Lingkaran Setan Pedofilia

kekerasan seksual pada anak 03 Kasus Pedofilia di TK JIS akhirnya merengut jiwa. Dua malam yang lalu, salah satu dari 6 orang tersangka pelaku kekerasan seksual yang bernama Azwar meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah dia ditemukan dalam kondisi kritis di kamar mandi Mabes Polri. Menurut informasi Polisi, Azwar bunuh diri dengan meminum pembersih lantai toilet setelah memberikan pengakuan bahwa dia ikut serta melakukan pelecehan seksual terhadap korban. Beredar opini bahwa Azwar tak mungkin bunuh diri, tapi memang “dihabisi.” Entah yang mana yang benar, karena keluarga juga tidak ingin melakukan otopsi terhadap jenajah Azwar.

Aku tak ingin membahas cara meninggalnya si pelaku, tapi ingin menyoroti prilaku manusia. Bahwa manusia itu sama saja di kelas mana pun dia berdiri; atas – menengah – bawah, berpendidikan atau tidak berpendidikan, kaya atau miskin, agama apa pun itu, selalu saja ada sekelompok orang yang brengsek atau ngehe. Jangan pernah berkata kelas atas pasti jahat dan kelas bawah pasti baik. Tidak. Pada semua kategori sosial selalu kita temukan kelompok penjahat.

Pada kasus pelecehan seksual murid Taman Kanak-kanan JIS ini, ada dua kelas sosial yang menjadi pelaku; kelas sosial bawah (para pekerja kebersihan) dan kelas menengah (guru, dalam hal ini masih kemungkinan mantan wakil kepala sekolah dan William James Vahey). Apapun alasannya dia melakukan kekerasan seksual tersebut, tetap saja mengenaskan bagiku apa lagi bagi korban dan keluarganya. Di banyak kasus TKW, majikan (mungkin kelas menengah atau atas) yang sering melakukan kekerasan pada pekerja informalnya, atau karyawannya.

Zainal, salah satu pelaku kekerasan seksual di TK JIS, mengaku pernah disodomi saat kecil, hingga akhirnya dia melakukan hal yang sama pada anak lain. Seperti lingkaran setan bukan? Setelah mendengar cerita/pengalaman hidupnya, kita merasa berempati padanya, kemudian kita memaafkannya, dan hakim memberi hukuman ringan. Demikian selalu berulang tanpa ada usaha kita untuk memutus rantainya dengan pengamanan sosial/sekolah yang ramah anak dan hukuman berat bagi pelaku. Anak yang telah menjadi korban sebaiknya jangan dibiarkan mengatasi kesakitannya seorang diri, tapi segera lakukan terapi penyembuhan trauma oleh tenaga ahli. Hanya ini cara untuk menghentikan penyakit psikis itu menular.

Yang membuat aku tak habis pikir itu adalah perempuan yang ikut membantu melakukan kekarasan tersebut. konon katanya, dialah yang memberitahukan pada pelaku bahwa ada mangsa empuk sedang ada di jebakan. Aku tidak tahu gangguan apa yang ada di pikirannya. Aku cuman membayangkan, mungkin dia merasa sangat puas melihat anak kecil dari keluarga kaya itu memohon-mohon ampun dan belas kasihannya. Dia mungkin merasa puas bisa menyiksa anak kecil terutama anak orang kaya. Bisa jadi ada kepahitan dalam dirinya sehingga dia benci sekali pada orang kaya. Entahlah. Aku ngeri membayangkannya.

Hal sejenis beberapa kali kita temukan pada pembantu rumah tangga yang menyiksa anak majikannya. Kekesalannya pada orang tua (orang berada) dilampiaskannya pada anak-anak majikannya. Tapi jumlah pembantu yang melakukan kekerasan ini memang tidak banyak, aku tidak tahu prosentasenya. Tapi kasus ini membuktikan bahwa ada tirani kelas bawah, dan mereka melakukannya saat mereka “sedang berkuasa.” Saat anak-anak sendiri tanpa pengawasan guru atau orang tua, seperti yang dilakukan pekerja kebersihan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa bajingan itu tidak harus selalu orang kaya atau majikan.

Tirani kelas bawah ini juga sering kita jumpai di bis-bis kota atau angkot. Mereka menjadi peneror penumpang dalam pakaian kusut masai sambil meneriakkan “kami butuh makan. 2,5% dari penghasilan kalian adalah hak kami orang miskin. Dari pada menodong lebih baik kami meminta serebu atau dua ribu dari anda. Anda tidak akan miskin karenanya.” Ironisnya, mereka meminta pada penumpang bis-bis kota yang pasti kebanyakan adalah kelompok yang berpendapatan pas-pasan juga. kalo mereka berlebih, tentu mereka akan membeli mobil. Dalam hatiku, kenapa mereka tidak meneriakkan hal yang sama ke gedung DPR atau kantor Walikota, Gubernur atau Presiden? Pasti karena mereka tidak punya kuasa disana, tapi berkuasa di golongan pas-pasan di dalam bis kota.

Yang mau aku katakan adalah bahwa tidak ada satu kelompok/kelas sosial yang lebih baik dari yang lainnya. Di setiap golongan, kelompok, kasta, level, pasti ada orang baik dan ada orang jahatnya. Sayangnya wajah orang baik dan orang jahat itu sama. Orang dewasa saja banyak yang tertipu apa lagi anak-anak.

Sayangnya, dengan berlaku selalu baik pun kita tidak otomatis terhindar dari perbuatan jahat orang lain. Seperti bekendara, walaupun kita sudah berkendara sesuai aturan lalu lintas, bisa saja kita ditabrak oleh sopir ugal-ugalan yang melintas di depan kita, atau sopir mabuk. Demikian juga hidup. Kita cuman selalu bisa berharap, semoga hal-hal yang baik saja yang terjadi pada kita dan keluarga kita. Tapi pun bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang dialami anggota keluarga, tidak ada obat yang lebih manjur pada jiwanya kecuali pelukan dan rasa aman.

Aku tidak tahu menulis ini untuk apa. Aku hanya menyalurkan kegelisahanku yang berkecamuk di dalam dada. Hatiku gelisah melihat anak-anak yang lemah dan rawan dimangsa predator. Semoga pemerintah/Polisi menangani setiap kasus pelecehan terhadap anak dengan sangat bijaksana.

 

Jakarta, April 28, 2014

Mery DT

 

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s