Mengapa Pernikahan Sejenis Harus Dilegalkan?

Whitehouse rainbow

Kemaren Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis di seluruh Negara Bagian, dengan demikian pernikahan sejenis dilindungi oleh undang-undang Negara. Keputusan ini merupakan langkah besar bagi komunitas LGBT di USA dimana mereka sudah lama sekali memperjuangkan legalitas pernikahan sejenis di seluruh Negara. Pernikahan sejenis telah diakui pertama kali Negara bagian Massachusetts pada tahun 2004, kemudian pengakuan ini merambah ke Negara bagian lain hingga terakhir kemarena adalah 37 dari 50 negara bagian telah melegalkan pernikahan sejenis. Hanya 13 negara bagian saja yang masih melarangnya.

Dengan keputusan Mahkamah Agung USA ini maka secara otomatis seluruh Negara bagian memberlakukan pernikahan sejenis. Tak pelak lagi, keputusan Mahkamah Agung USA itu langsung disambut dengan ungkapan kegembiraan dari semua komunitas LGBT pun aktivis kemanusian yang selalu ikut berjuang meloloskan legalitas pernikahan sejenis ini.

Berikut kurva yang menolak dan dan mendukung legalisasi pernikahan sejenis berdasarkan Negara bagian di Amerika Serikat.  Seiring waktu, jumlah negara bagian yang mendukung semakin banyak.

Timeline of Same-Sex Marriage 1

Bila dilihat dari pandangan individu warga Amerika Serikat terhadap pernikahan sejenis, semakin kesini semakin banyak yang mendukung dan yang menentang semakin sedikit.  Perubahan ini bisa terjadi karena pengetahuan tentang orientasi seksual semakin baik dan empati terhadap LGBT semakin tinggi.

Views on gay marriage have changed in the last 11 years

Bila dilihat secara global, negara pertama yang melegalisasi pernikahan sejenis adalah Belanda. Berikut adalah timeline Negara-negara yang melegalisasi pernikahan sejenis:

  1. The Netherlands: April 1, 2001
  2. Belgium: June 1, 2003
  3. Spain: July 3, 2005
  4. Canada: July 20, 2005
  5. South Africa: November 30, 2006
  6. Norway: January 1, 2009
  7. Sweden: May 1, 2009
  8. Portugal: June 5, 2010
  9. Iceland: June 27, 2010
  10. Argentina: July 22, 2010
  11. Denmark: June 15,2012
  12. Brazil: May 14, 2013
  13. France: May 29, 2013
  14. Uruguay: August 5, 2013
  15. New Zealand: August 19, 2013
  16. United Kingdom (England, Wales, Scotland)
  17. Luxembourg: June 18, 2014
  18. Finland: November 28, 2014
  19. Ireland: May 23, 2015
  20. The United States: June 26, 2015

Yang sedang dalam proses adalah;

  1. Mexico
  2. Slovenia
  3. Australia
  4. Colombia

Yang menarik dari data di atas adalah bahwa belum ada negara dari Asia di dalam list tersebut. Bahkan Jepang yang toleran terhadap pasangan sejenis pun belum. Sepertinya, semakin kental pengaruh agama dalam pemerintahan suatu Negara maka akan semakin jauh Negara tersebut dari legalisasi pernikahan sejenis.

Satu lagi yang menarik adalah Negara Israel. Negara ini memang belum melegalisasi pernikahan sejenis karena lembaga-lembaga keagamaan di sana menentangnya. Tapi bila ada warga yang menikah sesama jenis di luar negeri, Negara akan mencatatkannya, untuk kepentingan administrasi kependudukan dan kepentingan anak bila dikemudian hari pasangan ini memiliki anak. Tahun 2009 melalui polling didapatkan bahwa 61% warga Israel menyatakan menyetujui pernikahan sejenis, 31% menentang, dan 8% abstain. Kita juga ketahui, Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang memberi kebebasan bagi warganya merayakan LGBT pride.

Kemaren eforia legalisasi pernikahan sejenis di Amerika Serikat begitu membahana ke seluruh dunia, bahkan sampai ke Indonesia. Terutama saya rasakan di dunia twitter. Banyak akun-akun twitter Indonesia yang menyambutnya dengan suka cita. Tentu banyak juga yang sinis menanggapi, “Apa pentingnya sih pernikahan sejenis itu? Toh nggak nikah juga ngak diganggu kok.” Atau ada lagi yang mengatakan jijik melihat pasangan sejenis. Dan banyak lagi komentar lainnya.

Yang penting digaris bawahi disini adalah, legaliasi pernikahan sejenis ini bukan tentang seks, tapi masalah perdata dan hak-hak sipil warga negara yang membayar pajak.  Setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum termasuk dalam hal hak dan kewajiban terhadap negara.  Sebagai warga negara yang membayar pajak sama seperti kaum heteroseksual, LGBT juga memiliki hak yang sama yang didapat dari negara, terutama perlindungan negara secara legal.  Bila pernikahan sejenis dikaitkan dengan legalisasi seksual maka mereka tidak perlu ribut dan bersusah payah menuntut persamaan, karena urusan seks cukup di dalam kamar atau dalam rumah saja.  Untuk apa ribut?

Masalah digangu atau tidak diganggu oleh orang-orang yang tidak suka terhadap cara hidup gay/lesbian adalah satu hal.

Berikut beberapa hak tersebut misalnya seperti:

  1. Kepemilikan property, karena di dalam administrasi biasanya bagi yang berpasangan selalu dituliskan nama suami dan istri. Dengan adanya legalisasi ini dapat dituliskan nama suami dan suami atau istri dan istri.
  2. Asuransi, seperti pada nomor 1, pasangan sejenis tidak mendapatkan benefit dari asuransi pasangannya. Dengan legalisasi ini, hak mereka sama seperti pasangan heteroseksual. Pada keluarga heteroseksual, bila suami bekerja (formal) dan mendapat benefit asuransi dari perusahaan, biasanya istri dan anak-anak juga di cover. Hal yang sama juga akan berlaku bagi pasangan sejenis yang menikah.
  3. Hak waris, setelah pengesahan ini harta warisan akan otomatis diberikan pada pasangannya bila dia meninggal. Dalam hal ini, pernah ada pasangan yang sudah sangat senior, yang sudah puluhan tahun tinggal bersama, kemudian pada suatu hari salah satu meninggal. Kebetulan yang meninggal adalah orang yang atas namanya rumah dan tanah yang sudah mereka tempati berpuluh tahun. Begitu pasangannya meninggal, tak lama kemudian keponakan yang meninggal tersebut langsung mengambil alih semua harta dan property tantenya sehingga pasangan yang ditinggalkan tiba-tiba tidak memiliki apa-apa dan secara legal dia tidak punya kekuatan untuk mempertahankannya..
  4. Hak untuk mengadopsi anak dan membesarkannya dengan memiliki dokumen kependudukan seperti anak-anak dari pernikahan heteroseksual. Dan anak-anak pun akan memiliki kepastian bahwa orang tuanya walaupun keduanya lelaki atau keduanya perempuan, hak mereka sama seperti anak-anak dari pasangan heteroseksual.
  5. Secara kesehatan mental, seperti pasangan heteroseksual, pasangan sejenis juga lebih bahagia dan stabil bila dapat menikah secara legal.
  6. Dan yang terpenting adalah tidak ada lagi perlakuan diskriminasi dari masyarakat umum yang seringkali menyebabkan ketertekanan bagi pasangan-pasangan sejenis dalam masyarakat.

Kemudian ada yang bertanya, “Akankah pernikahan sejenis akan menghapuskan pernikahan heteroseksual?” Setelah dilegalkan pernikahan sejenis di Negara-negara seperti Belanda, Norwegia, Denmark Swedia dan Islandia – yang merupakan negara-negara awal yang melegalkan pernikahan sejenis – tidak ada penurunan angka pernikahan heteroseksual, malah angkanya meningkat. Jadi tidak perlu ada yang ditakuti dari kebijakan ini. Dalam kehidupan tanpa pembatasan gender, maksudnya tidak ada segregasi gender yang ketat seperti di sini, prosentasi gay pada populasi penduduk hanya akan segitu-segitu saja.

Tahun 1950an Dr. Alfred Kinsey melakukan survey dan mendapatkan hasil bahwa jumlah gay adalah 6% dari populasi, straight, 71% dan biseksual 23%.  Dapat dibaca di sini.  Jadi bila ada peningkatan pernikahan sejenis, maka yang membuat demikian adalah dari kelompok biseksual, bukan dari kelompok heteroseksual. Ibarat dalam pemilu, kelompok biseksual itu adalah swing voter, mereka bisa melakoni kehidupan heteroseksual maupun homoseksual. Tergantung pasangan yang dia sukai perempuan atau laki-laki.

Seperti homoseksual tidak akan berubah jadi heteroseksual karena melihat lelaki dan perempuan berciuman, maka demikian juga heteroseksual juga tidak akan menjadi homoseksual bila melihat gay berciuman. Bila ada yang terpengaruh maka kemungkinan dia adalah biseksual.

Jadi, tidak perlu parno melihat pernikahan sejenis. Inti dari orang menikah atau berpasangan adalah ingin bahagia dan mengisi kehidupan bersama orang yang dicintai. Dengan bersikap baik terhadap orang yang tidak kita sukai bukan berarti kita munafik, tapi itu adalah sikap orang dewasa yang dapat bertoleransi terhadap orang yang berbeda. Kedewasaan itu bukan diberikan usia, karena banyak yang sudah uzur tapi tidak dapat menerima perbedaan.

Amerika Serikat yang merupakan negara maju dan cukup terbuka terhadap semua cara hidup saja membutuhkan 15 tahun lebih lama dari Belanda untuk melegalisasi pernikahan sejenis. Maka aku pikir Indonesia mungkin butuh 30-40 tahun untuk dapat memberikan lagalitas untuk pernikahan sejenis. Sebelum pernikahan sejenis, legalisasi pernikahan beda agama saja dulu deh. 🙂

Happy week end, pals!

Jakarta, 27 Juni 2015

Mery DT

Sumber data:

Timeline of Same-Sex Marriage Bans and Legalizations by Effective Date of Laws http://gaymarriage.procon.org/view.resource.php?resourceID=004857

Kurva :  http://www.freedomtomarry.org/landscape/entry/c/international

Foto : milik NY Times

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in LGBT and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

53 Responses to Mengapa Pernikahan Sejenis Harus Dilegalkan?

  1. Johanannvit says:

    Halo kak,

    Aku suka paragraf ini “Seperti homoseksual tidak akan berubah jadi heteroseksual karena melihat lelaki dan perempuan berciuman, maka demikian juga heteroseksual juga tidak akan menjadi homoseksual bila melihat gay berciuman. Bila ada yang terpengaruh maka kemungkinan dia adalah biseksual.”

    aku dengar berita ini tidak senang, tidak juga kecewa. Daripada selama ini dilakukan sembunyi-sembunyi, mungkin dengan dilegalkan, tidak ada lagi cerita perselingkuhan sesama jenis

    Like

  2. putuwulandari says:

    bagus mbak merry. Tapi saya lihat kaum lgbt di situs2 kok sering dibandingkan sm colokan kabel ya? Katanya colokan sm lobang baru bener, colokan sm colokan (homo) dan lobang sm lobang (lesbi) itu salah, mereka bilang “in the end, no one can change nature” HELOOOWWW!!! Kita kan manusia, bukan colokan kabel!! Lagian memang bagian nature manusia lgbt tu, bukan dibuat2!! ya memang kalian bener, in the we can never change nature, that means you can NEVER change that LGBT is also our nature!!!

    Like

    • Mery DT says:

      Terima kasih, mbak Putu.
      Memang banyak orang yang sebenarnya berpengetahuan minim tapi sudah berani menghakimi ini dan itu. Aku sering ketemu org yg sudah dijelaskan juga tetap bebal mempertahankan apa yg dia ketahui tanpa mau mendengar. Membuat perbandingan yang salah, minim empati terhadap sesama, dan selalu merasa paling benar. Tipikal orang-orang bebal. Tdk usah dihiraukan. Rugi energi meladeninya. 🙂

      Like

      • putuwulandari says:

        Ya mbak merry, sayangnya saya temukan ini di suatu situs komedi, di sana banyak gambar2 & komen2 menghina lgbt… padahal itu salah satu situs favorit saya, sungguh mengecewakan 😦 😦 😦

        Like

  3. Mbak Merry, kalau gay yang berkeliaran di media sosial sambil pamer alat kelamin & menjajakan diri itu masuknya gay yang terlahir dengan orientasi seksual, atau gay yang terbentuk dari pengaruh lingkungan?

    Like

    • Mery DT says:

      Itu hanya lelaki yang jual diri. Sama aja dengan perempuan yg jual diri. Mereka hanya melihat pasar yang mana yang lebih bagus. Mungkin bisa saja pelakuknya gay, tapi bisa juga yang bukan gay. Pemakainya gay atau bukan pun banyak yg tidak peduli. Tujuannya hanya untuk dapat duit cepat dan banyak.

      Liked by 1 person

  4. putuwulandari says:

    Mbak merry ini mungkin irrelevant dengan topik, tapi lain kali boleh bahan kasus 500 gay yg terbakar di taiwan?? Bagaimana pendapat mbak tentang itu? Trims dan salam sejahtera 🙂 🙂 😀 😀 ^.^ ^.^

    Like

    • Mery DT says:

      Sebenarnya itu peristiwa kebakaran biasa dengan 2 korban tewas dan 490 org luka terbakar. Aku baca di sini => http://news.okezone.com/read/2015/07/03/18/1175910/akibat-kebakaran-parade-gay-di-taiwan-ditunda
      Trutama umat beragama (Islam &Kristen) tentu mengaitkannya dgn dosa & perbuatan yg dimurkai Tuhan. Tapi orang di Taiwan sendiri tidak melihat seperti itu. Kejadian itu hanya human error dan bisa terjadi oleh siapapun (tanpa melihat orientasi seksualnya) bila teledor. Heteroseksual juga bisa membuat kebakaran atau malah kelompok keagamaan yang membakar diri, tapi mereka tidak pernah dikaitkan dengan orientasi seksualnya.
      Jadi terserah kita mengulas suatu kejadian dari sudut pandang apa; kemanusian, agama, ekonomi, dll.
      Pernah sih kusinggung sedikit-sedikit dalam beberapa artikel, tapi belum pernah bahas secara tersendiri. Mungkin suatu saat nanti.
      Thanks, mbak Putu.

      Like

  5. Bybyq says:

    Terima kasih Merry buat artikelnya. Saya sih berharapnya makin banyak penulis-penulis seperti Merry yang masih sabar ngajarin, dan membuka wawasan mereka yang masih belum terbuka matanya. Terima kasih banyak.

    xoxoxo

    Like

    • Mery DT says:

      Sama-sama, Bybyq.
      Sesungguhnya sering merasa gemes sih baca komentar orang di twitter atau pun di media sosial lainnya. Terutama baca twit psikolog yg masih menganggap homoseksual adalah penyakit yg dapat disembuhkan, dan dikaitkan dengan agama. Kemudian bnyk yg retwit dls. Duh. Ada pula aktivis LGBT yg memposisikan homoseksual dan pedophile itu sama2 orientasi seksual. Ini yg bikin aku gak habis pikir. Sehingga artikel ini yg sedang kutulis sekarang.
      Memang masih panjang jalan yang harus dilalui Indonesia.
      Ngelihat trend viewer blog ini yang semakin tinggi tiap hari, aku percaya lambat laun orang semakin paham. Yah, semoga semakin banyak penulis yang mau menuliskan hal sejenis.
      Thank you supportnya, Bybyq.

      Liked by 1 person

      • Yvonne says:

        Memang ini harus terjadi menjelang akhir zaman, tapi yg jatuh di dalamnya, haruslah kalian tau, mata kalian sudah dibutakan dengan apa yg dinamakan kebenaran..
        Bersyukurlah kalian yg masih bisa melihat kebenaran itu..

        Aku cuma prihatin melihat dunia ini yg makin jauh dengan moral yg seharusnya ada di diri mereka..

        Bukan tidak mungkin kalo 50 tahun nanti akan dilegalkan pernikahan antara manusia dan hewan..

        Karna manusia sudah miskin moral..

        Like

  6. becomethemoon says:

    Trims banget mbak Merry atas artikelnya. Sebagai slh satu kaum LGBT, saya jadi pengen nangis gembira ketemu artikel ini. Ulasan mbak sangat tepat, dan saya juga belajar banyak. Saya udh ngasih liat artikel ini sama ortu saya, yg tak diduga supportive dengan orientasi seksual saya (duh, beruntung banget…).

    Di Indonesia masih jelas dri social media atau berita tv, memandang lgbt sebagai kelainan jiwa. Saya jadi ngeri sama nasib saya dan sesama kaum lgbt di kedepannya. Bakal nunggu berapa puluh taun lgi ya, biar masyarakat ngerti kalau kita juga manusia normal?

    Like

    • Mery DT says:

      Hi Becomethemoon, terima kasih sudah mampir dan senang sekali artikel ini bisa membantu. Ikut senang karena orang tua kamu demikian bijaksana berkenan menerima anaknya apa adanya. Ya kamu orang yg sangat beruntung. Sedikit sekali ortu Indonesia yg seperti itu. Kebanyakan membawa anaknya ke tokoh agama atau psikiater.
      Tetap berharap, bahwa suatu saat Indonesia pun bisa menerima LGBT sebagai komunitas yang sederajat dengan heteroseksual, dimana hak dan kewajiban sama. Semoga lebih cepat dari perkiraan. 🙂

      Like

  7. 7aries says:

    Tanpa sengaja menemukan blog nya mbak, jarang sekali saya menumukan orang indonesia yang memilki pandangan yang open minded terhadap the rainbow community. Moga moga blog ini bisa memberikan dampak positif orang orang indonesia untuk lebih lovng terhadap orang gay. Please visit my blog…tornandnowrestored.blogspot.co.nz

    Like

  8. herurich says:

    Hai mbak, terima kasih udah sharing, aku pun suka gemes kalau LGBT selalu dikaitkan dengan seks bebas, pedofilia, penyakit menular dan hal2 gak bermoral dan lain2. Legalisasi pun bukan sekedar mengurusi urusan ranjang, tapi lebih dari itu. Memang masih akan lama untuk Indonesia menjadi benar2 terbuka dan menerima bahwa LGBT adalah setara dengan mereka yang berorientasi hetero. Kebetulan nemu tulisan ini, thanks again for being supportive.

    Like

    • Mery DT says:

      Thanks udah mampir, Herurich!
      Masih banyak yang tidak bisa membedakan orientasi seksual (homoseksual, biseksual, heteroseksual) dengan penyakit (pedofilia). Ketidaktahuan memang membuat sok tahu. Lebih parahnya kebebalan membuat orang lain menderita.
      Semoga Indonesia ke depannya lebih toleran terhadap semua orang apapun orientasi seksualnya.

      Like

  9. justice says:

    Semoga nanti anak laki laki kamu jadi gay dan bersetubuh sesama jenisnya di depan mata kamu !!!.

    Like

  10. Wah artikelnya baguss… Makasih mbak merry buat pencerahannya… Saya setuju banget sama tulisannya yg akhir…”sebelum legalin pasangan sejenis. Legalin pasangan beda agama dulu deh…”
    Lanjutkan !!!

    Like

  11. famousfeline says:

    Mba Mery, terima kasih banyak untuk postingan yang ini. Saya cape ngeliat orang-orang yang mendukung kaum LGBT Indonesia, tetep bilang pernikahan homo ngga boleh, padahal seperti yang Anda tulis di poin nomor terakhir (terpenting), mengakui pernikahan homo berarti mengakui homo sebagai warga negara pembayar pajak yang legan dan patut dilindungi hak asasinya.

    Like

  12. Aripjagung says:

    Mba merry tapikan mayoritas penduduk indonesia itu islam, jelas islam tegas tidak setuju klo lgbt ituu ada

    Like

  13. ret says:

    kadang suka kesel sama orang2 yang memandang lgbt sebelah mata. mereka (para lgbt) juga gak kepengen kayak gitu tapi semua itu terjadi secara begitu saja.
    semoga di Indo cepet2 melegalkan lah ya. meskipun gatau bpseberapa banyak lgbt di indo tapi berharap juga lah cepet dilegalin. hahahahaha

    Like

  14. Saori hara rockz says:

    Apapun yang terjadi lgbt itu kemerosotan moralitas,kalian mencoba menutupi kebenaran dengan membenarkan kesalahan dan menganggap kalian pantas dikasihani karena pilihan yang kalian pilih.disemua agama baik kristen,islam bahkan budha dan hindu lgbt itu dilarang.

    Like

  15. Jerman kok tidak ada di daftar negara yang melegalkan pernikahan sejenis ya? Aku menikah di Jerman dan pernikahan kami (gay) diakui di 28 negara EU. Jadi sepertinya semua negara EU sudah melegalkan ya…

    Like

  16. Wati says:

    mungkin ini hanya pertanyaan bodoh , tetapi kenapa mereka yang mengaku LGBT tidak tinggal di negara yang melegalkan saja?

    “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al Kafirun: 6)

    menurut saya tidak akan terjadi konflik, daripada memaksakan kehendak terhadap kaum yang menolak agar menerima, lebih baik bergabung kepada yang sudah menerima

    kalau dibilang, kan pindah mahal, ngurus ribet etc, bukankah semua sudah ada konsekuensinya?

    “aku sering ketemu org yg sudah dijelaskan juga tetap bebal mempertahankan apa yg dia ketahui tanpa mau mendengar. Membuat perbandingan yang salah, minim empati terhadap sesama, dan selalu merasa paling benar.” bukankah berarti anda juga sama saja, beragumen namun tidak mau “mendengar” penjelasan dari kami yang anda anggap berfikiran tertutup dan tetap yakin akan pandangan anda. menurut saya itu bukan berfikiran tertutup hanya keyakinan kuat akan suatu hal yang dipercaya sama seperti yang anda miliki.

    kemudian apakah dengan saya mengajak seseorang kembali ke fitrahnya bukan merupakan bentuk empati?

    suatu hari ada seorang yang bahagia, merasa menjadi dirinya sendiri dan “hidup” saat memakan mayat manusia, kemudian ada dua orang, orang pertama membiarkan dan mendukung dengan alasan dia bahagia dengan apa yang di lakukan, itu merupakan haknya untuk bahagia. orang kedua membawanya ke psikiater dan mengajaknya kembali makan buah,sayur dan makanan yang sudah di kodratkan untuk manusia.

    Mohon maaf jika tidak berkenan, hanya ingin berpendapat saja
    dari mahasiswi biasa di kampus yang peringkatnya hanya ke 200an di dunia

    Like

    • Mery DT says:

      Hi Wati, terima kasih sudah mampir.
      Ada homoseksual yang pindah ke negara yang ramah terhadap LGBT, tapi tidak semua orang punya kemewahan itu. Jangankan pindah negara, pindah kota saja pun mungkin mereka tidak mampu.

      LGBT itu bukan hanya dari golongan berada saja, tapi dari semua kalangan dan kelas sosial. Sering lihat waria ngamen di lampu merah? Anda pikir dia mampu pindh negara? Makan saja pun mereka susah. Secara ilmiah, prosentasi homoseksual itu 6% dari populasi. Anda mahasiswa, anda bisa menghitung berapa jumlahnya di Indonesia. Cuman, banyak yang menutupi ke-gay-annya karena banyak alasan. Ada yg memang tidak terima dirinya gay sehingga berusaha merubahnya dgn menikahi lawan jenis (ni banyak sekali); ada yang menekannya karena agama, orang tua/keluarga, masyarakat, dll. Jadi kalau ada yang terang-terangan mengakui dia gay di Indonesia ini, itu hanya seujung kuku dari jumlah sesungguhnya.

      Orientasi seksual itu bukan penyakit, seperti anda menyamakannya dgn orang yang memakan mayat. Kalau homoseksual itu penyakit, maka heteroseksual itu pun penayakit, karena keduanya adalah bagian dari orientasi seksual. Orientasi seksual itu banyak macamnya; heteroseksual, homoseksual, biseksual, aseksual, panseksual, dll. Dan menurut sains, itu semua normal. Agama dan norma/adat yg mengatakan itu tidak normal. Jadi terserah anda mau mengikuti sisi mana.

      Jaman dulu, orang kidal itu dianggap kerasukan iblis dalam dirinya, tapi lama-lama orang tahu bahwa itu alamiah. Dulu kaum kulit putih menganggap dirinya lebih tinggi dari kulit berwarna atau hitam, sekarang Presiden USA juga org kulit hitam. Dulu tidak dibenarkan ada perkawinan beda kulit/ras krn itu kejahatan, tapi sekarang banyak sekali pernikahan beda warna kulit. Anda bisa mengerti maksud saya? Waktu berubah, musim akan berganti.

      Tapi kalau keyakinan anda mengatakan itu tidak bisa diterima, itu untuk anda dan orang-orang yang berkeyakinan demikian. Dan ada juga orang yang berkeyakinan bahwa homoseksual itu wajar saja walaupun agamanya Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain. Keyakinan itu milik pribadi sedangkan agama itu institusi keimanan. Institusi itu punya banyak aturan yg boleh dan tidak boleh. Sedangkan keyakinan itu hanya antara kita dan Tuhan. Orang bisa memaksakan agama tapi tidak keyakinan. Orang memang bisa mempengaruhi keyakinan orang lain, tapi itu butuh proses, ada yg berhasil ada yang gagal.

      Demikian. Thanks.

      Like

      • muhammad michael says:

        Jadi gemes mau ngomong ke mbak merry. Maaf ya sblmnya. Mba blg tangan kidal dianggep kerasukan iblis. Lalu lama2 biasa aja. Soalnya tangan kiri dan kanan memiliki bentuk yg sama. Dan semakin lama kita bisa berpikir. Bahwa fungsi tangan kanan dan kiri sama saja. Tergantung perseorangannya dominan dimana. Dan juga kl masalah ras / kulit juga ngga ngerubah otonomi anggota tubuh. Tangannya masih sm orang item apa putih. Kakipun sama bentuknya. Kecuali kelamin. Disini kita memperankan vagina dan penis. Jika bentuk mereka berbeda dan fungsinya berbeda bagaimana anda bisa menyebut itu sebagai orientasi? Jgn omongin tentang studi sains dulu deh ya. Studi sama kenyataan itu beda. Kl perempuan tidak hamil karena pernikahan sesama jenis sama aja anda tidak akan punya keturunan kan? Boro2 nikah buat didata. Nikah buat hasilin momongan aja ngga. Jgn bilang kelen lgbt bakal ambil anak di panti atau lain2nya. Itu perbandingan 50:50. Kalau anak panti udah habis diambilin homo2 yg lain gmn? Balik lagi ke bagian kelamin. Bandingin sm tangan. Kiri kanan sama. Tp vagina dan penis beda. Jgn suka cocoklogi ah. Tangan kidal kl dianggep tabu (dulunya) dan skrg biasa2 aja ya krn kita bisa berpikir kl kita dikasih 2 tangan dalam bentuk yg sama berarti memiliki kinerja yg sama.. Tp kl mbaknya bisa berpikir juga sbnrnya Heteroseksual / homo blablabla itu nggak ada. Itu cmn penyebutan didalam sains saja. Harusnya mba mikir. Fungsi tubuh kita buat apa. Kita dilahirin dgn fungsi sprt ini. Mengapa kaum lgbt malah menolak fungsi utama tubuhnya sendiri? Penelitian Itu bukan untuk membenarkan mbak. Tetapi untuk “menamai” dr bentuk2 simpangan tersebut. Itu gunanya sains. Hanya untuk tag. Biar ada nama dan penjelasan. Mbaknya pinter tapi kenyataan sendiri dibantah. Semoga sadar. Dan punya momongan dr rahim sendiri yaa

        Like

        • Mery DT says:

          Gemes ya? Aku lebih gemes sama tulisan kamu yang panjang tapi ngaco. Bedain jenis kelamin dan orientasi seksual aja kamu bingung. Dan sepertinya kamu tidak suka sains. Jadi berbusa busa pun aku menjelaskan kamu tidak akan nyampe mikirnya.

          Sudah, kamu belajar lagi dulu membedakan apa itu jenis kelamin dan apa itu orientasi seksual, baru balik lagi ke sini.

          Like

  17. Cornelius Rezi says:

    Tulisan yg bagus mba, saya bukan pembenci lgbt juga bukan pendukung lgbt, bila ada lgbt akan saya perlakukan manusiawi. Tapi ketika membahas isu ini, orang disekitar saya mengatakan “mereka memang pantas di benci, karna Tuhan pun tidak pernah menginginkan adanya LGBT, mereka akan membawa dampak sosial membawa kedalam kehancuran moral dunia” dan saya menolak argumen mereka, di akhir pembahasan mereka menutupnya dengan pertanyaan “kalau anak mu adalah seorang kaum lgbt apa kamu mengizinkannya ?” Saya tidak menjawab, bukan karna tidak bisa menjawab, tapi karna saya harus berhati hati dengan segala ucapan karna ini bukan hanya menyangkut diri saya tetapi juga keluarga saya kelak. nah yg saya ingin tanyakan ke mbak yang kalau saya lihat dari tulisannya adalah sebagai orang yang menghargai kaum lgbt adalah pertanyaan yg orang tanyakan ke saya yaitu “kalau anak mu adalah seorang kaum lgbt apa kamu mengizinkannya ?” Terimakasih, salam damai.

    Like

    • Mery DT says:

      Hi Cornelius,

      Terima kasih kita berada di halaman yang sama (on the same page). Tidak mudah menjelaskan hal ini kepada orang-orang yang sudah punya pendapat berbeda. Pemikiran bahwa homoseksual dan biseksual itu penyakit dan dibenci Tuhan sudah tertanam jauh di dalam hati banyak orang. Ini seperti pekerjaan memindahkan gunung.
      Kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Dan dukungan untuk kaum minoritas tetap harus kita berikan.

      Beberapa tahun lalu aku pernah nge-tweet tentang itu. Kalau anakku homoseksua atau biseksual tidak akan ada bedanya bagiku. Mereka tetap anak-anak yang pasti sangat kusayangi.

      Kenapa kamu bilang; “kalau anak mu adalah seorang kaum lgbt apa kamu mengizinkannya?” Menjadi homoseksual itu bukan karena diizinkan atau tidak. Dia lahir dengan orientasi seksual tersebut. Siapa yang melahirkan dia? Kita orang tuanya yang memberikan orientasi seksual itu padanya. Homoseksual itu tidak dilahirkan oleh homoseksual, tapi oleh heteroseksual. Kombinasi kromosom kelamin yang menyebabkan dia demikian. Tapi homoseksual itu tidak menurun. Banyak yang homoseksual (lesbian) melahirkan anak kandung dan anaknya heteroseksual.

      Orientasi seksualnya tidak menentukan siapa dia, tapi nilai-nilai yang kita tanamkan pada anak-anak yang akan membantu menjadikan dia menjadi manusia yang lebih baik.

      Demikian. Salam damai.

      Like

  18. Nessie says:

    Ulasan yang menarik. Yang menyamakan pelegalan pernikahan sesama jenis dan pernikahan dengan hewan tidak mengerti dasar pernikahan. Pernikahan berarti pihak yang setuju untuk berbagi hidup dan saling mencintai. Kalau sesama jenis menikah berarti mereka saling setuju alias mutual. Kalau ga nikah dibilang zinah, ga laku sekalinya mau nikah dibilang ga boleh ga sah. Kasus terbaru yang masih hot Aming dan istrinya. Udah nikah sesuai aturan cewe+cowo masih banyak dikomentari rubah penampilan, kepala keluarganya siapa, itu cowo kan ada jakun dll. Nanti kalau sudah ada anak dikomentari lagi kasih contoh yang ga baik untuk anak.

    Intinya saya berharap masyarakat lebih terbuka cara berpikirnya dan mengurusi yang lebih bermanfaat. Kehidupan pribadi seseorang sudah bukan ranah kita selama hal itu tidak menyakiti kita atau masyarakat. Memberi nasihat boleh (yang merasa berkewajiban menasihati) tapi tidak juga bertubi-tubi mereka jelas mendengar n menyadari apa yang mereka perbuat dan apa yang kita katakan. Selanjutnya sudah urusan mereka. Jangan memaksa. Cheers!

    Like

  19. Andi Parada says:

    Inget gak sih pengertian Ham? Hak yang dibawa sejak didalam kandungan yg diberikan oleh Tuhan?… makan tuh Ham kalo lorang melanggar aturan Tuhan… are u crazy ???

    Like

  20. arthur says:

    Mantap,ijin share

    Like

  21. DEO says:

    bagaimana kita memberitahu kepada orangtua kita kalo kita LGBT tanpa harus melukai hatinya?

    Like

    • Mery DT says:

      Hi Deo,

      Penerimaan orang tua terhadap anaknya yang LGBT itu bermacam-macam. Ada yang menolak keras hingga mengusir keluar rumah, ada yg menolak halus dengan memintanya untuk berobat supaya menjadi heteroseksual dan ada yang menerima.

      Orang tua yang religius dan tradisional biasanya menolak, baik yang keras (paling banyak) maupun halus. Orang tua macam ini banyak terdapat di negara-negara berkemubang dengan tingkat keagamaan masyarakatnya masih kental. Kalau di negara2 maju, sdh banyak org tua yang menerima anak-anaknya yg LGBT.

      Nah, kamu yang tahu orang tuamu pada kelompok yang mana. apakah religius tradisional atau modern. Caranya, coba pancing pembicaraan dengan topik LBGT. Tanyakan pendapat mereka. Bila jawabannya menentang atau sangat menentang, sebaiknya tidak usah di kasi tahu.

      Karena mereka akan terluka, dan merasa malu. Mereka akan merasa menjadi orang tua yang gagal atau salah mendidik anak. Pada kelompok seperti ini sebaiknya jangan dikasi tahu. Kecuali kamu bisa mengedukasi mereka tentang LGBT, bahwa itu bukan kesalahan orang tua, bahwa itu bukan penyakit dan lain sebagainya. Setelah mereka bisa menerima, baru kamu come out ke mereka.

      Sampai berapa lama prosesnya? Itu tergantung dari keterbukaan orang tua. Bisa lama, ada juga yang cepat.

      Demikian kira-kira saranku. Semoga berhasil ya.

      Like

      • Johanannvit says:

        Wahh lagi rame nihh pembahasannya,. Kalau aku sih apapun orientasi seksualnya ga masalah bagiku. Oh ya mbak merry, skg aku baru menjalin hubungan bromance LDR. Ada tips ga mbak utk hub LDR?

        Like

        • Mery DT says:

          Hi Johan, selamat ya atas bromance nya. Semoga langgeng dan saling mempercayai.
          Setahu aku LDR itu cukup sulit atau ringkih. Yang dipegang hanya rasa percaya. Lebih dari itu tidak ada. Itu sebabnya LDR gampang sekali bubar grak. Tapi lumayan banyak juga yang berhasil dalam LDR. Jadi sangat tergantung dari personal kedua belah pihak.
          Sepertinya aku tidak bisa memberi tips valid tentang LDR.

          yang bisa aku bilang adalah lakukanlah apa yang ingin kau dapatkan dari orang lain. Ingin pasangan setia, berbuatlah setia. Itu saja.

          Regards,
          Mery

          Like

  22. andre says:

    Yth mbak Mery, mau tidak mau LGBT harus di rujuk keberadaanya dengan Tuhan Sang Pencipta, saya sebagai orang beragama Kristen punya prinsip iman, Tuhan tidak mungkin dan tidak pernah salah, dan instruksiNya jelas…… beranak cuculah……, ini adalah masalah mind set frame yang tidak sama, masalah akan menjadi lebih rumit lagi bila sudah di mix antara agama, politik, dan HAM, negara2 yang sudah melegalkan LGBT , pasti sudah lewat pintu mix tiga hal tersebut, sedang yang belum melegalkan mungkin sedang menuju pintu mix tiga hal tersebut atau berada di tengah pintu tiga hal tersebut. Indonesia sangat jauh dari pintu mix tiga hal tersebut, karena boro2 kesitu ngurusi korupsi,terorisme dan narkoba saja sudah pontang panting. saran saya : berdiam diri , patuhi hukum yang berlaku. GBU

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s