Berharap Surga Menuai Neraka

Surga & Neraka 1

“Karena kamu tidak percaya ada surga dan neraka, kalau kamu meninggal nanti, kamu akan kemana?” tanya seorang Indonesia pada koleganya seorang Jepang. Si Jepang sudah cukup lama tinggal di Jakarta sehingga dia mulai dapat berbicara dalam bahasa Indonesia walau tidak sempurna.

“Kalau meninggal ya meninggal saja. Tidak kemana-mana.” jawabnya lugas. Lanjutnya, “Kamu percaya ada surga dan neraka?”

“Ya percaya sekali.” jawab si Indonesia.

“Bagaimana di sorga?” tanya si Jepang.

Wah, kebetulan nih, bisa kasi dahwah, mana tahu dia tertarik masuk agama, nambah pahala gw, batin si Indonesia. “Surga itu tempat yang menyenangkan. Apa pun yang kita butuhkan ada. Tidak perlu kerja keras lagi. Tidak ada sakit dan sedih-sedih. Pokoknya semua yang indah-indah dan senang-senang.”jelas si Indonesia.

Si Jepang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan koleganya yang tampak bersemangat menggambarkan tentang surga. “Trus kalau di neraka bagaimana?” tanyanya lagi.

“Oh, kalo di neraka kebalikan di surga. Disana semua siksa yang paling sakit akan kita alami. Penyiksaan fisik yang tak berhenti. Pokoknya sangat menyakitkan.” Jelas si Indonesia dengan wajah yang tegang, mungkin karena sambil membayangkan kengerian yang terjadi.

Si Jepang tetap mengangguk-angguk, terus tanyanya lagi, “Bagaimana caranya ke surga?”

“Berbuat yang baik sesuai perintah agama, misanya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berdusta, dan lain-lain. Orang yang melakukan hal-hal tersebutlah tadi yang akan masuk neraka.”jelas si Indonesia dengan percaya diri.

“Apakah semua orang tahu deskripsi surga dan neraka seperti itu?”

“Iya. Karena sejak kecil, bahkan sejak belum bisa baca pun kita sudah diajarin seperti itu.” jawab si Indonesia.

“Ok, aku mengerti yang kamu jelaskan. Tapi yang tidak kumengerti adalah, kalau semua sudah tahu surga itu enak dan neraka itu mengerikan, kenapa banyak yang melakukan hal tidak baik sehingga nanti masuk neraka? Kenapa?”si Jepang menatap si Indonesia dengan serius. Si Indonesia hanya tersenyum masam, habis kata-kata untuk menjawabnya.

Si Indonesia yang pernah tinggal di Jepang selama tiga tahun merasa terpojok. Dia tahu arah pembicaraan koleganya ini. Orang-orang Jepang yang tidak percaya ada sorga tapi akhlak mereka melebih orang yang beragama. Di Jepang, walaupun kita kehilangan dompet atau barang berharga di tempat umum, pasti akan ketemu lagi. Mobil yang tidak dikunci tidak akan hilang. Mereka tidak mau mengambil barang/hak yang bukan miliknya. Lha di Indonesia, jangankan mobil –walau sudah dikunci double– sandal aja hilang di depan masjid. Handphone hilang di gereja. Orang Jepang akan sangat malu bila tidak berhasil melakukan tanggungjawabnya, sehingga mereka akan mengundurkan diri atau bahkan hara-kiri. Tapi orang kita selalu mencari kambing hitam atas kegagalan kita dan cuci tangan bila ada masalah.

Bila sudah begini, siapakah sebenarnya nanti yang akan masuk surga? Jangan-jangan mereka yang tidak beragama dan tidak mengharap surga tapi melakukan hal-hal baik untuk alam dan manusia yang akan mengisi surga. Dan kita yang berkoar-koar tentang sorga dan neraka yang akan jadi penghuni neraka, karena kita lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang cocok jadi penghuni neraka.

Demikian. Sekedar perenungan.

Jakarta, July 15, 15

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Celoteh and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s