Novel “Mariage Blanc” BAB. 1 bag. 2 Teaser

Wine 02

Salam, para pembaca yang kece, aku posting kelanjutan (bagian 2) dari bab 1 kemaren. Enjoy reading..!

=====

Semua teman tahu bahwa Kinan adalah pelukis terbaik di sekolah.  Jadi hadiah lukisan dari Kinan menjadi istimewa bagi setiap orang.  “Aku akan bikin pigura dan menggantungnya di kamarku.” Katanya ketika itu.  Mungkin bagi Amy hadiah itu diberikan karena kepindahannya, tapi dia tidak pernah tahu seberapa istimewa dia bagi Kinan.  Dia tidak pernah tahu bahwa itu adalah goresan tangan dan jelmaan rasa cinta seseorang yang selama ini merindukannya dari sudut kelas. Setelah hari itu tidak ada lagi kabar dari Amy.  Kinan pun mengubur kuncup cintanya dalam-dalam.

Saat masuk kelas dua, Kinan berteman dengan Aryo dan langsung akrab.  Aryo yang periang segera mampu mengusir kekalutan hatinya.  Keceriaan Aryo menular pun.  Sifat pemalu Kinan mulai berkurang sedikit demi sedikit.  Dia mulai berdandan mengikuti anak perempuan lain, walaupun tidak berlebihan.  Kemudian anak-anak lelaki mulai meliriknya.  Ada sensasi yang mengairahkan saat mengetahui anak cowok mulai memperebutkannya.  Demi ketenangan hidupnya Kinan menjatuhkan pilihan pada Roy.  Ketika itu sudah hendak naik ke kelas tiga.

Tanda tanya dalam hati Kinan semakin berujung pada kesimpulan.  Dia tidak pernah mengharapkan melakukan sesuatu hal romantis dengan Roy seperti saat menghayalkan Amy.  Dia gelisah, tapi takut mengatakan pada siapapun.  Hingga akhirnya dia pergi jauh ke Paris.

Pada saat kuliah di Paris, semester pertama dia dekat dengan temah kuliahnya, pemuda Prancis yang tampan.  Pemuda itu sungguh sexy kata orang-orang.  Kinan pun mengakui itu.  Tapi tetap dia tidak memiliki greget apa-apa pada pemuda itu.  Kegelisahannya berujung pada keinginan untuk menguji perasaan dan tanda tanyanya.  Betapa kecewanya dia ketika berciuman dengan lelaki sexy itu dan dia tidak merasakan getaran apa pun.  Juga saat mereka melakukan hubungan intim, dia tidak bisa menikmatinya.  Hanya sekali itu saja dan cukup!  Sejak itu dia selalu menolak melakukannya lagi, hingga akhirnya hubungan mereka merenggang kemudian berpisah tanpa ada rasa kehilangan dan penyesalan.

Suatu sore Kinan berjalan-jalan di sebuah museum.  Tanpa sadar dia lama sekali memperhatikan seorang gadis yang sangat serius mengamati setiap benda seni yang di pajang.  Saat gadis itu menoleh padanya, Kinan langsung memberikan senyum yang paling manis.  Gadis itu membalasnya.  Kemudian mereka berbincang mengenai objek yang sedang diperhatikan gadis dilanjuti dengan perkenalan.  Kecintaan yang sama terhadap seni menarik keduanya larut dalam setiap topik yang dibahas, seperti sastra, lukisan, patung dan para seniman.  Tidak hanya sampai di situ, mereka bertukar nomor telpon dan alamat dan merencanakan pertemuan selanjutnya.

Beberapa hari kemudian Carol, demikian nama gadis yang berasal dari Jerman itu, mengunjungi Kinan di kampus.  Di hari lain Kinan yang mengunjungi Carol  di kampusnya.  Atau mereka janjian di kedai kopi yang biasa mereka jadikan tempat pertemuan.  Perlahan Kinan merasakan getaran setiap berdekatan dengan dengan gadis pirang dan semampai itu.  Juga diserang rasa kangen bila seminggu tidak bertemu.  Ternyata dia tidak perlu terlalu lama memendam rasa karena malu, karena Carol lebih dulu mengungkapkan perasaannya.  Perasaan dan hasratnya pada Carol adalah konfirmasi yang jelas bahwa dia lebih menyukai perempuan dari pada pria.  Karena mereka tinggal di negeri yang bebas dan jauh dari keluarga, Kinan tidak perlu menutupi kehidupan pribadinya pada orang disekitarnya.  Mereka tidak sungkan bergandeng-an tangan di tempat umum.  Tidak juga ada yang mengusik mereka.

Carol adalah gadis pertama yang membawanya pada kehidupan yang penuh warna.  Dia adalah cinta pertama yang bersambut.  Setelah mengenalnya kurang lebih tiga bulan, Kinan mengajak Carol untuk tinggal bersamanya.  Carol juga pernah mengajak Kinan liburan ke kampung halamannya di sebuah kota menengah tapi sangat nyaman dan bersih.  Betapa cemburunya Kinan melihat keterbukaan orang tua Carol.  Carol bercerita proses coming out-nya sangat gampang.  Saat remaja dia cukup mengatakan pada orang tuanya dia menyukai perempuan teman sekolahnya.  Tidak ada drama karena orang tuanya tidak mempersoalkan orientasi seksual anaknya.  Demikian juga adik dan kakak Carol.  Saat Kinan berada di tengah keluarga Carol, Kinan merasa sangat diterima.  Hingga kini pun dia masih suka terkenang dengan keluarga Carol yang ramah.

Ternyata kebersamaan mereka hanya bertahan dua tahun.  Kinan mendapati Carol berselingkuh dengan gadis lain.  Kemudian mereka berpisah dan Kinan patah hati.  Dalam luka hatinya, Kinan menghabiskan banyak waktunya untuk melukis.  Dan ironisnya saat patah hati itu dia menghasilkan karya-karya yang luar biasa, sehingga profesornya memberi nilai yang bagus padanya.  Patah hati dan derita karena cinta adalah energi yang luar biasa bagi para seniman untuk menghasilkan karya seni yang indah.  Ironis memang.

Pengalaman buruk atau baik akan mengasah kualitas manusia disegala bidang, termasuk percintaan.  Setelah luka hatinya sembuh, Kinan menjelma menjadi perempuan dewasa.  Dia pun mampu mengakui pada dirinya sendiri bahwa ketika itu dia terlalu posesif pada Carol.  Karena sedemikian besar cintanya, dia tidak sadar telah mengekang kebebasan Carol.  Kinan sering cemburu melihat Carol bersama teman-teman perempuannya dan dia meminta Carol mengurangi berteman dengan mereka.  Hasilnya, Carol malah meninggalkannya.  Dari sana Kinan belajar untuk tidak menggengam cinta terlalu erat karena akan menyakiti orang yang dicintai dan diri sendiri.

Tahun berikutnya Kinan bertemu dengan gadis lain.  Dia telah belajar banyak dari kegagalannya bersama Carol sehingga saat dengan pasangan yang selanjutnya dia lebih santai dan lebih menikmati tanpa pengekangan.  Ketika dia harus berpisah lagi dengan gadis kedua karena ingin menikah dengan lelaki pun, dia bisa melepaskannya dengan ringan.  Kinan belajar bahwa mencintai itu harus dengan sepenuh hati, tapi bila saatnya tiba untuk melepaskan dia juga harus rela dengan setulus hati.  Dia berprinsip, bila memang tidak cocok dangan yang ini, berarti masih ada di luar sana yang lebih cocok.  Prinsip itu yang membuat dia lebih ringan menjalani hidup.  Dia mulai tertular dengan cara berpikir gadis-gadis Prancis yang mandiri yang telah siap menghadapi perpisahan saat memulai sebuah hubungan.  Kebahagiaan itu tidak abadi, grafiknya naik turun, sehingga bila sedang bahagia, nikmati saja, bila sedang bersedih, lepaskan.

Kinan cukup banyak mengenal gadis saat tinggal di Prancis, tapi Carol masih tetap membekas dalam memorinya.  Mereka pernah bertemu lagi saat keduanya sudah punya pasangan, dan merekapun dapat menjadi teman yang saling menghormati.

Ketika Kinan memutuskan kembali ke Indonesia, dia memang sedang tidak punya pacar sehingga lebih mudah baginya meninggalkan negeri yang penuh kenangan itu.  Penuh kenangan karena dia pernah menjelajahi desa-desanya saat bersama Carol, bersama Julliete, Alex, dan juga Ameli, dan beberapa nama yang hanya berumur singkat tanpa ada kepahitan karena masing-masing tidak mematok ekpektasi terhadap hubungan mereka.  Kinan telah belajar dan menjadi sikap hidupnya bahwa tidak ada yang abdi, bersyukur saat bahagia, introspeksi saat berduka.  Dia pernah ditinggalkan dan juga pernah meninggalkan.  Dan itu semua biasa saja.

Dan sekarang saatnya dia harus pulang kampung.

= Ʊ =

Jakarta, 14 November 2013

Mery DT

@zevanya

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s