Agama Pun Akan Punah Bila Tidak Beradaptasi Terhadap Zaman

gay church Melalui perjalanan panjang perenungan dan pemahamanku, akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa internet akan membunuh agama yang tidak bisa beradaptasi dengan zaman. Agama tidak akan hilang di muka bumi ini, tapi berganti dengan yang baru atau yang lama beradaptasi dengan kondisi dan kebutuhan (batin) manusia saat / pada jaman tersebut.

Menurut penelitian, semakin modern seseorang maka dia semakin tidak percaya pada eksistensi Tuhan. Atau ada juga yang masih percaya pada Tuhan tapi tidak percaya pada institusi Agama yang selalu terkungkung di dalam Kitab Suci.

Tapi ada fenomena lain lagi yang menarik. Semakin maju dan berpendidikan sebuah masyarakat, biasanya mereka semakin individualistik. Tidak mau mengganggu orang dan juga tidak mau diganggu orang lain, sehingga interaksi dengan orang lain atau komunitas semakin jarang. Tapi pekerjaan dan kemajuan jaman banyak menghasilkan stress dan kekosongan batin, sehingga banyak manusia modern mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan tersebut. Sehingga ada yang melakukan perjalanan spiritual dengan mempelajari agama-agama yang berbeda dengan akarnya. Biasanya orang-orang di Barat mempunyai akar Kristen, walaupun mungkin separuh atau dua pertiga dari hidupnya sudah tidak pernah melakukan prosesi keagamaan, misalnya beribadah ke gereja. Pada saat dewasa mereka penasaran pada agama-agama dari timur seperti Islam, Buddha, Hindu, Yudaisme, dll. Tapi jumlah mereka ini tidak seberapa dibanding dengan orang-orang yang total meninggalkan agama dan menyebut diri mereka atheis atau agnostic.

Di Amerika atau Eropah, kita masih melihat hampir semua keluarga merayakan natal dan paskah, tapi esensi Natal dan paskah bagi mereka hanya berkumpul bersama keluarga untuk makan malam dan tukar kado. Hanya itu. Tidak ada acara beribadah secara Kristiani. Ada ahli sosial yang mengatakan mereka adalah kelompok Christian culture atau Kristen secara budaya SAJA, bukan keyakinan. Dan jumlah mereka semakin besar setiap tahun.

Aku juga mempelajari penganut agama lainnya, misalnya Islam. Akhir-akhir ini semakin banyak yang membuat organisasi ex-muslim. Kalau saya tidak salah, awalnya organisasi bawah tanah ini berdiri di UK, tapi lama-lama berdiri di hampir semua negara maju. Biasanya anggota organisasi ini adalah muslim dari Timur Tengah dan Negara-negara Islam di Asia, dimana mereka berasal dari keluarga yang fanatik. Berbagai cerita menjadi alasan mereka meninggalkan agama keluarga, yg sudah dianut dari jaman nenek bunyut mereka.  Biasanya, orang-orang yang mengalami pergumulan yang sama akan cepat membaur dan saling membantu. Anyway, orang yang murtad itu memang ada yang pindah ke agama lainnya, tapi lebih banyak yang menjadi agnostic atau ateis.

Mungkin banyak yang tidak suka dengan tulisan ini, tapi itulah kenyataannya. Yang keluar masuk ke sebuah agama itu banyak, tapi lebih banyak yang keluar dan tidak masuk kemana-mana lagi. Ini menunjukkan bahwa agama sebagai ritual penyembahan kepada Tuhan sudah mulai dianggap tidak menarik. Atau mungkin tidak menjawab permasalah hidup mereka.

Jangan salah sangka. Saya tidak sedang mempromosikan agar umat keluar dari agama. Tidak. Karena saya adalah umat beragama yang taat (tapi tidak fanatik).

Kalau mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya untuk bertahan hidup, aku juga melihat hal yang sama pada beberapa agama. Beberapa institusi keagamaan yang mencoba beradaptasi dengan kebutuhan umat. Artinya mengakomodir tuntutan umat. Misalnya seperti ini. Di Alkitab tertulis bahwa pelaku hubungan sejenis itu dosa dan akan masuk neraka. Mohon dibedakan pelaku hubungan sejenis dengan orang yang berorientasi sexual lesbian/gay/biseksual. Bisa saja seseorang lesbian atau gay – tertarik secara seksual pada sesama jenis – tapi tidak mau melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis alias berkomitmen untuk selibat. Biasanya karena dia sangat religious dan tidak ingin berdosa sesuai ajaran yang dia imani. Sementara pelaku hubungan sejenis, ini bisa saja dilakukan oleh kaum homoseksual ataupun heteroseksual. Kaum heteroseksual yang melakukan hubungan badan dengan sejenis biasanya karena kepepet atau kondisi, misalnya di penjara atau di asrama sekolah mono gender yang ketat, dll.

Sekitar satu atau dua dasawarsa belakangan ini, orang-orang di negara maju semakin berani memproklamirkan diri sebagai homoseksual dan berpasangan dengan sejenis. Melalui proses yang panjang, akhirnya beberapa negara telah melegalkan pernikahan sejenis. Mengimbangi perkembangan tersebut, beberapa gereja pun akhirnya memfasilitasi jemaat homoseksual sehingga mereka tetap dapat beribadah atau bahkan mendapat layangan pemberkatan nikah. Saya rasa ini adalah salah satu bukti bahwa agamapun beradaptasi dengan situasi dan kondisi.

Ilmu pengetahuan modern mengatakan bahwa homoseksual bukan penyakit dan dianggap varian dari orientasi seksual yang beragam sehingga diyakini gay/lesbian tidak dapat dirubah menjadi straight, demikian juga sebaliknya. Pemuka agama yang berpikiran modern secara perlahan juga memahami hal tersebut dan merubah paradigma terhadap LGBT sehingga bermunculan gereja/signagoge/mesjid yang ramah terhadap LGBT.

Berikut beberapa gereja atau kongregasi gereja di Amerika yang LGBT friendly, misalnya http://www.christchapel.com/ ; http://www.goodshepherdpasadena.com/ ; http://www.mccchurch.org/ ; http://articles.latimes.com/2012/jun/05/local/la-me-weho-presbyterians-20120605 ; https://christiangays.com/links/christian_other.shtml dan banyak lagi.

Juga di agama Yahudi, ada komunitas seperti http://gayshul.tripod.com/; atau http://manhattan.about.com/od/glbtscene/a/Bethsimchattorah.htm

Di agama Islam pun demikian. Berikut beberapa link masjid / organisasi yang ramah terhadap gay walau mereka tidak seterbuka gereja yang gay friendly; http://www.gaymosque.org/ ; http://www.pbs.org/newshour/rundown/new-open-mosque-cape-town-welcomes-openly-gay-muslims/ ; http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-20547335 ; http://www.huffingtonpost.com/tag/gay-mosque/ dan lain-lain.

Aku pernah menulis tentang Homoseksual, Agama & Tuhan di sini. Masih banyak orang yang butuh memiliki hubungan dengan penciptanya. Biasanya mereka dari keluarga yang religious. Itulah sebabnya, walaupun dogma agama telah mengatakan hubungan sejenis itu dosa, tapi mereka tetap percaya bahwa Tuhan tidak sejahat itu pada ciptaannya yang berbeda. Pemimpin agama yang banyak berinteraksi dengan kaum gay seperti Pastor John Pavlovitz (saya tulis di artikel sebelumnya) akan menaruh empati dan membuka jalan supaya umat yang gay juga punya kesempatan yang sama di dalam beribadah dan berinteraksi dengan sesama jemaat. Jadi di sini, bukan agamanya yang berubah, tapi pemahaman pemimpin agamanya.

Tentu banyak umat Kristen, Yahudi dan Islam konvensional sangat tidak setuju dengan gereja, sinagoge dan masjid tersebut. Tapi ternyata umatnya malah semakin banyak. Ini salah satu contoh dimana agama telah beradaptasi terhadap umat, karena rumah ibadah yang kaku akan ditinggalkan.

Saya di sini tidak ingin berpendapat mana yang benar mana yang salah. Itu urusan iman masing-masing. Aku hanya ingin menuliskan fakta mengenai agama dan perkembangannya. Intinya adalah tidak ada yang stagnan di dunia ini. Semua akan berubah. Pilihan hanya dua, berubah sesuai jaman atau mati digilas jaman.

Demikianlah perenunganku. Semoga bermanfaat.

 

Jakarta, October 21, 14

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, LGBT, Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Agama Pun Akan Punah Bila Tidak Beradaptasi Terhadap Zaman

  1. bybyq says:

    Follow twitternya bung @ulil nggak Mer? Tahun lalu beliau bilang gerakan puritanisasi agama tidak akan sukses di Indonesia ( https://twitter.com/ulil/status/382734744527446016 ). Menurutmu?

    Like

    • Mery DT says:

      Gw folow dia kok. Tp emang tweetnya yg puritanisasi itu baru baca. Gw setuju sama pendapatnya. Yg menginginkan puritanisasi itu sedikit sekali dibanding yang mau beradaptasi dengan jaman. Mereka kelihatan karena militan saja, pdhl jumlahnya sangat sedikit.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s