Untuk Orang Tua Yang Punya Anak Gay

john_pavlovitz_family Dulu, saat launching novel pertamaku yang berjudul “Love you Till The End” di toko buku Kinokunia Plaza Senayan, pembicara dari LGBT adalah Kamelia Manaf. Saat itu dia sempat bercerita bahwa orang tuanya tidak ada issue dengan orientasi sexualnya. Artinya, orang tuanya menerima apa adanya dia dan mendukung apapun yang dia lakukan, termasuk aktif di organisasi LGBT. Orang tua Kamel mungkin 1 diantara 10 juta orang tua di Indonesia atau bahkan di dunia yang menentang orientasi seksual anaknya karena bukan heterosexsual. Saya katakan mungkin, karena saya belum menemukan study atau statistik mengenai hal tersebut.

Bila ada pertanyaan, “Jika anakmu homoseksual, apa yang akan kamu perbuat?” Dengan alasan agama, norma, kepantasan, dan bahkan penyakit, kebanyakan orang tua (di Indonesia) akan menjawab bahwa anaknya akan disembuhkan atau dirubah menjadi heteroseksual. Mayoritas orang tua masih memandang homoseksual sebagai penyimpangan atau cacat dan wajib diluruskan dan diperbaiki.

Sepasang orang tua, Linda & Rob Robertson, adalah salah satu dari orang tua yang ingin merubah orientasi anaknya dari gay menjadi heteroseksual. Ternyata keinginannya itu berujung pada kepergian sang putra untuk selama-lamanya. Kisah yang menyayat hati ini kutuliskan di sini.

Tiga minggu lalu, 17 September 2014, John Pavlovitz, seorang Pastor (Pendeta Kristen) menulis artikel di blognya dengan judul: If I have gay Children: Four Promises From A Christian Pastor/Parent dapat dibaca sini.

Karena statusnya sebagai Pendeta Kristen, tulisannya itu menjadi sangat kontroversial dan langsung menyebar tanpa batas. Seperti kita ketahui, Kristen adalah salah satu agama besar yang di dalam Kitab Sucinya ada ayat yang mengatakan bahwa hubungan sejenis adalah dosa. Komen pembaca yang tercatat di blog itu per-hari ini sudah mencapai 3.672 komen. Komen pembaca itu terbagi dalam 2 pendapat yang berseberangan. Yang setuju dan mendukung versus yang tidak setuju dan menghujat. Kata-kata tidak pantas dan cuplikan ayat-ayat dari Alkitab pun dipakai untuk menyerang John.

Sebenarnya John Pavlovitz bukan pendeta pertama yang mendukung LGBT, bahkan di Indonesia pun ada beberapa. Bahkan acara Qmunity (LGBT) Indonesia sering dilaksanakan di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta. Secara tidak langsung, STT Jakarta juga support LGBT. Di Amerika juga ada beberapa gereja yang pendetanya sendiri adalah gay dan jemaatnya banyak dari kalangan gay dan keluarganya, atau gereja yang friendly terhadap kaum gay. Silakan mencari video di youtube dengan keyword“gay church”akan banyak sekali muncul video tentang gereja dengan pendeta atau jemaat dari kaum gay.

Tapi kenapa tulisan John, suami Jennifer dan ayah sepasang anak yang bernama Noah dan Selah ini demikian viral? Aku rasa karena dia berbeda dengan yang lain. Dia menuliskan pandangannya BILA anaknya gay. Jadi anaknya belum tentu gay. Dia sudah mempersiapkan diri apa yang akan dia lakukan bila sekiranya suatu hari anaknya menyatakan diri sebagai gay. Inti dari tulisannya adalah bahwa dia akan mengasihi dan mendukunga anak-anaknya sama besar terhadap yang straight maupun (sekiranya ada) yang gay.

Aku tertarik menulis pemikiran John ini karena aku merasa punya kesamaan dengannya. Bedanya adalah dia sudah punya anak sedangkan aku belum.

Dulu, sebuah akun di twitter bertanya seperti ini: “Semua orang yang dukung hak-hak LGBT: gimana kalo anak kalian gay/lesbian/transgender?” Kemudian kujawab: “Gak masalah. Dan gw akan selalu ada untuknya terutama saat dia dibully atau didiskreditkan orang lain.”

Tentu aku bisa menjawab seperti itu karena aku sudah banyak membaca jurnal, menonton film dokumenter & komersil tentang LGBT, menonton ratusan video youtuber homoseksual dan diskusi dengan LGBT.

Demikian juga John. Diawal tulisan dia berkata; kadang-kadang aku penasaran bila seandainya aku punya anak yang gay. Aku tidak yakin jika orang tua lainnya berpikir seperti itu, tapi aku sering memikirkannya. Mungkin karena aku punya sanak saudara dan teman yang gay. Mungkin juga karena sebagai Pastor untuk pelajar, aku sudah melihat dan mendengar cerita-cerita mengerikan yang dialami anak-anak Kristen yang gay yang ingin menjadi bagian dari gereja. Mungkin juga karena aku banyak berinteraksi dengan banyak orang Kristen yang menganggap homoseksual adalah hal yang paling menjijikkan.

Demikian kusarikan tulisan John Pavlovitz.

Sebagai seorang Pastor dan sebagai orang tua, aku ingin membuat janji pada anak-anakku dan pada kalian;

  1. Jika aku punya anak gay, kalian semua akan tahu. Aku tidak akan menyembunyikannya. Jika anakku come out, kami akan come out sebagai keluarga.
  2. Jika aku punya anak gay, aku akan berdoa untuk mereka. Aku tidak akan minta pada Tuhan untuk merubahnya jadi straight. Aku akan berdoa pada Tuhan untuk melindungi mereka dari orang-orang bebal, orang-orang yang penuh kebencian dan yang ingin melakukan kekerasan pada mereka karena mereka gay.
  3. Jika aku punya anak gay, aku akan mencintai mereka; karena mereka manis, lucu, penuh perhatian, cerdas, baik, keras kepala, cacat, orisinil, dan indah … dan karena anak-anak saya. Mereka mungkin ragu sejuta hal tentang diri mereka sendiri dan tentang dunia ini, tetapi mereka tidak akan ragu bahwa ayah mereka tergila-gila pada mereka.
  4. Jika aku punya anak gay, kemungkinan besar, saya punya anak gay. Tuhan yang telah menciptakan & memberikan nafas pada mereka. Mazmur 139 : 13 mengatakan bahwa Ia menenun mereka di dalam rahim ibu mereka. Mereka unik.

John menyadari akan ada yang tersinggung atau terganggu dan merasa jijik dengan tulisannya, sehingga dia berkata“Ini bukan tentang kamu. Ini semua jauh lebih besar dari kamu.”

Kamu bukan orang yang saya tunggu dengan gugup selama sembilan bulan.

Kau bukan orang yang membuat saya menangis dengan sukacita ketika kamu lahir.

Kau bukan orang yang saya mandikan, kasi makan, dan nina-bobokkan supaya tidur.

Kau bukan orang yang saya ajarkan naik sepeda, yg tangan kecilnya gemetar dan saya pegangi saat lututnya yang terluka dijahit.

Kau bukan orang yang kepala dan wajahnya saya cium saat pulang ke rumah pada malam hari dan yang tawanya seperti musik bagi jiwa saya yang lelah.

Kau bukan orang yang memberi arti dan tujuan pada hari-hari saya, dan bukan orang yang saya puja lebih dari apapun yang bisa saya puja.

Kau bukan orang yang saya harapkan menemani saat saya menanti hari-hati terakhir hidup saya di planet ini.

Demikianlah sari tulisan John yang banyak menuai komentar itu.

Kalau kita rajin menjelajah di channel youtuber gay/lesbian, lumayan banyak dari mereka dimana cinta dan kasih sayang orang tuanya tidak berubah walaupun mereka mengaku gay. Tapi dari semua orang tua tersebut sepertinya mereka bukan dari kalangan kelompok yang religious. Berbeda dengan John yang seorang Pastor.

Ada Rose dengan pasangannya Rosie. Sebelum memberikan lamaran kejutan pada Rosie , Rose terlebih dulu meminta izin kepada ibu Rosie untuk melamar anaknya. Tentu mereka punya hubungan yang sangat baik sehingga Rose berani meminta izin.

Ayahanda Natasha menerima dia apa adanya saat dia come out, hanya ibunya yang butuh waktu. Tapi pada akhirnya ibunya menerimanya dan hubungan mereka sebagai anak-ibu semakin baik. Natasha kini memiliki pasangan yang sangat cantik dengan pekerjaan yang baik.

Ada pasangan Lucy dan Kaelyn yang saat ini sudah tinggal bersama. Kedua orang tua pasangan ini sangat menerima anak dan pasangan anaknya apa adanya.

Ada pasangan Megan dan Whitney yang kini sudah menikah. Orang tua dan keluarga ikut support saat mereka menikah.

Ada Debbie, ibunda Shannon yang sangat dekat dengan anak dan pasangan anaknya, Cammie. Mereka membuat video bertiga dan di up load di youtube.

Ada Hellen, ibunda Ally Hill, perempuan muda yang cerdas, multitalenta dan super lucu, menerima dengan tangan terbuka kehadiran Toray, pasangan Ally, di rumahnya. Helen senang memotret Ally dan Toray bahkan saat berciuman. Setelah Ally dan Toray menyewa apartemen sendiri, Hellen pun tetap mengundang mereka lunch atau ikutan nginap semalam di apartemen Ally.

Ada ibunda Courtney, pacar Jenna Anne. Saat Jenna Anne yang tinggal di USA mengunjungi Courtney di Australia, ibundanya menerima dengan senang hati dan mengundang untuk datang lagi.

Dalam video yang berjudul “On What It’s Like Having a Gay Child” Ketika Cydney bertanya pada ibunya, “Sekiranya bisa, apakah ibu akan mengubahku jadi straight?” langsung dijawab ibunya “Oh my God! NO.. aku tidak akan mengubahmu.”

Dan banyak lagi cerita tentang orang tua yang memperlakukan anaknya yang gay sama seperti anak yang straight. Dari semua tokoh di atas, ketakutan terbesar orang tua adalah bila anaknya mendapat perlakuan tidak menyenangkan di luar sana hanya karena mereka gay. Selebihnya mereka menikmati kebersamaan dengan anak dan pasangan anak mereka. Efek dari penerimaan orang tua tersebut adalah si anak menjadi ceria, bahagia, sehat dan berprestasi.

Sebaliknya, anak-anak gay yang tidak diterima orang tua dan keluarganya biasanya hidup tertekan. Banyak anak gay yang diusir dari rumah hanya karena mereka gay. Banyak anak gay yang bunuh diri karena tidak mampu memenuhi keinginan orang tuanya supaya dia menjalani kehidupan heteroseksual. Banyak anak gay yang tidak mampu melanjutkan sekolah karena dibully di sekolah dan tidak di terima di rumah.

Anak-anak gay banyak yang depresi bukan karena dia gay, tapi karena dia ingin mengubah orientasi seksualnya supaya sesuai dengan yang diinginkan orang tua, agama dan masyarakat, tapi tidak pernah berhasil. Jadi penyebab depresi itu bukan karena menjadi gay, tapi karena MERASA tidak diterima. Sekiranya orang tua menerima anaknya sebagai gay, maka anak itu akan tumbuh seperti tokoh-tokoh yang kuceritakan di atas. Anak itu akan menjadi Rose, Rosie, Natasha, Shannon, Cammie, Ally, Toray, Cydney, Jenna Anne, Courtney dan banyak lagi, dan akan sangat panjang bila saya sebutkan.

Seperti tujuan John menuliskan pendapatnya, tulisan ini memang ditujukan buat orang tua dan keluarga yang memiliki anggota keluarga yang gay. Menurut statistic, 6-10% manusia itu gay, maka bukan tidak mungkin di dalam keluarga kita ada yang gay. Semoga tidak ada lagi orang tua yang menyesal seperti Linda dan Rob Robertson karena anaknya sudah meninggal setelah mereka menyadari kekeliruannya.

 

 

Jakarta, 11 October 2014

Mery DT

 

Note: Demi kemudahan penyebutan, kata gay di tulisan tersebut maksudnya homoseksual/biseksual/panseksual/trangender.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Untuk Orang Tua Yang Punya Anak Gay

  1. Pingback: Agama Pun Akan Punah Bila Tidak Beradaptasi Terhadap Zaman | Apaja

  2. firaa says:

    astaga, aku ngefans sama ally hills xD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s