Ibu Pengamen dan Anaknya

being kind

Di perempatan Trakindo, aku naik bis Kopaja yang sedang ngetem dan duduk di bangku agak belakang. Tak lama seorang ibu muda, mungkin sekitar 22 – 25 thn, dengan anak perempuannya yang mungkin masih 2 atau 3 tahun dengan kempeng di mulutnya, naik bis dengan enggan. Aku memperhatikan mereka yang berdiri di sampingku. Awalnya kupikir penumpang sehingga kupersilakan duduk. Tapi ternyata pengamen.

Si Ibu itu membujuk anak kecilnya untuk membagikan amplop kecil yang kumal kepada penumpang, tapi anak itu berusaha menolak dengan mengatakan “aku capek.” Tapi si ibu bersikeras menyuruh anaknya membagikan amplop kecil itu, kemudian si anak malah menghamburkan amplop tersebut ke lantai. Si ibu memunguti amplop tersebut dan kembali membujuk si anak untuk membagikan amplop. Sementara bis sudah mulai bergerak masuk toll. Aku sempat menegur si Ibu “Dia capek, mbak. Jangan dipaksa!” Tetapi si Ibu tidak mau menghiraukan perkataanku.

Akhirnya si anak kecil itu membagikan amplop tersebut sambil di tuntun ibunya. Pada amplop itu tertulis “bla-bla-bla… tertanda anak yatim” Setelah semua amplop terbagi, si ibu berdiri di pintu depan dan membunyikan kecrekannya sambil bernyanyi. Sepanjang bernyanyi, si Ibu menatap anaknya yang berdiri di dekatnya sambil tersenyum. Si anak tertawa senang sambil bernyanyi seadanya mengikuti ibunya. Dia sudah tidak ngambek lagi. Aku lupa lagu apa yang mereka nyanyikan. Aku hanya memperhatikan mereka sambil mengutuki hidup yang membuat mereka menjalani hidup seberat itu. Setelah satu lagu, kembali si anak dituntun oleh si ibu untuk mengambil amplop-amplop dari tangan para penumpang.

Karena bis belum keluar dari toll, si anak duduk di sebelahku. Aku merogoh beberapa permen dari dalam tas dan memberikannya pada si anak. Dia menerimanya dengan tangan kiri. Tak lama kudengar si ibu mengajarkan si anak, “kalo minta pake tangan kanan!”

Entah kenapa hatiku perih memperhatikan mereka. Keadaan yang sulit menempatkan si ibu tampak jahat pada anaknya. Memaksanya bekerja pada usia sekecil itu. Tapi mungkin si Ibu tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyambung hidup mereka. Mungkin dia berpikir dengan memanfaatkan anaknya, penumpang akan lebih bermurah hati memberikan bantuan.

Aku tahu si Ibu itu tidak jahat. Kemampuan dan pengetahuannya saja yang terbatas. Aku bisa lihat dia sayang pada anaknya. Hanya keadaan saja yang membuat dia memanfaatkan si anak, yang mungkin menurut dia itu sah-sah saja. Bila dilihat dari wajah dan tubuh si ibu, mungkin dia bisa saja menjajakan tubuhnya untuk mencari makan. Pekerjaan yang tentu lebih mudah. Tapi dia memilih mengamen di bis kota dengan resiko yang lebih besar.

*Tiba-tiba tadi aku teringat mereka, dan ingin menuliskannya sebagai pengingat. Ini terjadi minggu lalu. Dan ntah kenapa aku menangis sambil menulis ini.*

Semoga mereka tidak mengalami hal-hal buruk di jalanan yang keras dan jalan hidup mereka akan lebih baik kelak. Semoga Tuhan melindungi mereka.

Jakarta, 20 Maret 2015.

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s