Pertualangan ke Desa Cibeo Baduy Dalam

BD1  Sudah sangat lama aku ingin mengunjungi perkampungan Baduy Dalam, dan puji Tuhan, keinginan itu terlaksana Minggu lalu, 10-12 Januari 2015. Bersama seorang teman kantor (Mia) dan dua ponakanku (Kristina & Andreas) kami bergabung dengan team Ikshan yang berjumlah 25 orang.

Biayanya termasuk murah, hanya Rp. 200.000,-/orang. Tapi tiap peserta diwajibkan membawa 3 bungkus mie goreng instant, beras satu mug & sarden/kornet satu kaleng. Uang Rp. 200.000 tersebut termasuk ongkos kreta dari Stasiun Duri Jakarta ke Rangkas Bitung, ongkos mobil elf PP ke Desa Cibloleger dan makan siang di Ciblologer. Sedangkan makan malam + sarapan pagi kita memasak mie instan, sarden & beras yang kita bawa itu di rumah orang Baduy Dalam tempat kita menginap. Btw, perjalanan Rangkas Bitung – Cibologer itu sekitar 2 jam.

Saat memasuki Desa Cibologer, pandangan kita disita oleh banyaknya orang Baduy Dalam yang berpakaian khas mereka yang berwarna hitam putih berdiri bergerombol di pinggir lapangan Cibologer yang menjadi semacam terminal bis kecil. Saat itu aku pasti seperti orang norak yang berteriak kecil “Hey lihat… banyak orang Baduy!” Aku sangat senang dapat melihat mereka langsung karena selama ini hanya melihat mereka dari televisi.

Aku tanya Ikhsan (team leader) mengapa banyak orang Baduy Dalam di desa ini, dan jawabnya, “Untuk menyambut tamu2, seperti kita ini.” Awalnya aku tidak mengerti maksudnya. Tapi kemudian aku paham bahwa mereka ini menawarkan jasa untuk mengangkat tas para tamu. Menjadi porter, dan kita akan memberika uang jasa kepada mereka. Mereka tidak akan mematok harga, “Seiklasnya.” kata mereka. Menurut Ikhsan, pasaran harganya Rp. 35.000/tas untuk sekali perjalanan. Bila PP maka Rp. 70.000,-

BD4

Sebelum berangkat, aku pernah baca blog yg menceritakan perjalanan ke Baduy Dalam hanya berkisarar 2-3 jam. Tapi kenyataannya adalah minimal 4 jam dengan jarak perjalanan 12 KM. Aku dulu mahasiswa Kehutanan, jadi tahu rasanya seberapa berat perjalanan 12 KM di dalam hutan. Aku langsung memutuskan untuk memberikan ranselku yang paling berat untuk dibawa porter. Kemudian aku membawa satu ransel ponakanku dan mereka bergantian membawa yang satunya.

Terbukti, medan yang dilalui sangat berat, ditambah hujan dan panas silih berganti. Menurutku ini bukan hiking untuk pemula, apalagi yang tidak pernah berolah raga, pasti sangat tersiksa dengan perjalanan tersebut.

Biar kujelaskan secara sederhana, kampung Cibeo yang kita tuju itu berada di puncak bukit yang tinggi. Tapi untuk mencapai bukit tersebut kita harus mendaki (dan menuruni) bukit pertama, kemudian mendaki (dan menuruni) bukit kedua baru mendaki bukit tertinggi itu. Perhitunganku jalan datar mungkin hanya berkisar 10-15% saja, selebihnya jalan mendaki atau menurun. Pada jalanan rata, biasanya berlumpur tebal karena hujan.

Dengan kondisi tersebut, aku tidak menyarankan memakai sandal gunung karena pasti sangat tidak nyaman melalui jalanan berlumpur. Banyak sekali sandal gunung peserta yang putus di tengah jalan dan mereka melanjutkan perjalanan dengan telanjang kaki. Betapa tidak nyamannya menginjak bebatuan bagi yang tidak terbiasa bertelanjang kaki. Menurutku lebih nyaman memakan sepatu kets yang alasnya tidak rata tapi bergerigi dalam.

Sepanjang perjalanan, para pria Baduy Dalam senantiasa menawarkan bantuan untuk membawakan tas peserta atau mengulurkan tangan bila ada peserta yang butuh bantuan melewati jalanan becek, menanjak atau menurun. Pada saat pulang, banyak sekali peserta yang harus dipapah orang Baduy. Oh iya, saat di desa Cibologer, banyak anak kecil menjajakan tongkat, harganya cuman Rp. 2.500,-/buah. Sebaiknya dibeli saja karena tongkat itu sangat berguna untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Setelah memasuki kawasan Baduy Dalam, aku melihat ponakanku sudah kecapaian membawa tas mereka sehingga aku langsung menitipkannya pada salah satu orang Baduy yang senantiasa berjalan di dekat kami.  FYI, hari Sabtu itu ada 4 atau 5 group yang mendatangi desa Cibeo. Bila setiap team ada 25 orang, maka setidaknya ada 100 orang kami berangkat bersama-sama.  Disepanjang perjalanan itu kita akan melewati team lain, atau mereka akan melewati kita saat sedang beristirahat. Pada saat kami menuju Baduy Dalam, ada juga kelompok lain yang pulang.  Jadi sepanjang perjalanan itu sebenarnya cukup ramai. Tidak perlu takut kehabisan air minum karena pedagang air mineral banyak berjalan bersama kita. Harganya tentu lebih mahal dari pada di minimarket. Sediakan saja uang cash yang cukup maka anda tidak akan kekurangan air minum :).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Oh iya, bila melalui jalur Gajeboh, kita akan melewati sepotong tanjakan yang tak terlupakan. Sudut tanjakan itu sekitar 60 drajat dan panjang, mungkin ada 100 meter lebih.  Karena sudah masuk kawasan Baduy Dalam maka tidak ada yang memoto tanjakan tersebut. Sebagian orang menyebutnya “tanjakan setan” karena sangat menguras tenaga. Tapi ada juga yang menyebutnya “tanjakan cinta” karena perempuan akan senantiasa memegang tangan pria yang membatunya naik. Syukurlah saat pulang kami tidak melewati jalur Gajeboh lagi.

Jadi begini, banyak peserta yang tidak menyadari kalau trip itu memang terlalu berat buat mereka, karena EO tidak jujur mengatakan kondisi sebenarnya kepada para peserta. Mereka hanya mengatakan “ada jalur tracking-nya kok.” Dan mereka juga biasanya mengatakan perjalanan hanya sekitar 2-3 jam, padahal minimal 4 jam bagi peserta yang sangat fit. Dari kelompok kami ada 3 orang yang hingga jam 10 malam baru sampai kampung Cibeo.  Kami saat itu sangat was-was bila mereka tersesat dan kenapa-napa di tengah hutan dan tidak didampingi oleh Orang Baduy.  Beberapa teman sudah siap-siap hendak mencari mereka, tapi syukur, tak lama kemudian mereka muncul. Lega banget rasanya. Ternyata mereka bukan tersesat. Ada orang Baduy yang menemani. Kata si Mamang Baduy, mereka lama karena setiap beberapa langkah, mereka istirahat lagi, karena ada peserta yang berbadan besar yang sudah sangat kecapean. Aku tersenyum mendengar si Mamang bercerita dengan caranya yang lugu. Tentu saja si Mamang kelelahan menemani mereka beristirahat lama, karena bagi orang Baduy, 1,5 jam cukup untuk melewati jalur Gajeboh. Bila sampai 8 jam, itu sangat membosankan bagi mereka. 🙂

Peserta pun banyak yang marah-marah pada orang Baduy yang mendampingi. Peserta selalu bertanya “Masih jauh, Mang?” dan orang Baduy akan menjawab sekian jam lagi atau tidak begitu jauh. Tapi persepsi peserta dan orang Baduy atas kata “tidak jauh” itu sangat berbeda. Peserta mulai frustasi karena dari tadi dibilang “tidak jauh” tapi tidak kunjung sampai. Semacam diberi harapan palsu. 🙂  Aku sampai kasian pada si Mamang karena dimarahi oleh seorang ibu muda yang mungkin sudah sangat kecapaian, “Dari tadi tidak jauh, tidak jauh terus, tapi kok gak sampai-sampai!” Ibu itu benar-benar marah. Pasti karena dia kecapaian, sudah melewati limitnya.  Sedangkan si Mamang hanya senyum masam. Mungkin dia sudah sering mendapat perlakuan seperti itu dari orang kota yang dia pandu.

Saat makan malam di rumah Mang Santa (tempat kami menginap malam itu) beberapa orang berkata ingin sekali balik ke Cibologer karena sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Tapi siapa yang mau mengantar kembali ke Cibologer kalo sudah setengah jalan? Demikianlah banyak yang terpaksa memaksakan diri menempuh perjalanan itu karena sudah terlanjur!

BD5 Tapi jangan khawatir.  Medan yang berat itu terbayar dengan alam yang indah. Selama perjalanan itu aku selalu bersama kedua ponakanku dan ditemani dua atau tiga orang Baduy. Mereka berdua anak yang kuat, sama sekali tidak pernah mengeluh capek. Kalau kelelahan mereka berhenti dan menikmati alam. Saat di Baduy Luar mereka asyik berfoto atau membuat video pendek di HP-nya. Teman-teman satu group juga banyak memuji mereka karena kami termasuk orang yang cepat sampai ke Cibeo.

Saat sampai di rumah Mang Santa, aku dan Kristina tidak mandi karena sudah tidak kuat untuk pergi ke sungai.  Cukup melap badan dengan tisu basah, termasuk kaki yang masih banyak lumpurnya.  Ganti dengan baju bersik.  Cukup.  Sedangkan Andreas sempat mandi di sungai bersama peserta lelaki lainnya. Surprise juga karena bila di rumah dia paling sulit disuruh mandi.  Tapi di Cibeo dia yang berinisiatip pergi mandi ke sungai walaupun sudah gelap.

Jangan tanya bagaimana pegalnya badan, kream anti pegel-pegal seperti counterpain tidak mampu menghilangkan sakitnya otot kaki dan punggung.  Tidur malam pun tentu jauh dari nyenyak. Pagi, setelah bangun tidur, kita eksplor desa Cibeo, mencari tempat mandi dan buang air.  Biasanya orang Baduy mandi di sungai.  Para perempuan mandi di bagian hilir, lelaki di bagian hulu.  Tapi pengunjung perempuan biasanya tidak nyaman mandi di sungai yang terbuka sehingga penduduk membangun tempat mandi yang hanya bersekat daun nipah untuk permandian tamu perempuan.  Ada batang kayu yang dikeruk sebagai bak penampung air dari pancuran. Airnya sangat jernih dan supraise tidak terlalu dingin.  Air di Gunung Papandayan jauh lebih dingin.  Untuk buang air besar juga dilakukan di anak sungai.  Ada teman yang bingung bagaimana caranya buang air di sungai.  Aku bilang “lu berinprovisasi sajalah. Kita kan punya akal, manfaatkan saja.” 🙂 Untungnya aku jarang sekali buang air besar di tempat baru, sehingga aku tidak perlu repot berimprovisasi. 🙂  Oh iya, selama di Baduy Dalam tidak diperkenankan mempergunakan sabun, samphoo, odol, dan peralatan lain yang mengandung bahan kimia. Kalaupun mandi, hanya mandi tok, tanpa sabun dan keramas.

BD6 Sekitar jam 8 setelah sarapan, kami memulai perjalanan pulang. Berdasarkan itinerary, jalur pulang adalah Jembatan Akar / Jalur Batara, tapi karena hujan tak henti sejak malam, perjalanan akan memakan waktu paling cepat 8 jam. Karena kita juga harus mengejar kreta api untuk balik ke Jakarta, maka diputuskan pulang lewat jalur Dangdang (Danau) Ageng.

Bagiku dan juga ponakanku dan juga teman-teman lain, perjalanan pulang ini jauh lebih berat lagi. Bukan karena medannya yang lebih berat, tapi karena fisik yang sudah lelah dan banyak yang mengalami keram betis atau lutut, dan sakit sekali bila perjalanan menurun.  Aku dan ponakan bolak-balik istirahat di pondok – yang banyak terdapat di sepanjang jalan – untuk mengusapkan balsem di kaki yang keram/sakit. Aku salah bawa balsem pulak.  Seharusnya balsem seperti geliga atau counterpain, tapi yang ku bawa vicks vaporub.  Tapi itupun lumayan jugalah.

Dengan segala kesakitan di kaki, akhirnya kami sampai kembali di desa Ciboleger setelah 6 jam perjalanan.  Rasanya seperti memenangkan sebuah pertarungan yang mematikan. Atau seperti baru saja menorehkan prestasi yang membanggakan.  Kami mandi di rumah warga dengan membayar Rp. 3000/org.  Ada juga tempat permandian umum yg juga bayar Rp. 3000/org.

BD7 Kemudian jam 3 kami makan siang/sore di warung.  Kami makan ditemani oleh Mang Santa, Mang Sanip dan 2 orang temannya dan juga Sakri anak Mang Santa yang sepanjang perjalanan pulang senantiasa bersama Andreas.  Mereka sudah membangun tali pertemanan yang akrab sejak berangkat ke Cibeo, sehingga saat kami pulang Sakri ngotot minta ikut kepada bapaknya. Dan memang sepanjang perjalanan pulang itu, Andreas dan Sakri tidak terpisahkan. Pada saat pulang, Andreas bilang kalau Sakri itu adik angkatnya. 🙂

Saat makan sore di warung itu, kami berbincang laksana teman akrab. Salah satu dari mereka menanyakan alamatku di Jakarta. Aku bilang di Jakarta Selatan. Kemudian mereka tanya, “Pasar Minggu?” aku bilang, “Jagakarsa. Dekat Ragunan.” Kemudian mereka mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Pernah ke Ragunan, Mang?” tanyaku. Mereka bilang pernah, kemudian menyebutkan sebuah tempat di daerah Ciganjur. “Kami biasa ke Warung Sila.” Katanya. Tempat itu dekat ke Jagakarsa. Aku kagum karena mereka hebat dalam mengidentifikansi daerah di Jakarta. Bila tadi kukatakan aku di Jakarta Barat, aku yakin mereka pun akan menyebutkan nama sebuah daerah di Jakbar.

BD8 Setelah jam 4, mereka kembali ke kampungnya. Tadi saat di tengah jalan, Mang Santa yang juga membawa tasku sempat meminta nomor HP ku, “bila berkenan” katanya.  Saat di warung itu, ketika teman-temannya sudah ke luar dari warung, dia mengeluarkan buku kecil – biasanya tempat mencatat nomor telpon – dan pulpen dan memberikannya padaku, katanya, “Tolong tuliskan nomor telponnya.” Kemudian aku menuliskan nama dan nomor HP ku. Juga alamat rumahku. Aku bertanya, “Bisa baca tulisanku, Mang?” dia bilang, bisa. Saat istirahat di atas tadi aku sempat bertanya dimana dia belajar baca, karena orang Baduy Dalam tidak boleh bersekolah. Dan aku juga tahu beberapa remaja Baduy mengaku bisa baca, malah mereka dengan bangga menggunakan kata-kata “keren ngak?” tanyanya menunjukkan hasil jepretan setelah kita minta tolong memoto.

BD2 Mang Santa janji akan singgah ke rumahku bila suatu saat dia ke Jakarta. Dengan senang hati aku akan menerimanya. Terima kasih atas kebaikan hati kalian semua saudara-saudaraku orang Baduy Dalam. Kalian kaum Brahma yang taat menjalankan adat dan keyakinan ditengah kehidupan orang-orang modern. Sudah 30-an tahun tamu tidak pernah sepi mengunjungi desa kalian, tapi kalian tidak berubah. Kalian sudah teruji menjadi manusia yang unggul dalam menjalankan tatanan hidup yang murni. Semoga kerendahan hati dan kesederhanaan hidup kalian terserap oleh para pendatang. Terima kasih untuk pelajaran hidup yang telah kalian berikan.

Note: Demi kenyamanan selama perjalanan bawalah beberapa hal dibawah ini:

  • Sendok garpu bila tidak nyaman makan pakai tangan, tisu kering & basah.
  • Cream penghilang pegal/keram seperti counterpain, koyo, dan obat-obatan lain.
  • Sepatu cadangan bila tidak yakin sepatunya cukup kuat.
  • Jas hujan yang ringan.
  • Pakaian secukupnya supaya tas tidak terlalu berat.
  • Sleeping bag. Matras tidak perlu karena tuan rumah menyediakan tikar.

Oh iya, orang luar/asing tidak boleh masuk ke Baduy Dalam.  Definisi orang asing itu adalah orang yang bukan Indonesia, terutama yang tidak bisa berbahasa Indonesia.  Secara spesifik Mang Santa menyebutkan Bule, orang Jepang, Korea, China, dll.  Pernah sekali anak-anak dari sekolah Cita B…. yang bertaraf internasional itu, murid-murid di sana biasanya Chinese yang mungkin terbiasa berbahasa Inggris, dan asing bagi orang Baduy.  Saat mereka ke Baduy, mereka dilarang masuk ke kawasan Baduy Dalam, hanya sampai jembatan batas wilayah Baduy luar & dalam saja.  Karena mereka dianggap orang asing.  Waktu di warung aku sempat bilang kalau mereka itu sebenarnya orang Indonesia tapi mungkin terbiasa berbicara bahasa Inggris. Tapi bagi orang Baduy, murid-murid sekolah Int’l itu adalah orang asing dan terlarang masuk ke dalam kawasan Baduy Dalam.  Kita hargai saja pendapat mereka bukan?

Bila ingin melihat foto-foto yang lebih lengkap, dapat diklik link ini

Jakarta, 19 January 2015

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Alam / Lingkungan Hidup and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s