Miss Jinjing and Prejudice

Prejudice Sebuah tanggapan terhadap tulisan Miss Jinjing yang “terhormat.”

Sekitar siang, tanggal 8 April kemaren, setelah semua aktivitas rutin dan pekerjaan domestik selesai, aku membaca timeline twitter yang ternyata ada sekelompok akun membicarakan tulisan Miss Jinjing atau Amelia Masniari yang berjudul Target Market Baru: Gender ke-3 di Koran Sindo online. Tanpa menunggu lama, aku mengklik link tersebut. Gender ke-3. Aku mengernyitkan dahi membaca judulnya. Kulanjutkan membaca alinea pertama, langsung dahiku berkerut. WOW… homophobic detected.

Beberapa tahun lalu, aku pernah melihat Miss Jinjing di sebuah televise swasta sebagai narasumber yang menceritakan pertualangannya belanja-belanji barang-barang branded di kota-kota mode dunia. Karena kapasitasnya sebagai penikmat barang-barang mewah itu, kupikir, sesuai judulnya, dia akan membahas masalah pemasaran barang-barang branded tersebut, maka kuteruskan membacanya. Tapi ternyata apa yang kubayangkan berbeda dengan apa yang dia tulis di artikel yang panjangnya lebih dari 1000 kata itu. Kalau bisa kusarikan, isi artikel itu hanya PREJUDIS atau PRASANGKA BURUK terhadap satu golongan yang ada di masyarakat, yakni GAY.

Untunglah Masbro Hendri Yulius telah menuliskan tanggapannya dengan sangat cerdas dengan judul Dear Miss Jinjing.” Dua jempol buat dia karena sedikitpun dia tidak menyerang pribadi Miss Jinjing. Kemaren aku juga hendak membuat tulisan yang menanggapi kalimat per-kalimat tulisan Miss Jinjing tersebut, tapi setelah kupikir-pikir; untuk apa? Tulisan Masbro Hendri Yulius sudah sangat komprehensif.

Tapi kemudian, kupikir ada baiknya juga menuliskan dengan persepsi yang berbeda.

Tulisan adalah refleksi isi hati dan isi kepala seseorang. Melalui tulisan, kita dapat menilai penguasaan dan posisi seseorang terhadap suatu isu atau permasalahan. Sebenarnya, tulisan seperti tulisan Miss Jinjing ini sangat banyak beredar di dunia maya (blog atau pun media sosial). Hanya saja karena Miss Jinjing sedikit lebih dikenal di masyarakat sehingga mendapat tanggapan lebih meriah. Cara pandang Miss Jinjing terhadap gay adalah gambaran cara pandang sebagian (aku tidak tahu angka statistiknya) masyarakat Indonesia. Homophobic itu tidak memandang strata sosial ataupun pendidikan. Dia ada di segala lapisan masyarakat. Aku tidak tahu seberapa tinggi pendidikan formal Miss jinjing, tapi deretan gelar kesarjanaan tidak menjamin seseorang tidak homophobic.

Dalam hal penerimaan terhadap perbedaan khususnya homoseksual, bila kita tarik satu garis maka ada dua titik ekstrim pada masing-masing ujungnya. Ujung yang satu adalah titik intoleran dan yang satu lagi adalah titik toleran. Pada titik intoleran biasanya diisi oleh agamawan sedangkan titik toleran paling banyak diisi oleh kelompok seniman.  Artinya adalah, semakin seseorang beragama secara kontekstual / dogmatis, maka semakin tidak toleran dia terhadap perbedaan terutama homoseksual. IMO, beragama secara kontekstual/dogmatis sangat berbeda dengan beragama secara spiritual. Dan pada titik yang bersebrangan, semakin seseorang berjiwa seni maka semakin toleran mereka terhadap perbedaan, terutama homoseksual. Itulah sebabnya banyak kita lihat/baca berita tentang agamawan (Islam & Kristen) yang mendiskreditkan homoseksual, sedangkan musisi, artis, dan seniman lainnya mendukung persamaan hak bagi LGBT.  Dan ada kelompok di tengah-tengah, tidak mendukung dan tidak mengusili.  Intinya “asal lu gak ganggu gw, gw gak ganggu elu.”

Kembali ke Miss Jinjing, sesungguhnya dia bukan agamawan, tetapi kemungkinan doktrin agama sudah sedemikian membatu di benaknya, sehingga prasangka buruknya terhadap gay dilegitimasi dengan mengatasnamakan Tuhan. Miss Jinjing tidak sendiri. Banyak sekali orang Indonesia berpikiran seperti itu. Senang belanja-belanji ke luar negeri dan menyukai barang-barang bagus yang sangat mungkin hasil karya tangan-tangan kreatif kaum gay, tidak menjamin seseorang itu tidak homophobic. Miss Jinjing telah menegaskannya.

Aku sempat berhayal, sekiranya sebelum menulis artikel itu, Miss Jinjing meluangkan waktunya untuk mempelajari tentang gender, gay, “seksualitas yang normal”, preferensi, dan teminologi orientasi seksual lainnya, tentu dia tidak akan melepaskan tulisan yang kacau balau dan menyakiti perasaan sekelompok orang seperti itu ke publik. Dan aku juga heran, kenapa tulisan seperti itu bisa terbit/lolos di Koran Sindo? Seperti antara tidak ada penyaringan artikel yang masuk atau media itu juga homophobic? Entahlah.

Kenapa kukatakan tulisan itu kacau balau? Karena dia tidak bisa membedakan orientasi seksual dengan Gender Expression / Ekspresi gender. Bahkan hal dasar sekalipun, yakni perbedaan jenis kelamin (sex ) dan gender pun kelihatannya dia masih bingung. Baiklah, saya bahas secara singkat. Bila ingin mengetahui terminologi dan orientasi seksual lainnya dapat di lihat di sini.

Istilah Jenis Kelamin (sex), itu mengacu pada status organ biologis seseorang, penis untuk lelaki dan vagina untuk perempuan. Saat seorang anak lahir, yang dicatat adalah jenis kelaminnya berdasarkan organ yang terlihat jelas. Jenis kelamin berhubungan dengan atribut fisik seperti kromosom, prevalensi hormon, dan anatomi eksternal dan internal organ tersebut.  Sedangkan Gender merujuk pada karateristik perilaku, dan peran yang dibangun secara sosial, yang dikenal dengan istilah maskulin dan feminin. Peran ini mempengaruhi cara-cara orang bertindak, berinteraksi, dan menghayati jati dirinya sesuai dengan aturan gender yang berlaku di suatu negara/daerah. Misalnya; perempuan di Arab tidak bisa menyetir, sedangkan di Amerika bisa, dan banyak contoh lain.

Miss Jinjing menggunakan kata preferensi seksual. Aku tidak suka istilah itu, karena terkesan bahwa ketertarikan seksual itu adalah pilihan yang bisa diganti-ganti sekehendak hati, seperti memilih baju/tas/sepatu. Padahal ketertarikan seksual itu sudah ada sejak seseorang lahir. Berani tidaknya seseorang menjalani ketertarikan seksual yang berbeda, itu menjadi soal lain. Oleh sebab itu aku lebih suka memakai terminologi orientasi seksual. Aku telah banyak menulis artikel tentang orientasi seksual, misalnya berdasarkan Skala Kinsey dan lain-lain, silakan cari di kategori “Sexual Orientation” di blog ini.

Orientasi seksual atau Sexual Orientation adalah istilah yang menggambarkan ketertarikan seseorang secara seksual, fisik, romantisme dan emosional kepada jenis kelamin tertentu. Orientasi seksual itu secara garis besar dikenal sebagai straight (heteroseksual), lesbian, gay, biseksual, pansexual, polysexual dan a-seksual.  Jadi, tidak tepat bila kita katakan LGBT adalah orientasi sexual, karena LGBT adalah gerakan sosial.  Transgender (T yg ada di dalam LGBT) adalah kata sifat untuk orang yang memiliki jenis kelamin yang tidak sesuai dengan ekspresi gendernya.  Jadi transgender bukan orientasi seksual. Agar lebih mudah dimengerti contohnya adalah waria.  Waria adalah transgender perempuan (dari pria ke perempuan). Setiap orang transgender (laki atau perempuan) juga memiliki orientasi sexual seperti; straight (heteroseksual), lesbian, gay, biseksual, pansexual, polysexual atau a-seksual.  Itulah sebabnya ada pria yang merubah jenis kelaminnya menjadi wanita tapi dia tetap hidup bersama istrinya saat masih sebagai pria. Dia disebut transgender wanita dengan orientasi seksual lesbian.

Miss Jinjing banyak sekali menuliskan kata signature style.  Sepertinya istilah itu maksudnya adalah ekspresi gender, yaitu cara seseorang mengekspresikan gendernya atau style-nya. Dia banyak mengkeritik pria yang berdandan metroseksual dan Miss Jinjing menuduh mereka gay.  Menghakimi orientasi seksual seseorang dari caranya  berbusana memang agak kebablasan.  Padahal bisa saja seseorang berjenis kelamin lelaki tapi ekspresi gendernya perempuan atau sebaliknya seperti drag queen dan drag king tapi orientasi seksualnya straight.

Semoga juga pernah dengar istilah Genderqueer, yaitu orang yang diidentifikasi sebagai bukan laki-laki atau bukan perempuan. Genderqueer berada ditengah-tengah antara lelaki dan perempuan. Dan sekali lagi, itu hanya ekspresi gender, tidak menyiratkan orientasi seksualnya. Ekspresi gender itu tidak hanya dua warna; lelaki memakai warna biru dan perempuan memakai warna merah jambu. TIDAK. Diversitas orientasi seksual dan ekspresi gender itu sangat luas.

Miss Jinjing telah sukses membuat kotak warna jenis kelamin berdasarkan ekpresi berpakaian & bersikap seseorang. Sekiranya dunia ini hanya terdiri dari dua warna yang dia maksud, tentu dia tidak akan dapat menikmati tas dan sepatu dalam aneka warna dan model. Miss Jinjing sangat fasih menuliskan brand-brand tas dan sepatu dengan harga selangit, semoga dia tidak lupa mencari tahu siapa dan apa orientasi seksual orang-orang dibalik pembuatan karya seni bernilai mahal kegemarannya itu.

Satu hal lagi, Miss Jinjing terlalu gampang membuat penilaian tanpa melakukan riset sama sekali. Dalam dunia penulisan itu sangat buruk.  Melihat satu atau dua orang gay berlaku A kemudian menuduh semua gay berlaku A.  Generalisasi.  Itu tindakan yang sangat tidak bijaksana, (tidak sampai hati menyebutkan bodoh 😀 ). Aroma yang kuendus paling kuat dari tulisan Miss Jinjing itu adalah iri hati dan dengki terhadap sekelompok kecil gay yang level sosial atau kehidupannya lebih makmur dari Miss Jinjing. Padahal realitanya lebih banyak gay yang hidup secara sederhana bahkan ada yang berkekurangan.  Lucunya, Miss Jinjing hanya menyindir gay (homoseksual lelaki) tapi tidak lesbian (homoseksual perempuan). Entah kenapa dia mempunyai kepahitan terhadap kelompok gay ini. Semoga bukan karena hingga kini dia belum punya pasangan seperti yang dia akui sendiri.

Prasangka buruk adalah buah dari keengganan untuk mempelajari hal-hal yang belum diketahui tapi langsung menghakimi. Sedangkan sifat dengki akan mengeluarkan tutur dan laku yang terasa pahit. Kombinasi keduanya akan menghasilkan pribadi yang fatal.  Miss Jinjing sangat lancar mengkritik ekspresi gender seseorang kemudian dengan yakin menyatakan seseorang yang berdandan gaya A pasti orientasi seksualnya adalah gay. Padahal belum tentu orang yang berpenampilan sangat stylist itu gay atau orang yang sangat maskulin itu straight.  Miss jinjing, orientasi seksual seseorang itu ada di dalam dirinya, tidak selalu terpancar dalam cara berpakaian atau tingkah laku. Semoga besok-besok anda punya kesempatan bertemu dengan gay yang sangat maskulin atau lesbian yang sangat feminin, atau pria “ngondek” dan perempuan tomboy yang straight. Artikel tentang hal ini pernah kutulis di sini.

Warna itu tidak hanya sebatas biru dan pink, itulah sebabnya lambang orientasi sexual itu adalah pelangi, yang artinya, orientasi seksual itu beragam dan lambang itu tidak milik kelompok LGBT saja, tapi juga milik heteroseksual dan A-sexual (tidak punya ketertarikan seksual). Pelangi itu indah karena aneka warna ada di sana. Dan hidup damai dan saling menghargai di antara keragaman orientasi seksual yang berbeda akan menghasilkan kehidupan yang indah dan penuh warna seperti pelangi.

Demikian.  Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Prejudice.1

Jakarta, 12 April 2014

Mery DT

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Sexual Orientation and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Miss Jinjing and Prejudice

  1. bybyq says:

    I really love this article.
    Aku sampe sengaja pergi mampir ke artikel miss jinjing karena penasaran sehomophobic apa sih tulisannya?

    Setuju banget bahwa homophobia nggak kenal status sosial. Waktu aku baca artikelnya aku sempet heran bagaimana mungkin orang yang sudah berhasil melanglang buana dan sangat dekat dengan dunia fashion mengeluarkan statement seperti itu.

    wow…

    Thank you for the eye opening article, Merry. As always 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s