Testimony Pembaca Novel Mariage Blanc dan Questioning Phase

Gado-gado

Malam ini aku menerima email testimony dari pembaca Novel Mariage Blanc. Kita sebut saja namanya Ratih (nama samara). Setelah kupikir-pikir, sebaiknya emailnya dan jawabanku ku posting saja di blog. Dan aku sudah menanyakan Ratih, dan dia sudah memberi izin asalkan namanya dan tempat kuliahnya kusamarkan. Alasanku menampilkan email ini adalah, disamping karena dia sangat menyukai cerita novel ini (ups, pamer kredit untukku), juga karena dia yang sedang dalam Questioning Phase, yaitu fase mempertanyakan orientasi seksual.

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada dan Negara-negara di Eropah, fase mempertanyakan orientasi seksual itu dianggap biasa, dan kebanyakan remaja cewe yang suka pada teman ceweknya hanya sekedar penasaran, dan tidak selalu dia lesbian. Bisa saja dia biseksual tapi yang di skala 1 atau 2 di skala Kinsey. Artinya, dia biseksual yang kecendrungan terbesarnya adalah heteroseksual.

Mungkin banyak remaja-remaja cewek atau cowok di luar sana yang sedang berada dalam phase ini, karena di top search mesin pencari blogku, informasi yang dicari tiap hari seperti ini: Apa itu homoseksual; Mengapa menjadi homoseksual; Apa enaknya jadi lesbian, Lesbian di Indonesia, Gay di indo, Bagaimana tahu kita gay; Ciri-ciri gay; dan lain-lain yang sejenis.

Walaupun email ini bukan informasi seperti yang mereka cari, tapi aku kok yakin banyak remaja Indonesia yang sedang mempertanyakan orientasi seksualnya, sehingga statement seperti itu yang selalu menjadi top search di blog ini.

Berikut emailnya;

Hallo ka mery ๐Ÿ™‚ Aku Ratih, 20 thn, mahasiswi di sebuah perguruan swasta.Aku baru aja selesai baca novel kaka yg Mariage Blanc. Rasanya hati bahagia banget bisa baca novel ini. Karna aku sendiri sedang mencari jati diri yg sebenarnya. Aku sediri ngak yakin apakah aku ini lesbian atau hanya penasaran sama hubungan gay perempuan. Karna cara berfikirku yg terlalu western, Tapi dengan baca buku kaka aku jadi punya pandangan jauh mengenai hubungan gay terutama gay perempuan. Dan menurutku hubungan gay tetap normal dan lebih romantis dari pada hubungan hetero karna menurutku cinta tidak bertuju kepada siapa dan apa jenis kelaminnya. Dan tidak bisa di bohongin kalau aku juga menyukai perempuan2 apalagi yg terlihat dan bersifat manja seperti sosok lara di buku ini. Tapi aku menyembunyikan perasaan ini. Tapi aku jadi kelihatan gugup setiap dekat perempuan yg bisa buat hatiku bergetar, dan rasanya aneh sekali juga kebinggungan. Apalagi aku pemalu untuk berkenalan duluan. Aku jadi ingin tau apakah cerita ini adalah cerita nyata atau tidak ? ๐Ÿ™‚ pokoknya aku suka banget sama cerita mariage blanc. Nggak sabar banget buat nunggu kelanjutannya ๐Ÿ™‚ sukses ya ka dengan karya karya nya โค

Ratih

 

Balasanku;

Hi Ratih,

Senang sekali membaca testimony kamu untuk novel Mariage Blanc. You make my night, my dear! ๐Ÿ™‚

Cerita novel Mariage Blanc tidak nyata, fully imajinasiku saja. Tapi tentu imajinasi itu ada karena telah membaca / mempelajari banyak sekali cerita di seputar kehidupan gay (laki & perempuan) dan juga biseksual. Aku tidak tahu apakah akan nulis kelanjutannya atau bikin cerita yang berbeda. Aku belum punya ide nulis novel gay lagi.

Aku menangkap kamu sedikit agak bertanya-tanya apakah kamu lesbian atau straight. Questioning phase. Kamu gak perlu pusingkan mengenai labelnya. Nyamankan saja dulu dirimu. Kalaupun akhirnya kamu merasakan bahwa kamu lebih nyaman dengan perempuan, tidak perlu panik. Terima saja apa adanya dirimu. Jutaan orang yang berorientasi seksual lesbian, dan seperti yang kamu bilang, itu normal secara sains. Tapi bisa jadi juga itu hanya karena penasaran, dan kamu straight.

Aku tidak punya pengalaman dengan perempuan, tapi kita tahu bila kita gugup menghadapi seseorang (laki / perempuan) itu akibat karena kita punya perasaan sama mereka. Karena kamu bilang kamu pemalu, coba belajar bersosialisasi aja dulu. Jangan ada target untuk mendapatkannya. Cukup sekedar menyapa โ€œhi apa kabar?โ€ chit-chat singkat saja, trus pergi dengan memberinya senyuman. Sapaan ringan seperti itu bisa diulang beberapa hari berikutnya, sampai akhirnya kamu tahu dia ada perhatian atau tidak sama sapaanmu. Sekali lagi, sapaan ringan saja, tanpa ada target apa-apa. Itu hanya melatih supaya kamu tidak lagi pemalu saja. Ok, kamu coba ya! Nanti kalau kamu sudah percaya diri, kamu akan bisa memberi sign sama orang yang kamu sukai. Good luck!

Xoxo,

Mery DT

 

Note: Aku akan menambahkan postingan ini bila kurasa percakapan kami layak di tampilkan.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just canโ€™t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi, Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s