Kenapa Aku Memilih Jokowi Padahal Bukan Fans-nya?

Jokowi.R1Aku masih ingat sekitar akhir bulan Juni 2012, saat itu aku sedang jalan-jalan di Batam sambil twit(setengah)war dengan para pendukung Jokowi. Saat itu aku sangat tidak suka karena dia ikut-ikutan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI padahal masa tugasnya dalam priode ke 2 di Solo belum selesai. Kesewotanku saat itu persis seperti sewotnya orang-orang yg tidak suka Jokowi ikut Capres saat ini. Aku sering ngetwit tentang ketidak sukaanku terhadap Jokowi pada waktu itu. intinya kubilang, bagaimana dia bisa pegang komitmen kalo komitmenya pada rakyat Solo dia ingkari karena belum selesai menjabat? Nanti kalau jadi Gubernur DKI trus ada Pilpres dia akan ikut juga? Kalo memang hebat, jadikan daerahmu lebih hebat dari Jakarta, sehingga orang-orang tidak pindah ke Jakarta tapi ke daerahmu. Bagaimana kalau semua kepala daerah yang hebat tapi silau dengan kemilau jabatan di Jakarta? Apa kabar nanti daerah? Daerah akan tetap terpuruk, Jakarta makin berkilau dan semakin banyak orang bermigrasi ke Jakarta. Suatu saat Jakarta akan tidak mampu menanpung dan akhirnya ambles. Mengapa? Karena pemimpin daerah yang bagus meninggalkan daerah sehingga daerah semakin suram. Demikian kira-kira pemikiranku saat itu. tentu semua kutumpahkan di twitter.

Karena aku suka ngomel-ngomel tentang pencalonan Jokowi ini, sahabatku di dunia nyata pernah berkata, memang seperti itulah dunia politik. Kujawab ketika itu, “politik kok nggak berkomitmen.” Awalnya aku tidak terima, tapi lama-lama itu menjadi pembelajaran bagiku.

Saat itu ada 6 pasangan calon gubernur saat itu, yaitu: (1). Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli; (2). Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria; (3). Joko Widodo-Basuki T Purnama; (4). Hidayat Nurwahid-Didiek J Rachbini; (5). Faisal Batubara-Biem Benjamin; dan (6). Alex Noerdin-Nono Sampono.

Pada putaran pertama aku pilih Faisal Batubara-Biem Benjamin karena aku suka dengan program-program bang Faisal. Sayang sekali pasangan ini hanya mendapat 4,98 %.  Karena tidak ada yang mencapai suara 51% maka pasangan Foke-Nara dan pasangan Jokowi – Basuki masuk ke putaran ke-2. Saat putaran ke-2 ini terjadi dilema dalam diriku. Antara golput atau memilih. Setelah kupikirkan untung ruginya, akhirnya aku pergi juga ke TPS dan mencanteng nama Jokowi-Ahok. Saat itu aku tidak ingin Foke-Nara yang menang karena Foke-Nara terlalu merasa jumawa dan selalu mengolok-olok Ahok

Dugaanku ketika itu ternyata terjadi, setelah Jokowi terpilih jadi Gubernur, dia ikut bertarung di Pilpres. Tapi saat ini aku “woles” saja. Aku belajar bahwa politik itu selalu berhubungan erat dengan momen. Bagi yang bisa memanfaatkan momen dia yang akan berhasil. Kemerdekaan RI juga berhubungan erat dengan momen. Pahlawan kita mampu memanfaatkan momen yang demikian tipis saat Hirosima – Nagasaki di bom Amerika.

Setelah setahun lebih dipimpin Jokowi-Ahok, Jakarta memang tidak 100% lebih baik, bahkan ada yg lebih buruk seperti kemacetan dan banjir. Tapi ada juga yang menjadi lebih baik seperti PAD (Penerimaan Asli Daerah) DKI akhir 2012 ditetapkan 33,65 triliun, tetapi tahun 2013 PAD DKI dibukukan sebesar 69 Triliun, itu berarti ada kenaikan 100% lebih. Sementara belanja daerah 2013 yang direncanakan pada 2012 hanya terpakai 7,312 triliun dari target Rp 10,69 triliun. Berarti ada sisa 3 triliun lebih.

Kalau kita cermati angka di atas tentu menarik mengingat ketika gubernur sebelumnya PAD DKI kurang dari separuh PAD yang dapat dikumpulkan oleh Jokowi. Tahun sebelumnya (2012, ditetapkan oleh gubernur sebelumnya thn 2011, Foke) Pemprov DKI menargetkan PAD sebesar 20,52 triliun. Pemerintah mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 22,04 triliun. Surplus 1 Triliun lebih.

Berarti pada jaman gubernur sebelumnya, PAD DKI sangat kecil,  tapi kenapa jaman Jokowi dapat melebihi 200% dari jaman Gubernur sebelumnya? Ini menarik.  Apakah Jokowi yang jago ngumpulin pendapatan daerah dan tidak korupsi atau gubernur sebelumnya banyak bolong-bolongnya sehingga pendapatan kecil sekali? Dari situ aku melihat Jokowi jago ngumpulin duit dan belanjanya tidak sembarangan sehingga bisa berhemat. Value yang sedemikian bukankah sangat penting dalam kondisi Negara kita yang sedang dililit utang sedemikian besar?

Aku hanya berpikir, bila di DKI saja Jokowi bisa berhemat sedemikian besar, kebayangkan bila sekiranya dia menjadi Presiden dan mampu meningkatkan pendapatan nasional 200% dan mengurangi belanja yang tidak penting. Keluarga yang sehat keuangannya maka keluarga itu lebih gampang maju. Demikian juga Negara, bila pendapatan dan pengeluarannya sehat, aku pikir Indonesia juga bisa lebih baik. Dengan adanya kenaikan pendapatan nasional tentu dapat memperbaiki infrastruktur seluruh negeri yang sangat bobrok.

Itulah dasar pemikiranku kenapa aku setuju saja Jokowi ikut Pilpres. Jokowi pasti punya banyak kelemahan. Dia memang bukan tokoh yang ideal jadi calon Presiden RI. Tapi yang lain juga tidak. Diantara calon presiden yang ada, Jokowi yang terbaik menurutku. Terlepasdia tidak komitmen sebagai gubernur DKI. Baiklah, ada dosa Jokowi terhadap rakyat DKI Jakarta yaitu komitmennya sebagai Gubernur DKI. Tapi apakah nanti bila dia jadi Presiden dia akan meninggalkan Jakarta? Tentu tidak. Malah program-program Jakarta dapat lebih cepat berjalan karena sebagai Presiden dia bisa memerintahkan kepala-kepala Daerah sekitar DKI untuk bersinergi dengan Gubernur DKI. Sekarang mana bisa. Itu sebabnya banyak program DKI mandek karena tergantung dengan Kepala Daerah lain di sekitar Jakarta.

Banyak orang berkata Jokowi tidak kuat di sini atau di situ. Itulah fungsi para menteri dan staft ahli. Aku pernah membaca, pimpinan teratas hanya butuh 20-30% mengetahui masalah tehnis, selebihnya adalah managemen sehingga dia bisa mengkoordinasikan semua sumberdaya yang ada. Aku berani bilang TIDAK ADA calon presiden yang tahu segalanya dan SEMUA  capres punya cacat. Sekarang tergantung kita merasa cocok kesiapa.  Itu saja.  Aku tidak ingin membahas capres yang lain, prestasi dan dosa-dosa mereka sudah banyak yang bahas.

Aku bukan fans berat Jokowi dan tidak akan mengelu-elukan dia sebagai calon presiden paling sempurna. Aku hanya mencoba realistis dan memilih yang terbaik dari yang terburuk. Begitulah hidup bukan? Pilihan-pilihan kita tidak senantiasa sempurna. Aku tidak memilih Jokowi saat putaran pertama karena ada Faisal Basri. Kemudian aku memilih Jokowi saat dia melawan Foke dan aku tidak kecewa karena PAD DKI membaik, dan yang penting dia tidak korupsi dan dekat dengan rakyatnya. Dan aku akan memilih Jokowi di Pilpres yang akan datang. Bila sekiranya Jokowi tidak ikut pilpres, maka aku niatkan akan golput. Karena tidak ada capres yang pantas menurutku.

Demikian sikap politikku pada pilpres kali ini. Semoga yang terbaik yang akan muncul.

Jakarta, 31 Maret 2013

Mery DT

 

Note: Foto Jokowi itu sangat lucu dan aku tertawa tiap melihatnya. Disitulah letak sisi humanis Jokowi yang tidak Jaim. Dia bukan dewa. Dia manusia biasa.

 

Sumber Data:

  1. Inilah hasil rekap pilkada DKI Jakarta putaran 1 http://nasional.kontan.co.id/news/inilah-hasil-rekap-pilkada-dki-jakarta-putaran-1
  2. Jokowi Targetkan Pendapatan DKI Rp 100 Triliun Lebih http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/03/05/mj73l8-jokowi-targetkan-pendapatan-dki-rp-100-triliun-lebih

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh, Negeriku & Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s