Apa yang Akan Engkau Lakukan Bila Anakmu Gay?

Ryan & Linda_1

Pada hari International Day Against Homophobia (IDAHO), 17 Mei 2014 lalu, akun twitter Dhyta Caturani (@purplerebel) nge-tweet: Jd saya tanya lagi ke semua orang yang dukung hak-hak LGBT: gimana kalo anak kalian gay/lesbian/transgender?” saat itu sempat ku-reply: “Gak masalah. Dan gw akan selalu ada untuknya terutama saat dia dibully atau didiskreditkan orang lain.”

Pertanyaan Dhyta itu sangat menggelitikku.  Karena banyak orang yang “A OK” bila yang gay adalah saudara, teman, sahabat, anak sahabat, tapi tak siap bila anak sendiri yang gay.  Aku memang belum punya anak, tapi setelah sekian banyak aku membaca hal-hal yang berhubungan dengan orientasi seksual dan LGBT, maka bila suatu saat nanti jika aku punya anak, even anak satu-satunya, dan jika dia mengatakan bahwa dia gay, tindakanku akan persis seperti jawabanku di atas. Pasti.

Saat me-reply tweet Dhyta itu, aku teringat pada pasangan Rob & Linda Robertson. Mereka adalah contoh orang tua yang TERLAMBAT memberikan dukungan saat anak mereka butuh pengakuan dan dukungan. Dukungan tanpa syarat dari orang tua.

Just Because He Breathes: Learning to Truly Love Our Gay Son, adalah judul artikel tulisan Linda Robertson di situs huffingtonpost.com. Rob, suaminya, juga menuliskan curahan hatinya di sini dengan judul Mail to Ryan…Our Beautiful Boy. Hatiku rasanya tersayat-sayat membaca kedua tulisan tersebut.  Aku menangis merasakan begitu dalam kesakitan mereka.  Menangis membayangkan pergumulan Ryan supaya dapat diterima Tuhan dan orang tuanya, juga menangis karena penyesalan dan rasa sakit yang dirasakan orang tua karena kehilangan anak terkasih yang disebabkan karena ketakutan mereka, sehingga menutup telinga atas jeritan hati sang anak.

Parent, tak perlu penolakan kasar, cukup penolakan haluspun dapat menyebabkan kehilangan anak yang kita sayangi. Aku berharap orang tua yang kebetulan memiliki anak gay, dapat memetik pelajaran dari pengalaman dan kesakitan yang dirasakan Linda dan Rob. Linda dan Rob adalah contoh orang tua pemeluk agama yang sangat taat pada Tuhan. Orang tua seperti ini sangat banyak di seluruh belahan dunia, apapun agamanya (Yahudi, Kristen ataupun Islam). Coba pikir ulang tindakan kita terhadap anak-anak yang berorientasi seksual gay.  Cobalah memakai sepatu mereka dan berjalan di jalan yang mereka lewati.   Dengan demikian kita bisa berempati atas kesulitan hidup yang mereka hadapi setiap hari. Dengan dukungan orang tua pun mereka masih menghadapi kesulitan di luar sana, apalagi bila orang tua ikut menolak mereka. Jadi pliiss… jangan sampai engkau kehilangan mereka. Jangan sampai engkau seperti Linda dan Rob yang hanya bisa mengucapkan “Aku sangat berharap”.

 

Demikian secara singkat cerita tentang Ryan dan kedua orang tuanya.

Pada 12 November 2002, Linda sedang berada di kantor, dia disapa Ryan, anak sulungnya yang berumur 12 tahun, melalui Yahoo Messenger. Ryan saat itu berada di rumah. Melalui aplikasi percakapan itu, Ryan mengatakan (coming out ) pada ibunya bahwa dia gay. Berikut kalimat Ryan: Well i don’t know how to say this really but, well……, i can’t keep lying to you about myself. I have been hiding this for too long and i sorta have to tell u now. By now u probably have an idea of what i am about to say. I am gay. I can’t believe i just told you.

Seperti reaksi orang tua pada umumnya, Linda tidak percaya, karena anaknya baru berumur 12 tahun. Dia menganggap ini hanya sebuah phase saja. Phase dimana anak-anak sering bingung dengan seksualitasnya. Setelah percakapan itu, Linda menceritakan pada suaminya. Hari-hari mereka menjadi berat. Selama 6 tahun ke depannya mereka selalu mengatakan We love you no matter what. We will always love you. We couldn’t love you more. We are so glad you are our son. Nothing will change that.  Tapi dalam pernyataan bahwa mereka mencintai anaknya itu selalu terselip sisipan yang membuat Ryan lebih tertekan, yaitu Linda dan suaminya memintanya supaya tidak menceritakan ke-gay-an nya pada orang lain dan selalu mendorong anaknya untuk meminta Tuhan merubah orientasi seksualnya sehingga menyukai perempuan.

Selama enam tahun setelah coming out-nya tersebut, Ryan menjadi orang Kristen yang sangat taat. Dia sangat spiritual dan dekat pada Tuhan. Dia minta pertolongan Tuhan supaya Tuhan memberinya perasaan suka pada perempuan. Ryan rajin mengikuti kegiatan kepemudaan gereja, ikut pendalaman Alkitab setiap minggu dan menghapal ayat-ayat Alkitab. Ryan pun mulai bersaksi pada teman-temannya bahwa Tuhan telah menyelamatkan dia dari nafsu yang tidak dikehendaki Tuhan.

Usaha Ryan sangat keras dan serius supaya dia bisa diterima Tuhan dan orang tuanya. Tapi sesungguhnya tidak ada yang berubah. Tuhan tidak mengabulkan permintaan mereka padahal mereka yakin dan percaya bahwa Tuhan dapat merubah Ryan dari gay menjadi straight dengan sangat mudah. Tapi Tuhan tidak melakukannya. Linda dan Rob tidak memberi ruang bagi Ryan untuk berdiskusi tentang kemungkinan ada celah yang dapat mendamaikan Tuhan dengan orientasi seksualnya.  Bagi Linda dan Rob saat itu, kehendak Tuhan dan menjadi gay adalah dua hal yang bertolak belakang, tidak mungkin disatukan, sehingga mereka memberi opsi pada Ryan untuk memilih Tuhan atau orientasi seksualnya. Memilih Tuhan berarti melakukan cara hidup Kristen yang berarti melakukan selibat, dia akan hidup sendiri selamanya. Dia tidak akan punya kesempatan untuk jatuh cinta dan menjalani kehidupan romantis. Tapi bila memilih orientasi seksualnya, dia telah mengecewakan orang tua dan Tuhan.

Menjelang ulang tahunnya yang ke 18 Ryan mengalami depresi, mencoba bunuh diri, delusi dan merasa bahwa dia tidak akan bisa dicintai oleh Tuhan. Kemudian dia membuang Alkitab dan menyangkal iman pada Tuhan.  Dalam waktu yang bersamaan dia mencari jalan lain, dan dia mencoba obat-obatan terlarang. Ryan mulai membenci dirinya dan marah pada Tuhan. Dia berubah total dari anak yang sangat baik menjadi orang yang tergantung pada obat-obatan. Ryan juga mencoba ganja dan minum bir.  Dalam waktu 6 bulan dia sudah menggunakan kokain dan heroin.

Kemudian Ryan mulai mejauhi keluarga. Selama 1,5 thn Linda tidak mengetahui keberadaan anaknya, apakah masih hidup atau sudah meninggal. Kurun waktu itu merupakan masa yang sangat menakutkan bagi Linda dan suaminya. Akhirnya mereka berhenti berdoa minta Ryan menjadi straight, diganti dengan doa supaya Ryan tahu bahwa Tuhan sayang dia. Mereka berhenti berdoa supaya Ryan tidak pernah punya pacar lelaki, menjadi doa semoga suatu saat nanti mereka bisa berkenalan dengan pacar Ryan.

Setelah 18 bulan menghilang, akhirnya Ryan menelpon. Saat itu persepsi Linda dan suaminya telah berubah. Ryan bertanya: Apakah mama bisa memaafkan aku? (jawab Linda: kamu sudah dan selalu dimaafkan). Apakah mama bisa mencintai aku lagi? (jawab Linda: kami tidak pernah berhenti mencintaimu, tidak barang sedetikpun. Kami mencintainya lebih dari sebelumnya). Apakah mama bisa mencintai aku dengan seorang pacar pria? (jawab Linda; *menangis* Kami bisa mencintaimu dengan 15 pacar lelaki. Kami ingin kamu kembali pada hidup kami, kami ingin punya huibungan dengan kamu lagi, dan juga pacarmu.)

Kemudian perjalanan hidup baru dimulai. Hubungan dipulihkan. Ryan mulai detok narkoba. Semua menjadi baik lagi. Sepuluh bulan berlalu, mereka belajar mencintai Ryan dengan tulus tanpa persyaratan lagi. Akhirnya Tuhan mengajarkan pada mereka untuk mencintai anak tanpa syarat. Ryan pun mulai berpikir, jika orang tuanya bisa memaafkannya dan mencintainya, pasti Tuhan juga bisa.

Tapi Ryan membuat kesalahan klasik para pengguna narkoba. Dia kembali bertemu teman-teman lamanya. Dan suatu malam, untuk pertama kalinya setelah 10 bulan bebas dari narkoba, dia menggunakan lagi dan itu juga untuk yang terakhir kalinya. Ryan menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 16 July 2009.

 

Berikut curhatan Linda tentang dukanya:

Kami kehilangan kesempatan untuk mencintai anak gay kami, karena kami sudah tidak memiliki anak gay. Harapan, doa dan keinginan kami dahulu untuk tidak memiliki anak gay, menjadi kenyataan. Tapi caranya sama sekali tidak seperti yang kami bayangkan.

Sekarang, ketika aku memikirkan kembali ketakutan yang tercermin pada reaksiku selama enam tahun pertama setelah Ryan mengatakan dia gay, aku merasa ngeri karena menyadari betapa bodohnya aku. Aku dulu takut berbuat salah. Kini aku berduka, tidak hanya untuk anak tertua kami, orang yang akan kurindukan seumur hidupku, tapi untuk kesalahan yang aku buat.

Sekarang, setiap kali aku dan Rob berkumpul bersama teman-teman gay kami saat malam hari, aku membayangkan betapa aku akan sangat senang dikunjungi Ryan dan pacar prianya untuk makan malam bersama.

Tapi kini kami mengunjungi nisan Ryan. Kami merayakan ulang tahun, yaitu hari kelahirannya dan juga kematiannya. Kami memakai baju orange, warnanya favoritnya. Kami menimbun banyak kenangan tentang dia. Kami adalah orang-orang yang berbeda sekarang. Kami berubah dengan sejuta cara karena kematiannya. Kami menghargai persahabatan dengan orang lain yang merasakan hal yang sama yang juga telah kehilangan anak yang mereka cintai.

Kami menangis. Kami mengharap kasih karunia dan belas kasihan dan penebusan Tuhan, kami tidak mencoba untuk “merasa” lebih baik tapi untuk “menjadi” lebih baik. Dan kami berdoa agar Tuhan entah bagaimana caranya, dapat menggunakan kisah ini untuk membantu orang tua lain belajar untuk benar-benar mencintai anak-anak mereka walaupun mereka berbeda.

 

Berikut curhatan Rob tentang kehilangan putranya;

Dear Ryan,

Aku sangat-sangat merindukanmu. Aku tidak tahu bagaimanakah system di sorga, mungkin kamu sudah tahu apa yang ingin kukatakan, tapi sekiranya kamu tidak tahu, ada sesuatu yang aku ingin kamu tahu. Aku sangat mencintaimu. Dan terasa sangat menyakitkan karena kamu tidak di sini bersama kami akhir pekan lalu untuk merayakan pernikahan Riley. Riley dan Abby menyisakan kursi kosong untukmu. Dan Lindsay satu-satunya pengiring pengantin wanita yang berjalan sendirian menyusuri lorong, karena seharusnya kamu yang mendampingi dia. Aku tahu kamu sangat bangga pada adikmu, Riley dan aku juga tahu kamu sangat mengagumi Abby.

Yang ingin kukatakan adalah aku tidak marah saat kamu kambuh pada hari itu. Akhir Juni 2009.  Aku tahu kamu tidak berniat untuk melakukannya. Bahkan aku tidak seharusnya mengalami kepahitan atau pun marah kalaupun kamu ingin menyerahkan hidupmu. Aku hanya punya kasih sayang dan rasa hormat terhadap perjuanganmu menghadapi kesulitanmu selama ini. Hanya setelah membaca jurnalmu aku dapat memahami dengan sepenuhnya betapa banyak rasa sakit dan kesulitan yang kamu hadapi. Setiap kali aku merasakan rasa sakitmu yang dalam, aku ingin menangis sejadi-jadinya. Sebagai ayah duniawimu, aku telah mengecewakanmu melalui banyak cara.

Aku sangat-sangat menyesal atas hal-hal yang kulakukan yang berkontribusi pada keputus-asaan-mu. Kini aku sangat berharap dulu aku tahu apa yang kupahami sekarang.  Aku pikir dulu aku telah melakukan hal yang benar saat kamu pertama kali datang kepada kami. Padahal hanya sedikit yang aku tahu, betapa aku harus belajar lebih banyak lagi. Maafkan aku atas caraku menanggapimu karena telah membiarkan ketakutan mengendalikan keputusanku.  Seharusnya aku percaya pada Tuhan yang mencintaimu lebih baik dari pada caraku mencintaimu, dan Tuhan yang tidak pernah berhenti untuk mencintaimu.

Aku menyesal karena betapa lambat aku memahamimu dan mencintaimu tanpa syarat. Tapi kamu selalu memiliki kasih untukku. Kamu begitu sabar pada kami saat kami belajar apa sih yang benar-benar penting.

Terima kasih telah percaya pada kami dan membagi pikiran dan ketakutan terdalam yang kamu rasakan sebagai remaja gay, dan dewasa muda gay, yang mencoba untuk mendamaikan iman dengan seksualitasmu. Terima kasih untuk semua surat dan emailmu; orang-orang yang membuat kita tertawa dan orang-orang yang membuat kita menangis. Tulisan tanganmu sangat berharga bagiku.

Aku sangat berharap bisa memperkenalkanmu kepada beberapa teman baikku sekarang, pria dan wanita yang mengasihi Yesus dengan segenap hati mereka. Mereka telah membantu aku memahami bahwa gay bukan kesepakatan yang rusak bagi Allah, bahwa sesungguhnya gay dan Kristen dapat hidup berdampingan, dan bahwa Allah tidak mengepalkan tangan-Nya pada kaum gay. Cara Tuhan lebih besar dari hal ini. Aku tahu kini bahwa Allah tidak menolak atau meninggalkanmu atau pun orang lain yang sepertimu.

Aku berharap aku bisa mengajakmu makan malam di malam ini dan memberitahumu bahwa hidupmu … dan bahkan kematianmu … telah memberkati hidup kami setiap hari.  Kami telah belajar sangat banyak darimu. Melalui dirimu, Allah telah membuka dunia baru bagiku dan bagi ibumu.

Aku berharap kita bisa ber-snowboarding di Mount Baker seperti yang telah kita rencanakan. Aku berharap kita bisa backpacking lagi, dan kita bisa ngobrol dan ngobrol dan ngobrol saat kita mendaki. Aku berharap kamu menelepon dan bercerita bahwa kamu telah bertemu lelaki yang kamu suka kemudian kamu memperkenalkannya padaku. Aku berharap kita bisa barberque-an di atap rumahmu dengan pandangan Space Needle yang sangat kita sukai. Aku berharap kamu ada di sini untuk membantuku berburu rakun yang mengancam Janie, kucing kita.

Aku berharap kamu memasak telur spesialmu dan menambahkan saus sambal di dapur kita  sambil menyanyikan lagu-lagu lucu dan lagu-lagu penyembahan (lagu gereja) dan lagu apa saja yang melintas dibenakmu. Aku rindu suaramu.

Aku berharap kamu disini sebagai penonton, duduk bersama Larissa, Cam, Lindsay, Nenek Par, Paman Ronny, Paman Don dan semua teman-teman baru kita dari Biola Queers, yang aku tahu kamu pasti menyukai mereka.

Aku berharap aku bisa memelukmu lagi. Aku mencintaimu, Ryan. Aku merindukanmu. Betapa aku merindukanmu. Aku sangat, sangat bangga padamu.

Aku minta maaf karena pernah menginginkanmu menjadi orang lain, bukan dirimu sendiri seperti yang telah Tuhan ciptakan. Aku sangat menyesal untuk semua hal yang pernah kukatakan yang menyebabkan kamu merasa bahwa aku akan mencintaimu lebih lagi jika kamu straight.  Sekarang aku tahu bahwa kamu adalah pribadi yang PERSIS seperti yang Tuhan inginkan …dan kamu tampan. Dulu kamu tampan dan kamu akan selalu tampan, anak lelakiku yang ganteng.

========================

Kini Linda dan Rob aktif dalam advokasi terhadap orang tua yang memiliki anak-anak gay dan juga pada anak-anak gay yang ditolak oleh orang tuanya.  Mereka ikut mendukung Biola Queers.  Silahkan mengunjung blog mereka http://www.justbecausehebreathes.com

Semoga curahan hati Linda & Rob diatas memberi kita pemahaman baru tentang gay, dan tidak terlambat bila kita yang memiliki anak gay.

 

Jakarta, May 26, 2014

Mery DT

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in LGBT, Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Apa yang Akan Engkau Lakukan Bila Anakmu Gay?

  1. kaprilyanto says:

    wah makasih sharing nya, nice post 😀

    Like

  2. Pingback: Menjadi Homoseksual si Indonesia | Apaja

  3. danangmartin says:

    nice post,, makasih ^_^

    Like

  4. Pingback: Untuk Orang Tua Yang Punya Anak Gay | Apaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s