Jenis Kelamin, Gender dan Orientasi Seksual

gen 01 Sering sekali aku menuliskan dalam artikelku bahwa apapun orientasi seksualnya (heterosexual, homosexual, bisexual, pansexual, polysexual & A-sexual) adalah normal berdasarkan sains. Dan banyak pula yang membantahnya dengan mengatakan homoseksual adalah penyimpangan dan tidak normal, walaupun pendapatku telah kusertai dengan hasil riset dari pakar genetika dan orientasi seksual dunia.  Untuk melengkapinya aku memutuskan untuk memposting artikel ini. Mudah-mudahan kuliah dari orang Indonesia asli ini dapat lebih mudah dipahami oleh kita-kita. 🙂

Berikut tulisan dari kultwit (kuliah tweet) Dr. Ryu Hasan, seorang neurosurgeon yang juga melakukan riset mengenai genetika, yang beliau kicaukan tahun lalu, 23 Maret 2013. Silakan follow akun twitter beliau untuk menambah wawasan di bidang kedokteran, akun twitternya @ryuhasan. Karena tulisan ini saya ambil langsung dari timeline twitter beliau, maka formatnya pun tetap saya tampilkan seperti format tweet. Silakan di cermati.

 

Jenis Kelamin, Gender dan Orientasi Seksual

Jenis kelamin, gender dan orientasi seksual itu secara biologi saling indipenden, masing2 berdiri sendiri2, tapi sering dicampuradukkan.

Kebanyakan orang yg berjenis kelamin laki2 gendernya maskulin dan orientasi seksualnya kepada orang perempuan. Yg tidak demikian juga ada.

Kebanyakan orang yg berjenis kelamin perempuan bergender feminin berorientasi seksual kepada orang laki2. Yg tidak demikian pun juga ada.

Tapi bukan berarti orang yang tidak sama dengan orang kebanyakan lantas identik dengan orang yg mengalami gangguan atau abnormal.

Secara sederhana diketahui kalao orang berkromosom XX itu perempuan, sedangkan yg XY laki2. Padahal tidak selalu demikian.

Orang berkromosom XY tidak selalu berjenis kelamin laki2, orang yg berkromosom XX juga tidak selalu berjenis kelamin perempuan.

Memang jarang perempuan memiliki kromosom Y, meski tdk mustahil. Krn gen pembawa unsur maskulin kromosom Y bisa hilang/rusak pd org tertentu.

Janin manusia sampai usia 8 minggu dlm kandungan semua berjenis kelamin perempuan. Kenapa ada yang berubah jadi laki2?

Kita bicarakan dulu soal jenis kelamin ya, soal gender dan orientasi seksual kita bicarakan berikutnya.

Perubahan kadar hormon2 tertentu lah yang merubah sebagian dari janin2 perempuan itu jadi laki2. Terus apa yg membuat kadar hormon berubah?

Dan mutasi genetiklah yang memicu perubahan aktivitas hormon, berujung terjadinya deferensiasi menjadi laki2 dari yg awalnya perempuan.

Tak banyak yg tahu bhw munculnya jenis kelamin jantan/laki2 adlh akibat hadirnya ‘si pengganggu’ kromosom Y, yg merubah stabilitas hormonal.

Kebanyakan org tahu kromosom X&Y merupakan penentu jenis kelamin. Tp ada bbrp hal seputar kromosom ini yg belum diketahui kebanyakan org.

Dari segi kemasannya, kromosom XY ini sangat berbeda dg kromosom2 manusia yg lain, dulu timbul tanda tanya besar, sekarang sudah terjawab.

XY ini ternyata bukan kromosom identik. Dibanding ukuran X, kromosom Y sangat kecil seolah merupakan tambahan dadakan krn tuntutan keadaan.

Kromosom Y tidak sebanding dg kromosom X. X lebih perkasa dlm segala hal, akibatnya pertempuran X-Y adalah perkelahian tak seimbang.

Dan akhirnya kromosom Y selalu harus bersembunyi sambil meninggalkan bagian2 yg tidak penting untuk fungsinya bila berhadapan dg X.

Artinya, secara genetik, manusia perempuan jauh lebih perkasa dari manusia laki2 dalam segala hal.

Bagaimana prosesnya bisa seperti itu? Berikut yang tertulis dalam kitab genom manusia.

Dimasa lampau, leluhur kita beralih dari kebiasaan reptil yg menentukan jenis kelamin berdasar temperatur telur ke penentuan secara genetik.

Alasan yg paling mungkin utk peralihan itu adalah supaya tiap jenis kelamin dapat mulai berlatih utk tugas khususnya masing2 dlm pembuahan.

Pd manusia, adanyanya gen penentu jenis kelamin menjadikan laki2, sdgkan ketdkhadiran gen itu ya tetep perempuan. Pd burung kebalikannya.

Kehadiran gen ‘pengganggu’ itu dg segera menarik kedekatnya gen2 lain yg bermanfaat bagi laki2, misal: gen untuk otot kekar.

Pd perempuan, gen2 sprt gen otot kekar tidak diperlukan krn hanya akan menguras energi. Lebih baik jika dicadangkan utk pengasuhan anaknya.

Gen2 sekunder semacam itu mendekatkan diri yg cocok dg jenis kelamin yg satu dan tidak cocok dg jenis kelamin yg lain. Persaingan antar gen.

Nah, ‘gangguan’ yg ditimbulkan oleh gen dlm kromosom Y ini tidak selalu ektrem dan menghasilkan kelaki2an yang seragam.

Hal ini karena tertariknya gen2 sekunder kelaki2an tidak selalu sama. Akibatnya ada individu yg tidak ekstrem menjadi laki2.

Hal ini juga bisa menjelaskan bhw mengapa lebih banyak laki2 yg kecewek2an ketimbang sebaliknya. Ini bukan kelainan, tapi variasi normal.

Secara sederhana, laki2 yg bersifat kecewek2an bisa dibilang sebagai individu yg ingin ‘kembali’ ke jenis kelamin asalnya, yaitu perempuan.

Kalau memang secara genetik wanita lebih perkasa, mengapa dalam kehidupan masyarakat yg terjadi justru sebaliknya? Laki2 jadi lbh superior?

Wanita dianggap inferior bukanlah karena alasan fisik atau genetik, tetapi lebih disebabkan alasan kultural kesejarahan. Mengapa demikian?

Perempuan dianggap inferior karena dulu rata2 berusia lebih pendek dari laki2. Kenapa? Karena proses melahirkan beresiko kematian tinggi.

Sekarang, saat resiko proses melahirkan tak ubahnya sprt mencet jerawat, terbukti wanita didesain utk berusia lbh panjang ketimbang laki2.

Contohnya: sikus hormonal perempuan usia subur mengurangi resiko jantung koroner. Setelah menopause, resiko wanita jd sama dengan laki2.

Berbicara soal jenis kelamin sama menariknya dgn berbicara gender dan orientasi seksual. Mitos dan labeling masalah ini masih mendominasi.

Para ilmuwan biologi tlh memberi sumbangan yg besar terhadap pemahaman yang kita miliki sekarang seputar perilaku seksual organisme hidup.

Biologi telah menghapus banyak kebingungan yg disebabkan oleh takhayul dan ketidakpastiam mengenai cara kerja tubuh.

Salah satu contoh, kebingungan kita tentang orientasi seksual individu telah banyak diungkap oleh penelitian biologi dan neurosains.

Ada banyak variasi dalam otak kita yang menghasilkan perangkat ketrampilan & perilaku individual.

Variasi genetis serta hormon2 yg ada dlm otak selama masa perkembangan janin menjadi fondasi bagi perbedaan2. Termasuk orientasi seksual.

Setelah lahir, pengalaman2 hidup akan mempengaruhi sirkuit2 otak masing2 yg khas itu, dan memperkuat berbagai perbedaan tersebut.

Salah satu jenis variasi yg ada dalam suatu rangkaian sirkuit pada otak seksual adalah ketertarikan romantis sesama jenis atau homoseksual.

Orientasi seksual bukanlah masalah pemberian label diri secara sadar, tapi masalah struktur otak. Hal ini dibuktikan berbagai riset.

Berbagai riset pada orang kembar, menjelaskan adanya unsur genetis dalam orientasi seksual, baik pada laki2 atau perempuan.

Sistem saraf & sirkuit2 otak pra-kelahiran terbuka pada lingkungan hormonal yg jenisnya berlawanan. Menghasilkan vasriasi orientasi seksual.

Contoh: otak yg secara genetis perempuan tapi testosteron mendominasi saat janin, maka sistem & sirkuit itu akan berkembang ke jalur laki2.

Lingkungan hormonal pra-kelahiran ini menimbulkan dampak permanen pada ciri2 pelaku, salah satunya adalah ketertarikan seksual.

Identitas gender dan orientasi seksual utama dgn peran gender pd perempuan yg kadar testosteronnya lbh tinggi dlm rahim sudah diuji.

Perempuan2 ini mengingat perilaku bermain mereka di masa kecil lebih kelaki2an dibanding perempuan yg tdk terbuka pada testosteron.

Pada perempuan2 ini juga didapatkan bahwa mereka lebih tertarik kepada sesama jenis dan lebih mungkin menjadi homoseksual atau biseksual.

Asal muasal homoseksualitas pd laki2 berbeda dgn yg terjadi pd perempuan. Sebagian besar riset tentang hal ini lebih diarahkan ke laki2.

Tapi akhir2 ini riset pada perempuan juga banyak mulai dilakukan. Orientasi seksual perempuan rangkaian yg lbh rumit dibanding dg laki2.

Perempuan homoseksual memperlihatkan respon pendengaran yg kurang peka, suatu pola yg khas didapatkan pada laki2.

Kinerja otak perempuan biasanya lebih baik dare pada otak laki2 dalam hasil uji kefasihan bicara verbal.

Tapi pada perempuan homoseksual memperlihatkan pergeseran seperti laki2 dlm nilai2 kefasihan verbal mereka dengan sangat bermakna.

Berbagai temuan ilmiah ini menunjukkan bhw struktur otak baik laki2 &perempuan untuk orientasi seksual terbentuk selama perkembangan janin.

Perkembangan otak ini mengikuti perencanaan gen2 serta hormon2 individu tersebut. Kemudian kerja struktur otak akan dikuatkan lingkungan.

Demikian juga dgn orientasi seksual laki2. Ditemukan bukti perbedaan struktur anatomi & fungsional antara laki2 gay dan bukan.

Dick Swaab menemukan, bagian dari hipotalamus yg disebut sbg nukleus suprakhiasmatik (SCN) ukurannya 2 kali lbh besar pd laki2 homoseksual.

Perbedaan ini pada gilirannya terbukti disebabkan oleh perbedaan dalam reaksi testosteron terhadap otak yg terus berkembang.

Penelitian dg scaning MRI, kerja otak laki2 homoseksual lbh menyerupai respon otak perempuan. Ini dilaporkan oleh Ivanka Savic dari Swedia.

Dengan PET scanning, ditemukan konektivitas amigdala otak laki2 homoseksual menyerupai kerja otak perempuan heteroseksual.

Hipotalamus otak laki2 homoseksual dirangsang olh aroma keringat laki2 lain. Hipotalamus laki2 heteroseksual tidak demikian.

Respon sirkuit hipotalamus yg berada diluar kesadaran manusia ini memainkan peran yg penting dlm terbentuknya orientasi seksual.

Banyak riset lain juga mendapati berbagai perbedaan struktur dan sirkuit2 di otak sehingga menghasilkan orientasi seksual yg berbeda.

Nah dari riset2 ttg orientasi seksual yg sdh dilakukan, menyimpulkan bhw variasi2 yg ada adalah konsekwensi akibat kerja otak yg berbeda2.

Orientasi seksual adalah hasil resultante pertentangan antar gen dan pengaruh hormon2 di otak sejak masa janin.

Homoseksual adalah varian yg ada dari spektrum hasil kerja otak tentang orientasi seksual yg memang beragam. Bukanlah kondisi patologis.

Karena bukan kondisi yg patologis, homoseksualitas bukan lah hal yg perlu ‘diluruskan’. Kecuali kalau yg bersangkutan merasa terganggu.

Jika seorg homoseksual merasa tarsiksa dg keadaan orientasi seksualnya, yg jadi fokus dokter adalah menghilangkan perasaan tersiksanya.

Seperti seseorang yg terlahir berkulit putih atau coklat, potensi orientasi seksual juga sudah terbentuk sejak sebelun lahir.

Orientasi seksual sama juga dengan gender dan jenis kelamin, bukanlah dikotomi hitam-putih. Tapi seperti spektrum abu2.

Sudah ya tuip sekian dulu soal gender dan orientasi seksualnya, jempol saya kesemutan 🙂

 

Jakarta, May 10, 2014

Mery DT

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Jenis Kelamin, Gender dan Orientasi Seksual

  1. Pingback: Mempunyai Pasangan Bisexual, Dilanjutkan atau Ditinggalkan? | Apaja

  2. Pingback: Sains VS Agama | colorfullife

  3. Pingback: Tuhan yang Sama, Kita yang Berbeda. | Apaja

  4. Pingback: Homoseksual TIDAK Menular | Apaja

  5. 7adverse says:

    Thankyou atas ilmu yang sangat berguna ini 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s