JIS, Pelecehan Seksual Anak TK & FBI

JIS-1

Pertengahan April ini kita terhenyak dengan berita pelecehan seksual terhadap anak TK di sekolah elit Jakarta International School. Lebih terhenyak lagi karena pelakunya adalah petugas kebersihan / cleaning service, dua lelaki dan satu perempuan.

“KOK BISA???” begitu reaksi kaget kita terhadap peristiwa tersebut.

Bayangkan, JIS yang merupakan salah satu sekolah internasional tertua di Indonesia ini mempunyai pengamanan paling ketat di tiap pintu masuknya. Sampai-sampai orang tua murid pun konon kabarnya -menurut berita yang beredar – tidak diperbolehkan masuk ke dalam lingkungan sekolah. Petugas keamanan berbadan kekar yang lebih dari lima orang berjaga-jaga di setiap pintu untuk memeriksa mobil yang masuk dan mengusir setiap orang yang bukan guru, murid, karyawan sekolah atau tamu terdaftar seperti wartawan yang mencoba memasuki areal sekolah. Sepertinya sekolah itu mau mengatakan bahwa mereka bertanggung-jawab mensterilkan semua bahaya dari luar yang mengancam murid. Tapi ternyata momok menyeramkan yang dapat menghancurkan mental dan masa depan anak-anak itu bukan berasal dari luar, tapi ada di dalam bagunan itu sendiri! Momok itu seperti ular derik di dalam liangnya yang gelap, yang siap mematok anak-anak hingga melumpuhkan kekuatannya.

Demikian sejarah singkat sekolah ini; didirikan tahun 1951 oleh sekelompok ekspatriat yang saat itu umumnya bekerja di kantor perwakilan PBB yang baru dibuka di Jakarta.  Sekolah itu dimaksudkan untuk tempat menuntut ilmu anak-anak ekspatriat tersebut. Sekolah yang berlokasi di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, awalnya hanya untuk SD, SMP & SMA. Tapi tahun 1992 melebarkan sayapnya dengan membuka kelas taman kanak-kanak, yang ternyata, karena kasus ini, terungkap pula bahwa TK JIS ilegal karena tidak memiliki izin dari Kemendikbud RI. Hingga saat inipun siswa/siswi JIS mayoritas anak-anak ekspatriat, dan sebagian kecil anak-anak Indonesia.

Sekitar pertengahan bulan ini seorang wali murid TK (ibu korban) menunjukkan pada media massa, surat pemeriksaan dokter terhadap anaknya (AK) yang ternyata positif mengalami kekerasan seksual (sodomi). Orang tua korban tersebut akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan juga ke Kepolisian RI. Karena tindakan berani orang tua AK, kasus pelecehan seksual ini segera mendapat tanggapan yang luas hingga ke manca negara. Konon kabarnya pihak JIS sempat menawarkan “damai” pada orang tua korban dengan menawarkan  terapi trauma healing terhadap si Anak. Tetapi orang tua AK tidak mau berdamai, tapi melawan JIS dengan mempidanakan sekolah elit tersebut. Media-media internasional pun mengangkat kasus ini.

Yang membuat kasus ini lebih heboh lagi adalah karena ternyata JIS pernah memperkerjakan seorang pedofilia buronan FBI sebagai guru, yaitu William James Vahey. Vahey pernah mengajar di JIS selama 10 tahun, yakni tahun 1992-2002. Vahey mengajar mata pelajaran sejarah dunia, geografi, melatih basket dan memimpin field trip. Bulan Maret lalu Vahey di temukan bunuh diri di apartemennya setelah pembantunya melaporkannya ke polisi dengan membawa flashdisk milik Vahey yang berisi ribuan foto-foto anak-anak dari 10 negara tempatnya pernah mengajar termasuk JIS. Juga kabarnya, mantan wakil kepala sekolah TK JIS menjadi buronan FBI karena diduga adalah pelaku pelecehan seksual  juga. Hebatnya, satu kasus pelecehan seksual yang diangkat oleh seorang ibu pemberani, dapat menbongkar segunung bangkai yang selama ini ditutup rapat-rapat.

Setelah keberanian orang tua AK membawa kasus ini ke pihak yang berwajib, ada lagi seorang korban yang melapor ke KPAI dengan pengakuan mendapat perlakuan yang sama, dan juga oleh pelaku “berambut pirang”. Kejadian yang dialami anak korban kedua ini sudah lama, kini dia menjalani terapi trauma healing yang difasilitasi sekolah. Dengan kata lain, sekolah mengetahui pelecehan seksual ini tapi menutupinya, dan orang tua murid tidak berani melaporkan ke polisi. Bukan tidak mungkin akan muncul korban-korban lain yang selama ini tutup mulut karena malu ataupun takut.

Ditengah maraknya pemberitaan kasus ini, banyak juga yang mencibir dan nyinyir. Maksud mereka adalah, kenapa kasus di JIS disorot sedemikian rupa sedangkan kasus yang sama di tempat lain yang terjadi tiap hari tapi tidak diberi panggung sebesar itu? Termasuk perhatian yang berlebih dari kepolisian, kemendikbud, KPAI, keimigrasian, dan instansi lain-lain.

Iya benar juga. Hampir setiap hari ada kasus pelecehan seksual terhadap anak terjadi di negeri ini tapi tidak dapat sorot kamera televisi se-intens kasus AK.

Kenapa coba?

Karena sesungguhnya kita bangsa yang tidak peduli terhadap saudara sendiri. Hampir tiap hari televisi dan koran kita menayangkan perkosaan terhadap anak yg dilakukan oleh orang dewasa yang seharusnya menjadi pengayom anak-anak tersebut, seperti guru sekolah, guru agama, ayah kandung, ayah tiri, paman, kakek, tetangga, polisi, tentara, dan lain-lain. Kita seakan sudah kebal dengan berita-berita tersebut. Pemerintah dan kepolisian pun menanganinya dengan setengah hati. Orang tua si korban pun sering kali tidak peduli terhadap penderitaan anak-anak korban pelecehan tersebut. Petugas hukum pun jarang memberikan hukuman maksimal terhadap pelaku. Trus dengan entengnya kita berkata, “Ah, mentang-mentang anak bule langsung disorot. Kalo anak bangsa sendiri kita adem ayam saja pemberitaannya.”

Ya memang ada kealpaan kita sebagai bangsa, mengapa kasus JIS ini lebih sexy daripada kasus serupa lainnya. Mungkin karena mental kita masih mental BABU, inlander. Kita masih menganggap kasus yg dialami bule lebih berharga dari pada kasus yang dialami anak bangsa sendiri. Atau karena kasus sejenis yang kita konsumsi setiap hari sehingga membuat nurani kita sudah menganggap kejadian serupa laksana “budaya” dan kita mati rasa. Kemudian kita semua KAGET dan terbelalak karena anak bule juga ternyata bisa mengalami hal yang sama!!!

Tapi aku memandang kasus ini berbeda. Kasus ini menjadi besar karena peran orang tua AK yang dengan gagah berani membela kehormatan anaknya dengan cara menghilangkan rasa malunya dan mengangkat kasus ini setinggi-tingginya dan membeberkannya ke media massa, juga melaporkan sekolah elit yang sudah berumur nyaris enam dekade ini ke Kepolisian Republik Indonesia. Juga berencana menuntut ganti rugi dengan nilai yang tinggi. Nilai sebuah harga diri anak terkasih harus tinggi. Aku salut dan hormat kepada keberanian kedua orang tua AK. Semoga trauma dan mental AK segera pulih karena dia tahu orang tuanya membela dia dari penjahat yang telah menyakitinya.

Sekali lagi menurutku, kasus ini besar karena peran orang tua AK dalam membela kehormatan anak kesayangannya. Tidak semua orang tua korban mau melakukan hal yang dilakukan orang tua AK. Dan tidak banyak kasus, sekolah elit yang mentereng dan terkesan sombong seperti JIS ini yang menjadi terdakwa. Sehingga wajarlah kasus ini mendapat sorot kamera lebih banyak dan lebih luas.

Dalam dua minggu ini, tiap hari kita dberondong informasi tentang kasus ini. Teman-teman yang bergelut pada kasus yang sama tapi tidak dapat sorot kamera, jangan berkecil hati. Mari kita manfaat  MOMEN ini untuk membenahi banyak hal, misalnya;

  1. Pendidikan seksologi pada anak. Aku sering dengar orang tua yang kebingungan bagaimana mengajarkan seks pada anak-anaknya. Yang membuat kita bingung adalah karena kesalahan terjemahan “sex” yang kita pakai. Sex bila diterjemahkan ke bahasa indonesia adalah jenis kelamin, bukan kegiatan ngeseksnya, Bapak-Ibu!! Sex education dasar adalah pengenalan anak terhadap organ seksualnya.  Orang tua harus memberi pengertian pada anaknya bahwa orang lain tidak boleh menyentuh alat kelaminnya dan daerah pribadinya. Jadi, dasar sex education itu bukan kegiatan cara bikin anaknya ya!
  2. Mari kita dorong DPR untuk merevisi hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, minimal 20 tahun dan maksimal seumur hidup, karena ini adalah kejahatan sangat berat.
  3. Bagi para pendidik, jangan lupa luangkan waktu untuk mengedukasi orang tua murid dari kelompok kurang mampu / kurang berpendidikan supaya bisa menjaga anak-anaknya dari tindakan pelecehan seksual dari orang-orang disekitarnya.
  4. Kita sebagai masyarakat, mari membuka mata, jangan mati rasa lagi, kita bantu korban pelecehan seksual dengan cara memberi dukungan moral, dan ajari anak-anak kita supaya tidak mengejek/membully anak-anak yang menjadi korban pelecehan. Ajari anak-anak kita berempati terhadap temannya. Dan ajari mereka saling melindungi antar teman dari percobaan kekerasan seksual yang ingin dilakukan orang dewasa.

Aku juga sudah mengajari keponakanku (4 & 12 thn) supaya tidak menerima permen atau minuman dari orang yang tidak dia kenal. Juga ku kasi tahu supaya tidak mau diajak oleh orang dewasa (tetangga) masuk ke dalam rumah/kamarnya. “Kalo ada yang pegang titit atau pantat kamu, kamu teriak ya! Bilang ke dia bahwa kamu akan laporin dia ke Bapak.” Pesanku pada mereka.

Seharian ini aku cukup aktif bertwitter membahas tentang kasus JIS ini. Kemudian tadi ditengah pembicaraan ada yang menyamakan pedofil itu dengan kebiasaan homo. Aku sempat terhenyak. Ternyata masih banyak yang tidak tahu bedanya pedofilia dengan homoseksual. Dan aku lebih terhenyak lagi membaca berita di sini. Pada saat rapat dengan anggota DPR hari ini, Ketua KPAI, Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan “salah satu yang menyebabkan kekerasan seksual terjadi di sekolah elite itu karena tingginya permisifitas dan rendahnya nilai-nilai keagamaan. Di dalamnya, ada kebiasaan yang dimaknai kekerasan seksual pada anak.” Sungguh aku tidak paham maksud “kebiasaan yang dimaknai kekerasan seksual pada anak.” Kemudian lanjutnya, “Yang pertama adalah adegan pornografi di depan publik, seperti ciuman antar orang dewasa di tempat umum. Kita punya undang-undang pornografi maka itu adalah pidana. Hal lain, terjadinya homoseksual di lingkungan itu semakin memicu kekerasan seksual terhadap anak,”

Penjelasan ketua KPAI ini sungguh membingungkan, kemungkinan besar karena dia tidak paham apa yang dia ucapkan. “…terjadinya homoseksual di lingkungan itu semakin memicu kekerasan seksual terhadap anak” Apa coba maksudnya kalimat ini? Sejak kapan kasus kekerasan seksual di TK JIS ini jadi kasus homoseksual? Ini kasus pedofilia. Ya Tuhan….!!! Bagaimana ini? Ketua KPAI saja demikian rancu penjelasannya. Aku yakin dia tidak paham apa yang dia ucapkan itu. Malu dong sama jabatannya, Pak!

Bagi yang belum tahu, pedofilia itu adalah penayakit kelainan seksual dimana dia (orang dewasa) menyukai atau merasa nafsu seksualnya bangkit terhadap anak kecil. Sedangkan homoseksual adalah salah satu orientasi seksual yang menyukai sesama jenis.  Layaknya heteroseksual, hubungan homoseksual juga sama-sama orang dewasa.  Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada tanggal 17 Mei 1990 sudah menetapkan bahwa homoseksual dan bisekseksual bukan penyakit atau gangguan jiwa.  Jadi karena bukan penyakit maka tidak bisa diobati. Depkes RI pun telah meratifikasinya dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993).  Apapun orientasi seksualnya (Homoseksual, biseksual atau heteroseksual) dapat menjadi pedofilia. Jangan bebankan pedofila pada salah satu orientasi seksual saja. Kita sering membaca berita atau melihat berita di TV, lelaki dewasa mencabuli anak perempuan bahkan balita. Itu pedofilia juga! Jadi kasus di JIS itu tidak ada hubungannya dengan homoseksual, kenapa dihubung-hubungkan, Pak Ketua KPAI?

Demikianlah kasus pelecehan seksual terhadap anak di JIS ini bagai bola liar yang menyentil ke sana-sini. Lagi-lagi Ketua KPAI menghubungkan pedofilia dengan budaya barat. Betapa malunya saya membaca pernyataannya. Seakan dia tidak pernah mendengar kasus di desa-desa terpencil di mana seorang ayah menyetubuhi anak kandungnya sendiri. Apakah desa itu terdampak budaya barat? Ada lagi yang mengaitkan kasus JIS ini dengan JIL (jaringan Islam Liberal), dan Jokowi. Duh, semakin runyam.

Semoga kita dapat memetik hikmah dari kasus JIS ini. Mata dan otak kita jadi terbuka karena akhir-akhir ini selalu terpapar oleh informasi yang selama ini kita anggap tabu. Pesanku kepada orang tua; bentengi anak-anakmu, banyak predator berkeliaran di sekitar kita. Predator/pedofilia itu tidak mengenal strata sosial, tingkat pendidikan, agama, warga negara, orientasi seksual, dan lain-lain. Pedofil itu penyakit yang harus diobati oleh tenaga ahli. Karena Pedofil itu penyakit, maka dia bisa sembuh.

Demikian saya akhiri, semoga bermanfaat.

 

Jakarta, 25 April 2014

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Negeriku & Politik and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

19 Responses to JIS, Pelecehan Seksual Anak TK & FBI

  1. sari says:

    Nice! 😉

    Like

  2. jcm says:

    (1) pedofil itu masalah.

    (2) gay yg memerkosa bocah laki-laki itu juga masalah.

    untuk soal ke-2, kemungkinan sumber masalahnya adalah ia punya nafsu sama laki-laki, tapi sudah bosan dg pasangan. cari pacar sesama laki-laki juga susah. apalagi yg spesialis homo. akhirnya ia mencari yg paling gampang pelampiasannya: bocah laki-laki.

    caranya gampang: dikasih permen, dikasih kue, dibohongi, beres !

    *** nah, pedofilia itu bisa terjadi pada (1) dan (2).

    kalau angka kasus ke-2 meningkat, itu tentu saja ada kaitannya dengan kampanye homoseksual oleh sejumlah akademisi dan selebritis. seolah-olah nggak ada efek sampingnya. padahal? (tahu sendiri)

    korban2 para gay itu, nampaknya akan tertular. jika tak ada penangangan secara khusus, mereka akan menjadi gay pula; melakukan kekerasan pada bocah laki-laki jika nanti mereka dewasa.

    tentu saja ini berbahaya bagi perkembangan spesies manusia.

    Like

    • Mery DT says:

      Makasih sudah mampir di blog ini dan memberikan komen.

      Aku setuju Pedofil itu masalah atau penyakit, dan perlu ditangani dengan sangat-sangat serius.
      Orang yang memperkosa atau melakukan kekerasan seksual pada anak kecil itulah yang disebut pelaku PEDOFILIA, tapi mereka tidak hanya gay. Heteroseksual/straight juga banyak sekali yang mengidap pedofilia.
      Dari dulu sudah banyak terjadi kasus pedofilia baik yang dilakukan oleh orang yang berorientasi seksual heteroseks ataupun homoseks. Kita tidak bisa menuding pelaku pedofilia itu hanya kaum gay. Guru pria banyak memperkosa murid perempuannya yang masih dibawah umur atau ayah kandung/tiri banyak yang memperkosa anaknya. Mereka ini bukan gay. Kekerasan seksual adalah prilaku menyimpang, apalagi bila kekerasan seksual dilakukan pada anak kecil, itu kejahatan luar biasa. Sekali lagi saya katakan kekerasan seksual itu dilakukan oleh homoseksual, biseksual atau pun heteroseksual.

      Anda sepertinya hanya menyoroti gaya hidup beberapa gay yang menyimpang, padahal banyak sekali gay yang hidup normal. Mereka tidak melakukan kekerasan seksual pada anak-anak atau orang dewasa. Mereka mempunyai pasangan tunggal (tidak berganti-ganti pasangan) dan hidup bersama tahunan, belasan tahun bahkan ada puluhan tahun, seperti Annise Parker walikota Houston. Mereka hidup sama persis seperti pasangan heteroseksual, dengan mengasuh 3 anak adopsi.

      Perkembangan spesis manusia terancam bukan hanya karena prilaku tidak bertanggung jawab dari sebagian gay, tapi juga oleh sebagian heteroseksual. Suami yang suka jajan dgn banyak perempuan itu prilaku yang sangat buruk terhadap spesies manusia (trutama istri dan anak-anaknya). Sudah banyak ibu rumah tangga yang setia ternyata mengidap HIV/AIDS karena terjangkit dari suaminya karena gaya hidup suaminya yang menyimpang yaitu bertukar-tukar pasangan dengan banyak wanita bahkan PSK.

      Gaya hidup gay banyak tidak bertanggung jawab dengan berganti-ganti pasangan, betul, tapi tidak hanya gay. Gaya hidup lelaki atau perempuan straight pun banyak yang tidak bertanggung jawab. Ada beda yang sangat jelas antara GAYA HIDUP / LIFE STYLE dengan Orientasi seksual.

      Semoga berkenan dengan penjelasan saya

      Salam,
      Mery DT

      Like

      • jcm says:

        ok. orang2 straight yg pedofil memang ada.

        namun poin saya adalah: jumlah orang2 gay yg pedofil (predator bocah laki-laki), nampaknya akan semakin bertambah dg semakin gencarnya upaya legalisasi homoseksual oleh oknum akademisi dan selebritis.

        Like

        • Mery DT says:

          Hehehe… terlalu naif mengatakan legalitas homoseksual akan memperbanyak pedofil homoseksual. Legalitas itu adalah perjuangan kaum gay untk mendapatkan pengakuan negara untuk persamaan hak dalam pernikahan, bukan promosi life style. 🙂

          Kelompok gay juga sangat mengutuk pedofil, sama seperti kelompok heteroseksual.
          Emang sudah ada penelitian berapa persen gay yg bertambah jadi pedofil? atau juga berapa persen heteroseksual yang bertambah jadi pedofil.
          Tidak semua korban yang pernah disodomi saat kecil akan jadi gay dan pedofil. Kemungkinannya ada tapi tidak semua korban. Ada juga yang tidak pernah di sodomi waktu kecil tapi jadi pelaku pedofil.

          Aku cuman mau bilang, jangan timpakan kesalahan atau suatu kasus hanya pada sekelompok orang. Itu kurang bijak saja. 🙂

          Like

          • jcm says:

            penelitian macam itu belum ada. namun ada sedikit sampel yg paling aktual. belum bisa mewakili memang. tapi mungkin ini bisa jadi petunjuk, mengapa agama-agama besar melarang homoseksual. mungkin penyakit kejiwaan ini sangat menular.

            http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/27/2047049/Pelaku.Pelecehan.Siswa.JIS.Mengaku.Pernah.Jadi.Korban.WNA.Mirip.Buronan.FBI.

            Like

          • Mery DT says:

            Aku sudah baca ttg Zainal itu, dan kenyataan memang bila korban pedofil kemungkinan menjadi pedofil di masa yang akan datang bila tidak dilakukan terapi trauma healing. Seperti yg saya katakan sebelumnya, tidak semua korban otomatis jd pedofil.
            Hehehe… kalo dibawa ke urusan agama, ini akan menjadi debat kusir, mentok tembok. 🙂

            Like

          • jcm says:

            kalo dikaitkan dg agama mentok tembok?
            manusia kadang2 sering merasa lebih hebat, ya?

            kalo yg menjadi konsen Anda adalah kaum “minoritas” harus dibela hak-haknya — ini perlu dipecah lagi. minoritas yang bagaimana? apa dampaknya? banyak untungnya apa ruginya?

            pencuri dan pelanggar hukum pun (dari kalangan kleptomania), jika dibandingkan dg yg taat, adalah minoritas juga. apakah karena itu lalu hak-hak mereka untuk menyalurkan ‘bakatnya’ melanggar hukum, mencuri, dan merampok, lalu dilegalkan?

            dulu, homoseksual telah dipahami sebagai pelanggaran hukum oleh kaum mayoritas. jika tiba-tiba ada yg teriak-teriak ‘jadi homo itu alami, natural’ — apa jadinya negara ini?

            pelarangan thd sesuatu (dalam agama maupun non-agama) itu tidak serta mereta muncul. ada sebab-sebabnya. kita saja yg kurang paham dan tidak mau tahu.

            bahkan, meski kita sudah paham apa dampaknya saja, kadang kita ini sudah terlanjur melabelinya dg hal2 yg negatif: kuno, ketinggalan zaman, dsb.

            Like

          • Mery DT says:

            Hahaha.. Agama itu selalu benar. Tapi agama itu tidak cuma satu. Benar agama A tdk sama dgn benar agama B. Jd percuma membicarakannya. Yg penting imani saja kebenaran agama sendiri. Kalau di debatkanpun tidak akan ada ujungnya. Kleptomania sama seperti pedofil, penyakit yang tindakannya melanggar hukum. Yg dihukum itu tindakannya, bukan penyakitnya. Kleptomania yg tidak mencuri ya gak masalah. Penginap pedofil yang tidak melakukan kekerasan seksual ya gak perlu dihukum. yg jelas kleptomania dan pedofilia itu bisa diobati melalui terapi oleh ahlinya.

            Dulu banget, manusia yg kidal, orang yang menggunakan tangan kiri, jg diyakini oleh mayoritas orang bahwa mereka kemasukan roh jahat. Tapi sains mengatakan bahwa kidal itu natural, bukan krn roh jahat.
            Demikian juga homoseksual/biseksual/panseksual dll, dulu dianggap penyakit, tapi oleh sains, setelah melakukan penelitian genetika dan lain sebagainya akhirnya dinyatakan bukan penyakit, jadi tidak bisa diobati. Pemerintah RI juga sudah mengakui itu dari pernyataan Depkes RI. Lihat di artikel di atas.

            Sains memang sering tidak sejalan dengan agama. Terserah kita aja mau berdiri dimana. Dan aku berdiri di titik kemanusiaan. Manusia yang ingin bebas menjalankan keyakinannya, orientasi seksualnya, pekerjaaannya, dll, sepanjang tidak melanggar hukum negara yang berlaku. 🙂

            Like

          • jcm says:

            “Hahaha.. Agama itu selalu benar. Tapi agama itu tidak cuma satu. Benar agama A tdk sama dgn benar agama B. ”

            anda melebar ke luar konteks. kita fokus saja ke homoseksual, saya pengen tahu mana agama langit yg membolehkannya.

            dari panjang lebar penjelasan anda terkait sains, anda seolah-olah ingin bilang bahwa homoseksual itu fakta sains?

            kalo anda menyinggung (kelainan) pedofilia dan klepto itu bisa diobati, mengapa anda tidak melakukan hal serupa pada homo? sama-sama kelainan, bukan? apa nggak bisa diobati?

            “penyakit” itu untuk disembuhkan kalau masih memungkinan. atau dilokalisir, atau apapun caranya biar jangan sampai menyebar. bukan malah dibiarkan merajalela.

            penderita TBC itu dipisahkan dari pasien lain. ini bukan bentuk diskriminasi, tapi untuk mencegah agar penyakit itu tidak menular ke mana-mana.

            sains tidak sejalan dg agama ?

            jika Anda masih percaya Tuhan, maka agama itu yg bikin Tuhan. alam itu yg bikin juga Tuhan. logikanya, nggak mungkin keduanya bertentangan.

            kalau ada pertentangan ada 2 kemungkinan.

            1. umat salah memahami dalil-dalil agama.
            2. sains-nya mungkin belum sanggup menemukan reasoning. entah itu karena teknologi yg blm canggih, atau sebab lain.

            ***

            kalau Anda tidak lagi percaya Tuhan, surga, neraka, saya sangat memaklumi jika akhirnya Anda membolehkan perilaku homoseksual.

            dan saya menghargai kepercayaan Anda.

            Like

          • Mery DT says:

            Hahahaha… gada ujungnya nih. Bukan saya yg bilang homoseksual itu bukan penyakit, tapi WHO dan juga Depkes RI mengakuinya. Kalo anda ingin bantah, ya bantah saja ke mereka.

            Agama di bumi tdk hanya agama langit. Jadi kita cukupkan saja pembicaraan agama ini. Agama itu bukan untuk di debat tapi di yakini untuk diri sendiri dan dijalankan semoga kita menjadi pribadi yg lebih baik.

            Dalam memandang homoseksual kita memiliki pendapat yang sangat berbeda. Saya hargai pendapat anda yg meyakini homoseksual bisa disembuhkan. Tapi saya pun punya pendapat berbeda bahwa homoseksual itu bukan penyakit jadi tidak bisa disembuhkan.

            Deal? 🙂

            Like

          • jcm says:

            Anda bisa menilai, apakah larangan itu muncul dg sendirinya, atau karena ada penyebabnya. Jika ada agama yg kebetulan melarangan homo, dan kebetulan cocok dg apa kasus yg menimpa JIS — bisa jadi cuma kebetulan, atau yg lain.

            Anda bisa saja melarang praktik homo tanpa mengaitkannya dg agama manapun. Asal reasoningnya jelas. Bukankah seorang polisi bisa menahan orang yg ngebut di jalanan tanpa harus pakai ayat-ayat suci agama?

            BTW, kalau Depkes akhirnya mengakui, itu karena menterinya memang aneh. Saya masih ingat kampanye kondom ke mahasiswa dan pelajar.

            Like

  3. Lis says:

    Wah… salut tulisannya Mbak. Sedih juga baca cara berpikir Bapak Ketua KPAI! Banget! Prihatin! Semoga ada orang yang mau dan berani menyadarkan Bapak ini.

    Like

    • Mery DT says:

      Terima kasih sudah membaca dan mengapresiasi. Semoga Ketua KPAI menyadari kesalahannya. Beberapa hari lalu pernah liat di TV bahwa bapak Rikwanto (Humas Polri) pernah mengatakan bahwa heteroseksual dan homoseksual bisa jadi pedofilia. Semoga dia menonton itu dan dia tidak bebal. 🙂

      Like

  4. Pingback: Gay Berbahaya Bagi Perkembangan Spesies Manusia? | Apaja

  5. Tulisan bagus, salut juga untuk ortu korban yang berani bicara, mungkin sudah saatnya bagi kita semua agar berani bicara terhadap kejahatan seksual yang terjadi di sekeliling kita .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s