Agama Pun Akan Punah Bila Tidak Beradaptasi Terhadap Zaman

gay church Melalui perjalanan panjang perenungan dan pemahamanku, akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa internet akan membunuh agama yang tidak bisa beradaptasi dengan zaman. Agama memang tidak akan hilang di muka bumi ini, tapi berganti baju dengan yang baru.  Agama harus beradaptasi dengan kondisi dan kebutuhan (batin) manusia sesuai zamannya.

Menurut penelitian, semakin modern seseorang maka semakin tidak percaya dia pada eksistensi Tuhan. Atau ada juga yang percaya pada Tuhan tapi tidak percaya pada institusi keagamaan yang selalu terkungkung di dalam Kitab Suci.

Tapi ada fenomena lain lagi yang menarik. Semakin maju dan berpendidikan seseorang, biasanya semakin individualistik mereka; tidak mau mengganggu dan juga tidak mau diganggu orang lain. Sehingga interaksi dengan orang lain atau komunitas semakin berkurang.

Tapi pekerjaan dan kemajuan zaman menghasilkan stress dan kekosongan batin, sehingga banyak manusia modern mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan tersebut. Ada yang mempelajari agama-agama yang berbeda dengan akarnya. Misalnya, orang-orang di Barat mempunyai akar Kristen, walaupun mungkin separuh atau dua pertiga dari hidupnya sudah tidak pernah melakukan praktek keagamaan, seperti berdoa dan beribadah hari Minggu di gereja.

Pada saat dewasa, mereka penasaran pada agama-agama dari timur seperti Islam, Buddha, Hindu, Yudaisme, dll. Contohnya, Elizabeth Gilbert penulis Eat, Pray and Love, melakukan perjalanan spritual ke India dan tertarik mempelajari dan memperaktekkan spritual Hindu. Tapi jumlah orang seperti Nona Gilbert ini tidak seberapa dibanding dengan orang-orang yang total meninggalkan agama dan menjadi agnostik atau atheis.

Di Amerika atau Eropah, kita melihat hampir semua keluarga merayakan natal dan paskah, tapi arti Natal dan Paskah bagi mereka hanya berkumpul bersama keluarga untuk makan malam dan tukar kado, atau menghias telur Paskah. Hanya itu. Tinggal sedikit yang masih melakukan ibadah secara Kristen. Mereka ini adalah kelompok Christian culture atau Kristen secara budaya saja, bukan keyakinan. Dan jumlah mereka semakin besar setiap tahun.

Demikian juga Islam. Akhir-akhir ini bermunculan organisasi ex-muslim. Kalau tidak salah, awalnya organisasi bawah tanah ini berdiri di UK, dan sekarang sudah berdiri di hampir semua negara maju. Umumnya anggota organisasi ini adalah muslim dari Timur Tengah dan Negara-negara Islam di Asia, yang berasal dari keluarga muslim yang taat. Berbagai cerita menjadi alasan mereka meninggalkan agama, yg sudah dianut keluarga dari jaman nenek bunyut mereka.

Dengan bantuan internet, mudah sekali mempersatukan orang-orang yang mengalami pergumulan dan keinginan dari segala penjuru dunia. Dunia maya menjadi wadah yang tak mengenal batasan wilayah dan waktu.  Ex-muslim pun lebih banyak menjadi agnostik atau atheis dari pada pindah ke agama lain.

Banyak yang keluar masuk ke sebuah keyakinan, tapi lebih banyak yang keluar dan tidak masuk kemana-mana lagi. Ini menunjukkan bahwa agama sebagai ritual penyembahan kepada Tuhan sudah mulai tidak menarik, Atau tidak menjawab permasalah hidup mereka.

Untuk bertahan hidup dalam kondisi yang ekstrim, mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya. Yang tak mampu beradaptasi akan punah. Demikian juga dengan agama. Banyak agama purba yang saat ini sudah punah. Kalau pun masih ada, pengikutnya sangat sedikit. Sebutlah Tengrisme, Maniisme, Vedisme, Olmek, dan lain-lain. Mereka punah karena banyak hal, seperti bencana alam, dimusnahkan oleh negara atau agama baru.

Agama modern saat ini sangat sulit dimusnahkan oleh agama baru, tapi sangat mungkin oleh teknologi atau ilmu pengetahuan. Aku melihat beberapa institusi keagamaan mencoba beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat. Mereka mulai mengakomodir tuntutan umat.

Sekitar satu atau dua dasawarsa belakangan ini, orang-orang di negara maju semakin berani memproklamirkan diri sebagai homoseksual dan berpasangan dengan sejenis. Melalui proses yang panjang, akhirnya beberapa negara telah melegalkan pernikahan sejenis. Mengimbangi perkembangan tersebut, beberapa gereja pun akhirnya memfasilitasi jemaat homoseksual sehingga mereka tetap dapat beribadah atau bahkan mendapat layangan pemberkatan nikah. Saya rasa ini adalah salah satu bukti bahwa agama beradaptasi dengan situasi dan kondisi.

Ilmu pengetahuan modern mengatakan bahwa homoseksual bukan penyakit dan dianggap varian dari orientasi seksual yang beragam sehingga diyakini gay/lesbian tidak dapat dirubah menjadi straight, demikian juga sebaliknya. Pemuka agama yang berpikiran modern secara perlahan juga memahami hal tersebut dan merubah paradigma terhadap LGBT sehingga bermunculan gereja/signagoge/mesjid yang ramah terhadap LGBT.

Berikut beberapa gereja atau kongregasi gereja di Amerika yang LGBT friendly, misalnya http://www.christchapel.com/ ; http://www.goodshepherdpasadena.com/ ; http://www.mccchurch.org/ ; http://articles.latimes.com/2012/jun/05/local/la-me-weho-presbyterians-20120605 ; https://christiangays.com/links/christian_other.shtml dan banyak lagi.

Juga di agama Yahudi, ada komunitas seperti http://gayshul.tripod.com/; atau http://manhattan.about.com/od/glbtscene/a/Bethsimchattorah.htm

Di agama Islam pun demikian. Berikut beberapa link masjid / organisasi yang ramah terhadap gay walau mereka tidak seterbuka gereja yang gay friendly; http://www.gaymosque.org/ ; http://www.pbs.org/newshour/rundown/new-open-mosque-cape-town-welcomes-openly-gay-muslims/ ; http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-20547335 ; http://www.huffingtonpost.com/tag/gay-mosque/ dan lain-lain.

Aku pernah menulis tentang Homoseksual, Agama & Tuhan di sini. Masih banyak orang yang butuh memiliki hubungan intim dengan Tuhannya. Biasanya mereka dari keluarga yang religious. Itulah sebabnya, walaupun dogma agama telah mengatakan hubungan sejenis itu dosa, tapi mereka tetap percaya bahwa Tuhan tidak sejahat seperti yang sering dikhotbahkan pemuka agama.

Pemimpin agama yang banyak berinteraksi dengan kaum gay seperti Pastor John Pavlovitz (saya tulis di artikel sebelumnya) sangat menaruh empati dan membuka jalan supaya umat yang gay juga punya kesempatan yang sama di dalam beribadah dan berinteraksi dengan sesama jemaat. Jadi di sini, bukan agamanya yang berubah, tapi pemahaman pemimpin agamanya.

Tentu banyak umat Kristen, Yahudi dan Islam konvensional yang sangat tidak setuju dengan gereja, sinagoge dan masjid tersebut. Tapi kenyataannya umat rumah ibadah seperti itu semakin banyak. Gay, lesbian, biseksual itu tidak semua pembenci Tuhan, lebih banyak mereka yang mencintai Tuhan yang ramah dan pengasih.

Gereja yang kaku yang menolak homoseksual tidak hanya akan ditinggalkan kaum homoseksual, tapi juga keluarganya, temannya dan pemerhati dan simpatisan kelompok ini. Karena sangat tidak nyaman mendengar celoteh yang merendahkan ciptaan Tuhan lainnya hanya karena mereka berbeda. Orang yang bukan bagian dari LGBT pun akan merasa muak mendengarnya.

Saya di sini tidak ingin berpendapat mana yang benar mana yang salah. Itu urusan iman masing-masing. Saya hanya ingin menuliskan fakta dan kecenderungan mengenai agama dan perkembangannya. Intinya adalah tidak ada yang stagnan di dunia ini. Semua akan berubah. Pilihan hanya dua, berubah sesuai zaman atau mati digilas olehnya.

Demikianlah perenunganku. Semoga bermanfaat.

 

Jakarta, October 21, 14

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, LGBT, Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Agama Pun Akan Punah Bila Tidak Beradaptasi Terhadap Zaman

  1. bybyq says:

    Follow twitternya bung @ulil nggak Mer? Tahun lalu beliau bilang gerakan puritanisasi agama tidak akan sukses di Indonesia ( https://twitter.com/ulil/status/382734744527446016 ). Menurutmu?

    Like

    • Mery DT says:

      Gw folow dia kok. Tp emang tweetnya yg puritanisasi itu baru baca. Gw setuju sama pendapatnya. Yg menginginkan puritanisasi itu sedikit sekali dibanding yang mau beradaptasi dengan jaman. Mereka kelihatan karena militan saja, pdhl jumlahnya sangat sedikit.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s