Bagiamanakah Cinta Itu Seharusnya?

Relationship.r1

Kemaren aku sempat nguping dari tivi belakang (Ibuku yang lagi nonton tv) topik pembicaraan tentang cara mencintai dengan benar.  Isshhh, garing banget nggak sih?   Kata Soimah, “Kalo emang cinta ya bilang aja cinta, nggak usah janji kasi ini kasi itu.”  Aku tertawa mendengar ocehan lucu Soimah itu.  Ingat sesuatu soalnya.  Tapi beberapa lama kemudian aku memikirkannya, lalu merenungkannya, akhirnya kuputuskan untuk menuliskannya. *ah, kok jadi lebay gini?*  Demikian kira-kira menurutku;

Cinta itu seharusnya membuat ringan, bukan membebani.  Seorang teman pernah berkata padaku, “Kalau kamu pacaran atau menikah atas dasar cinta, seharusnya beban di pundakmu menjadi lebih ringan karena dipikul berdua.  Tapi bila menjadi lebih berat maka hubungan itu tidak sehat. Lebih baik segera diakhiri.”  Iya juga.  Coba dipikir, untuk apa punya pacar bila jadi membebani?  Beban itu bisa berbentuk banyak hal; pembatasan ekspresi diri, misalnya tidak boleh begini tidak boleh begitu; selalu minta perhatian lebih, masalah ekonomi jadi lebih berat, dll.  Idealnya berpasangan adalah supaya beban dipundak semakin ringan karena ada dua kepala yang memikirkannya.  Ada teman berbagi dan mencari jalan keluar dari masalah.

Cinta itu seharusnya seimbang.  Bila seimbang, maka tidak akan ada yang berat sebelah atau bertepuk sebelah tangan.  Dan tentu bukan cinta yang terpaksa.  Cinta yang seimbang akan berujung pada saling menghormati dan tidak akan melewati batas, dan akan selalu bertanya pada diri sendiri sebelum melakukan sesuatu yang dapat menyakiti hati pasangan; “Apa yang akan aku rasakan bila pasanganku melakukan hal yang sama?”  Bila ada niat berselingkuh, maka tanyakan pada diri sendiri apa yang engkau rasakan bila pasanganmu berselingkuh.  Cinta yang seimbang akan menghasilkan rasa saling menghormati.

Cinta itu seharusnya membuka diri dan jujur.  Aku teringat dengan seseorang yang ku kenal dari video-videonya, dan dia pasti tidak kenal aku. 😀  Namanya Eva Star.  Kalian bisa cek dari akun You Tube-nya “Sailorsthar.”  Di video “How we met” Eva bercerita tentang bagaimana dia bertemu dengan Lily, pacarnya saat ini.  Iya, mereka memang pasangan lesbian, dan dua-duanya cantik sekali.  Eva adalah seorang gadis remaja yang saat itu berusia 16 menjelang 17 tahun,  tinggal di Los Angeles, US.  Dia jatuh cinta pada kakak kelasnya, bernama Lily, yang berusia setahun lebih tua.  Eva sering melihat Lily di sekolah.  Setelah berkenalan via sosial media beberapa minggu kemudian Eva mengajak bertemu (nge-date) pas pada hari ulang tahunnya yang ke 17.  Kemudian Eva berkata “Tujuanku pada kencan pertama ini adalah untuk menceritakan tentang diriku yang sebenar-benarnya, tidak ada yang kututup-tutupi satu hal pun, supaya Lily kenal aku dan keluargaku secara utuh.  Dan aku juga mau tahu reaksi Lily dan mau tahu tentang dia dan keluarganya lebih banyak lagi.”

Kata-kata itu mungkin biasa saja bila yang mengucapkan orang dewasa, tetapi menjadi luar biasa di telingaku karena kalimat itu keluar dari mulut seorang gadis remaja yang biasanya masih kikuk.  Eva ini mengajarkan aku bahwa cinta itu seharusnya tidak takut membuka diri seterbuka mungkin supaya calon pasangan atau pasangan mengenal kita secara utuh dan tidak perlu berprasangka dikemudian hari.  Dengan catatan: yang diceritakan itu adalah sebenar-benarnya, bukan pencitraan.  Bukan cerita yang dibuat-buat untuk mengambil simpati, karena hal yang demikian akan ketahuan suatu saat nanti.  Dan benar, akhirnya Lily yang setahun lebih tua itu terpesona oleh kedewasaan dan kepribadian Eva dan dia percaya apa pun yang dikatakan Eva.  Karena seiring waktu, apapun yang dikatakan Eva itu memang demikianlah adanya.  Mendengarkan kisah cinta mereka yang cukup rumit untuk ukuran masyarakat Amerika terutama mereka tinggal di LA yang cukup terbuka pada kehidupan homoseksual.  Ternyata tidak semua keluarga di LA bisa menerima bahwa anaknya gay.  Ibunya senantiasa meng-grounded Eva karena dia lesbian.  Sehingga walaupun mereka satu sekolah, kadang berminggu-minggu baru bisa ketemu.  Akhir cerita, setelah lulus SMA, Lily bekerja di sebuah toko baju di mall.  Kebetulan karirnya bagus dan dia menjadi manager.  Tahun berikutnya Eva pun akhirnya lulus SMA dan mereka memutuskan menyewa flat dan tinggal bersama.  Kini sudah dua tahun mereka tinggal bersama dan hubungan mereka masih baik-baik saja.  Walau mereka sudah jarang membikin video, karena mereka sangat sibuk – Eva kuliah & bekerja -, tapi aku kadang-kadang mengecek tumblr mereka, dan selalu ada update terbaru foto mereka bersama.  Bahkan keluarga Eva, terutama ibunya, sekarang sangat menyukai Lily.  Hubungan yang berakhir indah karena Eva tidak takut membuka diri dan jujur pada pasangannya.

Cinta itu seharusnya sederhana.  Jadilah pribadi yang sederhana dihadapan pasanganmu.  Engkau bisa pasang standar tinggi diluar sana, tapi tetaplah sederhana pada pasangan.  Karena pada akhirnya kesederhanaan itu adalah hal yang sangat berharga.  Misalnya, untuk menarik perhatian pasangan, tidak perlu menjanjikan akan membelikan ini atau itu.  Apa adanya saja.  Jangan menjanjikan apa-apa, tapi cintai pasangan dengan tulus dengan cara yang terbaik.  Pemberian yang tidak dijanjikan sebelumnya akan menjadi kejutan yang manis bagi pasangan.  Sebaliknya janji yang tidak kunjung dilaksanakan akan berakhir pada “ketidak-percayaan” yang menjadi akar perpecahan.  Aku pernah baca kalimat seperti ini “A real man does not promise, he commits.  A true woman does not demand, she thanks.”  Bila salah satu dari dua pihak tersebut tidak mengikuti aturan tersebut maka akan terjadi ketidak-seimbangan.  Yang lelaki tidak perlu menjanjikan apa-apa supaya perempuan menjadi tertarik, karena perempuan yang tidak meminta itu akan menguji janji yang telah diucapkan si pria.  Bila janji yang diucapkan karena keinginan diri sendiri saja tidak bisa dipenuhi, apakabar dengan janji karena diminta?  Demikian juga perempuan tidak elok bila meminta karena hal tersebut bisa menjadi beban bagi pria.  Lagi pula perempuan yang suka meminta terkesan menjadi penuntut atau matre.  Dan sebaiknya selalu mengucapkan terima kasih atas apapun yang diberikan pasangan.  Atau dapat juga dibalik, perempuan pun tidak perlu berjanji apa-apa pada pasangan, lakukan saja apa yang terbaik.  Dan pria tidak perlu menuntut atau meminta-minta, dan ucapkan terima kasih bila pasangan memberi perhatian.

Demikian kira-kira dasar cinta pada pasangan yang kupikirkan ideal.  Mungkin masih banyak lagi kriteria lainnya, tapi yang empat di atas dapat menjadi dasar yang kuat.  Dan ada tiga unsur yang harus diperhatikan dalam membangun hubungan dengan pasangan yaitu komunikasi, respek dan rasa percaya“Without communication there is no relationship.  Without respect, there is no love.  Without trust, there is no reason to continue.”  Yang artinya: tanpa komunikasi maka tidak ada hubungan.  Tanpa rasa hormat, maka tidak ada cinta.  Tanpa rasa percaya maka tidak ada alasan untuk meneruskan (hubungan).

Semanis apa pun hubungan pasti ada masa-masa berantemnya.  Teori di atas bisa saja hanya menjadi teori bila sudah sampai pada sebuah perselisihan.  Aku punya dua aturan untuk diriku sendiri bila terjadi perselisihan, yaitu: (1) minta maaf, bila kita masih berharap hubungan itu berlanjut.  Salah atau benar itu urusan belakang, yang penting minta maaf dulu setelah terjadi perselisihan.  Biasanya, permintaan maaf akan membuat pasangan juga akan meminta maaf dan hubungan akan pulih lagi; (2) Tinggalkan..!!  Bila isu yang menjadi pertengkaran berputar dari itu ke itu saja, lebih baik ditinggalkan saja.  Sifat seseorang sangat sulit berubah dan bila tidak tahan dengan sifatnya, lebih baik tinggalkan.  Jangan pernah berharap dia akan berubah, itu kejadian yang sangat langka.

Kelihatannya sangat keras ya?  Tapi percayalah, pertengkaran yang masalahnya dari itu ke itu akan membuatmu capek.  Drama itu hanya enak ditonton di film atau dibaca di novel, tapi sangat capek menjalaninya.  Jangan habiskan hidupmu menjalani drama, engkau akan lelah dan hancur.  Seseorang  pernah berkata, “Tetaplah berlari, suatu saat akan ada yang berlari dengan kecepatan yang sama disisimu.  Kemungkinan dia adalah pasangan yang cocok untukmu.”

Demikian kira-kira hasil perenunganku yang tidak penting ini.  Tak perlu juga dipercaya dan jangan dijadiikan acuan.  Kalau kamu mempercayainya, ya itu derita kamu.  😀 Salam…

Jakarta, 12 Maret 2014

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Bagiamanakah Cinta Itu Seharusnya?

  1. Pingback: Mempunyai Pasangan Bisexual, Dilanjutkan atau Ditinggalkan? | Apaja

  2. Suci Oktari says:

    makasih kak artikelnya sangat membantu ^^

    Like

  3. woredirs says:

    Waaah mantab nih mba
    Bisa dijadikan acuan 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s