Menjadi Homoseksual di Indonesia

Being Gay

 

Ini adalah rangkaian twit saya sore ini tentang buku Why Puberty dan hubungannya dengan menjadi homoseksual di Indonesia.  Semoga bermanfaat.

 

 

*  *  *  *  *  *

Dua hari lalu seorang temen bbm gw tentang buku “Why Puberty” yg diprotes oleh Fahira Idris dkk.  #WP

Sebelumnya gw gak tahu tentang buku tsb. Krn kesibukan kerja, baru bisa beneran pelajari hari ini. #WP

Gw blm baca buku Why Puberty, hanya baca-baca dari web site & ntn di TV yg membahas buku tersebut. #WP

Menurut GM Elex Media, penerbitan buku #WP  untuk membantu para ortu menjawab pertanyaan anak2 tentang cinta sesame jenis yg sering kali sulit dijawab ortu.

Buku #WP terblow up krn si Uni dkk memprotes terbitnya buku tersebut dan menyambangi kantor Elex Media.

Satu sisi Elex mau membantu ortu menjelaskan pertanyaan sulit anak2 tentang homoseksual, di sisi lain ada pihak yg merasa hal tersebut mengancam anak bangsa.

Elex malah disebut-sebut oleh beberapa yg berkomentar hanya ingin mengejar keuntungan dari menerbitkan buku kontroversial. “puk-puk Elex” 🙂

Ada pula psikolog yg bilang anak-anak LGBT itu mengalami gangguan mental, jadi harus diselamatkan! Me: &*%#$@#

Aku banyak menulis ttg orientasi seksual di blog. Misalnya: Mengapa bias menjadi Gay? https://apaja.wordpress.com/2011/11/02/mengapa-bisa-menjadi-gay/ …

Atau, Orientasi seksual berdasarkan Skala Kinsey https://apaja.wordpress.com/2011/11/04/orientasi-seksual-berdasarkan-skala-kinsey/ …

Atau Homoseksual Bukan Gangguan Kejiwaan, Tapi Homofobia https://apaja.wordpress.com/2012/05/17/homoseksual-bukan-gangguan-kejiwaan-tapi-homofobia/ …

Trus dikatakan pula homoseksual itu menyebabkan pedofilia. What?  Heterosex juga banyak pedofil.  Pedofilia itu penyakit, homoseksual itu bukan.  jauh berbeda.

Ada pula yg mengatakan LGBT tidak sesuai dgn budaya Indonesia. Budaya??  Oh yaa?

IMO, LGBT itu tidak diBOLEHkan di darah/negara yg penduduknya sangat agamais atau dogmatis pada agama.

Krn agama (trutama agama langit Yahudi, Kristen & Islam) sangat menentang hubungan sejenis, sedangkan budaya tidak selalu.

Budaya itu lebih gampang berubah, dan budaya itu progresif bukan? Sedangkan agama itu kaku.

Psikolog tadi juga mengatakan bahwa anak LGBT itu mengalami gangguan mental. Bisa jadi sik. Tapi gangguannya karena apa dulu?

Bisa jadi karena dia denial orientasi seksualnya dan ingin merubahnya, dan biasanya gagal, itu yg bikin dia menderita gangguan mental.

Bisa jadi krn ketakutan pada doktrin agama yg mengatakan homo itu berakhir di neraka. Itu pasti membuat tekanan mental.

Karena menganggap jadi homo adalah aib dan memalukan, ada yg menutupi dgn menjalin hubungan heteroseksual, tp mereka malah menderita. Gangguan mental.

Betul, homoseksual di Indonesia memang cenderung menderita gangguan mental karena keadaan sosial, agama & keluarga yang mendiskreditkan mereka.

Coba cek anak-anak  gay/lesbian yg tumbuh di tengah keluarga yg bisa menerima orientasi seksualnya. Biasanya di negara-negara maju sik.

Anak-anak gay/lesbian tersebut biasanya baik-baik saja sama seperti anak2 heteroseksual.

Ortu di negara maju biasanya bukan tidak terima anaknya gay/lesbian, tapi takut bila anaknya dibully oleh homophobic.

Ini beberapa lesbian yg sukses & berprestasi karena disupport orang tua: (@)Natasha_Nicole8, (@)RoseEllenDix, (@)lucyliz (@)kaeepet dan masih banyak lagi.

Dalam topic homoseksual, ada 3 kelompok masyarakat; 1.Yg menentang, 2.Yg mendukung, 3. Yang gak peduli.

Bila ditarik sebuah garis maka: ada 1 ujung yg menentang (homofobia), ada 1 ujung mendukung dan di tengah-tengah ya biasa saja alias cuek.

Ujung yg menentang biasanya orang yang kental dogma agamanya. Ujung yg mendukung biasanya yg aktif di kesenian dan kemanusiaan.

Tapi ada juga rohaniawan yg mendukung dan ada seniman yg menentang gay/lesbian sik, tapi jumlah mereka sedikit.

Menurut para ahli, prilaku seksual terbentuk karena: genetic, sosial, dorongan seksual dan faktor psikologi.

Secara genetik pernah dibahas oleh Dr. @ryuhasan ->JenisKelamin, Gender dan Orientasi Seksual http://wp.me/p77wu-h4 

Menurut survey Dr. Kinsey thn 1950an, Jumlah homosexual itu 6% dari populasi, Bisexualitu 23%.

Populasi itu tidak milih-milih hanya di kota ato Negara yg ramah terhadap gay saja ya. Di mana saja di dunia ini sama prosentasinya.

Orang yg secara genetic gay, tak akan bias dirubah jadi heterosexual.  Walau ada orang yg berubah menjadi heteroseksual itu hanya karena pilihannya / caranya menjalani hidupn.

Sebab menjadi gay lainnya adalah pengalaman, misalnya karena pernah disodomi. Tapi TIDAK semua orang yg pernah disodomi akan jadi gay. 

Sebab jadi gay lainnya adalah dorongan seksual dan kondisi social. Ini paduan segregasi gender dan usia.

Saat usia remaja dorongan seksual sangat tinggi, bila yang ada hanya org yang sejenis, maka mereka bias bereksperimen dengan sejenisnya.

Menjadi gay itu bisa karena pengalaman bereksprimen seksual dan menjadi ketagihan.

Tentang hal ini bias dibaca disini Arab Saudi, Membenci Homoseksual Tapi Memfasilitasi Prakteknya. https://apaja.wordpress.com/2012/06/14/ironis-membenci-homoseksual-tapi-memfasilitasi-prakteknya/ …

Atau di sini -> Benarkah Jumlah Gay di Arab Saudi 46%? https://apaja.wordpress.com/2013/02/16/benarkah-jumlah-gay-di-arab-saudi-46/ …

Bagi orang tua yang takut anaknya menjadi gay, usahakanlah anaknya bergaul dengan lawan jenis sejak dini trutama masa remaja.

Kalau memungkinkan, jangan masukkan anak ke asrama yang sangat ketat membatasi interaksi dengan lawan jenis.

Orang tua yg tidak jadi role model yang benar bagi anaknya juga dapat membuat anaknya membenci figure bapak/ibu.

Dan mereka mencari figure orang tua pada orang yg bisa memberikan kasih sayang, biasanya mereka tak peduli usia dan jenis kelamin pasangannya.

Kalau kita melihat penyebab-penyebab gay tersebut, ORANG TUA lah penyebab terbesar anak menjadi gay.  Tapi anehnya, orang tua pula yg marah dan kecewa bila mengetahui anaknya gay.

Gen itu turunan dari orang tua.  Anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya. Tapi ortu bisa membentuk dan mengarahkan cara hidup yang akan dijalani anaknya.

Kembali ke buku #WP,  niat Elex Media itu sebenarnya baik, tapi niat baik tidak selalu jadi baik bila habitatnya salah. 🙂

Membicarakan hak gay kepada org yg kental dogma agamanya = membicarakan keberadaan Tuhan pada atheis. Sussyeeehheh.

Gw akhiri dengan post ini Apa yang Akan Engkau Lakukan Bila Anakmu Gay?  https://apaja.wordpress.com/2014/05/25/apa-yang-akan-engkau-lalukan-bila-anakmu-gay/

 

Jakarta, 9 Agustus 2014

Mery DT

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Menjadi Homoseksual di Indonesia

  1. artikel nya wow bgt.
    apalagi Maple Fujoshi gt…
    gay itu sebenernya gx salah. toh kebanyakan ujung ujung nya juga normal. .
    meski dunia ini gx se indah dunia Fanfic. tp nyata nya byk gay couple yg sukses kaya Both Newyear. ..
    mereka di restuin malah. .
    d indonesia d tentang karena katanya negara ini negara islam tp kelakuan pemimpin? jangan tanya lg…
    intinya biarin mereka jadi mereka sendiri aja…

    Like

  2. Rudi says:

    Meski agak telat pingin komen “kalau bukan karena Tuhan yang menguatkan saya pasti tak akan kuat.” Jgn ditanya menderitanya. Tp sukacita sejati memang hanya dtg dr Tuhan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s