Jokowi dan Orang Rimba (Suku Anak Dalam)

Jokowi & OR

Jumat kemaren, 30 Oktober 2015, Jokowi mengunjungi Suku Anak Dalam atau Orang Rimba di Kabupaten Sorolangu, Jambi. Kedatangan Jokowi ditengah-tengah suku ini langsung mendapat tanggapan luas ditengah masyarakat, karena baru kali Ini Presiden RI berkunjung ke suku Anak Dalam atau Orang Rimba. Alasan Jokowi mengunjungi mereka adalah karena sudah lama mengetahui kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi Orang Rimba, terutama dengan adanya masalah asap sekarang ini.

Kemudian beredar gambar Jokowi, Presiden RI, sedang berbincang dengan beberapa Orang Rimba duduk di atas tanah di tengah kebun sawit. Saya senang melihat foto tersebut, karena mencerminkan Jokowi tidak berjarak dengan rakyatnya, siapapun dia. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Tapi kemudian Jokowi mengatakan dia akan merumahkan Orang Rimba. Aku tersentak dan merasa Jokowi melakukan kesalahan besar. Yang aku tahu, seperti orang Dayak, rumah dan hidup Orang Rimba itu adalah hutan. Dan Melangun (berpindah bila ada warga yang meninggal) adalah salah satu budaya mereka. Aku tahu sedikit tentang Orang Rimba karena dulu sering mendapat cerita dari Butet Manurung yang mengajari anak-anak Orang Rimba untuk membaca dan berhitung.

Sekitar tahun 2000, bersama seorang teman, film maker dari Amerika Serikat, kami berusaha membuat film tentang Orang Rimba. Sayang sekali, hingga sekarang filmnya tidak terlaksana karena tidak mendapatkan investor.

Aku kecewa karena dengan merumahkan Orang Rimba berarti memaksakan budaya orang luar dihidupi oleh Orang Dalam. Pasti akan ada kesenjangan yang besar. Orang Rimba itu berkeyakinan Animisme. Mereka percaya pada roh-roh di dalam hutan. Mereka percaya pada pohon khusus yang mempunyai kekuatan, dll. Mereka butuh hutan untuk menjalani hidup.

Kemudian aku membaca artikel ini => http://nasional.kompas.com/read/2015/10/31/12074021/Jokowi.Ajak.Suku.Anak.Dalam.ke.Luar.Kebun.Sawit.dan.Hidup.Menetap

“Presiden  sempat bertanya kepada Suku Anak Dalam yang‎ tinggal di tenda-tenda di kebun sawit, apakah mau tinggal di rumah dan tidak nomaden lagi. 

Mereka, kata Presiden, menjawab mau, tapi dengan syarat rumahnya memiliki jarak yang agak jauh dan memiliki lahan. “Sudah nanti disiapkan, Bu Menhut sudah nyiapkan, Pak Bupati, Pak Gubernur. Nanti yang mengenai rumahnya diurus Mensos,” kata Jokowi.”

Aku sedikit lega. Karena sepengetahuanku, Jokowi tidak akan memaksakan kehendaknya pada orang lain, misalnya seperti saat memindahkan pedagang di kota Solo, pasti demikian juga terhadap Orang Rimba. Tapi di media sosial terlanjur beredar kecaman terhadap Jokowi yang ingin merumahkan Orang Rimba. Banyak juga blogger yang mengkritik sikap Jokowi tersebut, bahwa merumahkan Orang Rimba bukan solusi.  Menurut mereka, solusi yang terbaik adalah mengembalikan mereka ke dalam hutan, yang merupakan rumah mereka. Dari pandangan antropologi pun, tidak bijak bila merubah budaya mereka.

Tapi betulkan mereka memang tidak ingin dirumahkan?

Bila membaca artikel di atas, yang aku tangkap adalah Jokowi menawarkan, dan mereka menerima dengan syarat, “rumahnya jauh dari lahan sawit (mungkin maksudnya harus di sekitar hutan) dan mereka punya lahan sendiri.”

Janganlah menganggap Orang Rimba itu sekarang betul-betul Orang di dalam rimba yang tidak pernah berinteraksi dengan orang luar. Sejak sepuluh atau mungkin lima belas tahun terakhir, ada LSM yang mengedukasi mereka, yaitu WARSI dan kemudian Sokola Rimba yang dimotori Butet Manurung (mantan orang Warsi). Tujuan mereka mengajari Orang Rimba belajar membaca dan berhitung adalah supaya mereka tidak ditipu orang luar saat berdagang. LSM ini dulu sering melihat Orang Rimba dirugikan dalam transaksi jual beli di pasar.  Oh iya, konversi hutan menjadi lahan kelapa sawit sudah dimulai lebih dari sepuluh tahun lalu.

Generasi muda Orang Rimba sekarang banyak yang bersemangat belajar dan ingin bersekolah tinggi. Mereka pun bercita-cita jadi Polisi hutan supaya bisa menjaga hutan mereka, jadi guru supaya bisa mengajari anak-anak lain di sukunya, jadi kameramen karena sering melihat orang luar membawa kamera, dll. Ini aku ketahui dari Butet Manurung. Dan anak-anak yang senang belajar ini ingin hidup menetap supaya mereka bisa belajar.   Jadi aku rasa, kita pun salah kalo memaksakan mereka hidup berpindah di dalam hutan sementara mereka ingin tinggal menetap supaya anak-anaknya dapat bersekolah.

Oh iya, jangan anggap Orang Rimba generasi sekarang tidak melek teknologi. Mereka juga tahu HP dan ingin memiliki motor, karena melihat orang luar menggunakan piranti tersebut. Menurut aku, Pemerintah wajib mengajari Orang Rimba cara hidup orang luar bila mereka ingin hidup menetap. Mereka harus mempunyai lahan pertanian, sumber pendapatan, memiliki akses layanan kesehatan, pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, dan yang terutama mengajari mereka mengelola keuangan.

Kemudian ada yang menyamakan merumahkan Orang Rimba adalah mengikuti gaya represif Orde Baru merumahkan Dayak Punan dengan program Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PMKT) pada tahun 1969. Aku jadi teringat dengan risetku pada awal April 2013 di Desa Punan Adiu, Malinau.

Suatu malam aku ngobrol panjang lebar dengan Bapak Markus Ilun (Ketua Adat) dan Bapak Piang Irang (Kepala Desa). Sangkin serunya diskusi kami, tak terasa kami bertiga ngobrol hingga jam 12 malam. Saat itu (tahun 2013), Desa Punan Adiu dihuni oleh 27 KK dengan jumlah penduduk 112 jiwa. Orang Tua mereka pindah dari hutan di seberang sungai pada tahun 1969 dan menetap di desa Punan Adiu. Saat itu mereka akhirnya menetap karena ada penyakit menular yang menyebar, dan tenaga medis dari luar membantu mengobati mereka.

Disamping adat istiadat (pantangan dan kegiatan yang harus dilakukan), yang menarik bagiku adalah demografi mereka. Angka kelahiran mereka sangat rendah, yakni 2 – 3 anak pertahun. Tapi yang istimewa adalah angka kematian lebih rendah lagi. Dari tahu 1999 – 2013 yang meninggal hanya 3 orang. Kemudian Pak Markus menceritakan, dulu saat masih hidup di hutan dan berpindah-pindah, satu hal yang sangat mereka takutkan adalah penyakit yang menyebabkan kematian. Bila ada satu orang sakit, sering menulari yang lain dan akhirnya meninggal. Tiap kali serangan penyakit menular itu datang, dapat menyebabkan kematian hingga belasan orang. Penyakit mematikan itu seperti sampar, muntaber dan kerumut. Iya, kita tahu penyakit-penyakit tersebut sangat mudah ditangani, tapi bila tidak segera ditangani dengan benar maka dapat menyebabkan kematian.

Menurut Pak Markus, dulu kala, sampar dan muntaber itu adalah momok yang sangat ditakuti karena cepat sekali merengut jiwa manusia. Tapi sejak mereka menetap, penyakit itu tidak menakutkan lagi karena mereka mendapat layanan kesehatan dari petugas kesehatan pemerintah.  Ada Puskesmas Pembantu di desa mereka.

Kemudian, aku tanya kepada mereka, apakah ingin kembali tinggal di dalam hutan dan berpindah-pindah? Mereka cepat menjawab, “tidak”. Mereka lebih memilih tinggal di desa karena anak-anak sekolah dan bisa dapat layanan kesehatan bila sedang sakit.

Oh iya, rumah mereka sama seperti rumah suku lainnya. Aku menginap di rumah Pak Markus selama 5 malam. Rumah di desa itu semuanya rumah panggung. Rumah Pak Markus memiliki dua kamar, mereka tidur di atas kasur, ada ruang tamu, ada ruang makan plus meja makan yang sederhana, ada WC sederhana, kamar mandi, punya televise dengan parabolanya. Di dapur aku melihat aneka sabun; seperti sabun cuci piring, sabun mandi, cairan pengepel, dll, dengan merek yang sangat familiar bagi orang kota. Anak perempuan Pak Markus mengepel lantai rumahnya setiap pagi.

Memang banyak yang mereka keluhkan, terutama adanya lahan sawit dan tambang batubara yang mengotori sungai mereka. Beberapa tahun terakhir, badan mereka menjadi gatal-gatal bila mandi di sungai. Hal itu disebabkan ada tambang batubara di hulu sungai yang membuang limbahnya ke sungai. Bila sepuluh tahun lalu, babi berenang masih gampang dilihat di sungai mereka, sekarang sudah tidak pernah terlihat. Mereka suka makan babi hutan, tetapi tidak babi yang dipelihara. Rasanya tidak enak kata mereka. Oh iya, setiap KK memiliki ladang yang ditanami palawija seperti kacang-kacangan, pisang, singkong, cabe dll. Dan warga Desa Punan Adiu mendapat Hutan Kelola Mandiri seluas +/- 17.400 Ha yang resmi diserahkan oleh Pemda Malinau.

Kembali ke Orang Rimba. Mungkin tidak ada salahnya merumahkan mereka sepanjang memang itu menjadi kebutuhan dan keinginan mereka.  Aku melihat Orang Rimba ingin rumahnya masih di sekitar hutan dan punya lahan milik mereka sendiri. Ini persis kondisi Orang Punan di desa Punan Adiu, Malinau.

Nenek moyang setiap suku bangsa di dunia ini dulu hidup nomaden, kemudian mereka menetap di sebuah tempat karena kebutuhan. Jadi hanya masalah waktu yang berbeda saja kapan mereka memutuskan untuk menetap. Orang Dayak pun secara bertahap akhirnya memilih hidup menetap. Tidak sekaligus semua sub suku Dayak langsung hidup menetap. Sepertinya suku Punan adalah suku Sub Dayak yang terakhir yang hidup nomaden. Mungkin sekarang giliran Suku Anak Dalam atau Orang Rimba untuk menetap. Kenapa kita menolaknya?

Saranku kepada Pemerintah, bagi mereka yang ingin hidup menetap, maka Pemerintah wajib memfasilitasinya secara paripurna.  Tapi bila ada Orang Rimba yang ingin tetap hidup di dalam hutan, Pemerintahpun WAJIB memfasilitasinya dengan memberikan hutan alam yang masih sehat.

Jakarta, November 2, 15

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Alam / Lingkungan Hidup and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Jokowi dan Orang Rimba (Suku Anak Dalam)

  1. itsmearni says:

    Apapun keputusannya yang penting semuanya berjalan dengan baik tanpa paksaan dari salah satu pihak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s