Doaku Pada Malam Natal

Jpeg

Dua hari sebelum natal aku mendapat pengalaman yang menarik dengan dua orang sopir taxi, dan aku ingin membagikannya. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi yang membaca.

Senin yang lalu aku ada urusan di sebuah perkantoran elit di Jl. TB Simatupang. Setelah selesai aku bermaksud ke kantorku di Gandaria Tower. Aku memesan taxi burung biru kepada security gedung kantor tersebut. Beberapa lama kemudian pesananku datang dan aku langsung masuk ke sedan biru tersebut sambil menyebutkan tujuanku. Kemudian aku sibuk dengan urusanku sendiri.

Saat mobil berhenti di lampu merah perempatan Fatmawati, tak lama aku mendengar suara dengkur kecil. Aku langsung melihat sopir dari kaca spionnya, ya Allah… ternyata dia tidur. Aku langsung membangunkannya.“Pak, Pak..! Bangun, Pak!”

Pak sopir bangun dengan rasa malu tapi ngeles sambil berkata, “Masih lampu merah.” Katanya dengan terkekeh kecil.

Aku berpikir, kalau dia nyupir dalam kondisi mengantuk, bila dia kecelakaan maka aku juga yang akan rugi, walaupun dia yg paling rugi sih. Kemudian aku berinisiatif mengajaknya ngobrol supaya dia tidak mengantuk.

“Narik dari semalam ya, Pak?” tanyaku.

“Enggak. Mulai pagi tadi kok.” Katanya sambil menjalankan mobilnya karena lampu sudah berwarna hijau. “Saya tadi baru dari Karawaci dan Mbak penumpang yang kedua.”

Aku membalas dengan Ooo sambil memperhatikannya dari belakang. Rambutnya sudah banyak berwarna abu-abu, badannya cukup gemuk. Aku memperkirakan umurnya sekitar 60 thn.

“Orang Thailand atau Phillipina, Mbak?” tanyanya tiba-tiba. Aku tertawa kecil, “Saya Batak asli, Pak.” Jawabku sambil teringat saat jalan-jalan ke Phuket sekitar 7 tahun lalu, bila aku masuk toko, penjaganya akan mengajakku berbicara bahasa Thai. Aku harus beberapa kali mengatakan bahwa aku bukan orang Thailand. Mungkin karena kulitku hitam seperti warna kulit orang Thailand Selatan, Phuket dan sekitarnya.

“Oh, Batak! Asal dari mana?” Pak sopir tampak lebih semangat. Awalnya kupikir dia orang Batak juga.

“Saya Batak Toba, tapi lahir dan besar di Tanah Karo.” Jawabku menjelaskan asal usulku.

“Oh, saya pernah ke Danau Toba. Sekitar 40 tahun lalu. Saat masih tinggal di kampung, Bukit Tinggi.” Katanya.

Aku langsung tersenyum, tetangga rupanya. Kemudian mengalirlah cerita tentang pertualangannya saat masih bujangan, jalan-jalan ke Sumatera Utara. Aku pun cerita tentang perjalananku saat pulang kampung lewat darat dan harus melewati Kelok 44 yang sangat mendebarkan itu.

Aku lupa bagaimana awalnya, akhirnya dia cerita bahwa saat ini dia sendiri setelah menikah selama 31 tahun. Istrinya menceraikannya. Setahun terakhir ini dia tinggal sendiri di kost, sementara istri dan anak-anaknya tinggal di rumah yang bersertifikat atas namanya.

“Saya kelar rumah hanya membawa sepelastik kresek baju. Sampai sekarang saya masih bingung kenapa masa tua seperti ini. Saya sudah punya cucu loh dari anak pertama. Tahun lalu kami masih pulang ke kampung sekeluarga bawa mobil dari Jakarta. Dan sekarang saya sendirian di kost-kostan. Sakit sekali kalau mikirin itu.” Kata si bapak dengan suara agak bergetar, “.. Istri saya dulu karyawan K….. (sebuah pharmasi BUMN), sekarang dia sudah pensiun dia sih enak punya uang pensiun. Rumah, mobil dan anak-anak saya tinggalkan semua. Anak-anak sih tidak memihak saya atau ibunya, tapi mereka tetap tinggal di rumah bersama ibunya. ” Kata beliau.

Aku tidak ingin menanyakan alasan mengapa mereka berpisah. Aku hanya bisa membesarkan hatinya dengan mengatakan bahwa bila bencana tidak dapat kita prediksi di depan, muzizat juga berlaku sama. Tak berapa lama kemudian aku sampai di tujuan. Aku keluar dari mobilnya sambil berkata, “Tetap semangat ya, Pak! Pasti ada berkah di depan untuk Bapak.”

Dia tersenyum sambil mengucapkan, “Selamat bekerja!”

Aku tidak tahu mengapa dia berpisah dengan istrinya. Siapa yang salah dan siapa yang benar. Aku tidak mau tahu itu. Aku tidak ingin menganalisa si bapak atau istrinya. Tapi shit happens. Apa pun bisa terjadi di depan, yang baik atau yang buruk kemungkinan terjadinya sama.

Kemudian besoknya aku naik taksi dari kantor ke client di Rasuna Said. Sebenarnya aku sibuk dengan urusan kerjaan, nelpon si A, WA si B, C dan lain-lain. Soalnya urusan kerjaan belum kelar sementara nanti sore aku ke gereja untuk ibadah Malam Natal. Saat aku masih sibuk dengan urusanku, si sopir ngajak ngobrol hal-hal umum.

“Belum libur ya, mbak?” tanyanya. Aku jawab singkat, “Belum, Pak.” Terus dia lanjut dengan pertanyaan lain yang ringan-ringan, sampai akhirnya dia Tanya, “Suku apa, Mbak?” Aku jawab “Batak.” Kemudian dia lanjut dengan, “Kristen atau bukan?”

“Kristen, Pak.” Jawabku sambil melirik namanya di label identitas pengemudi, sekalian aku mengisi voucher taxi. Nasrullah. Itu nama si Bapak.

“Ke gereja nanti malam?” tanyanya.

“Iya.” Jawabku singkat sambil terus menulis voucher taxi.

“Kalo Desember gini, apalagi malam natal seperti nanti malam, aku selalu ingat puluhan tahun yang lalu.” Kata si supir taxi.

“Kenapa, Pak?” tanyaku menanggapi.

“Dulu waktu masih kuliah, aku pernah pacaran sama cewek Batak, dan aku selalu ngantar dia ke gereja.”

“Oooo gitu..!” kataku menanggapi.

“Kami sempat pacaran 3 tahun. Berpisah karena beda agama saja. Padahal kami saling mencintai. Aku menghargai agamanya, dia juga menghargai agamaku. Kami tidak pernah berantem, apalagi karena agama. Tapi akhirnya kami berpisah juga karena keluarga besar tidak mendukung.”

“Bapak suku apa?” tanyaku.

“Betawi, neng. Berat kan kalo aku pindah agama? Dia juga seperti itu.”

“Bapak selesai kuliah?” aku mengalihkan ke hal lain.

“Enggak. Karena ada beberapa hal.” Jawabnya.

Kami terdiam beberapa saat. Kemudian si Bapak kembali bercerita, “Melihat penampilan saya, banyak orang yang menyangka saya orangnya fanatic. Padahal saya sama sekali tidak. Saya malah kesal sama orang-orang yang sekarang larang-larang orang beribadah dan bergaul hanya sama yang seagama saja.”

Aku memperhatikan bapak dari samping belakang. Diatas 50an tahun, dan rada ganteng, tinggi dan agak besar badannya. Dia tadi sempat bilang kalau dia mantan pemain basket waktu jaman kuliah. Dari penampilannya memang sama sekali tidak mencerminkan kalau dia fanatic pada agama.

“Aku lebih suka bergaul dengan beda suku. Kalau dengan sesama suku, kadang suka marah atau tersinggung kalo ada salah-salah sedikit. Tapi kalau sama teman beda suku kita suka saling olok-olokan tapi malah jadi lebih akrab. Saling memanggil sukunya malah, dan tidak ada yang tersinggung. Aku panggil temen; Padang! Batak! Jawa! dan mereka panggil aku Betawi. Malah ada teman yang Papua, dia dicela bagaimana pun tidak tersinggung dan malah ngelucu. Kita selalu ketawa-ketawa saja. Jadi kangen aku sama mereka itu.” Si Bapak terkekeh sambil bercerita.

Aku menanggapi sedikit-sedikit, hingga akhirnya sampai di tempat tujuan. Aku menyerahkan voucher taxi kepada si Bapak sebelum turun dari taxi, “Terima kasih ya, Pak.” Kataku sambil membenahi tasku dan membuka pintu.

Dia membaca namaku di voucher, “Terima kasih, Mbak Mery. Selamat natal ya!”

Aku mengucapkan terima kasih atas ucapannya yang tulus. Aku menutup pintu taxi dengan sebuah sukacita. Betapa indah perbedaan itu bila semua saling menghargai.

Saat ibadah natal kemaren, aku teringat dengan kedua bapak itu. Walau hanya menghabiskan sepotong perjalanan pendek, aku telah mendapat pelajaran hidup dari mereka. Pada ibadah natal kemaren aku panjatkan doa untuk kedua bapak supir taxi tersebut, semoga mereka berdua diberi kesehatan, kekuatan, ketabahan, rezeki dan yang terpenting adalah sukacita dan damai sejahtera disepanjang hidupnya.

Selamat Natal!

 

Jakarta, 28 Desember 2014

Mery DT

 

 

 

 

 

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s