Apakah Pedofilia adalah Orientasi Seksual?

Pedofilia 3 Beberapa hari lalu, setelah ramai-ramai tentang pernikahan sejenis yang dilegalkan di Amerika Serikat.  Sebuah akun twitter yang kuketahui sebagai aktivis LGBT, mengatakan heteroseksual, homoseksual biseksual, pedofilia dan lain-lain adalah orientasi seksual. Aku tentu sangat kaget dengan tweet tersebut, terutama karena dia adalah bagian dari LGBT dan merupakan aktivisnya. Kemudian lagi, banyak orang yang mensejajarkan pedopilia dengan homoseksual, dengan mengatakan pengidap pedofilia adalah gay. Tentu ini pernyataan yang SANGAT SALAH.

Sebelum menjelaskan pedofilia lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui arti istilah-istilah yang akan dibicarakan, atau lengkapnya dapat dibaca di sini.

  • Orientasi seksual adalah sebuah istilah yang menggambarkan ketertarikan seseorang secara seksual, fisik, romantisme dan emosional kepada jenis kelamin tertentu , yang biasanya didefinisikan sebagai lesbian, gay, biseksual, heteroseksual, pansexual, polysexual atau aseksual.
  • Heteroseksual adalah lelaki atau perempuan yang hanya tertarik secara seksual, fisik, romantisme dan emosional pada lawan jenisnya saja
  • Homoseksual /gay adalah lelaki / perempuan yang memiliki ketertarikan secara seksual, fisik, romantisme dan emosional terhadap jenis kelamin yang sama dengannya.

Menurut American Psychiatric Association yang tertuang dalam DSM5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) yang dirilis tahun 2013 yang lalu, gejala gangguan psikoseksual bervariasi untuk setiap orang. Gangguan ini dapat dikategorikan ke dalam disfungsi seksual (sexual disfuction), parafilia (paraphilia) dan gangguan identitas gender (gender identity disorders).

  • Disfungsi seksual adalah masalah seksual yang ditandai dengan penurunan keinginan, gairah atau orgasme dan kurang/tidak mendapatkan kepuasan atau kenikmatan sehingga enggan melakukan kegiatan seks. Keengganan tersebut dilaitkan dengan rasa takut, cemas dan tidak suka. Gejala disfungsi yang terlihat nyata adalah seperti impotensi (disfungsi ereksi laki-laki), ejakulasi dini, frigid (pada perempuan), dan lain-lain.
  • Parafilia adalah perilaku seksual yang abnormal yang tidak mengikuti standar normal. Paraphilia mencakup fetisisme (bernafsu kepada benda mati), waria fetisistik (suka mengenakan pakaian dari lawan jenis), pedofilia (bernafsu kepada anak-anak pra-pubertas), bestialitas (bernafsu kepada hewan), necrophilia (bernafsu kepada mayat), dll. Gangguan psikoseksual lain seperti seksual sadisme, eksibisionisme (mengekspos alat kelamin di tempat-tempat umum untuk gairah seksual), voyeurisme (menyaksikan tindakan seksual lain untuk gairah menyeramkan), Frotteurism (menggosok alat kelamin terhadap orang-orang di tempat umum yang ramai), Sadisme atau sadomasochism (menimbulkan rasa sakit pada orang lain) dan masokisme (merangsang rasa sakit untuk diri sendiri untuk kesenangan).
  • Gangguan identitas gender; penderita gangguan ini ragu tentang orientasi seksualnya, kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup normal, dan keinginan untuk memodifikasi orientasi seksualnya seperti lawan jeninya.

Jadi jelas bahwa menurut APA yang tertuang di dalam DSM-5, pedofilia (gangguan pedofilia) adalah prilaku seksual yang abnormal. Gangguan ini dikenali dari fantasi yang tidak biasa, dorongan atau perilaku yang berulang yang membangkit gairah seksual.

Menurut ICD-10 (The International Classification of Diseases) WHO, Organisasi Kesehatan Dunia telah memasukkan pedofilia ke dalam klasifikasi gangguan mental dan prilaku (Classification of Mental and Behavioural Disorders).

Pedofilia dikatakan gangguan mental karena hasrat seksualnya timbul hanya terhadap anak-anak dibawah usia pubertas. Hasrat ini bisa saja mereka lampiaskan pada anak lelaki atau anak perempuan. Kebanyakan pengidap pedofilia adalah lelaki dewasa (usia diatas 18 tahun), kondisi ini jarang terjadi pada wanita. Pedofilia tidak tertarik secara seksual pada orang dewasa.

Mengapa korbannya juga banyak anak lelaki? Itu hanya masalah aksesibilitas. Mereka biasanya lebih mudah bersama anak lelaki dari pada anak perempuan dalam satu ruangan, misalnya di toilet.

Untuk melampiaskan hasratnya, biasanya pedofilia menedekati korbannya dengan bujuk rayu dan bila sudah selesai melampiaskan hasrat seksualnya mereka akan mengintimidasi/mengancam korbannya untuk tidak melaporkan kepada orang tua atau siapa pun. Aktifitas pelecehan itu dapat dari yang tindakan ringan hingga berat, misalnya membuka baju si anak, memandangi tubuh si anak, meraba alat kelamin si anak hingga memperkosa si anak.

Penyebab pedofilia (dan parafilia lainnya) tidak diketahui. Ada beberapa bukti pedofilia diketemukan dalam turunan keluarga, meskipun tidak jelas apakah ini berasal dari genetika atau perilaku yang dipelajari. Faktor-faktor lain, seperti kelainan pada hormon seksual pria atau serotonin (kimia otak), tapi ini belum terbukti sebagai faktor penyebab. Ada pula yang mengatakan bahwa anak yang pernah menjadi korban pedofilia akan tumbuh menjadi pedofilia saat besar nanti. Tapi ini juga belum terbukti secara sains. Tapi banyak ahli berpendapat bahwa prilaku ini sangat bisa terjadi dari pembelajaran perilaku dari orang dewasa di sekitarnya atau mengamati kemudian meniru perilaku seksual yang tidak pantas.

Penyebab yang mendasari pedofilia tidak jelas. Meskipun kelainan biologis seperti ketidakseimbangan hormon dapat menyebabkan gangguan pada beberapa individu, faktor biologis belum terbukti sebagai penyebab. Dalam banyak kasus perilaku pedofil tampaknya terkait dengan pelecehan seksual atau kelalaian yang dialami selama masa kanak-kanak dan dengan perkembangan emosional atau psikologis tidak normal. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa anak laki-laki yang mengalami pelecehan seksual lebih mungkin menjadi pedofilia. Sedangkan anak gadis yang mengalami pelecehan seksual lebih sering merespon dengan perilaku merusak diri sendiri, seperti penggunaan narkoba atau prostitusi. Hal ini dikarenakan dia merasa kotor dan memiliki rasa percaya diri yang rendah.

Pedofilia dapat disembuhkan dengan pskoterapi dan mengkonsumsi obat-obatan yang sesuai dengan gangguan yang dialami. Biasanya obat-obatan yang diberikan berfungsi untuk menurunkan hasrat seksualnya. Pedofilia bukan kejahatan, tapi penyakit. Akibat penyakit itu berbuah kejahatan bila dia melampiaskan dorongan seksualnya pada anak-anak.

Sedangkan homoseksual yang sering dikaitkan deng pedofilia, bahwa menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia) pada 17 Mei 1990 “homoseksual bukan penyakit / gangguan kejiwaan”.  Sebelumnya pada tahun 1972 Asosiasi Psikiater Amerika Serikat (American Psychiatric Association) menyatakan bahwa: homoseksualitas harus dikeluarkan dari kategori gangguan/ kerusakan mental. Departemen Kesehatan Republik Indonesia pun sudah meratifikasi ketetapan WHO tersebut dan mencantumkannya dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993).

Jadi jelas pedofilia dan homoseksual tidak dapat disamakan.

Kesimpulan dari penjelasan di atas adalah;

  1. Tidak semua pengidap pedofilia itu melakukan kejahatan seksual. Ada yang menahannya dan melakukan terapi sehingga terbebas dari fantasi yang tidak normal tersebut.
  2. Pelaku pedofilia bisa saja dari golongan homoseksual tapi tidak semua homoseksual pedofilia. Heteroseksual juga ada yang pedofilia.
  3. Tidak semua yang melakukan kejahatan seksual terhadap anak itu adalah pedofilia, mungkin saja orang normal yang saat dorongan seksualnya muncul dan dia lampiaskan pada anak kecil yang lebih mudah dia dapatkan.
  4. Pedofilia itu penyakit, sampai dia melampiaskan dorongan seksualnya pada anak-anak, maka itu adalah tindakan kriminal.
  5. Pedofilia bukan kejahatan, tapi hasil perbuatannya yg melanggar hukum.

Jadi,“apakah pedofilia adalah orientasi seksual?

Orientasi seksual membicarakan pasangan seksual dengan sepesifik jenis kelamin atau gender sedangkan pedofilia membicarakan pasangan seksual dengan spesifik usia, yaitu anak-anak yang belum mengalami pubertas (biasanya dibawah 13 tahun).

Karena usia bukan jenis kelamin, maka pedofilia bukan orientasi seksual.

Demikian penjelasan yang cukup panjang ini. Semoga bisa bermanfaat dan dapat membantu. Salam!

Jakarta, July 12, 15

Mery DT

Source;

  1. American Psychiatric Assosiation _ DSM5 Development http://www.dsm5.org/about/pages/faq.aspx
  2. Is pedophilia a sexual orientation or a mental disorder? http://cogsci.stackexchange.com/questions/587/is-pedophilia-a-sexual-orientation-or-a-mental-disorder
  3. Pedophilia https://www.psychologytoday.com/conditions/pedophilia
  4. APA to correct manual: Pedophilia is not a ‘sexual orientation’ http://www.washingtontimes.com/news/2013/oct/31/apa-correct-manual-clarification-pedophilia-not-se/
  5. Psychosexual Disorders http://www.trivedieffect.com/psychosexual-disorder-symptoms/
Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s