Filosofi Kopi dan Perubahan Hidup

black coffee 4

Awalnya aku suka dengan segala jenis kopi instant yang di mix dengan krim atau susu. Setiap muncul varian kopi mix saset-an baru, aku selalu beli dan mencobanya. Misalnya, dulu Good Day mengeluarkan banyak varian kopi, seperti cappuccino, latte, mocca, vanilla, dll. Karena persaingan yang ketat di pasar, brand lain juga berlomba-lomba mengeluarkan aneka varian rasa. Dan favorit ku selalu cappuccino. Pun bila ke coffee shop aku selalu pesan cappuccino, paling banter kalau mau coba yang lain aku pesen latte. Aku memang cukup setia dengan selera. Dari pada nantinya tidak suka mendingan pesen yang pasti kusuka. Seperti itu kira-kira prinsipku.

Tiga tahun lalu, seleraku berubah. Rasanya neeg bila minum kopi mix. Terlalu manis dan berlemak. Kemudian kucoba kopi tubruk alias kopi hitam. Awalnya, untuk mengimbangi rasa pahitnya aku tambahkan gula yg agak banyak, sehingga manisnya terasa. Tapi lama-kelamaan aku tidak suka dengan kopi hitam yang terlalu manis.  Sekarang aku hanya menggunakan sedikit gula, dan formula ini yang cocok denganku saat ini.

Apakah formula ini akan abadi?

Setelah melihat perjalanan panjang seleraku akan kopi, aku yakin, setahun atau dua tahun ke depan aku akan meng-adjust selera dengan jamannya.  Kemungkinan terbesar adalah kopi hitam tanpa gula.  Atau tidak boleh minum kopi lagi karena aku punya maag akut.

Aku melihat hidup ini mirip dengan seleraku akan kopi.  Prosesnya adalah tentang adjustment, penyesuaian.  Proses beradaptasi sehingga bisa masuk dengan keadaan kekinian. Tidak ada hal yang tetap sama, semua akan berubah.  Dan kita harus selalu menyesuaikan diri dengan kondisi kekinian supaya terasa nyaman.

Kita selalu mengatakan seseorang berubah, atau malah kita sendiri yang dinilai orang lain berubah. Perubahan itu bisa bermacam-macam, lahirian dan batiniah. Prioritas hidup, tujuan hidup dan pemaknaan hidup akan berproses dan berubah sesuai kondisi dan usia.  Selera terhadap makanan, minuman, cara berpakaian, tatanan rambut, musik, film, buku, komunitas, bahkan idola pun akan berubah.

Juga dalam memandang agama dan menghidupi keyakinan pun kita akan berubah. Itulah sebabnya semakin berumur, kebanyakan orang semakin mendalami agama atau lebih spiritual. Dalam pertemanan pun, semakin berumur orang akan memandang pertemanan dengan cara berbeda.  Lebih memilih yang santai, lebih menerima bila ada yang tidak sependapat, dan lebih menghargai pertemanan yang tidak neko-neko.

Orang yang beranjak dewasa akan lebih selektif dalam memilih teman baik, dan tidak merasa perlu harus masuk/cocok dengan semua orang atau komunitas. Cukup dengan beberapa orang yang memiliki nilai-nilai hidup yang sama sudah cukup, sehingga merasa sangat nyaman membicarakan topik apa pun.

Hidup adalah perubahan. Menjadi lebih baik atau lebih buruk itu adalah proses. Jangan komplen bila teman berubah, karena kita juga berubah. Semua yang berubah dan akan terlihat nyaman dan baik bila sesuai jamannya.

Maaf bila ada yang terkecoh yang menganggap ini review film Filosofi Kopi, tulisan ini tidak ada hubungannya. Maaf sekali lagi. 🙂

 

Jakarta, 28 Feb 2015

Mery DT

 

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s