Salah Kaprah “Semua Indah Pada Waktunya”

wedding   Akhir-akhir ini semakin sering orang menggunakan quote “semua Indah pada waktunya.” Terkadang pas dengan situasi yang ingin digambarkan, tapi sering kali orang yang mengatakan kalimat tersebut tidak paham konteks sehingga tidak sesuai dengan makna sebenarnya dari asal-usul kalimat tersebut.

Pada awalnya (sepertinya) orang Kristen yang sering kali mencantumkan potongan kalimat ini pada kartu undangan menikah mereka, sehinga seringkali orang beranggapan “semua indah pada waktunya” mengarah pada kontek hubungan 2 anak manusia yang penuh lika liku dan berakhir indah di pelaminan. Pemakaian potongan kalimat dalam kontek itu tidak salah sama sekali.

Tapi yang membuat aku menuliskan topik ini adalah bahwa banyak yang tidak paham asal muasal kalimat itu dan akhirnya tidak paham maknanya dan akhirnya salah menggunakannya. Minggu lalu ada sebuah narasi politik yang mengatakan “ternyata tidak semua indah pada waktunya.” Beberapa kali di twitter aku membaca orang menuliskan “gw gak percaya sama kalimat semua indah pada waktunya” atau “indah pada waktunya itu bullshit.” Aku menyakini pasti orang yang menuliskan narasi atau tweet tersebut tidak paham asal muasal quote tersebut.

Sesungguhnya kalimat yang terkenal itu adalah potongan dari sebuah ayat yang ditulis oleh Raja Salomo di Kitab Pengkhotbah (Alkitab, Perjanjian Lama) pasal 3 ayat 11, yang berbunyi: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Nah, asal muasal kalimat itu adalah dari perikop yang berjudul “Untuk Segala Sesuatu Ada Waktunya.” Baiklah saya salinkan ayat 1 – 11, demikian:

  1. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.
  2. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
  3. ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
  4. ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
  5. ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
  6. ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
  7. ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
  8. ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
  9. Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
  10. Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
  11. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Bila kita baca secara utuh perikop di atas, maka kita paham bahwa indah pada waktunya itu maksudnya sangat luas, jauh lmelebihi makna perkawinan dua anak manusia saja.

Segala sesuatu yang terjadi sesuai waktunya akan terasa indah, misalnya orang yang menangis saat ada kemalangan, itu indah. Tapi tidak pantas bila kita tertawa di tengah orang berkabung. Itulah maksudnya ada waktu menangis dan ada waktu tertawa.

Bila musim kering, bukanlah waktunya menanam, tapi menanamlah saat musim hujan sehingga tanaman tumbuh dan menghasilkan. Sehingga ada saat menanam dan ada saat mencabut (panen) tanaman. Demikianlah Pengkhotbah menggambarkan kehidupan manusia. Semua hal ada waktunya masing-masing, dan akan terasa indah bila yang terjadi itu sesuai dengan waktu yang tepat.

Memakai baju pesta yang berkilauan di gala dinner pasti indah sekali, tapi sangat aneh bila dipakai untuk berjemur di pantai. Berbicara dengan menggunakan banyak istilah tehnik mesin di tengah kumpulan orang-orang yang berlatar belakang sastra akan terasa aneh dan akan dianggap tidak tahu berkomunikasi dengan benar, dan itu tidak indah. Tapi sekiranya dia berbicara di tengah komuntas tehnik mesin, maka dia akan di sanjung karena terasa indah di telinga mereka.

Demikianlah pengertian saya atas “semua indah pada waktunya” berdasakan Pengkhotbah 3:1-11 tersebut. Semua indah pada waktunya, karena segala sesuatu ada waktunya. Semoga bermanfaat. 🙂

Jakarta, 20 September 2014

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s