Pengalaman Pertama Rawat Inap di Rumah Sakit

RSPP  Aku sudah dua kali ke dokter umum sehubungan dengan batukku. Pertamanya tgl 6 April, sehari setelah ulang tahunku. Kemudian kontrol lagi tanggal 11 april. Sempat kutanya dokternya, “kok batuk saya nggak sembuh sudah semingu ya?” dia jawab, “Batuk memang bisa lama, ada yang 2 minggu atau sebulan.” Saat itu batukku sudah berat, ditambah ada radang di tenggorokan. Sempat kubilang kalau saat batuk, otot dada dan perut berkontraksi hingga sakit sekali. Dokter muda itu bilang itu biasa saja. Pandangan dokter itu sedikit membuat saya tenang.

Tapi, setelah obat habis pun batukku tidak mereda, bahkan tambah parah. Aku mengalami sesak nafas sepanjang hari dan lebih berat bila malam datang. Bila batuk, dan itu sering, aku seperti kesedak, kehabisan oksigen. Mukaku panas dan kepalaku pusing. Dada kiriku perih luar biasa, otot perut sakit sekali karena berkontraksi. Ibuku pasti ketakutan kalo melihat aku sedang batuk. Seperti orang meregang nyawa kehabisan nafas. Beberapa kali aku bilang, “Aku mungkin mau mati.”  Mana ada orang tua yang suka mendengar kalimat seperti itu.  Maagku juga ketika kumat parah itu bersamaan.

Selasa malam aku ngetwit “Kombinasi batuk dan asam lambung. Busyettt” Seorang teman di twitter yang juga dokter spesialis bedah menyarankan aku ke dokter spesialis penyakit dalam. Setelah diskusi pendek lewat twitter, aku percaya intuisinya sebagai dokter.

Besoknya, Rabu 15 April, aku ke kantor pagi. Setelah habis makan siang, aku diantar driver ke RSPP, karena itu rumah sakit terdekat dari kantor. Dan kupikir rumah sakitnya punya reputasi bagus. FYI, kondisiku saat itu meriang, batuk berat, sesak nafas berat. Suara sengau seperti suara orang flu berat.

Saat mendaftar, aku bilang mau ke internist. Resepsionis bagian pendaftaran tanya, ”Sakitnya apa?” Aku jawab, “Batuk dan sesak nafas.” Kata si resepsionist, “Sebaiknya langsung ke spesialis Paru-paru saja. Nanti kalo ke internist bakal dikirim lagi ke Paru-paru, tambah lama.”

Aku setuju dengan saran resepsionist itu. Kemudian aku direkomendasikan pada Dr. Wahyuningsih. Dokternya sudah senior dan ramah menyambutku. Setelah mencatat semua histori penyakitku termasuk sudah berobat 2x ke dokter umum, dia merekomendasikan untuk ronsen/sinar x paru-paru saat itu juga.

Seumur hidupku, ini adalah pengalaman pertama aku ke dokter spesialis. Dan harus kuakui, aku cemas luar biasa. Dengan penuh pertanyaan di kepala aku melakukan foto sinar x. Kemudian membawa hasilnya kembali ke Dr. Wahyuningsih. Setelah dia pelajari aku disuruh masuk dan menjelaskan bahwa ada infeksi di paru-paru sebelah kiri. Aku stress mendengarnya. Kupikir ini pasti sangat serius. Dia mengatakan aku harus terapi setiap hari dan sebaiknya opname.

Aku terperanjat, “Sekarang, Dok?” “Iya,” jawabnya dengan yakin, “Kalo rawat jalan pasti lama dan tidak maksimal.

Kemudian aku katakan, “Dok, aku ada training di Singapore selama satu minggu, berangkat hari minggu ini.”

“Apalagi itu. Kalo kamu rawat jalan tidak bakal bisa berangkat. Tapi kalo rawat inap masih mungkin. Antibiotik sempat 3 hari masuk dengan obat-obatan lain, kamu akan jauh lebih baik. Kalo obat disuntik lebih cepat reaksinya dari pada ditelan. Hari sabtu kamu pulang, Minggu pasti bisa berangkat.” Dr. Wahyu menjelaskan.

Aku tambah stress. Terbayang besok meeting di client, terbayang ibu gw yg pasti cemas, terbayang Cibi, anjing kesayangan gw yang sudah seperti anak, pasti bingung gw gak pulang selama opname. Dan yang meresahkanku adalah ini kali pertama aku opname, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, dan aku sendirian. Tidak ada teman bertukar pendapat. Aku diam saja di depan Dr. Wahyu dan perawatnya. Kemudian aku minta izin buat nelpon. Aku nelpon HRD kantor untuk menanyakan masalah asuransi. Dia bilang masuk saja, sudah akan di cover semua oleh asuransi. Kemudian masih dengan perasaan tidak karuan, aku masuk lagi ke ruangan Dr. Wahyu. Tapi sampai di dalam aku masih tidak bisa memberi keputusan. Aku keringat dingin dan gemetar. Si nurse melihat bahwa aku sangat gundah dan dia menyarankan aku ambil waktu di luar. Memang ada satu pasien lain yang antri di luar. Mumpung aku menenangkan diri, pasien lain bisa masuk dulu. Itu sudah sore sekitar jam 4.

Selama aku di ruang tunggu, akhirnya pertahananku pecah. Aku menangis. Mengeluarkan semua kegundahan hatiku. Aku takut atas ketidaktahuan apa yang akan aku hadapi. Seorang diri.

Tak lama, nurse tadi ke luar ruangan periksa dan mendekatiku. Dia mengatakan, bahwa infeksi itu bisa membesar dan berbahaya bila tidak dilakukan tindakan dengan benar. Kalo opname, perawatannya akan maksimal dan penyakitnya bisa ditangani dengan segera. “Kakak akan baik-baik saja kalo opname.” Kata nurse itu dengan tersenyum tulus.

Aku percaya dengan yang dikatakan nurse itu. Timbul pikiran positif. Akhirnya kutelpon adikku dan mengatakan bahwa aku tidak pulang tapi langsung opname. Dia tentu kaget. Aku jelaskan semudah mungkin bahwa aku hanya mau menyembuhkan batukku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kataku, padahal dalam hati aku masih dilanda kekhawatiran. Aku hanya minta diantarkan malam itu juga beberapa keperluan pribadiku. Btw, rumahku di Jagakarsa, jadi cukup jauh ke RSPP.

Akhirnya aku kembali ke Dr. Wahyu dan mengatakan setuju di opname. Aku diminta menanyakan budget asuransi ke bagian administrasi. Kemudian dilanjut dengan pengurusan kamar. Butuh waktu sekitar 2 atau 3 jam akhirnya aku masuk di kamar 423. Itu adalah kelas 2.

Ternyata kamar itu kosong, tidak ada pasien lain. Hanya aku sendiri tanpa ada keluarga yang menemani. Ketika adikku datang, aku masih merasa ok. Tapi ketika dia pulang aku totally alone. Aku tidak takut hantu-hantuan, tapi being alone dalam kondisi sakit itu cukup tidak nyaman. Ketika orang administrasi menelpon prihal asuransiku, aku langsung tanya apa ada tempat di kelas 3. Dia bilang ada. Aku minta dipindahkan ke kelas 3 saja malam itu. Nyaris jam 12 aku akhirnya pindah kamar. Kelas 3 itu 5 pasien per kamar. Aku mendapat bilik di dekat jendela. Jadi sangat pas bagiku. Aku bisa makan pagi siang malam sambil menatap pemandangan di luar.

Aku suka di kelas 3 ini. Banyak orang. Aku merasa tidak sendiri. Aku bilang ke keluargaku supaya tidak perlu dijaga. Aku baik-baik saja. Kasian aja aku pada yang jaga. Pasti menderita kalo tidur malam. Trus aku lihat kamar mandi/toilet di kamar 3 juga bersih dan jauh lebih cakep dari pada di kamar 2. Tepat sudah keputusanku pindah kamar walaupun downgrade.

Singkat kata, aku mendapatkan treatment penguapan dan terapi infra red di dada dan punggungku setiap pagi. Obat dan makanan tidak pernah telat. Pada hari kedua aku langsung merasakan perbedaan yang signifikan. Sesak nafasku hilang. Itu kurasakan progress yang sangat luar biasa. Perih di dada kiri mulai berkurang. Sekarang hari ketiga perih itu sudah mulai tidak terasa. Saat batuk aku sudah tidak menderita. Dan penampakanku laksanan orang yg tidak sakit. Di rumah sakit sepanjang hari aku mendengarkan music dari player di laptop hingga tertidur. Sesekali masih bisa kirim atau balas email kantor.

Dan yang sangat mengejutkanku adalah bahwa AKU MERASA NYAMAN DI RAWAT INAP. Tidak ada yang musti dikhawatirkan, semua sudah tersedia dan perawat-perawatnya cukup baik dan membantu.  Ibuku pun lebih tenang di rumah karena dia tau aku ditangani orang yang tepat.

Penyakitku ini namanya Pneumonia atau infeksi paru-paru. Kalo kata temanku Linda yang nurse di US, bilang aku kena Community Acquired Pneumonia.

Semua teman yang sudah kenal lama pasti langsung menuduh aku mengidap penyakit itu karena merokok. Sama sekali tidak.   Sudah beberapa tahun terakhir aku cuman jadi social smoker. Hanya merekok bila lagi kumpul dengan teman-teman perokok. Selebihnya aku tidak merokok. Pernah juga aku benar-benar puasa merokok, walaupun lagi kumpul dengan teman perokok aku mampu tidak ikut merokok.

Jadi begini awalnya aku mengidap penyakit itu. Akhir Maret aku kena batuk dan flu. Sepertinya aku tidak menangani flu ini dengan benar. Aku hanya memakan obat batuk dan flu yang dijual bebas di apotik. Saat perayaan Rabu Abu (1 April) di gereja aku sudah mulai pusing flu. Besoknya ada ibadah Kamis Putih, flu dan batukku makin parah. Aku harus sedia satu kantong plastik khusus tempat tisu kotor di tasku. Ketika ibadah Jumat Agung pun belum ada kesembuhan berarti. Tapi aku tidak pernah panas tinggi. Flu dan batuknya pun biasa saja. Sabtunya aku istirahat di rumah dan tetap melakukan kegiatan rutin, mencuci, bersih-bersih rumah dan mandiin Cibi, anjing kesayanganku. Flu batuk tidak kunjung sembuh, aku tetap minum obat batuk dan flu. Besoknya ibadah subuh Paskah, aku tidak ke Gereja. Aku tiduran saja di rumah. Padahal itu adalah hari ulang tahunku, 5 April.

Besoknya aku tidak ke kantor, izin sakit. Aku berobat ke dokter umum. Diperiksa, dikasi obat, trus aku pulang. Obat untuk 4 hari tapi belum ada perubahan. Malah batukku makin menggila dan aku rasanya mau kesedak tiap batuk. Kemudian hari Sabtunya aku ke dokter lagi kontrol. Dokternya bilang, kalo batuk emang agak lama. Sakit batuk karena kontraksi otot perut itu biasa kok. Ternyata setelah obat habis pun tetap tidak ada perbaikan tapi malah tambah parah.

Akhirnya aku tahu dari dokter di RSPP ini bahwa saat aku batuk itu, fisikku sedang drop banget, trus aku berada di public area tanpa masker sehingga bakteri masuk dan langsung masuk ke paru-paru dan menyerangnya. Aku langsung teringat saat sakit batuk itu beberapa kali aku naik bus Trans Jakarta di pagi hari dan sore hari yang amat berdesakan, dan aku tidak menggunakan masker penutup mulut sama sekali. Dalam kondisi aku sangat rentan dijangkiti, aku membukan diri lebar-lebar untuk dijangkiti. Ini jadi pengetahuan dan pengalaman yang berharga bagiku. Mudahan juga bagi yang baca artikel ini.

Biasanya pneumonia itu diderita oleh orang yang punya asma dan bronchitis, tapi aku tidak punya keduanya tapi bisa kena. Dan jangan main-main dengan pneumonia, itu penyakit mematikan bila tidak ditangani segera dengan tepat.

Yang lucu adalah, di novel pertamaku yang berjudul “Love you till the end” tokoh utamanya meninggal karena pneumonia. Jadi saat aku nulis novel itu dulu, aku cukup meriset tentang penyakit itu. Dan aku kena penyakit itu! Ntahlah apakah ini tulah?

Maka saat perawat dan dokter menanyakan sejarah kesehatanku apakah punya asma dan berat tubuh ada menurun drastis, aku langsung curiga. Aku tanya pada suster jaga di malam pertama, apakah aku kena pneumonia? Ada signal perawat itu bilang iya, tapi dia kemudian mengatakan, nanti tanya dokter jaga saja. Kemudian dokter jaga datang, aku menanyakan pertanyaan yang sama, dan dokternya bilang IYA. Kemudian aku tanya bagaimana bisa aku kena itu padahal aku tidak punya asma dan berat badanku stabil beberapa tahun terakhir ini. Dia bilang karena kondisi lagi sangat lemah dan terhirup bakteri di tempat umum. Aku langsung teringat seperti yang kuceritakan di atas.

Demikian ceritanya aku terdampar di tempat yang tidak pernah kuinginkan. Tapi melihat kondisiku itu, aku benar-benar merasa beruntung bisa segera mendapat penanganan yang tepat di rumah sakit ini. Tuhan masih sayang aku. Terima kasih untuk hidup yang masih diperpanjang.

Oh iya, aku masih di RSPP saat menuliskan ini.  Besok sore aku boleh pulang. dan langsung packing karena Minggu pagi aku ke Singapore selama seminggu.  Dokter sudah mempersiapkan obat-obatan yang perlu kubawa selama 1 minggu.  Hari senin depannya aku diharuskan check up lagi.  Ok deh.  Sekarang aku mau tidur.

Semoga ada manfaat bagi yang membaca.

RSPP, 768, April 17, 15

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Pengalaman Pertama Rawat Inap di Rumah Sakit

  1. kornelwongso says:

    sudah sembuh mpal,,,,,,ulanai chatial berngi berngi e nakwe…..daging enggo metua…..lampas tayang melaun medak mpal…gelah cukup istirahat hehhehh

    Liked by 1 person

    • Mery DT says:

      Hahahaha…. Karaben kari ndarat jena nari, dung kenca berena suntikan terakhir. Ugalah ningen, Pal. Pagi lampas enggo ka berkat ku spore, tugas seminggu. Semoga la kumat sanga i jah yah.

      Like

  2. Johanannvit says:

    Puji Tuhan ya Kak, masih diberi kesehatan. Infonya benar-benar baru bagi saya. Ternyata kalau lagi drop usahakan pakai masker.

    Like

  3. rina says:

    Maaf kak baru baca artikelnya….alhamdulillah sudah sehat ya kak….tetap semgat…..miss u kak merry. Kapan qta ketemuan ? Dah lama bgt Ÿªąº°˚˚°º☺ tak bersua

    Like

  4. Yudi says:

    Semoga Cepat Sembuh, Sehat selalu dan Sukses …

    Like

  5. erna says:

    halo, salam kenal. saya juga tempo hari opname karena pneumonia. hasil foto rontgen cuma muncul titik2 aja tapi katanya paru2ku udah bakteri dan virus semua. telat ditangani, aja, koid katanya.
    aku ada berat badan turun drastis. seminggu batuk parah turun 7kg

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s