Agama dan Romantikanya

Cherry Picked Bible.R1

Agama adalah topik pembicaraan yang tidak ada matinya.  Terutama setelah ada internet dan media sosial, sehingga Agama semakin vulgar dibicarakan.  Ada yang bersyiar tentang indah/baiknya suatu agama, ada yang berdiskusi dari cara yang santun hingga saling maki mempertahankan pendapatnya.  Kemudian ada pula kelompok yang ingin me-redesign (mendesain ulang) agama sehingga sesuai dengan keinginannya.  Nah, yang terakhir inilah yang ingin kubahas.

Di setiap Agama, selalu ada umat yang tidak setuju dengan aturan/dogma agamanya sendiri.  Umat ini tidak ingin keluar dari agama tersebut, tapi dengan kegigihannya dia berusaha memaksakan supaya keinginannya dapat diakomodir.  Dan yang lebih lucu lagi adalah ada umat agama A yang ingin merubah aturan/dogma agama B.

Apakah yang dimaksud dengan agama?  Kalau jaman sekolah dulu saya diajarkan arti agama itu berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari dua kata, yaitu A dan gama. A artinya tidak, gama artinya kacau, sehingga bila digabung artinya tidak kacau.  Walaupun seiring waktu agama itu selalu kacau di dalam internalnya maupun externalnya.  Dalam bahasa Inggris, agama disebut religion, yang definisinya sangat banyak.  Tapi bila boleh saya sederhanakan definisinya, “religion/agama” adalah sebuah organisasi sistem kepercayaan, yang meliputi seremoni & aturan-aturan dalam penyembahan kepada Tuhan atau Dewa (satu atau banyak).

Di dalam setiap agama atau kepercayaan yang asli lokal maupun import, selalu ada aturan penyembahan, doa-doa yang dilafalkan, pantangan-pantangan yang harus dipatuhi umat dan juga pencapaian iman yang diinginkan.  Ada dogma agama yang mengajarkan akhlak dan akal budi supaya manusia menjadi lebih baik, dan ada aturan-aturan yang disertai larangan dan keharusan sehingga umat dapat mencapai level tertinggi dari kehidupan spiritual.

Begitu banyak agama di dunia ini, dan tidak ada satu agamapun yang sama persis.  Contohnya Kristen dan Islam yang mengakar ke Yahudi pun dalam dogma dan aturannya saling berbeda.  Kita tidak membicarakan mana yang paling benar di sini, hanya mau mengatakan bahwa demikian beragam aturan dan dogma dalam setiap agama.  Yang satu rumpun pun, dalam implementasi seremoni agamanya bisa berbeda, misalnya di dalam Kristen, yaitu  Katholik berbeda seremoninya dengan Protestan atau Pentakosta atau Orthodok.  Demikian juga di dalam Islam, dan agama-agama lainnya.

Dogma dan aturan Agama itu biasanya sudah baku dan rigid (kaku), sulit untuk merubahnya.  Dogma agama dari jaman dahulu kala, puluhan atau belasan abad yang lalu, tetap masih sama saja hingga saat ini.  Mungkin ada sedikit perubahan sesuai perkembangan jaman, tapi biasanya perubahan itu tidak menyentuh inti iman, hanya seremoni atau ataran yang tidak bertentangan dengan intisari iman.  Sementara cara berpikir manusia seringkali beberapa langkah di depan dari pada perubahan aturan agama tersebut sehingga dari sana sering ada ketidakpuasan dari umat dan ingin merubahnya, baik dengan cara halus maupun kasar.

Misalnya di dalam Alkitab (Perjanjian Lama) ada tertulis tidak diperkenankan cara hidup berpasangan dengan sejenis (homosexual).  Tapi umat Kristen yang homosexual memprotesnya dan menginginkan cara hidup homosexual diterima dalam Kristen.  Ya memang di USA umpamanya ada gereja untuk homosexual.  Tapi maksud saya disini, dengan adanya gereja itupun tidak akan menghapuskan ayat yang melarang cara hidup homosexual tersebut.  Tapi gereja apapun itu biasanya menerima gay sebagai umat tapi tidak membenarkan cara hidup berpasangan dengan sesama jenis.

Demikian juga di Islam umpamanya, Isyad Manji contohnya.  Aku sangat menghargai Miss Manji sebagai aktifis kemanusiaan.  Irsad manji dengan cara halus mengatakan ada ayat-ayat di Al-Quran yang harus di revisi.  Tapi sehalus apapun itu tetap membuat kaum fundamentalis agama tersebut marah karena ada yang mencoba mengutak-atik dogma agama.

Demikian juga di agama Yahudi, berlaku hal yang sama.  Saya belum pernah dengar apakah ada umat yang ingin merubah aturan di dalam agama Buddha, Hindu, Zoroaster, Kaharingan, Sunda Wiwitan dan lain sebagainya.

Setiap orang yang ingin merubah apa yang sudah baku pasti menghadapi perlawanan, baik secara halus maupun keras.  Banyak yang frustasi dengan aturan-aturan agama dan memilih tidak beragama lagi alias Agnostik (percaya pada Tuhan tapi tidak terlibat dalam seremoni keagamaan apapun).  Menurutku, Agnostik itu lebih terhormat.  Untuk apa menjadi bagian sebuah agama bila tidak setuju dengan aturan dalam agama tersebut?  Bila rindu dengan tradisinya, silakan diikuti sesekali, tapi tidak membuat kegaduhan dengan ide-ide merubah kitab suci agama tersebut.

Aku jadi teringat sebuah photo yang pernah beredar di twitter, isinya seperti ini.

Cherry Picked Bible – All verses Christians do not want to follow have been omitted.  Get yours today, so you can eat shellfish, get tattoos, control women, and as a bonus, we’ve added anti gay verses Jesus never said!  Terjemahanku: “Semua ayat-ayat yang tidak ingin diikuti oleh umat Kristen telah dihilangkan.  Dapatkan Alkitabmu hari ini!  Supaya sekarang kamu dapat makan kerang-kerangan, bertato, mengontrol wanita dan sebagai bonus kami tambahkan ayat-ayat anti gay yang tak pernah diucapkan Yesus.”

Aku tertawa membacanya.  Sepertinya ini hanya lelucon, tapi sangat mengena bagi orang-orang yang ingin merubah kitab suci sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.  Saya tidak mengatakan hanya untuk Alkitab-nya Kristen, ini bisa berlaku juga dengan kitab suci lainnya.

Ok, sekarang kita membicarakan bagaimana umat lain yg tidak setuju dengan ajaran agama orang lain.  Ini yang lebih seru dan memancing perdebatan panjang dan muter-muter.   Pernah suatu hari saya membaca tweet dari akun Katholikmenjawab yang kurang lebih mengatakan “Keselamatan itu hanya lewat Yesus Kristus.”  Kemudian tiba-tiba seorang Public Figure yang bukan Khatolik memprotesnya dengan mengatakan kira-kira seperti ini “trus kalo orang baik dari agama lain itu tidak selamat gitu?  Kejam amat..!”

Aku tertawa geli, tapi tidak menanggapi sih.  Itu kan masalah dogma agama A, kanapa dihubungkan dengan orang yang tidak beragama A?  Nggak nyambung.  Kalo kita bukan umat Agama A, tak usah hiraukan apa pun aturan Agama A tersebut.  Aku yang beragama Kristen, umpamanya, tidak akan memusingkan diri dengan aturan/dogma di Agama Islam, Buddha atau Hindu.  Untuk apa?  Aku kan tidak mengimaninya!  Apapun aturan di Negara Amerika Serikat, umpamanya, tidak akan berpengaruh bagiku yang warga Negara Indonesia ini, sepanjang aku tidak masuk ke Negara itu.  Tidak usah hiraukan aturan agama yang bukan agama kita.   Sesederhana itu.

Tapi ada juga yang lebih lucu sih.  Kaum misionaris Atheis.  Tidak semua Atheist itu misionaris tentunya.  Saya sebut misionaris karena mereka demikian gencarnya mengatakan bahwa orang Atheis itu orang yang berpikiran bebas merdeka dan terbuka, sedangkan orang yang masih beragama itu orang yang terkungkung dan tidak bisa berpikiran terbuka.  Agak lucu sik pemikiran tersebut, karena kenyataannya Atheis yang selalu mengatakan dirinya lebih terbuka dari orang beragama dengan menjelek-jelekkan agama yang ada, itu seperti katak dalam tempurung.  Sorry.

Dari jaman dahulu, banyak sekali ilmuwan keluaran gereja, banyak pemikir hebat itu orang yang beragama.  Jadi tidak ada hubungannya dengan menjadi Atheis orang langsung jadi pemikir dan hebat.  Kalau lingkar otaknya emang kecil, biar beragama atau tidak, maka lingkar otaknya tetap kecil.

Jadi dari penjabaran di atas, aku cuman mau mengatakan bahwa Agama itu sesuatu yang kaku dan dimiliki oleh banyak umat.  Sekali engkau ingin merubahnya walau 1 ayatpun, maka kamu akan berhadapan dengan umat.  Kalau tidak suka dengan sebuah agama, ya keluar aja dan bikin yang baru kalo mampu.  Juga aku mau katakan tidak semua Atheis itu berpikiran lebih terbuka dari orang yang beragama.  Dan tidak musti orang yang beragama itu hidupnya lebih bermoral dari yang Atheis.

Sekian dan terima komen….

Jakarta, 23 January 2014

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s