Bagian 3 Teaser Novel Mariage Blanc

wine

Ini adalah last teaser untuk Novel Mariage Blanc.  Semoga suka ya teman-teman…

======

Di Indonesia bahkan di Jakarta yang sudah metropolis pun, mayoritas penduduknya belum bisa menerima cara hidup gay.  Kaum beragama yang moderat seringkali berkata, tidak masalah menjadi gay asal jangan menjalankan hubungan gay.  Ah, menyedihkan sekali menjadi gay bukan?  Diakui setengah-setengah.  Bagi kalangan yang konservatif lebih keras lagi.  Banyak yang percaya bahwa gay itu adalah penyakit, sehingga bila ada anggota keluarga yang gay, maka dengan sekuat tenaga mereka akan menyembuhkannya dengan cara membawa ke psikiater atau pun rohaniawan.

Ada yang beranggapan gay adalah penyakit jiwa atau penyakit menular.  Padahal dunia kedokteran modern telah membuktikan bahwa gay bukan karena penayakit.  Karena bukan penyakit maka tidak dapat di sembuhkan.  Mengubah gay menjadi straight sama sulitnya dengan mengubah straight menjadi gay.  Tapi masih banyak orang yang belum bisa menerima ini.  Acaman jadi penghuni neraka jahanam bagi pencinta sesama jenis selalu mengiang-ngiang di benak setiap orang, baik para gay maupun keluarganya.  Dogma itulah yang membuat orang tua ingin mengubah anaknya yang gay jadi straight, dan kaum gay sendiri pun sering frustasi karena tidak bisa menerima dirinya.  Malu dan takut didiskriminasi menjadi momok yang mengerikan.

Kekurangtahuan menjadi sok tahu dari beberapa orang menyebabkan ada golongan yang sangat membenci kaum gay.  Mereka ini yang sering di sebut dengan homophobic.  Mereka ini ada dimana-mana, baik negara maju maupun di negara terbelakang.  Mereka tidak segan-segan melancarkan serangan, baik fisik maupun verbal dengan kata-kata kasar.  Kadang dengan membuka diri pada umum sebagai gay, berarti mengundang para homophobic untuk menyerangnya.  Itulah sebabnya di Amerika Serikat ada aturan DADT (don’t ask don’t tell).  Jangan bertanya dan jangan memberitahu.  Jangan bertanya orientasi seksual orang lain dan jangan memberitahu kalau ditanya orang, demikian kira-kira maksudnya.  Awalnya aturan ini diberlakukan pada militer untuk menghindari perbuatan tidak menyenangkan terhadap kaum gay.  Tapi DADT pun dipakai umum untuk menghindari homophobic.

Hal itu yang menyebabkan banyak gay, baik pria apalagi wanita, tidak berani jujur atau membuka diri terhadap keluarga dan masyarakat.  Kaum gay lebih merasa aman membuka diri dikomunitasnya. Kondisi inilah yang menyebabkan Kinan sulit mendapatkan pasangan padahal sudah setahun lebih tinggal di Jakarta sejak balik dari Paris.  Dia tidak pernah bertemu dengan perempuan gay.  Yang sering dia temui adalah pria-pria yang beberapa kali berusaha menarik perhatiannya.  Kinan yakin bahwa di Jakarta pun sebenarnya banyak perempuan seperti dirinya, tapi tidak berani membuka diri.  Mereka lebih memilih jalan aman, menikah dengan pria, walaupun itu bukan itu kehidupan yang mereka impikan.  Mereka hanya mengindari stigma, karena itu terlalu menyakitkan.

Karena telah setahun lebih Kinan tak kunjung bertemu seseorang yang bisa mengisi hatinya, pernah terlintas dalam benaknya untuk kembali ke Paris.  Tapi dia tahu orang tuanya pasti tidak mengizinkan.  Kinan terjebak dalam pergumulan batin antara pengabdian pada orang tua dan pemenuhan kebutuhan jiwanya.  Dilema.

Hingga pada suatu sore, Kinan sedang duduk sendirian di café di sebuah mall.  Segelas kopi expresso menemaninya membaca novel berbahasa Prancis.  Buku itu mengingatkan-nya pada tempat-tempat yang dulu pernah dia kunjungi.  Masa-masa yang ingin dia ulang kembali.

Saat sedang asyik membaca, seorang perempuan muda menghampirinya untuk meminjam korek api.  Kinan melirik perempuan itu sekilas dan mempersilakannya.  Dia kembali fokus pada novelnya.  Perempuan muda itu menyulut rokoknya kemudian mengucapkan terima kasih.  Kinan hanya mengangguk tanpa melihatnya.  Perempuan muda itu kem-bali ke tempat duduknya semula yang ada di sebelah Kinan.  Sekitar sepuluh menit kemudian perempuan itu datang lagi dengan tujuan yang sama, meminjam korek api.  Kinan kembali mempersilakannya, dan dia tetap fokus pada bukunya.  Perempuan muda itu seperti melaksanakan rutinitas, menyulut rokoknya, mengucapkan terima kasih dan kembali ke tempat duduknya.  Tapi matanya tidak lepas memperhatikan setiap gerak gerik Kinan.  Sesekali Kinan menghirup kopinya dan menyalakan rokoknya tapi matanya tidak lepas dari buku di tangannya.

Untuk ketiga kalinya si perempuan muda itu mengusiknya dengan permintaan yang sama, meminjam korek.  Kinan merasa ada sesuatu yang tidak beres.  Kali ini dia menutup bukunya, kemudian menatap gadis pengganggu itu yang ternyata juga sedang menatapnya dengan sebuah senyuman yang teramat manis.  Kinan terpesona.  Kinan mengambil korek di meja, kemudian menyalakannya pada rokok gadis itu.  Gadis berambut keriwil-keriwil itu menghisap rokoknya kemudian menghembuskan asapnya. “Terima kasih.” keluar dari bibir tipisnya diikuti senyum manis yang menghiasi wajahnya yang eksotik.

Kinan mengangukkan kepala dengan senyum termanis yang bisa dia berikan dan menatap gadis itu.  Beberapa saat mereka saling bersitatap.

“Baca buku apa?  Serius amat dari tadi.” gadis itu tetap berdiri di sana.

Kinan menunjukkan cover bukunya tanpa berkata apa-apa.  Sepertinya dia tersihir hingga kehilangan kata-kata dan hanya bisa menatap gadis jangkung yang dalam sekejap telah menyihirnya.

“Boleh gabung di sini?” tanya gadis itu lagi.

“Bo.. boleh..” Kinan menjadi gugup.

Gadis itu tersenyum lalu mengambil tas dan minumannya dari meja sebelah, kemudian kembali ke meja Kinan.  Setelah duduk, dia mengulurkan tangannya, “Lara.” Katanya masih dengan senyum yang membuat jantung Kinan bergemuruh dan hatinya bergetar.  Dia tahu bahwa dia telah hidup lagi.

Kinan meletakkan bukunya karena tiba-tiba pesona buku itu kalah jauh dibanding gadis di depannya.  Gadis dengan postur tinggi dan langsing, kulitnya coklat bersih dengan rambut keriting kecil-kecil panjang berwarna kecoklatan.  Gadis ini mengingatkan Kinan pada model-model peranakan kulit putih dan kulit hitam.  Eksotik.

“Kamu model?” tanya Kinan segera.  Dia tidak bisa menahan keingintahuannya.

Gadis itu tertawa.  Tampak gigi putih yang tersusun rapi dengan sebuah lesung pipit di pipi kirinya, “Apakah jelas terlihat?”

Kinan tersenyum sambil menganguk-angguk, “Mau jadi model lukisanku?”

Wajah Lara tampak terkejut tapi senang, “Kamu pelukis?”

Kinan mengangguk dengan senyum yang tidak bisa pergi dari wajahnya.

“Mau, mau…” sahut Lara, sambil mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, “Sudah lama banget pengen dilukis.  Kebetulan bertemu dengan pelukis.  Namanya rezeki nggak akan lari ke mana!”  Lara tertawa.

Kinan memperhatikan Lara yang sengaja menyalakan rokok tidak menggunakan koreknya yang tergeletak bebas di tengah meja.  Wajahnya pasti menyiratkan keheranan.

“Iya, aku memang punya korek kok.” Lara tertawa lepas saat melihat roman wajah Kinan yang tersenyum masam karena merasa dikerjain. “Kata artikel di sebuah majalah, meminjam korek adalah salah satu cara untuk berkenalan.” Lara mengedipkan mata kirinya, “Tapi kamu hebat.  Baru memperhatikan aku setelah yang ketiga.”

Kinan menggeleng-gelengkan kepala tapi dengan senyum tersungging.  Dikerjain tapi menyenangkan.  Kinan takjub melihat keceriaan yang Lara bawa dalam setiap ucapan dan gerakannya.  Kinan tidak bisa lepas memperhatikan bibir Lara yang tipis sexy dipoles lipstick berwarna merah muda.  “Dua tahun.” gumamnya dalam hati.  Jantungnya bergemuruh saat hatinya mengucapkan dua kata itu.

Tanpa terasa mereka masih duduk di sana hingga pukul sepuluh malam.  Makanan dan minuman silih berganti mampir di meja.  Senyum dan tawa tidak pernah berhenti menghiasi wajah mereka.

“Jadi kamu mau ke studioku selasa depan?” tanya Kinan memastikan kedatangan Lara saat mereka akan berpisah.

“Iya aku mau.  Mau banget.  Week end ini aku ada kerjaan di Surabaya.  Paling senin baru balik ke sini.”

“Ok.  Sukses di Surabaya ya!”

“Makasih.  May I have a hug?” Lara kembali mengedipkan mata kirinya.

Kinan tersenyum kemudian membuka tangannya untuk memeluk Lara.  Mereka berpelukan lama, sepertinya masing-masing enggan untuk melepaskan.  Kemudian mereka berpisah  Lara ke parkiran sementara Kinan ke lobby dan menyerahkan tiket valetnya pada petugas.

Kinan senyum-senyum saat mengendarai mobilnya.  Tak menyangka malam ini adalah malam yang dihadiahkan cupid padanya.  Padahal tadi siang saat bangun tidur perasaannya sangat tidak menentu.  Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, tapi tidak tahu apa.  Dia tidak dapat melanjutkan lukisannya, juga tidak bisa menulis apa-apa.  Kebiasaan Kinan adalah bila sedang tidak melukis dia menulis di blognya tentang berbagai topik yang sedang dia pikirkan atau rasakan.

Tadi siang, demi menenangkan perasaan, dia menyibuk-kan diri membersihkan taman belakang rumah.  Sekeliling rumah dan tanah kosong di belakang yang cukup untuk membuat kolam renang dikelilingi pagar beton tinggi.  Itu ide ayahnya.  Katanya demi keamanan.  Untuk memperindah lahan di belakang rumah yang hanya ditumbuhi sebuah pohon kelapa dan mangga di ujung lahan, Kinan menyewa jasa pembuat taman sehingga lahan kosong itu kini berubah jadi taman yang indah yang dilengkapi dengan kolam ikan coy dengan contur yang cantik.  Ada relif di tembok dan air mancur di tengah taman.  Aneka tanaman yang meng-hasilkan bunga melengkapi tamannya.

Walaupun Kinan pencinta dan pekerja seni, tapi dia tidak mau melakukan sesuatu yang bukan keahliannya.  Seperti membuat taman ini.  Dia menyewa jasa professional untuk merancang dan mengerjakan hingga perawatan taman sehingga tamannya yg sudah setahun itu tampak semakin indah.  Taman itu menjadi tempat terapi bagi jiwanya yang sering gundah.  Dia akan menghabiskan waktunya di sana sambil membersihkan dedaunan kering atau membersihkan kolam dari dedaunan yang jatuh dan memberi makan ikan.

Tadi malam sebenarnya Kinan ada jadwal meeting di sebuah resto di mal itu dengan penyelenggara pameran lukisan.  Untuk merubah suasana hatinya, Kinan pergi ke mal itu sore kemudian mencari café yang mempunyai tempat terbuka sehingga dia bisa menikmati kopinya sambil merokok dan membaca.  Malang tak dapat dikejar, untung tak dapat diraih, dan nasib berkata lain.  Pada tempat inilah dia bertemu mahluk manis yang selama ini dia dambakan.  Kinan segera membatalkan dinner meeting-nya dan tetap duduk di café itu bersama Lara.

Berkali-kali Kinan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.  Dia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dia alamai.  Siapa yang bisa membaca petanda?  Takdir selalu bekerja tanpa pola yang jelas.  Saat memasuki pekarangan rumah, Kinan melihat ponselnya.  Tergerak hatinya untuk menelpon, tapi dibatalkan.  Tapi saat dia sudah di dalam kamar, terdengar ponselnya berbunyi.  Dia bergegas lari dari toilet dan menggapai ponselnya.  Dari Lara.

Hi there…” katanya dengan nada gembira yang tidak bisa disembunyikan.

“Hi… Kamu sudah sampai?”

“Sudah.  Kamu?”

“Baru sampai.  Tapi aku sudah kangen kamu.” suara Lara terdengar didesahkan.

Jantung Kinan seperti dipacu, “Sama.  Aku juga.”

“Besok kita ketemu?”

“Bukannya kamu mau ke Surabaya?”

“Itu lusa.  Besok ada meeting jam 3 dengan agensi. Paling jam 5 sudah selesai.  Setelah itu aku kosong.”

“Boleh.  Di mana?”

“Grand Indo aja.”

Great. Can’t wait to see you again, cantik!” Kinan kaget mendengar dirinya mengucapkan kata “cantik.”

Terdengar tawa senang Lara. “Yup, Have a great sleep, babe!” kata Lara menutup pembicaraan.

Kinan terpana.  Dua tahun ini dia merasa sulit sekali mencari pasangan, seakan kota besar ini hanya berpenghuni perempuan heteroseksual.  Namun tiba-tiba sesosok mahluk manis muncul di depannya dengan sangat terbuka tanpa malu-malu.  ‘Tapi… apakah kami berdiri di kapal yang sama?  Bagaimana bila dia hanya ingin berteman?  Tapi kalau sekedar berteman, kenapa dia sedemikian agresif?  Kenapa dia menyapaku ‘babe”?’  Kinan tidak bisa tidur pikirannya masih dipenuhi dengan mahluh cantik itu.  Ada do’a yang dia panjatkan dan mulai menabur harap pada gadis itu.  Kinan seperti menemukan oase sejuk setelah bertahun menyusuri gurun yang panas dan kering.

Sepanjang malam Kinan hanya bolak balik di tempat tidur.  Dia ingin malam segera berganti pagi.  Karena tidak tahan dengan kegelisahannya, Kinan pergi ke studio dan memasang kanvas baru.  Kinan menorehkan kuasnya dengan sapuan-sapuan yang cepat, terkadang ditekan keras, terkadang diusap lembut.  Dia seperti digerakkan oleh kekuatan magis.  Tangannya bergerak ke sana-sinii tanpa bisa dia kontrol.

Setelah bunyi azan terdengar dari mesjid di kampung sebelah, sebuah lukisan gadis berambut kriwil-kriwil telah menjelma di kanvasnya.  Gadis itu sedang menyalakan rokok dengan sedikit memiringkan kepalanya dan rambutnya jatuh ke arah kanan.  Kinan menatap karyanya.  Walau kelelahan, tapi kepuasan terpancar di wajahnya.  Baju, tangan dan sedikit wajahnya berlepotan cat.  Tapi dia tidak perduli.  Dia merebahkan tubuhnya di sofa dan menikmati lukisan itu beberapa lama hingga akhirnya dia tertidur pulas di sofa dalam studionya dan bermimpi bertemu dengan Lara.

# Ʊ #

Jakarta, 16 November 2013

Mery DT

@zevanya

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s