Hiking & Camping at Mt. Papandayan, Garut

P 09  Minggu lalu pada waktu seperti ini, aku beserta 9 teman (5 pria 5 perempuan), sedang berada di atas bis Primajasa dari Garut menuju terminal Lebak Bulus Jakarta. Kami baru saja pulang dari pendakian ke puncak Gunung Papandayan. Karena aku tinggal di Jagakarsa, maka aku bisa turun duluan di prempatan Trakindo Cilandak, sebelum bisnya sampai di Lebak Bulus. Saat turun dari bis, sudah pukul 23.30. Dengan naik taxi yang tidak sampai 10 menit aku sudah sampai di rumah. Sementara ada beberapa temen yang sampai di rumah jam 00.30 WIB.

Emang lagi ada apa sih?  Jadi ceritanya begini.

Aku jarang berlama-lama di kantor baru (baru 4 bulan sebagai karyawan) karena selalu meeting di client.  Kemudian hari Selasa yang lalu, 14 oktober, aku nguping temen di meja sebelah membicarakan masalah sleeping bag. Kemudian tanyaku, “Untuk apa sleeping bag?” Si teman menjawab “Kita mau camping di Gunung Papandayan.  Ikut yuk!!”  Jelas aku langsung tertarik karena memang sudah lama tidak camping dan hiking.  Ternyata rencana berangkatnya hari Jumat malam 17 Oktober 2014. Aku cuman punya waktu 3 hari untuk siap-siap. DAMN‼!  Setelah memikirkan solusi yang mengasuh Cibi, anakku yg berbulu panjang dan berkaki 4 itu, akhirnya aku bilang join dengan mereka.  Dan aku harus mempersiapkan semua perlengkapan dalam waktu yang sangat sempit itu.

Sampailah pada hari H-nya. Janjian ketemu di Terminal Kampung Rambutan pukul 21.00 Jumat malam.  Karena rumahku lebih dekat ke Rambutan, aku menunggu teman-teman berangkat terlebih dahulu dari kantor, baru aku berangkat juga ke Rambutan.  Ternyata sudah jam 8 lewat mereka belum berangkat juga.  Akhirnya kuputuskan pergi duluan ke Kp. Rambutan sambil cari informasi tentang bis ke Garut.  Di terminal luar kota aku melihat banyak sekali orang yg memanggul carrier seperti yang kulakukan.  Laki dan perempuan sama jumlahnya.  Pada bergerombol di depan indomaret sambil bercanda khas anak gunung.

Saat menunggu teman-teman di terminal, aku sempat berbincang-bincang dengan awak angkutan yang sok ramah, yang duduk di dekatku. Biasa, mereka bertanya aku mau ke mana, berapa orang, dll.  Kemudian tanyaku pada mamang awak angkutan, “Apa setiap week end terminal ini dipenuhi dengan anak-anak gunung?”  Jawab si Mamang, “Iya, tiap week end selalu ramai seperti ini.  6 bulan terakhir ini banyak sekali orang ke Papandayan.  Sebelumnya para pendaki itu ke Gunung Gede.”   Dalam hatiku, wah… bakal rame nih di camping ground.

Akhirnya jam sepuluhan temen-teman sampai juga di Kp. Rambutan. Kami langsung dibawa awak angkutan tersebut menuju bis yang akan menghantarkan kami ke Garut. Ternyata bisnya tidak langsung berangkat, ngetem dulu di depan terminal dan di jalan baru yang tidak jauh dari Kp. Rambutan.  Menunggu hingga bisnya penuh oleh penumpang.  Tentu di dalam bis kami ini juga banyak pendaki gunung lainnya.  Akhirnya bis benar-benar berangkat sekitar jam sebelas malam.  FYI, bis ke Garut ada setiap saat hingga pagi.  Oh iya, tiketnya adalah Rp. 42.000,-/orang.

Karena perjalanan malam, aku sepertinya tidur sepanjang jalan, dan bangun saat sudah sampai di Terminal Guntur Garut pukul 3 dini hari.  Ternyata Garut diguyur hujan. Seperti biasanya di terminal, semua penumpang yang turun dari bis langsung dikerubutin calo.  Setelah buang hajat dan menyegarkan diri di WC terminal, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Cisurupan.  Jaraknya aku tidak tahu pasti, tapi tidak sampai 1 jam perjalanan. Angutannya seperti mobil hijet jadul. Iya, mobilnya memang tidak ada yang baru. Semua setipe: rongsokan.  Ongkos resmi dari sepotong perjalanan ini adalah Rp. 15.000,-/org. 1 mobil hijet biasanya 14 orang.  biasanya disatukan dengan rombongan lain hingga 14 orang.  Tapi kalau kita borong (kami 10 orang), mereka minta Rp. 180.000,-

Karena aku duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, aku sempat nanya-nanya; kenapa angkutanya tidak langsung sampai di atas (Pos 1).  Karena nanti dari Cisurupan kami akan naik kendaraan lain.  Jawab sopirnya, untuk berbagi rezeki saja dengan orang Cisurupan.  Aku mangut-manggut.

Sampai Cisurupan sekitar jam 4, teman-teman muslim melakukan sholat subuh di mesjid dekat stasiun.  Ternyata banyak sekali para pendaki yang beristirahat di pelataran mesjid tersebut.  Akhirnya kami pun ikutan beristirahat sejenak di situ.  Kami pun memutuskan makan dulu di warung nasi yang sepertiya buka 24 jam sebelum melanjutkan perjalanan. Subuh-subuh makan NASI man‼!

Kemudian setelah pagi agak terang, sekitar jam 5.30, kami melanjutkan perjalanan dengan dengan mobil pick up bak terbuka.  Harganya adalah Rp. 20.000,-/orang.  Isi 1 pickup biasanya 14 orang. Tapi bila mau borongan maka harganya Rp. 250.000,-  Karena kami 10 orang, akhirnya kami memutuskan borongan.  Kembali aku di depan di samping pak sopir yang sedang bekerja.  Kata pak sopir, ada 50an mobil pickup sejenis yang bolak balik mengantar pendaki ke atas.  Paling banter dia hanya bisa 2 rit atau 2x antar penumpang ke atas pada hari Sabtu dan 2x nurunin penumpang di hari minggunya.  Mobil hanya terisi sekali jalan saja.  Bila hari Sabtu ke atas bawa penumpang, turun kosong.  Bila hari Minggu, ke atas kosong turun bawa penumpang.  Aku langsung teringat bis yang mengangkut pemudik saat lebaran.  Persis…!!

Perjalanan dengan mobil pickup ini hanya sekitar 30 menit.  Jam 6 kami sudah sampai di Pos 1 Gunung Papandayan.  Di pintu masuk kita harus mendaftar dulu.  Retribusi / tiket masuk HANYA Rp. 5.000,-/org‼!  Oh iya, kalau mau ke sana jangan lupa bawa fotocopy KTP ya, karena akan diminta saat mendaftar.

Di Pos 1 ini ada lapangan parkir yg luas yang sudah di semen.  Di pinggir lapangan ini ada banyak warung-warung makanan.  Sebelum mendaki baiknya sarapan dulu di sini.  Karena kami sudah sarapan di Cisurupan, maka kami langsung bergegas memulai perjalanan.  Masing-masing memanggul barang pribadi dan berbagi beban barang/logistik kelompok.  Oh iya, di POS 1 ini ada permandian air panas, namanya Camp David.

P 24

Kami bukanlah pendaki profesional sehingga tiap beberapa meter perjalanan diwarnai dengan foto. Saling memoto, gantian memoto atau foto bersama dengan menggunakan tongkat ajaib, tongsis.  Track pendakian terbuat dari pecahan batu vulkanik dari yang besar sampai yang kecil.  Setelah lebih kurang 1Km kita sampai pada bibir kawah Papandayan.  Ada banyak kepulan asap dari lahar di kawah. Papandayaan ini gunung berapi yang masih aktif.  Terakhir meletus pada tahun 2002 yang lalu.  Dinding kawah berwarna keemasan seperti warna belerang.  Bau belerangnya sangat menyengat.  Yang mau ke sana jangan lupa bawa masker penutup mulut ya! Jangan masker bengkoang. Jangan!

Setelah munyusuri bibir kawah sekitar 1 km, perjalanan berlanjut ke puncak gunung, melewati hutan hujan tropis pegunungan, yakni ditumbuhi tanaman semacam semak. Kayunya keras tapi tumbuhnya tidak tinggi, paling sekitar 2-3m.  Tanamannya sejenis Jamuju, puspa serta cantigi dan liana untuk tambuhan bawahnya.

Kalau kita menatap dari bawah sebelum pendakian, memang sudah ada jalan semi permanen -pengerasan dengan batu – yang dibuat sesuai kontur di punggung gunung hingga sampai ke puncak.  Sayang, jalan semi permanen itu terputus di tengah karena ada longsoran besar dari puncak gunung.  Akhirnya dibuat jalur pintas ke atas semacam jalan tikus yang terjal dan berujung mendekati puncak jalan semi permanen itu.  Ternyata, walaupun jalan tikus dan terjal, beberapa motor trail bolak balik di jalan itu.  Sepertinya mereka adalah ojeq yang mengantarkan barang dagangan warung-warung yang ada di atas.  Sayangnya, gilasan ban motor itu menyebabkan jalanan menjadi sangat licin bila hujan turun.  Dan aku sangat salut dengan kehebatan pedagang bakso ikan yang memanggul dagangannya hingga ke puncak.  Akhirnya, kita ketemu pedagang bakso ikan ini di camping ground Pondok Salada.

Akhirnya kita berhasil melewati jalur terjal yang menguras tenaga itu.  Sesampai di atas, kita dapat menikmati pemandangan yang sangat indah.  Keindahannya terasa maksimal mungkin karena kita merasa bangga pada diri sendiri yang dapat menaklukkan medan berat itu.  Dari sana dilanjut dengan perjalanan yang lebih santai.  Tak lama kemudian sampai di POS 2 dan kita kembali melapor.  Dari POS 2 perjalanan dilanjutkan lagi melalui jalur tikus. Tidak seberat sepotong jalanan curam itu, tapi jalur ini juga cukup melelahkan.

Sepanjang perjalanan tentu kita tidak kesepian karena banyak sekali rombongan di sepanjang jalan.  Kita sering saling mendahului.  Saat kita istirahat sambil foto-foto, kelompok lain mendahului.  Saat mereka beristirahat, kita pun mendahului mereka.  Ada kalanya saling menolong saat jalanan sangat terjal.  Kita saling mengulurkan tangan untuk saling membantu naik ke tempat yang lebih tinggi.

Akhirnya jam 8 pagi kami sampai di camping Ground Pondok Salada.  Belum banyak yang mendirikan tenda saat itu.  Tapi semakin siang semakin banyak yang sampai di camping ground dan mendirikan tenda.  Tempat mendirikan tenda tidak ada aturan.  Terserah saja. Di antara pepohonan atau di lahan yang lapang.  Sok atuh!  Hingga malam mungkin ada 100an lebih tenda yang berdiri di Pondok Salada.  Bila 1 tenda dihuni oleh rata-rata 3 orang, maka ada lebih dari 300 orang yang berkemah malam itu.

P 28

Suasananya pun sangat ramai.  Saling berteriak dan teriakan menjalar.  Terasa seperti pasar malam.  Semakin malam ada yang bercanda gurau, ada yang bernyanyi dengan iringan gitar.  Tentu di sana sini ada yang membuat api unggun kecil.  Rasanya hantu gunung pun gak mau mengganggu karena begitu banyak orang di lokasi itu.  Oh iya, di Pondok Salada ini ada toilet (berbayar) yang cukup bersih dengan air gunung yang senantiasa mengalir tanpa henti. Biliknya hanya 3 buah.  Di luar bilik itu ada pancuran untuk orang berwudhu dan menyuci piring. Airnya sangat-sangat dingin. DAMN!!!  Karena hanya 3 bilik, dan jumlah orang yang sangat banyak, maka antrian panjang selalu jadi pemandangan di depan toilet.

Ada sekitar 5 atau 6 warung di lokasi tersebut.  Mereka menjual kebutuhan pokok para pendaki.  Makanan, minuman, rokok, sarung tangan, syal, topi kupluk, dll. Tentu saja harganya berkali lipat dibanding harga di bawah.  Misalnya air mineral yang 1,5 liter, di minimarket Cisurupan harganya 4 rebu, tapi di atas menjadi 15 rebu‼! Mie instan pake telor Rp. 15 rb, tanpa telor 10rebu. Rokok A-mild Rp. 25 rebu. Air panas segelas untuk seduh energen Rp. 2.000,-  Tapi lucunya, harga di warung sering tidak konsisten.  Harga si bapak beda dengan si anak.  Suka-suka mereka saja kasi harga.  Misalnya, kalo wajah orang susah, dia kasi harga agak murah. Kalo wajah horang kayah dia kasi harga mahal. Saat hendak pulang baru kami tahu bahwa harga di warung itu bisa di tawar. Iihhh…

Oh iya, di atas juga ada yang jual nasi putih panas.  Menurutku, dari pada capek2 bawa beras dan memasaknya pun belum tentu sukses – seringan gosongkan? – mendingan beli nasi putih aja.  Seporsi 5 rebu, mungkin bisa di tawar.  Kami sempat masak nasi tapi gosong :(.  Akhirnya kami beli nasi putih!  Supaya lebih ringkes, lauk sebaiknya bawa abon, teri goreng kering, ato rendang.  Sayurnya mungkin bisa bawa timun. Jadi tak perlu repot-repot masak. Cukuplah menyalakan kompor untuk masak air atau mie instant saja.  Mengurangi beban dan hemat gas.

Bila sudah di atas, kita dapat jalan-jalan ke Tegal Alun, hutan mati, dan lain-lain. FYI, siang hari sangat panas, tapi kalo malam sangat dingin, mungkin hingga 0 drajat celcius. Jadi, bawalah sleeping bag yang tebal, kaos kaki dan sarung tangan untuk tidur.   Saat kami di sana, rencananya mau melihat sunrise.  Sudah janjian bangun jam 5 pagi. Manusia berencana, alam menentukan.  Ternyata dari jam 2 dini hari turun hujan deras hingga pagi.  Matahari tidak muncul sama sekali. Kabut tebal menyelimuti perkemahan.

Jam 9 kami meninggalkan lokasi perkemahan. Kembali dengan melewati jalur saat berangkat. Karena hujan deras sejak subuh, dan tetap gerimis saat kami menuruni bukit yang curam, maka perjalanan pulang menjadi cukup berat dan ekstra hati-hati.  Sekitar jam 12 kami sampai di POS 1.  Beberapa teman lelaki berendam di pemandian air panas. Kami meninggalkan POS 1 sekitar pukul 3.  Sampai di terminal Guntur Garut sekitar jam 5.  Sebelum naik bis, kami makan di warung sekitar terminal.  Sangat-sangat lahap. Mungkin karena kecapean dan baru nemu menu makan yang benar.

P 02

Bis PrimaJasa yang kami tumpangi mulai berangkat sekitar jam 6 sore. Ternyata jalanan sangat macet sehingga sampai Bandung sudah jam 9.  Dan aku bisa benaran berbaring nyaman di kasur sekitar jam 1 malam.  Bagi yang baru pertama kali ke sana, bila hari berikutnya akan berangkat kerja, sebaiknya turun dari Pos 1 sekitar jam 12.  Supaya jam 2 dapat meninggalkan Garut dan sampai Jakarta tidak terlalu malam.

Tips buat pemula: sebaiknya pakai sepatu yang alasnya bergigi sehingga tidak mudah terpeleset di jalanan licin. Kalau tidak yakin dengan kekuatan alas kakinya, bawalah sepatu/sendal gunung cadangan. Bawa tongkat pendaki yang bisa setel pendek dan panjang. Tongkat ini sangat berguna di jalanan licin. Bawalah baju dan logistik secukupnya. Tidak perlu berlebihan.

Demikian pertualangan kami – anak-anak Sentra Group – di Gunung Papandayan.  Walaupun melelahkan fisik tapi pemandangannya sangat indah.  Lebih indah dari Tangkuban Perahu.   Walaupun besoknya seluruh badan terasa rontok saat ke kantor, tapi tidak mengurangi semangan teman-teman membuat rencana perjalanan berikutnya. Mungkin ke Gunung Gede, Badui Dalam, atau kemana saja yang menarik untuk dikunjungi.

Semoga berguna bagi yang butuh informasi Gunung Papandayan.

 

Jakarta, October 26, 14

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Alam / Lingkungan Hidup and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s