Bagian 4 Teaser Novel Mariage Blanc

Wine 05

Supaya ada keseruannya, aku kasi satu bagian lagi deh. Supaya lebih penasaran gitu .. baiklah, selamat membaca…!

======

KINAN MERASA HIDUPNYA telah berubah seratus delapan puluh derajat sejak bertemu Lara.  Acara melukis Lara menjadi tonggak bagi hubungan mereka.  Seperti janjinya, hari Selasa Lara datang ke studio Kinan untuk di lukis.  Kala itu sekitar jam sepuluh pagi.  Lara turun dari mobilnya masih mengenakan lingerie satin berwarna merah maroon yang ditutupi Jaket kulit.  Kakinya yang jenjang dan mulus dia biarkan tanpa dibungkus apa-apa.  Lingerie itu hanya menutup setengah pahanya.  Kinan sudah menceritakan situasi rumahnya bahwa hanya dia sendiri yang tinggal di sana, sehingga Lara merasa yakin tidak akan ada yang terganggu dengan penampilannya.  Kinan terpana tapi senang saat melihat Lara muncul dengan pakaian sesexy itu.

“Waaooooowww… Kamu nggak bilang kalo rumah kamu sekeren ini!!” kata Lara sambil berputar-putar memperhatikan detail dan langi-langit ruangan.  Jika Lara terkesima dengan bangunan rumah Kinan, maka Kinan tersihir dengan setiap gerakan Lara, bak ballerina di depannya.  Kaki jenjang Lara yang mulus tidak bisa diabaikan begitu saja.

“Kamu sendirian di rumah sebesar ini?” tanya Lara sambil membelai pajangan ukiran Jepara di sudut ruangan.

“Iya.  Tapi ada sih Bibik dan Mamang yang bantu masak dan bersih-bersih.  Mereka suami istri.” Kata Kinan menjelas-kan tapi tatapannya tak lepas dari Lara.

“Trus orang tua kamu nggak pernah ke sini?” Lara berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainya sambil mengamati semua pernak-pernik yang ada.  Rumah Kinan memang seperti gallery tempat memajang benda-benda seni.

“Mereka kadang-kadang saja datang berkunjung, kalo aku lama tidak pulang.”

Kinan tetap mengawasi semua gerak-gerik Lara seperti terkena kutuk sehingga dia tidak bisa memalingkan pandangan walau sedetik.  Lara sepertinya tahu dan menikmati diperhatikan seperti itu.

“Hmm.. studio kamu mana?” Lara seperti tidak sabar.

“Ada di sebelah.  Tapi sebaiknya kita sarapan dulu ya!  Nanti kamu kelaparan loh.”

“Emang lama ya?  Aku belum pernah jadi model lukisan.”

“Lumayan lama, bisa berjam-jam… makanya kita sarapan dulu ya!” Kinan mengajak Lara ke meja makan di ruang semi terbuka di belakang rumah.  Di ujung ruang semi terbuka itu ada satu set sofa berbentuk L yang diletakkan menghadap taman di teras belakang.

“Ampuuunn… indah sekali!!  Jadi betah deh lama-lama di sini.” Kata Lara dengan mata bersinar indah.  Dia berjalan ke arah taman.

“Tinggallah di sini sesukamu.” kata Kinan.  Kemudian dia membuka tudung saji, ada nasi uduk dan lauknya.  Sebelum-nya Kinan sudah pesan supaya Mamang membelikan nasi uduk kesukaannya.

“Benar aku bisa tinggal di sini?” Lara mendekati meja makan dan menarik kursi di sebelah Kinan.

Kinan mengangguk, “Iya. Ada kamar tamu di sebelah sana.” Kata Kinan sambil menunujuk ke salah satu ruangan.

“Asyiik..!” kata Lara.

“Kamu mau kopi atau teh atau susu?” tawar Kinan.

“Pagi gini enakan teh aja.  Biar aku bikin sendiri deh.” Lara mengambil sebuah kantong green tea, kemudian mencelup-kannya pada gelas yang sudah berisi air panas.

“Cobain deh nasi uduk ini.  Enak banget.” kata Kinan sambil menyodorkan piring.

“Tadi sebenarnya aku sudah sarapan roti.”

“Iya, tapi ini nasi uduk enak.  Cobain deh!” Kinan berkeras.

Lara tidak enak hati menolak tawaran Kinan, kemudian menyendok sedikit ke piringnya.

“Aku tahu kamu takut gemuk.”

Lara tersenyum sambil mengunyah nasi uduknya, “Emang enak ya..!”

Kinan mengangkat alisnya, “Tambah lagi dong!”

“Ya, kamukan tahu, ini asset buat kerjaanku.” Kata Lara sambil menunjukkan badan dengan ke dua tangannya.

“Nanti kita olah raga kalo kamu kebanyakan makan.  Ada beberapa alat di ruang gym.” Kali ini Kinan yang mengedip-kan matanya.

Lara tertawa senang.

# Ʊ #

SETELAH SARAPAN KELAR, Kinan mengajak Lara ke studionya yang luas dan rapi, sebagian berdinding kaca bening dengan jendela besar yang dibuka lebar sehingga udara segar leluasa keluar masuk.  Gemerisik air dari taman sebelah memberi kesan seperti sedang berada di pedesaan.

“Aku pikir studio pelukis itu brantakan.  Ini rapih jali.” kata Lara setelah mengamati sekeliling studio.  Kemudian dia membaringkan dirinya di sofa yang tampak nyaman.

“Oh, ya?”  Kinan tersenyum senang mendapat pujian itu. “Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan.”

“Apa tuh?” Lara bangun dan duduk di sofa.

Kinan mendekati kanvas yang tertutup kertas putih.  kemudian dia menyibakkan kertas putih itu, “Taaarrraaaaa….”

“Waaaooooowww….” Lara berdiri mendekati lukisan itu, “Kapan kamu lukis ini?”

“Malam setelah pertemuan kita yang pertama.”

“Bagus banget!”

“Kamu suka?”

Lara mengangangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali sambil senyum lebar.

“Kamu boleh bawa pulang.”

“Beneeeerr?”

“Iya…”

Lara mendekati Kinan kemudian memeluknya erat bebe-rapa saat.  Kinan menyingkirkan rambut Lara yang menutupi wajahnya.  Mereka bersitatap sekian detik, kemudian Lara mencium lembut bibir Kinan.  Kinan memejamkan matanya sambil menikmati lembut dan hangat bibir Lara.

“Thank you!” kata Lara setelahnya.

Kinan mengangguk dan senyumnya tidak kunjung hilang dari wajahnya, “Nanti aku frame dulu biar kamu bisa langsung pajang di apartemenmu.”

Kinan berjalan ke sudut raungan kemudian menyetel music klasik dengan volume sedang.  Kemudian dia memper-siapkan cat, palet dan kuasnya.

“Posenya bagaimana?” tanya Lara yang sambil sibuk mencari posisi nyaman di sofa.

“Terserah.  Gimana enaknya kamu aja.” jawab Kinan santai.

Lara sudah membuka jaketnya.  Kini hanya lingerie tanpa bra dengan kedua kaki jenjangnya terjulur di sofa.  Jantung Kinan berdetak lebih cepat.

Naked atau nggak?”

“Terserah kamu!” katanya dengan suara bergetar.

“Ah, dari tadi terserah kamu mulu!”

Kinan senyum sambil memejamkan matanya.  Kemudian dia berbalik menghadap Lara, “Kelihatannya aku nggak akan konsen kalo kamu naked.”

Lara tertawa terbahak-bakak, kemudian katanya, “Ok deh, aku begini saja.” kata Lara sambil merapihkan lingerienya, separuh buah dadanya terbuka, “Begini saja?”

“Bagus.” Kata Kinan sambil memainkan kuas di tangannya.

“Sebelum mulai, sini dulu deh!” kata Lara lagi.

Kinan mendekati Lara yang berbaring di sofa.  Lara memberi kode supaya Kinan mendekatkan wajahnya.  Lara mengelus lembut pipi Kinan yang putih dengan pungung jari tangannya, kemudian mengusap lembut bibir Kinan dengan jempolnya.  Kinan memejamkan mata menikmati sentuhan Lara.

“I think, I’m in love… with you, babe!

Kinan membuka mata dan menatap Lara yang juga sedang menatapnya, “Me too..”  Kemudian Kinan menunduk dan mencium Lara dengan lembut.

“Di sini tidak aman, ke kamar aja yuk!” kata Kinan.

Tanpa berpikir dua kali Kinan menarik tangan Lara dan bergegas menuju kamarnya, meninggalkan kanvas yang masih bersih ditemani music klasik.

# Ʊ #

Jakarta, 17 November 2013

Mery DT

@zevanya

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s