Fenomena Valentine Merusak Moral Bangsa?

my-valentine-card-P copy

Karena belum sembuh benar, aku memutuskan di rumah saja malam ini. Tidak ikut ajakan sahabat yang lagi liburan di Jakarta untuk main di PI atau kumpul dengan sahabat lain kongkow sambil nge-wine. Santai nonton tv dan sambil lalu ngecek timeline twitter, gw tertarik dengan twit dari portal berita yang berjudul “Menteri Agama Bilang Fenomena Valentine Merusak Moral.”  Disini.  Aku tersentak karena yang mengatakan itu adalah Menteri Agama Republik Indonesia.  Tahun ini sebenarnya aku tak berminat ngetwit tentang Valentine walaupun di TL ramai sekali yang pro dan kontra. Tapi aku tak tahan untuk berdiam saat membaca pernyataan seorang Menteri (semua) Agama, Lukman H. Syaifuddin, saat menghadiri pembukaan rapat kerja International Muslim Women Union di Universitas Islam Asafiiyah Pondok Gede Bekasi, Sabtu (14/2/2015) yang mengatakan, “Mengikuti fenomena Hari Kasih Sayang atau Valentine dapat merusak moral bangsa.”

Kemudian di paragraf selanjutnya ada kalimat seperti ini:

“Hakekat Hari Kasih Sayang, seperti seorang anak yang mengungkapkan kasih sayang kepada orangtua, yang dapat merusak moral, misalnya dengan cara hura-hura apalagi menyimpang dari norma agama, kita haramkan.”

Agak aneh aku membaca kalimatnya, tapi sebetulnya aku setuju dengan yang dia katakan, bahwa perayaan apapun yang dirayakan secara hura-hura dan menyimpang dari norma agama akan merusak moral. Tidak hanya pada acara Valentine, perayaan lain juga bisa terjadi demikian.  Seperti ASMARA SUBUH yg marak terjadi setelah sahur di bulan Ramadhan kan, Pak? Bagi para pembaca Silakan googling, maka akan banyak sekali tulisan tentang hal tersebut. Apakah karena fenomena asmara subuh itu acara sahur diharamkan?

Aku hanya heran cara berpikir bapak Menteri Agama ini. Aku sempat berharap dia berbeda dengan tokoh-tokoh lain yang pemikirannya aneh menurut aku, tapi ternyata menteri yang satu ini sama saja. Aku masih maklum atas pernyataannya tentang ucapan selamat Natal, baca disini, tapi setelah pernyataan tentang valentine ini, aku tidak simpati lagi padanya. Dia sama saja seperti pendahulunya, Surya Dharma Ali.

Yang ku kritisi perkataan Menteri itu adalah “Perayaan Valentine Merusak Moral Bangsa.” HELLOOO….!!! Pernyataan itu semacam merendahkan. Dalam Alkitab memang tidak ada tertulis tentang perayaan ini. Tapi perayaan ini berakar dari kekeristenan. Aku lebih hormat bila dia mengatakan umat Islam dilarang merayakan valentine karena itu bukan perayaan dalam Islam. Tapi kalo MERUSAK MORAL BANGSA..! Duh.

Menurut sejarah, asal mula Valentine yang dirayakan setiap 14 Pebruari itu banyak versi. Gereja Katolik mengakui setidaknya ada tiga orang kudus yang berbeda bernama Valentine atau Valentinus, yang semuanya mati syahid. Salah satu legenda berpendapat bahwa Valentine adalah seorang imam yang bertugas pada abad ketiga di Roma. Ketika masa peperangan, Kaisar Claudius II membutuhkan banyak tentara dan mengharuskan semua pria lajang harus menjadi tentara dan dilarang menikah. Diam-diam Valentinus yang menjadi imam, menikahkan pria muda sebelum dikirim ke medan perang. Valentine, menyadari tindakannya tersebut menantang Claudius tapi dia tetap melakukan pernikahan bagi pasangan muda secara rahasia. Ketika tindakan Valentine diketahui, Claudius memerintahkan untuk menghukum mati dia.

Versi lain bercerita bahwa Valentine adalah imam yang dibunuh karena membantu orang-orang Kristen untuk melarikan diri dari penjara Romawi yang sangat kejam dimana tahanan seringkali dipukuli dan disiksa.

Versi lain mengatakan, seorang pemuda yang sedang menjalani hukuman dipenjara dan jatuh cinta pada seorang putri kepala penjara yang sering mengunjunginya. Dia dibunuh karena ketahuan mengirimkan sebuah surat cinta dengan tanda-tangan “from your Valentine.” Versi ini yang paling terkenal dan dianggap sangat romantic sehingga sering dipakai para pemuda sebagai ungkapan romantic di dalam kartu-kartu seperti “be my valentine.”

Ada juga versi lain tentang valentine yang dihubungkan dengan legenda pagan romawi.   Aku tidak tahu yang mana yang paling mendekati. Tergantung orang saja mau memakai versi yang mana. Aku paham, umat Islam mengharamkan perayaan ini karena dikaitkan dengan agama Kristen/Katholik atau pagan. Tapi dengan mengatakan merusak moral itu sungguh berlebihan.

Awalnya 14 Pebruari dirayakan dengan saling mengirimkan kartu ucapan kasih sayang diantara pasangan yang sedang memadu kasih. Kemudian oleh para pebisnis, momen ini dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan dengan mengemas kartu dan hadiah sebagai ungkapan kasih sayang. Hadiah itu awalnya berupa coklat dan bunga.

Tapi pebisnis yang licik melihat peluang ini dan mengemasnya menjadi hari kasih sayang yang menjurus pada persetubuhan dengan mengemas kondom sebagai tambahan hadiah pada coklat dan bunga.   Karena kemasan inilah maka perayaan valentine menjadi tergerus artinya menjadi perayaan seks bebas. BAH!!!

Mungkin memang ada yang memanfaatkan perayaan ini untuk melampiaskan nafsu seksualnya, tapi menurutku itu tidak sebanyak yang merayakannya tanpa hubungan seksual. Kalau mau jujur, perilaku seks bebas tidak hanya terjadi saat valentine, tapi hari biasa lainnya bisa. Tidak usah malu mengakui bahwa remaja Indonesia sudah banyak yang melakukan hubungan seksual sebelum perkawinan. Apakah mereka semua melakukannya hanya saat Valentine? Aku kok tidak yakin.

Semua hal dapat dipakai demi hal negative atau positif. Tergantung sisi mana yang kita inginkan.   Valentine dapat dirayakan untuk pesta seks atau membagi bingkisan kepada yang membutuhkan misalnya. Memakai agama untuk membantu orang menjadi lebih baik atau menghujatnya sebagai kafir atau pendosa. Terserah mau sisi yang mana yang mau dipakai.

Sepanjang umurku yang sudah tidak remaja lagi ini, aku sering merayakan perayaan valentine dengan teman-teman, tapi tidak pernah ada pesta seks bebas. Malah sekarang perayaan Valentine memiliki arti yang lebih luas menjadi ungkapan kasih sayang kepada keluarga dan teman. Bagi pencinta binatang, mereka merayakannya dengan hewan piaraan kesayangannya.

Ada yang mengatakan mengucapkan kasih sayang bisa kok dilakukan setiap hari. Iya bener, seperti saling memaafkan juga dapat dilakukan tiap hari kok. Kalau semua hal bisa dirayakan setiap hari, sungguh membosankan hidup kita karena tidak ada yang istimewa.

Akhir kata aku mengucapkan, selamat hari Valentine! Jadilah manusia yang lebih baik karena hidup penuh dengan kasih sayang terhadap sesama dan seluruh mahluk bumi.

 

Jakarta, 14 February 2015

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Celoteh and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Fenomena Valentine Merusak Moral Bangsa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s