Review Buku Re: Pelacur Lesbian

Re.1  Sekitar pukul 17.45 WIB sore tadi, aku menyelesaikan membaca buku Re: yang kubeli 15 Juli yang lalu di Gandaria City.  Aku menutup buku bercover bulatan biru dengan dasar hitam itu, dan membiarkannya tergeletak di atas pangkuanku.  Kemudian aku menoleh ke sisi kiri Kopaja AC S-13 , pandanganku langsung menangkap atap Citos.  Ya, bus yg kutumpangi sedang meluncur perlahan di atas toll TB Simatupang.  Berarti aku sudah dekat rumah.

Sambil melihat gedung-gedung di luar sana, aku merenungkan kembali kisah Re: & teman-temannya yang dituturkan dengan apik oleh Maman Suherman sehingga terasa seperti kisah fiksi, padahal sesungguhnya adalah kisah nyata.  Setelah beberapa bulan lalu aku berjanji pada Kang Maman untuk mereview buku Re:, kini akan kulunasi janji itu.

Karena beberapa tahun terakhir ini aku akrab dengan tulisan/jurnal/riset tentang orientasi seksual (heteroseksual, homoseksual (gay & lesbian) biseksual, transgender, Pan seksual & A-seksual), maka aku cukup cukup paham tentang Skala Kinsey yang juga jadi rujukan buku ini.

Saat memulai membuat buku Anthology homoseksual & Biseksual – yang hingga saat ini masih terbengkalai – beberapa nara sumber (lesbian) yang bercerita bahwa karena komunitas lesbian tertutup dan jumlahnya pun sedikit, maka sangat sulit mendapatkan pasangan.  Kondisi ini kadang dimanfaatkan oleh perempuan-perempuan muda (bukan pelacur profesional) yang butuh duit dengan cara lebih aman dari pada menjadi “mainan / simpanan” lelaki hidung belang.  Aman, karena tidak akan hamil bila menjadi pasangan perempuan.

Bila di dalam buku ini, Re: dan kawan-kawannya berprofesi sebagai pelacur profesional, maka perempuan muda yang diceritakan oleh nara sumberku adalah mahasiswi-mahasiswi yang butuh uang lebih sehingga mau berpura-pura menjadi lesbian dan jadi pacar lesbian-lesbian yang sudah mapan.  Perempuan (lesbian) ini bisa saja single ataupun sudah menikah.  Aku juga pernah mendengar pelacur perempuan khusus untuk perempun, tapi tidak pernah tahu bagaimana dan dimana mereka beroperasi.  Buku Re: telah menjelaskan hal tersebut secara gamblang, tanpa tendeng aling-aling.

Buku Re: sesungguhnya bukan novel, tapi hasil riset untuk skripsi yang dituliskan secara populer layaknya penulisan novel, sehingga membacanya sangat nyaman dengan alur yang menarik.  Cerita hidup para tokohnya, terutama Re: memang terasa seperti dalam novel; dramatis, keras dan tragis.  Tapi sesungguhnya para tokoh itu bukan ciptaan.  Mereka nyata.  Mereka pernah hidup.

Bukan bermaksud menyimpulkan, tapi aku mau mengatakan bahwa pelacur tetaplah pelacur, pada siapa pun (laki / perempuan) mereka menjajakan tubuhnya.  Profesi yang setua manusia ini akan selalu berkonotasi negatif tapi tidak pernah sepi.  Pelacur tetaplah pelacur, sebutan, resiko, cibiran, masa depan mereka nyaris sama. Rasa percaya diri mereka pun sama.  Rasa bersalah, rasa tak berharga, rasa tidak layak yang dirasakan pun sama.  Pelacur tetaplah pelacur, posisi mereka di strata sosial masyarakat akan selalu di level paling bawah.  Pelacur tetaplah pelacur.  Mereka hanya objek, barang, hak milik oleh para germo, sehingga mereka bisa dilukai bahkan dibunuh bila mbalelo terhadap tuannya.  Resiko yang mereka hadapi setiap hari pun tetap tinggi walau melayani perempuan.

Yang menggelitik hatiku adalah bahwa para lesbian/gay pun masih banyak yang berpikir bahwa hubungan cinta antar anak manusia itu harus ada yang jadi lelaki dan perempuan.  Sehingga dalam hubungan lesbian pun harus ada yg jadi “lelaki” dan ada yang jadi perempuan.  Perspektifnya masih heteroseksual.  Dalam buku Re:, pada bab 10. Sentul nekad, diceritakan bahwa Windy (berperawakan maskulin) menjalin cinta dengan Dika (berperawakan feminin).  Dan menurut Windy dia tidak akan bisa berhubungan dengan Tara karena sama-sama “lelaki” (maskulin).

Pada sebuah organisasi lesbian Indonesia pun ada yang seperti “mengharuskan” kalau butch/Andro pasangannya femme (feminin).  Padahal sesungguhnya dalam berhubungan, terutama pada homoseksual, yang berperan besar adalah kenyamanan kedua belah pihak dan masalah hati tentunya.  Lesbian adalah pasangan seksual anatara perempuan dengan perempuan.  Jadi tidak ada lelaki di sana.  Jadi sesungguhnya tidak perlu harus ada yang jadi lelaki dan ada yang jadi perempuan.  Demikianlah masih banyak masyarakat umum, bahkan perempuan lesbian sendiri memaknai pola hubungan lesbian layaknya heteroseksual.

Tapi pemahaman seperti itu sekarang sudah mulai ditinggalkan terutama oleh lesbian-lesbian muda terpelajar dan hidup di kota-kota besar yang ramah terhadap gay.  Sangat banyak saat ini lesbian femme berpasangan dengan famme, seperti  penyanyi Country Chely Wright dengan penulis Lauren Blitzer.  Ada juga yang andro berpasangan dengan andro.  Dan memang akan tetap ada yang butchy / andro berpasangan dengan femme seperti Ellen de Generes dengan Portia de Rossi.  Hal yang ingin ku katakan adalah, bahwa pasangan lesbian itu tidak mengikuti pola hubungan heteroseksual.

Mengingat penelitian ini dilakukan tahun 1989, 25 tahun yang lalu, aku takjub, bahwa ternyata kehidupan malam Jakarta 25 tahun yang lalu pun telah mengentertein hasrat perempuan yang menyukai perempuan.  Atau mungkin bisa jadi kondisi itu sudah berjalan jauh lebih lama lagi, sebab homoseksual itu juga usianya sama dengan kejadian manusia mula-mula.  Survey Dr. Kinsey mengatakan 6% dari populasi manusia adalah homoseksual murni, sedangkan yang biseksual sekitar 15 – 24%.  Bila biseksual digabung dengan homoseksual maka akan ditemukan sekitar 30% dari populasi.  Dan ingat, survey itu dilakukan tahun 1950an saat keaadaan tidak ramah terhadap homoseksual.  Bila ada survey sejenis dilakukan saat ini, maka prosentasenya bisa lebih besar lagi.

Akhir kata aku katakan: Buku Re: wajib dibaca oleh semua orang.  Maaf aku tidak meringkas sedikitpun isi buku tersebut, karena menurutku sebaiknya yang penasaran langsung saja membelinya di Gramedia dan membacanya.  Terima kasih untuk kang Maman yang telah membagikannya untuk kita-kita.

 

Jakarta, 24 Juli 2014

Mery DT

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Review Buku Re: Pelacur Lesbian

  1. monicakrisna says:

    Hai kak 🙂 Masalah Lesbian kebanyakan yang masih menganggap hubungan selayaknya heteroseksual kayanya sampai kapanpun pasti ada deh karena itu menurut aku masalah preferensi. Ada yang memang suka sama perempuan berpenampilan maskulin tapi ada juga yg kaya temen aku, dia selalu bilang “Ngapain gue pilih cewe yang penampilannya kaya cowo? Kalo kaya gitu mah mending sama cowo aja sekalian. Enak lagi asli bukan ‘plastik’.” :)))) Main2 deh kak ke forum lgbt, banyak hal-hal yang diperdebatkan dan sebenernya lebih gak masuk akal daripada kasus lesbian ingin berhubungan seperti hetero 😛

    Like

    • Mery DT says:

      Hi Monica, terima kasih sudah mampir. Masalah penampilan pasangan yang disukai itu memang masalah selera pribadi saja, bukan keharusan dari sebuah orientasi seksual. Spt pada pasangan hetero, ada perempuan yg suka lelaki berwajah sangar, klimis, ganteng, dll. Ada lelaki yg suka cewek tomboi, feminin, dll. Di hubungan homoseksual juga seperti itu. Hanya masalah selera. Untung saja selera semua orang beda-beda. Bayangkan kalo sama!
      Kadang aku ngintip di sepoci kopi kok. Kalo forum2 LBGT lainnya aku aku gak masuk karena harus jadi member ya? Kalo boleh tahu, hal-hal tidak masuk akal seperti apa yang diperdebatkan di sana?

      Like

      • monicakrisna says:

        Banyak deh, tapi beberapa di antaranya yg aku paling inget :

        – Dia mengakui labelnya Butch tapi dia mempertanyakan kenapa selama ini di hubungannya pacarnya yang femme justru lebih mendominasi. Jadi dia kayanya mikir kalo Butch tuh harus dominan begitu sadar selama ini dia gak dominan mulai bingung deh dia (Aslik gak paham sama mindsetnya!) :))

        – Ada juga yang mempertanyakan ke seisi forum labelnya dia tuh sebenarnya apa dengan menyebutkan ciri-ciri dirinya sendiri (misalnya: potongan rambut gue cepak ngehe tapi gue seneng dandan). Gilingan padi! Ada gitu yang bisa gak paham sendiri sama labelnya sendiri?!

        – Tapi tenang kak, ada yang jauh lebih gila lagi menurut aku :)) Pernah loh di forum ada yang tanya gimana bikin “puas” pacarnya. Duh…. yang pacaran siapa mana tahu juga seisi forum pacarnya gimana dan sukanya apa. :))))

        Itu tiga dari sekian banyak yang bikin aku geleng-geleng kepala. Btw, bisa kok liat forumnya tanpa jadi member, kalo mau kontribusi di forum baru deh kak harus jadi member 🙂

        Like

        • Mery DT says:

          Hmm… dari 3 contoh yang kamu berikan itu, prediksiku sik mereka masih remaja yang memang masih labil 🙂 Semoga ada pembelajaran dari forum tersebut dari para senior sehingga anggota-anggota yang masih muda tidak salah dalam memahami label dan rule dalam berhubungan. Karena kemajuan teknologi, semakin banyak remaja yang berani mempertanyakan orientasi seksualnya walaupun dengan memakai akun-akun anonim, demi keselamatan diri hal itu tidak masalah. Kurang lebih sama dengan remaja2 hetero yang bertanya apakah ciuman bisa bikin hamil atau tidak. Dengan banyak membaca dan dipandu oleh para senior di forum, mereka akan tercerahkan dan memahami apa itu orienasi seksual yg sesungguhnya.

          Jadi pengen nulis tentang label & rule di homoseksual. Tapi hal ini sudah banyak yang nulis juga kok.

          Makasih sharingnya, Monica. 🙂

          Like

  2. Thunder Bird says:

    memang beberapa lesbi itu ababil, sebagian itu bi-curious atau eksperimen. jadi ga semua lesbi murni.
    mereka akrab dengan miras, narkoba, prostitusi, suka menghasut cewek jadi lesbi, ada butch yg sok jago, selingkuh, sok berjiwa pemberontak, dll.
    lesbian yang terpelajar sangat jauh dari pelacuran, baik itu sebagai pelacur ataupun mucikarinya. mereka setia pada pasangan dan mampu mendidik anak untuk menerima bahwa ortu mereka homo. dan eksisnya lesbian2 terpelajar itu yang ditutup-tutupi oleh sebagian besar media massa negara kita (atau memang masyarakat kita menutup mata dari fakta itu)

    di negara kita sepertinya lebih suka memuat berita2 negatif saja seputar kaum homo dan ogah memuat pemberitaan positif mereka. sebenarnya, kaum homo banyak juga memberikan kontribusi positif. bukan cuma kaum homo, tapi juga bisex dan transgender. ya namanya juga manusia.

    by the way i am a straight man. hahaha. suprised uh?

    Like

    • Mery DT says:

      Spektrum orientasi seksual itu memang sangat luas. Demikian juga latar belakang dan pendidikan orang untuk memahami orientasi seksual yang berbeda sangat beragam. Terhadap orang yang berbeda, ada yang membenci – ada yang cuek – ada yg gak masalah – ada yang support.

      Masyarakat kita kelihatannya masih lebih suka mengedepankan sisi negatif dari gay/lesbian/biseksual. Padahal baik buruknya sifat atau kelakuan seseorang tidak berdasarkan orientasi seksual nya tapi karena karakternya.

      Makasih sudah berbagi ya, Mas Thunder Bird.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s