KPK & Polri, Bermain Cantiklah!

BG  Aku sebenarnya malas menulis tentang perpolitikan negeri ini. Aku jauh dari ahli dalam soal politik, sehingga sangat menghindari menulis tentang hal tersebut. Tapi seminggu terakhir ini hawanya sangat panas. Akupun rasanya tidak tahan untuk tidak menuliskan sesuatu dari pandanganku yang sangat awam ini.

Tgl 12 Januari 2015 Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan nama Komjen Budi Gunawan (BG) menjadi calon Kapolri. Nama ini langsung diajukan Jokowi ke DPR untuk dilakukan fit & proper test. Dengan munculnya nama BG ini banyak rakyat yang tidak puas karena konon kabarnya nama BG masuk dalam list rapor merah KPK atas pemilikan rekening gendut.

Cerita jangkrik lainnya, BG ini adalah pilihan “Sang Emak” yang tidak mungkin sanggup ditolak Jokowi. Publik kecewa karena seperti dugaan lawan politiknya saat kampanye bahwa Jokowi hanyalah boneka si Emak. Melihat sepotong kejadian itu, kita akan dengan mudah mengaminkan isu tersebut. Suasanapun mulai gerah, terutama dari kelompok aktifis yang mengetahui nama-nama yang tersangkut rekening gendut.

Suara penolakan lebih ramai lagi setelah besoknya, yakni Selasa 13 Januari 2015 KPK menetapkan BG jadi tersangka atas pemilikan rekening gendut. Ada yang pro dan kontra atas penetapan ini. Pada tubuh Polri pun terjadi gejolak. Perlawanan dari partai politik terutama pendukung Jokowi segera dilancarkan. Plt Sekjen PDIP Hasto Kristianto tiba-tiba melakukan konprensi pers tentang kegenitan Ketua KPK Abraham Samad saat bernafsu mencalonkan diri dalam bursa calon wakil Presiden untuk Jokowi. Dia memaparkan bagaimana team sukses Samad dan Samad sendiri mendatangi elit-elit PDI-P. Sangat jelas terlihat nafsu PDI-P untuk menjatuhkan Samad sebagai balasan atas kelancangannya menetapkan BG sebagai tersangka tanpa ada pemeriksaan sebelumnya. Aroma balas dendam sangat kental tercium. Balas dendam Samad karena tidak dipilih jadi wakil presiden Jokowi, dan balas dendam PDI-P atas kelancangan Ketua KPK.

Yang sangat lucu bagiku adalah kekompakan DPR untuk tetap akan menguji BG sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan walaupun BG sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Tumben sekali DPR kali ini tidak ada kubu-kubuan. Kubu Merah Putih (KMP) yang selalu berseberangan dengan Kubu Indonesia Hebat (KIH) kali ini tampak sangat akur untuk tetap memperoses BG. Pun pada saat acara Fit & Proper test tanggal 19 Januari 2015, semua anggota DPR setuju bahwa BG sangat layak untuk jadi Kapolri. Bagiku, dukungan KMP adalah dorongan supaya Jokowi masuk jurang karena setelah ini Jokowi akan menghadapi dilemma besar.

Bagi Jokowi, melanjutkan rekomendasi DPR akan merusak kredibilitasnya yang pada saat kampanye mengatakan akan mendukung KPK. Tapi bila tidak melantik maka akan ditegur oleh DPR. Ditengah kepelikan itu, Jokowi tetap memberhentikan Jend. Sutarman dan menggantinya dengan Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti yang berstatus Plt Kapolri. Untuk sementara Jokowi aman atas penetapan Plt Kapolri, tapi sesuai aturan, status/kondisi ini tidak boleh lama, harus segera ada Kapolri defenitif.

Ditengah kekusutan itu, tiba-tiba Jumat pagi kemaren, 23 Januari 2015, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) ditangkap Bareskrim setelah dia mengantar anaknya ke sekolah. Masa pendukung KPK langsung bergerak dan berkumpul di kantor KPK untuk memberikan dukungan. Masa itu berasal dari aneka lapisan masyarakat yang tidak ingin KPK dikriminalisasi oleh Polri untuk ketiga kalinya. Anehnya, begitu ada berita penangkapan BW, Komjen Pol Badrodin Haiti menyatakan tidak ada penangkapan. Ternyata penangkapan itu adalah atas perintah Kabareskrim Irjen Budi Waseso. Semakin kacau. BW pun diperiksa hingga pukul 1.30 AM dini hari tanggal 24 Januari 2015.

Terjadi hingar bingar di media social dan di segala lapisan masyarakat. Group BBM dan Wassup tidak steril dari pembicaraan tentang perkembangan politik terkini. Yang dulu kontra Jokowi semakin menyudutkan Jokowi. Yang dulu mendukung Jokowi juga ikut mengkritik Jokowi. Bila saat ini dilakukan survey elektabilitas Jokowi, maka semua sepakat nama Jokowi akan berada pada level terendah.

Dua hari ini Jokowi melakukan konpres yang isinya sangat singkat dan normatif sehingga tidak memuaskan publik yang mengharapkan langkah-langkah jelas dan tegas Jokowi atas krisis ini.

Saat Jokowi memilih BG sebagai calon tunggal Kapolri, aku kurang simpati mengingat track recordnya. Tapi aku sangat kaget dengan maneuver yang dilakukan Samad dengan tindakan KPK menetapkan BG sebagai tersangka sehari setelah dia ditetapkan Jokowi sebagai calon Kapolri.

Bagiku tindakan KPK ini sangat-sangat melukai banyak pihak. Sikapnya yang arogan itu benar-benar telah membuat kekacauan yang buruk ini. Tindakan benar kadang tidak baik disaat yang tidak tepat, seperti tindakan KPK ini. Dengan penetapan BG sebagai tersangka, KPK mengirim signal bahwa mereka menganggap rendah institusi Kepresidenan dan Kepolisian ditambah partai politik yang mendukung calon Kapolri tersebut. Saat itu aku sudah bisa merasa bahwa tindakan KPK ini sangat salah. Tidakkah KPK bisa menahan diri barang sebentar hingga mereka telah mengumpulkan barang bukti dan saat ditetapkan jadi tersangka, BG segera dapat diajukan ke pengadilan? Bukan seperti sebelum-sebelumnya, menetapkan orang sebagai tersangka tapi berbulan-bulan tidak ada kejelasan kapan kasusnya diperiksa di pengadilan.

Terutama kali ini yang ditetapkan adalah calon Kapolri, sebuah institusi yang sangat penting di Negara ini. Bahkan anggota Polri pun banyak yang diperbantukan di KPK sebagai penyidik. Banyak Polisi, baik yang sudah purnawirawan maupun yang masih aktif merasa institusi mereka direndahkan oleh KPK. Tak pernahkah terpikir oleh komisioner KPK bahwa tindakan mereka itu sangat menyakiti Polri? KPK tidak hanya menyakiti BG dan keluarganya, tapi juga institusi Kepolisian. Tak bisakah KPK menahan diri? Mengapa selama ini mereka kesannya menabung nama-nama itu, dan ditangkap saat mereka tidak disetujui KPK? Kesannya yang dikirim KPK adalah, “Hey Presiden, jangan macam-macam sama aku ya? Lu dibawah gw.” KPK terkesan sangat merendahkan lembaga Kepresidenan.

Aku cuma mau bilang, kali ini KPK bermain sangat kasar dan vulgar dan kena batunya. Mengapa KPK tidak belajar bermain cantik saja? Biarkan saja BG dilantik jadi Kapolri, dan sambil jalan KPK mengumpulkan barang bukti yang sangat kuat untuk menjeratnya kelak. Bermain cantik itu artinya bersikap bijak. Walaupun terlihat tidak baik tapi sesungguhnya menjaga banyak hal sehingga roda pemerintahan tetap berjalan baik.   Mundur selangkah untuk mempersiapkan diri berlari kencang tapi tidak melukai institusi lain. Jangan pongah dan menganggap diri manusia setengah dewa. Seharusnya KPK bersikap “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Setiap manusia punya kesalahan. Kalau saling tangkap seperti itu, maka tak lama lagi keduanya akan hancur, padahal kita sangat membutuhkan keduanya. Oleh sebab itu, aku tidak hanya ingin mengatakan #SaveKPK tapi juga #SavePolri. Kita butuh kedua institusi ini.

Semoga setelah ini kedua institusi ini dapat bersikap lebih dewasa dan saling menghargai. Semoga Jokowi menemukan formula yang tepat untuk membenahi semua kekacauan ini. Dan untuk elit partai yang sok kuasa itu aku mau katakan BACK OFF, ASSHOLE!!! Leave Jokowi alone!

 

Jakarta, 26 Januari 2015

Mery DT

 

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Negeriku & Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s