Keyakinan itu Berproses

candle

Bagaimana ceritanya akhirnya manusia mau percaya bahwa dunia ini bulat ketika dogma agama mengatakan dunia ini rata laksana bidang meja? Tentu lewat ilmu pengetahuan yang teruji dan butuh waktu untuk merubah keyakinan dari dunia ceper menjadi dunia bulat. Kemudian apakah agama itu mati karena dogmanya tidak sesuai ilmu pengetahuan? Tidak, karena umat memahami proses penulisan dan memberikan toleransi atas kesalahan tersebut.

Bagaimana ceritanya akhirnya manusia mau percaya bahwa penyakit kusta bukan kutukan, tetapi penyakit kulit biasa yang dapat terjadi pada siapa saja dan dapat disembuhkan? Tentu lewat ilmu pengetahuan yang teruji dan obat-obatan yang dapat menyembuhkan pasien kusta.

Bagaimana ceritanya akhirnya manusia merubah penilaiannya terhadap orang kidal, yang sebelumnya menganggap dalam tubuh orang kidal bersemayam roh jahat menjadi “menjadi kidal itu tidak ada hubungannya dengan roh jahat.” Tentu lewat ilmu pengetahuan yang teruji dan kemampuan manusia untuk menyerap ilmu pengetahuan modern.

Demikian juga dengan satu isu yang sangat sensitive bagi beberapa agama, yakni masalah homoseksual. Berabad-abad manusia mempercayai bahwa orientasi seksual selain heteroseksual adalah penyimpangan. Dan pelaku seksual dengan sejenis adalah perbuatan dosa. Hingga sekarang pun sebagian besar negara masih mendiskreditkan LGBT dengan arti cacat, penyimpangan, tidak sempurna, tidak normal atau sakit (mental).  Lewat penelitian genetika dan kesehatan (jiwa & raga) didapati bahwa orientasi seksual memiliki banyak varian dan homoseksual hanya salah satunya, dan apapun orientasi seksualnya, manusianya sehat jasmani dan rohani dan normal.

Apakah hasil penelitian genetika ini sudah diterima oleh masyarakat luas seperti dunia yg ceper jadi bulat, penyakit kusta bukan kutukan, menjadi kidal bukan karena roh jahat? BELUM. Ada masyarakat yang sudah dapat menerimanya tapi lebih banyak yang mendiskreditkannya. Dan seperti perubahan cara pandang terhadap hal-hal sebelumnya, perubahan cara pandangan terhadap homoseksual juga membutuhkan waktu dan proses.

Ciri-ciri masyarakat yang dapat menerima LGBT hidup berdampingan dengan heterosexual adalah bila kaum LGBT sudah berani menunjukkan jati dirinya dalam dunia nyata. Bila masyarakat sudah ramah terhadap LGBT, mereka tidak lagi hanya menjadi homoseksual di dunia maya dan bersembunyi dibelakang nama anonym, tapi menjadi straight di dunia nyata.

Pada masyarakat yang sudah menerima gay/lesbian, kita akan dapati keluhan beberapa gay/lesbian yang tidak dipercayai oleh lingkungannya dia homoseksual karena penampilan fisik mereka sama persis seperti orang pada umumnya. Hal ini terjadi karena banyak tahun kita mempercayai bahwa gay itu berpenampilan kemayu dan lesbian itu berpenampilan tomboy. Maka bila melihat lelaki berpenampilan jantan dan perempuan berpenampilan sangat feminim maka masyarakat sulit mempercayai bahwa mereka homoseksual atau biseksual. Masyarakat tidak lagi memusuhi, hanya tidak mempercayai.

Berapa lama lagikah masyarakat dunia atau dalam skop yang lebih kecil, Indonesia, akan menerima LGBT sebagai bagian masyarakat yang setara? Tidak ada yang dapat memprediksi. Tapi yang kuamati adalah bahwa remaja-remaja Indonesia, lelaki maupun perempuan, sekarang mulai “setengah terbuka” atas orientasi seksual mereka. Dalam organisasi-organisasi LGBT Indonesia, banyak sekali anggotanya remaja. Setengah terbuka maksudnya adalah mereka terbuka pada sesama anggota organisasi dan teman-teman dekatnya diluar komunitas, tapi tidak terhadap keluarga dan orang yang belum dikenal.

Aku sering iseng mengamati penulis komen di foto Instagram atau video youtuber gay/lesbian yang semakin ngetop dikalangan remaja. Banyak sekali pasangan lesbian atau tokoh lesbian yang tersohor. Mereka biasanya dari Amerika dan Inggris. Pasangan lesbian itu tentu sering sekali memposting foto berciuman atau berpelukan dengan pasangannya. Aku senantiasa tergelitik untuk mengetahui “siapa kamu?” bila mendapati penulis komen berbahasa inggris yang bagus tapi bertampang melayu yang kental. Ada juga yang berjilbab, setelah kulihat profilenya, mereka biasanya dari Malaysia atau negara-negara Timur Tengah. Komentator yang berasal dari Timur Tengah itu terkadang tagging temannya dengan menggunakan tulisan Arab. Tapi biasanya akun dari Timur Tengah ini digembok sik.

Beberapa kali mendapati avatar dengan tampang melayu, kemudian aku membuka profilnya, ya, rata-rata mereka remaja umur SMP dan SMA dari berbagai kota di Indonesia. Komen-komen mereka biasanya memuji. Beberapa kali juga pembaca blog ini mengirimiku email dan mengatakan dia bingung kenapa suka dan deg-degan bila berdekatan dengan cewek yang menurut dia cantik, padahal dia punya pacar pria. Dengan kemudahan yang diberikan internet, remaja-remaja seperti itu dengan mudah dapat mememenuhi keingin tahuannya tentang “kesukaannya”. Laksana bola salju, yang berani komen di IG atau video homoseksual itu hanya sebagian kecil saja, sementara yang mengikuti tapi tidak berani komen pasti jauh labih banyak.

Dengan melihat kenyataan tersebut, aku yakin akan tiba saatnya Indonesia seperti Amerika Serikat atau Negara-negara Eropah yang mengakui kesetaraan semua orientasi seksual. Generasi akan berganti, dan pola pikir pun akan berubah. Seperti di Amerika saat ini walaupun sudah banyak Negara bagiannya yang mengakui pernikahan sejenis, tapi tetap saja masih ada homophobia. Indonesia pun akan mengalami proses yang sama.

Alam akan selalu mencari keseimbangan, demikian juga manusia. Seperti seleksi alam, orang yang tidak mampu mengikuti perkembangan jaman akan tergilas, dan orang yang merubah pradigma akan lolos.

 

Jakarta, December 19, 2014

Mery DT

 

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh, LGBT and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s