Review film I Can’t Think Straight

ICTS

Karena begitu sering aku melihat “I Can’t Think Straight” di Top Search blog ini sehingga kuputuskan untuk me-review-nya.  Memang sebelumnya aku pernah menulis artikel dengan judul film ini, tapi aku hanya mencuplik sedikit dialognya yg kuanggap cocok untuk artikel tersebut, disini.  Aku nonton film ini di awal tahun 2011.

Film I Can’t Think Straight ini dirilis tahun 2008 yang dibuat oleh pasangan Shamim Sarif (Palestina – Director & Screenplay writer) dan Hanan Kattan (Yahudi – Producer).  Sepertinya mereka membuat film ini dari latar belakang hubungan mereka.  FYI, Syamin Syarif dan Hanan Kattan adalah pasangan lesbian.  Tala diperankan dengan apik oleh Lisa Ray sedangkan Leyla diperankan oleh Sheetal Sheth.  Lisa dan Sheetal juga tetap berperan di film Shamin lainnya yaitu The World Unseen.  Akan kutuliskan reviewnya dilain waktu.

Btw, reviewku ini sangat vulgar yang artinya aku menceritakan storyline secara lengkap.  Jadi yang tidak ingin tau cerita sepenuhnya, jangan lanjutkan membaca.

Demikian storylinenya:

Film ini dibuka dengan kesibukan pada sebuah rumah / keluarga di mana 20 menit lagi akan berlangsung pesta pertunangan Tala dengan Hani.  Tala adalah anak tertua dari pasangan Omar & Reema, keluarga kelas atas di Amman, Jordania, nenek moyang mereka berasal dari Palestina.   Sedangkan Hani adalah seorang pemuda tampan berdarah Arab Palestina yang bekerja di pemerintahan Jordan untuk mengurusi hubungan bilateral dengan Israel.  Ini adalah pesta pertunangan ke 4 dengan lelaki ke-4 bagi Tala setelah 3x sebelumnya membatalkan sendiri pertunangannya.  Pesta pertunangan ini sangat meriah dan mewah yang diiringi musik Timur Tengah yang eksotik tapi busana mereka glamour ala barat.  Pesta pertunangan ini sukses.  Enam minggu lagi akan dilanjutkan dengan pesta pernikahan, juga di rumah orang tua Tala di Amman.

Setelah pesta pertunangan tersebut, Tala kembali ke London, tempat tinggalnya dan juga bisnisnya.  Suatu sore Ali – sahabat Tala, seorang Arab Palestina – mengunjungi Tala untuk mengucapkan selamat atas pertunangan Tala, dengan membawa pacar barunya, Leyla.  Leyla adalah seorang penulis pemula yang berdarah India.  Pada pertemuan ini Leyla merasa Tala menyerang kepercayaannya (Islam), tapi akhirnya Tala dapat menjelaskan maksudnya walaupun Leyla masih menyimpan rasa kurang suka terhadap Tala.  Pembicaraan yang menarik itu dapat dibaca di artikel : “I Can’t Think Straight (Indonesia VS. Palestina & Israel)” ,

Dilain sore, Ali kembali mengajak Leyla bermain tenis bersama Tala dan seorang teman lelaki.  Dalam pertemuan kedua ini hubungan Tala dan Leyla menjadi semakin baik.  Saat istirahat, Tala mengundang Ali dan Leyla untuk menontonnya bertanding polo.  Tapi Ali tidak bisa karena di hari yang sama dia bermain rugby sedangkan Leyla ada acara bersama keluarganya.  Ali berharap Leyla menemaninya bermain rugby.  Tapi ternyata Leyla memutuskan pergi ke lapangan Polo untuk menonton Tala.  Alasan Layla pada orang tuanya adalah menemani Ali bermain rugby.  Dan akhirnya kebohongan Layla terungkap karena di saat yang sama Ali menelpon ke rumah mencari Layla.

Pertemuan Tala & Layla yang kedua berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya termasuk saat mereka menghabiskan tiga hari di Oxford; tempat yang indah dengan gedung-gedung tua yang sangat menyenangkan.  Kedekatan mereka berujung di ranjang. *maafkan bahasaku yang sangat lampu merah*  Setelah itu Leyla menanyakan keseriusan hubungan mereka, tapi Tala tidak bisa menjanjikan apa-apa karena dia takut pada keluarganya dan masyarakat Jordan yang tidak akan menerima pasangan gay.  Tala tidak yakin bisa menjalani hidup bersama pasangan sejenis.

Sepulang dari Oxford, Reema, ibunda Tala sempat memergoki Tala dan Layla berciuman di ruang tamu.  Reema menjadi marah, dan melampiaskan kemarahannya dengan memaksa Layla makan bersama sepaya Layla melihat kemesraan Hani dan Layla di meja makan dan mereka membahas surat undangan perkawinan.

Sementara Leyla patah hati di London, Tala terbang lagi ke Amman untuk melaksanakan pernikahannya bersama Hani.  Semua sudah tersusun dengan rapi untuk pernikahan anak seorang bangsawan kaya.  Tapi sehari sebelum pernikahan dilaksanakan, Tala kembali membatalkan pernikahannya, dengan alasan bahwa dia tidak merasa yakin bisa bahagia dengan Hani.

Akhirnya Tala kembali ke London.  Leyla sudah coming out (memberitahukan bahwa dirinya gay) pada orang tuanya dan memutuskan hubungan dengan Ali.  Layla selalu tidak mengangkat telpon Tala sehingga Leyla tidak tahu bahwa Tala tidak jadi menikah.  Akhirnya Tala hanya berbicara dengan Yasmin (adik Leyla).  Kemudian  Yasmin menceritakan hubungan Layla dan Tala pada Ali, kemudian mereka berdua mengatur pertemuan antara Leyla dan Tala.  Film ini ditutup dengan happy ending.   Ibunda Leyla pun akhirnya dapat menerima bahwa anak gadisnya lesbian.

Film ini sangat menarik bagiku, tidak hanya karena ceritanya yang ringan tapi semua detail karakter dan cinematography-nya.  Hal-hal kecil atau gerakan kecil yang ditangkap mata DoP nya itu keren sekali.  Salut buat Aseem Bajaj sang DoP.  Disitulah kekuatan film ini menurutku.  Screenplaynya juga menarik dengan adanya karakter-karakter seperti Rani si pembantu rumah tangga yang tampak sangat loyal pada majikannya tapi senantiasa berusaha membuat Reema meminum teh yang sudah dia ludahi.  Sepanjang film dia berusaha dan menjelang akhir film akhirnya Reema meminum gelas yang diberikan Rani.  Setelah itu kita melihat Rani menari senang di tempat agak gelap merayakan keberhasilannya.

Semua karakter seperti memiliki kenaifan dan paradoknya sendiri-sendiri.  Misalnya ibunda Layla, dia sangat membanggakan budaya leluhurnya India dan selalu menasehati anak-anak gadisnya untuk menjunjung tinggi budaya dan kuliner India.  Tapi giliran Yasmin mengatakan akan berbackpacker ke India untuk melihat tanah leluhur, ibunya melarang keras dan mengatakan nanti kamu diperkosa di sana. Demikian juga karakter Sam, suami Lamia adik Tala.  Dia terlihat sangat bersimpati terhadap pengungsi Palestina tapi tak pernah mau mengunjungi pengungsi.  Hidupnya glamor dan selalu berpakaian yang bagus dan mahal.

Karakter-karakter lain pun menarik seperti adik-adik Tala: Lamia & Zina.  Karakter bapak (bapak Leyla dan bapak Tala) adalah karakter baik dan bijaksana yang mau menerima keadaan anaknya apa adanya, sedangkan karakter ibu (ibu Leyla dan Tala) agak menjengkelkan.  Tapi semua karakter dapat diramu dengan baik.  Aku bilang sih, Shamim sangat cerdik mengolah karakter dan dialog.  Tidak “over explanation” dan mengandung humor yang cerdas.  Musik dan gambar yang bagus membuat film ini enak di tonton.  Ringan tapi bernas.

Bagi yang faham masalah di Timur Tengah khususnya Pelestina – Israel, film ini menjadi sangat menarik karena sangat kental dengan unsur-unsur kedua Negara tersebut.  Kental dengan isu politik dan sosialnya.  Karaketer-karakternya juga dibuat mewakili semua yang berhubungan dengan keadaan di kedua Negara tersebut.  Walaupun di IMDB film ini hanya mendapat ranking 6,3 aku memberikan poin 8,0.  Good job, Miss. Shamim Syarif!

Jakarta, 21 November 2013

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Movie Review and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Review film I Can’t Think Straight

  1. Zoey says:

    Ada buku novel dalam bahasa indonesianya nggak? aku sudah cari kemana2 but ngga ada…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s