Perselingkuhan

FA04003

# Sebuah cerpen #

Aku tidak tahu sejak kapan perasaan seperti ini berawal, yakni perasaan tersiksa bila berada di dekatmu. Setiap kali engkau menyentuhku, aku merasakan gelombang panas yang sama sekali tidak romantis.   Aku selalu berdoa dalam hati, semoga engkau segera mengakhirinya, sehingga aku bisa segera membersihkan diriku dari semua jejakmu.

Semua rasa marah, sedih, kesal, cemburu, kecewa dan lain sebagainya yang kutumpuk bertahun-tahun berujung pada rasa ini. Aku sudah lelah beragumentasi. Tak ada lagi niat mencari solusi. Malahan membiarkan semuanya menjadi semakin buruk.

Belum terlalu lama memang, tapi delapan tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang waktu itu kita telah memiliki dua orang jagoan kecil yang tampan. Sebenarnya aku lelah merunut ke belakang mengapa aku sampai pada titik ini.

Engkau adalah lelaki pertama yang kucinta. Malangnya, engkau satu-satunya lelaki yang pernah kupacari. Aku masih ingat bagaimana dulu aku begitu mencintaimu. Aku bangga menjadi pacarmu karena engkau adalah idola gadis remaja kampung kita. Pemain basket dan anak tokoh kampung yang disegani.

Aku juga ingat engkau teramat mencintaiku, malah cenderung menguasaiku. Melarang teman sekolahku memberi boncengan bila aku pulang sekolah. Kemudian engkau meminta orang tuamu meminangku pada tahun kedua perkuliahanku karena takut aku akan berpindah kelain hati. Karena katamu, di kampusku sainganmu terlalu banyak.

Dalam keluguanku, tanpa pikir panjang, aku menerima lamaran keluargamu. Saat itu usia kita masih belia. Usia yang seharusnya aku bisa merasakan kegilaan dan keseruan hidup gadis muda belia. Ah, dulu aku senaif itu. Mengira cukup engkau ada disampingku maka tidak akan ada masalah yang bisa menyentuh kita.

Kemudian kita menikah saat engkau pun belum menyelesaikan perkuliahanmu. Aku masih ingat pada tahun-tahun awal itu hidup kita ditopang seratus persen oleh orang tuamu, sebelum akhirnya engkau lulus kuliah dan bekerja. Aku pun ingat harus istirahat kuliah karena melahirkan anak pertama kita setahun sesudahnya.

Kemudian aku berusaha keras untuk menyelesaikan kuliah sembari membesarkan anak. Dan engkau bekerja dari satu perusahaan kemudian loncat ke perusahaan lain dengan alasan bosan, tidak cocok, dan lain sejenisnya.

Ternyata hari-hari manis itu hanya pada tahun awal pernikahan. Kebebasanku sebagai wanita muda tiba-tiba hilang, direnggut atas nama “status agung”; istri dan ibu. Aturan-aturan mulai menghalangi gerakku dan mengurangi kecerianku. Aku berusaha keras beradaptasi demi status tak bercela, istri yang sakinah.

Tahun berganti, dan aku terjebak dalam rutinitas dan aturan-aturan yang semakin banyak menekan pundakku. Terlebih lagi setelah kelahiran putra kedua kita.

Demi Tuhan aku sangat mencintai kedua putra kita. Aku rela mengorbankan nyawaku demi kebaikan mereka. Untuk merekalah aku hidup. Dan tiada arti hidupku tanpa mereka. Sudahkah kukatakan bahwa mereka adalah air hidupanku, oksigen buat nafasku dan cahaya yang menunjukkan jalan hidupku?

Kemudian aku mulai bekerja, karena aku malu orang tuamu masih memberi jatah bulanan untuk kita. Omongan saudara-saudaramu pun sudah semakin tidak enak didengar. Dan engkau kembali pada perilaku saat kita pacaran dulu, yaitu membatasi pertemananku. Engkau semakin gemar memagariku. Jangankan lawan jenis, teman perempuan pun dapat menyulut konflik diantara kita.

Aku kikuk menjalani hidupku. Engkau memang ada disisiku, tapi aku melihatmu sebagai polisi yang senantiasa mengawasiku dengan ekor matamu, dan segera menilangku saat aku melanggar aturanmu. Ternyata itu pun belum cukup. Semua yang kulakukan harus sepengetahuan dan seizinmu. Lama-lama aku merasa bak narapidana yang terpenjara pada ruang tak berjeruji.

Dalam penjara ini, akhirnya aku sampai pada titik jenuh dan tidak peduli. Dan hal itu selalu memicu pertengkaran kita. Kita saling membalas menyakiti. Kita saling menggali lobang untuk mengubur cinta kita. Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi aku berhasil membangun tembok tebal dan dingin di dalam hatiku.

Saat aku begitu tertekan dan tersiksa dengan keadaanku, saat air mata mengalir deras di pipiku, kadang aku bertanya, apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya? Kemudian aku menoleh kebelakang.

Tanpa kau sadari, engkau telah merobek hatiku dengan semua aturan dan sifat posesifmu. Sementara engkau merobek, aku berusaha menambalnya dengan lembaran pengertian, lembaran kepatuhan, lembaran hormat, lembaran kewajiban dan lembaran-lembaran lainnya. Ternyata, serapi apa pun aku menambalnya, luka sobekan itu tetap ada. Tak pernah benar-benar tertutup.

Aku ingin bersikap adil, sebagaimana engkau mencabik-cabik hatiku, aku pun membalas dengan mulai melakukan hal yang sama. Aku tidak tahu bagaimana cara engkau mengobati lukamu, tapi aku mengenal lukaku. Benang jahit tambalan itu mulai terburai karena usang sehingga luka kembali menganga dan semakin parah.

Perlahan aku melepas rasa cintaku kala kutahu engkau memperhatikan wanita lain. Aku mencopot rasa hormatku kala engkau mengabaikan statusmu sebagai kepala keluarga yang seharusnya memenuhi semua kebutuhan keluarga dan kini menimpakannya padaku.

Bagaimana aku bisa lupa saat engkau berkata “Tak apa kamu saja yang bekerja biar aku yang mengurus anak-anak di rumah.” Ingin sekali aku berkata, berikan “burung”mu itu padaku, biar aku sekalian yang menjadi lelaki dalam keluarga ini.

Kalaupun aku kini bekerja, bukan berarti aku ingin menjadi tulang punggung keluarga sepenuhnya. Aku hanya ingin membantumu memenuhi kebutuhan keluarga kita yang semakin banyak. Aku mengerti gajimu tidak pernah cukup. Kemudian aku merasa tidak perlu lagi mengobati hatiku yang terluka, malah mencoba menikmati kesakitan itu.

Sampai pada suatu saat aku bertemu dia. Dia datang bak seorang dokter berpakaian putih bersih dengan steteskop tersampir pada bahunya. Dia memeriksa detak jantungku yang semakin cepat setiap kali dia berada di dekatku. Dia mengobati hatiku yang terluka dengan perhatian dan tutur sapanya yang penuh pengertian.

Dia pun sabar mendengarkan ribuan keluhanku dan mengulurkan saputangan saat air mataku mengalir menganaksungai. Kemudian aku selalu rindu menyandarkan kepalaku pada bahunya yang kokoh.

Perlahan, tanpa kusadari aku membadingkan engkau dengan dia. Bukan status ekonomi atau jabatannya yang mentereng yang membuatku mulai menyukainya. Bukan itu. Tapi pengertiannya yang seluas samudra yang membuatku nyaman berenang pada teduhnya tatapan matanya.

Jangan tanya soal penampilan, karena engkau akan malu sendiri. Sedari awal saat kita masih bisa berkomunikasi dengan baik, aku minta supaya engkau memperhatikan fisikmu yang semakin membengkak. Engkau malah berkata dengan bangga pada orang lain bahwa aku, istrimu, menerimamu apa adanya walau dengan perutmu yang semakin buncit. Masyaallah!

Engkau salah besar memahamiku. Aku justru muak melihat perut buncitmu, karena bagiku itu adalah tanda kemalasanmu. Kita sama-sama langsing saat menikah, tapi kenapa kini engkau yang seperti hamil tujuh bulan yang abadi?

Sementara dia, dengan usia sedikit di atasmu, tetap atletis karena dia bertanggungjawab terhadap tubuhnya. Disela-sela kesibukannya memimpin perusahaan, dia masih sempat berolah-raga menjaga staminanya. Betapa enak dipandang.

Oh maafkan aku. Aku tak berniat membanding-bandingkan dia denganmu, kekecewaankulah yang melakukannya, luka hatikulah yang memaksanya. Dan aku mulai menyukainya.

Dia duda dengan satu anak. Anaknya perempuan yang cantik. Usianya tak jauh beda dengan anak bungsu kita. Dan anak itu memanggilku ‘aunty’ dengan suaranya yang manja. Aku berbunga-bunga saat anak itu mengatakan aku cantik, dan minta aku menemaninya berbelanja baju princess yang akan dia pakai pada pertunjukan drama di sekolahnya.

Tanpa sanggup kuhentikan, aku semakin sering menghayalkan masa depanku bersama mereka. Saat suara dengkurmu terdengar seperti derakan pohon besar yang patah, aku membayangkan berlibur dengan mereka dan juga anak-anak kita. Bahagianya aku dan dia memperhatikan ketiga anak itu bermain pasir di pantai yang indah.

Aku tidak tahu bagaimana menghentikan hayalan liarku ini. Semakin hari aku semakin tenggelam dalam senyumannya yang manis dan suaranya yang memberi ketenangan. Dapatkah engkau memahami ini?

Aku tahu hatiku kini sudah tidak terluka lagi, sudah pulih sempurna. Sayangnya hatiku bukan milikmu lagi, tapi milik seseorang yang padanya kutitipkan masa depanku.

Besok aku akan memberitahumu, bahwa aku sudah berbicara dengan pengacara yang akan membantuku mengurus perceraian kita. Maafkan aku karena harus mengakhiri semua ini. Kalaupun nanti semua orang menyalahkan aku, tak mengapa. Hidup hanya sekali, dan aku ingin mengakhirinya bersama orang yang padanya rasa cintaku bersemayam.

Mungkin engkau tidak pernah tahu aku pernah mati, yaitu saat bersamamu.   Dan kini aku telah hidup kembali, dan aku akan hidup dengan dia yang memberiku kehidupan kedua. Maafkan ketidaksetiaanku!

 

Jakarta, 23 Juli 2015

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Perselingkuhan

  1. Nice story! Salam kenal! Mampir back yaa!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s