dari biseksual cenderung pada pasangan sejenis, ditambah gay maka akan ada sekitar 17,5% populasi yang menyukai sejenisnya.

San Fransisco (SF) adalah kota dengan prosentasi gay terbesar di Amerika, tapi ternyata hanya 15,4% dari populasi. Sedangkan New York hanya 4,5%. Prosentase di SF bisa sedemikian besar karena gay dan biseksual dari berbagai negara bagian AS datang dan berkumpul di SF. Di sana banyak sekali gay village.

Prosentase itu bisa diperoleh bila masyarakat sudah terbuka dan bisa menerima semua orientasi seksual hidup berdampingan. Di daerah atau negara tertutup maka jumlahnya sangat kecil atau mungkin tidak ada, karena takut membuka diri.  Ternyata SF yang sudah sangat terbuka dan menjadi tempat tujuan gay dan biseksual di seluruh AS untuk melanjutkan hidup, prosentasinya hanya 15,4%, masih dibawah 17,5%. Kota New York yang sangat metropolis hanya 4,5%.

Kembali ke topik, bila gay itu menular maka seharusnya masyarakat di SF itu sudah 100% menjadi gay. Tapi ternyata tidakkan? Banyak yang membuktikan bahwa heteroseksual yang hidup bergaul belasan atau puluhan tahun dengan gay, tidak menyebabkan mereka menjadi gay.

Sejak lahir, pada dasarnya semua orang sama, apa pun orientasi seksualnya. Menjadi berbeda saat orang tersebut mulai menyukai orang lain pada usia anak-anak atau remaja. Mayoritas populasi memang menyukai lawan jenisnya. Tapi ada sebagian kecil yang menyukai sejenisnya. Jadi yang membedakan gay (juga biseksual) dengan straight hanya pada ketertarikan seksualnya. Hanya itu. Selebihnya gay dan straight sama, misalnya bisa berkarir dibidang apa saja, menjadi apa saja dan melakukan apa saja. Sama.

Dalam hal menyukai orang lain secara seksual, biasanya anak atau remaja atau orang dewas yang berorientasi seksual gay (juga biseksual) merasa berbeda dengan teman-teman. Seorang gay, sebut saja Andi, akan mulai bertanya-tanya (questioning phase) mengapa dia berbeda dengan teman pada umumnya.  Bisa saja dia pada awalnya berpacaran dengan lawan jenis, tapi tidak merasa nyaman.  Kemudian dia mulai mencari informasi dan mencari orang-orang yang sama seperti dirinya. Kemudian dia mulai bergaul dengan orang-orang yang dianggap sama sepertinya. Pada tahap ini, orang lain melihat Andi yang straight bergaul dengan kelompok gay.  Kemudian pada suatu saat Andi menemukan orang yang dia sukai dan mereka berpacaran. Pada tahap ini, orang lain melihat Andi sudah tertular menjadi gay karena bergaul dengan kelompok gay. Demikian cara orang awam melihat “gay itu menular.”

Dr. Ryu Hasan menjelaskan kondisi ini dengan istilah “ada bakat dalam dirinya.” Misalnya orang yang ada bakat main gitar, begitu ketemu gitar, dia langsung tahu cara memainkannya. Atau bila dia ada bakat bernyanyi, dia akan menjadi bernyanyi walaupun tidak ada yang mengajari. Demikian juga bila ada bakat gay (secara genetika) maka dia akan menjadi gay walau tidak ada yang menularkan.

Ada kondisi di mana orang straight (heteroseksual) terpaksa berhubungan dengan sejenis, misalnya di penjara. Sering kita mendengar cerita kalau di dalam penjara ada orang yang menjadi “raja” yang menyodomi orang-orang baru masuk trutama bila kasusnya perkosaan. Bisa saja ada yang menjadi ketagihan dengan aktifitas sodomi ini. Jadi bila ada orang yang menjadi “gay” karena kasus seperti ini, hal ini disebabkan kombinasi faktor kondisi sosial dan pengalaman.

Ada pula karena social budaya di mana pria dan wanita dipisahkan secara ketat, sehingga lelaki lebih banyak menghabiskan waktunya dengan lelaki, demikian juga perempuan dengan perempuan. Akses dengan lawan jenis sangat sedikit. Dorongan seksual yang sangat tinggi pada usia remaja dan dewasa awal, membuat mereka mencoba menyalurkan dorongan seksual dengan siapa saja yang mau melakukan eksperimen. Kemudian banyak yang menyukainya dan ketagihan, mungkin karena keadaan atau pun memang karena dia adalah gay. Tentang ini bisa dibaca di sini.

Untuk dua contoh kasus yang terakhir ini, orang-orang tersebut bisa kembali menyukai lawan jenisnya, walaupun kadang-kadang banyak yang terjebak dengan pengalaman masa lalunya dan ketagihan. Tapi bila gay karena genetika maka akan sulit membuat dia suka terhadap lawan jenis. Kalaupun seorang gay mau menjalani kehidupan perkawinan heteroseksual, mungkin karena ada value yang dia anggap lebih penting dari pada orientasi seksualnya, misalnya ajaran agama, keluarga, pekerjaan, rasa malu dll.

Bila di Amerika Serikat kota dengan prosentase gay tertinggi adalah San Fransisco dengan angka 15,4% maka di beberapa kota Arab Saudi angkanya bisa mencapai 46%. bisa dibaca di sini.  Kalau kita mengacu kepada angka Dr. Kinsey, maka angka ini terlalu tinggi. Anomali.

Jadi kalau ada yang bilang LGB itu menular, kenapa hanya LGB? Harusnya heteroseksual juga. Karena orientasi seksual itu ada heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, aseksual, dll. Penjelasan tentang istilah-istilah seputar orientasi seksual dapat dibaca di sini.

Banyak yang mengatakan dengan melihat gay ciuman maka orang yang straight pun bisa berubah jadi gay.  Kalau melihat gay ciuman maka straight bisa menjadi gay, tentu bila gay melihat straight ciuman, mereka juga bisa berubah jadi straight juga dong!  Padahal film mayoritas mempertontonkan adegan ciuman heteroseksual, tapi gay tetap ada. Pendapat-pendapat seperti ini adalah cerminan ketakutan. Paranoid.  Ketakutan akibat ketidaktahuan, tapi tidak mau belajar.  Atau mau belajar tapi hanya mempelajari yang mendukung pendapatnya saja, bukan belajar fakta yang sebenarnya.

Demikian. Terima kasih.

 

Jakarta, 28 February 2016

Mery DT

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in LGBT, Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Homoseksual TIDAK Menular

  1. Sayang nya di indonesia, pengertian masyarakat atau department psikologi dan sosial tentang lgbt issue masi sangat dangkal. Coba baca rubrik ini http://www.jawaban.com/read/article/id/2015/07/02/93/150702101702/peran_orang_tua_agar_anak_terhindar_dari_lgbt

    bahkan persatuan gereja indonesia memutuskan lgbt adalah penyakit, OMG???? have they not learned any knowledge on the human sexuality?
    http://www.jawaban.com/read/article/id/2015/09/27/90/150927230536/sekolah_tinggi_teologi_bethel_bekasi_adakan_diskusi_lgbt

    Kalo setiap anak2 harus memiliki masa anak2 yang sempurna untuk menjadi straight, how is anyone straight? sya tumbuh di lingkungan keluarga yang baik, memiliki hub yg sangat baik dengan Papa dan mama saya, terutama Papa. Sedangkan temen2 saya yg straight, rata2 mereka memiliki hubungan yg jauh sama Papa mereka, but mereka straight, kalo teori itu benar harusnya mereka gay dong. Saya bener2 prihatin sama lgbt people di indonesia. 😦 😦

    Like

    • Mery DT says:

      Hi Ricky,

      Thanks untuk link2nya.
      Untuk negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, sangat sulit mengharapkan kaum rohaniawannya berpihak pada gay people. Mereka tidak akan mau memakai sepatu orang-orang gay. Jangankan kaum rohaniawan, ilmuwan yang harusnya lebih terbuka pemeikirannya pun, spt psikolog & dokter tidak bisa menerima gay. Mereka denial dan ignorant karena cederung berpihak pada agama yang diyakini. Seberapa terang pun sains mengatakan gay itu normal mereka akan selalu bilang penyimpangan seksual.

      Memang masih jauh untuk berharap Indonesia bisa mendapat pengakuan keberadaan gay secara sosial dan politik di negeri ini. Apalagi untuk equal marriage, sungguh masih sangat jauh.

      But, keep live your life with good vibes and ignore them who disappointing you.

      Like

      • Betul sekali, mereka gak menyadari bahwa penghakiman mereka terhadap gays and lesbians dengan membuat kesimpulan bahwa itu adalah penyakit memiliki dampak sosial lebih dari yang mereka bayangkan, anak2 ditendang keluar dari rumah ketika mereka come out as gays, gereja mengucilkan orang2 gays karna mereka merasa that’s the right thing to do.

        Like

        • Mery DT says:

          Perspektif. Mereka menganggap bahwa “memulihkan” gay adalah kewajiban mereka terhadap Tuhan yang mereka percaya. Sering terdengar perkataan yg bagi mereka sangat bijaksana tapi tidak bagi yang lainnya, seperti “lebih baik menderita di dunia daripada menderita di neraka kelak”.

          Perlu lebih banyak rohaniawan yang mempunyai perspektif berbeda, yang melihat ciptaan Tuhan itu tidak ada yang cacat. Bahwa perasaan cinta itu tidak ada yang salah. Seperti beberapa hamba Tuhan yang sudah mulai muncul di US dimana mereka merangkul gay dan mengakui keberadaan mereka.

          Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s