Teaser “Mariage Blanc” BAB. 1 Bagian 1

Wine 04

Hi pembaca yang budiman & budiwati,

Aku minta maaf karena harus menghapus teaser yang kemaren.  Tiba-tiba saja siang tadi aku merasa perlu merubah plot sehingga bagian yang kemaren sempat ku posting adalah bab pertengahan, karena kemaren aku bikin plot flashback.   Tapi kupikir merubah plotnya akan lebih baik supaya kejutannya dapat.   Bagi yang belum baca yang kemarin berarti tidak ada masalah.

“Berdasarkan statistic wordpress, visitor blog ini lumayan banyak yang singgah untuk mencari informasi tentang LGBT.  Senang bisa berbagi informasi dengan kalian yang tidak takut untuk mempelajari sesuatu yang baru ataupun mungkin terlarang bagi sebagian orang.  Dan untuk hiburan aku akan share teaser novelku yang terbaru yang berjudul “Mariage Blanc.”  Novel ini bercerita tentang gay dan pernikahannya.  Karena ini teaser tentu tidak akan saya posting seluruh ceritanya. Mungkin hanya bab 1 dan 2 saja.  Bila sekiranya penasaran, mudahan dalam bulan ini dapat di pesan di www.nulisbuku.com atau @nulisbuku , karena aku akan publish di sana.  Mulai hari ini hingga 4 hari ke depan aku akan posting sepotong-sepotong.

Here we go…”

MELUKIS ADALAH DUNIA Kinan sejak kecil.  Menurut ibunya, bakat itu dia peroleh dari kakek, ayah dari ibunya.  Ketika itu, kakaknya berprofesi sebagai pelukis di pinggir jalan. Sayangnya Kinan tidak pernah mengenal sang kakek karena beliau sudah meninggal ketika ibunya masih remaja 16 tahun.  Sejak kecil bakat melukis Kinan sudah terlihat.  Buku tulisnya penuh dengan gambar-gambar yang hanya menggunakan pensil.  Ketika libur sehabis ujian akhir SD sebelum masuk SMP, pamannya memasukkan Kinan ke sanggar melukis.  Tujuan Pamanny ketika itu adalah untuk mengalihkan pikiran Kinan dari musibah berat yang sedang dialami keluarganya.  Paling tidak Kinan mempunyai kesibukan yang positif.  Ternyata kegiatan itu telah merubah semua jalan hidup Kinan.

Kinan adalah pengagum seniman lukis Perancis seperti Camille Corot, Jean Baptiste Siméon Chardin, Karl Briullov dan lain-lain.  Demi memenuhi hasrat dan rasa takjubnya, Kinan memberanikan diri hidup seorang diri di negara yang terkenal dengan para seniman lukis yang beraliran realis itu.  Sehingga setelah lulus SMA, dia meneruskan pendidikannya ke negeri nan romantis itu.  Karena kecintaannya pada negeri anggur itu, setelah menyelesaikan studi seni rupanya, Kinan tidak berniat kembali ke Jakarta.  Dia betah menjelajah semua sudut negeri Napoleon itu.

Kinan juga sempat beberapa kali mengadakan pameran bersama teman-teman kuliahnya di taman-taman kota dan di gedung-gedung pameran.  Ada rasa senang yang tak dapat dilukiskan ketika pengunjung mengagumi atau membeli lukisannya.  Walau ketika itu harganya tidak seberapa, tapi bisa menjadi penyemangatnya untuk berkarya lebih baik lagi.

Ketika masa perkuliaan itu, Kinan memang selalu pulang ke Indonesia setiap liburan, tapi dia tidak betah di Jakarta.   Setelah empat atau lima hari, dia langsung menyiapkan ranselnya dan pergi berkelana mengelelilingi Nusantara.  Favoritnya adalah pedalaman Kalimantan, Toraja dan Papua.  Setelah liburan berakhir dia kembali lagi ke Paris.  Demikian dilakukannya selama bertahun-tahun.

Setelah delapan tahun mengecap manis dan getirnya kehidupan di Prancis, akhirnya dengan berat hati Kinan harus balik ke Jakarta.  Kepulangannya tentu karena permintaan orang tua yang semakin intens dan sering dibumbui tangisan menghiba dari sang ibu.  Permintaan mereka sudah tidak bisa abaikan Kinan lagi.  Mereka sudah semakin tua, dan Kinan anak tunggal.  Tentu saja kepulangannya ini disertai beberapa syarat, seperti tidak mau tinggal di Jakarta.  Berarti tidak mau tinggal bersama orang tuanya di Menteng.  Alasannya tidak tahan dengan kemacetan sehingga Kinan ingin tinggal di Bali atau Lombok.

Tapi orang tuanya tidak ingin Kinan tinggal jauh dari mereka sehingga ayahnya menawarkan jalan tengah, yaitu membangun rumah dan studio Kinan di daerah Cibubur, sebuah daerah permukiman di pinggiran Jakarta sebelah selatan.  Kebetulan ayahnya punya lahan yang luas di sana.  Kinan akhirnya setuju dan pulang.  Dia langsung ke Jogja untuk mempelajari arsitektur Joglo yang dia kagumi.  Setahun kemudian jadilah bangunan besar bernuansa joglo yang menjadi rumah tinggal sekaligus studionya.

Kinan sangat betah di rumahnya.  Bila sedang melukis, dia bisa berhari-hari bahkan bermingu-minggu tanpa sedetikpun meninggalkan rumah.  Paling tidak sekali seminggu Ibu Mien datang dengan mobil yang penuh dengan barang-barang dari supermarket untuk stok kebutuhan sehari-hari anak semata wayangnya itu.  Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, stok makanan, minuman, sabun dan segala perlengkapan yang Kinan perlukan.  Kinan adalah tumpahan kasih sayang kedua orang tuanya, sehingga membelikan keperluan seperti itu sama sekali tidak merepotkan bagi Ibu Mien.  Dan melakukan ini memang inisiatifnya sendiri.

Karena anak tunggal itu pula maka semua harapan bertumpu pada Kinan.  Selain sebagai penerus yang akan menjalankan perusahaan orang tuanya kelak, juga yang terutama adalah sebagai pembawa penerus keturunan.  Bukankah hal itu yang selalu menjadi keinginan terbesar setiap orang tua?  Meneruskan garis keturunan!

Saat pulang dari Paris, Kinan sudah berumur 27 tahun.  Ibu Mien mulai kasak kusuk menanyakan tentang calon suaminya.  “Mama dulu menikah dengan papa kamu umur 22 loh!” begitu selalu katanya bila Kinan mengatakan masih terlalu muda untuk menikah.  Ini juga salah satu alasan tersembunyi Kinan segera tinggal di rumahnya sendiri, yaitu menghindari rengekan orang tuanya untuk segera beranak pinak.

Sungguh Kinan sangat memahami apa yang diharapkan orang tuanya.  Tapi ada satu hal yang orang tuanya pasti tidak paham tentang dirinya.  Kinan punya satu rahasia besar.  Sungguh sangat besar sehingga tidak mungkin dia bagikan pada ibunya, walaupun Ibu adalah orang yang paling dekat di hatinya.  Kinan khawatir orang tuanya akan remuk karena tidak akan sanggup menerima rahasia itu.

Saat merasakan tekanan yang luar biasa besar, sering kali Kinan ingin mengatakannya, “Ma, aku bukanlah anak yang dapat diharapkan untuk menghasilkan penerus keluarga.  Bukan karena aku mandul, tapi karena aku tidak punya hasrat pada lelaki.  Aku tidak mungkin menikah dengan lelaki.”  Tapi kalimat itu hanya sampai pada pangkal tenggorokannya saja, karena tidak kuasa melihat wajah ibunya yang lembut itu akan berubah pucat pasi.

Kinan teringat suatu waktu saat SMA.  Saat ulang tahunnya, Roy yang saat itu adalah pacar Kinan datang bersama teman-teman yang lain.  Saat orang tuanya tahu Kinan berpacaran dengan teman sekolahnya itu, mereka langsung menyatakan tidak setuju.  Sejak itu Kinan tidak pernah lagi menceritakan tentang teman-temannya, karena orang tuanya punya standar yang sangat tinggi untuk jadi pacarnya.  Apalagi untuk jadi suami!  Kurang begini, kurang begitu, terlalu begini, terlalu begitu.  Saat itu Kinan tidak mau membantah orang tuanya.  Lagi pula dia pacaran dengan Roy hanya karena ikut-ikutan teman yang lain.  Anak cowok di sekolahnya terlalu banyak yang mencoba menarik perhatiannya.  Dengan menjadi pacar si A misalnnya, berarti yang lain akan tahu diri dan menjaga jarak, terutama bila si A adalah anggota kelompok jagoan.  Jadi saat itu berpacaran hanya karena unsur politis, bukan romantis.

Saat pacaran dengan Roy, dia sempat bingung dengan dirinya.  Hatinya tidak pernah tergetar terhadap apapun yang dilakukan Roy.  Dia tidak suka kalau Roy berusaha memeluk atau menciumnya.  Itulah sebabnya dia selalu membawa Aryo, sahabatnya, bila berjalan dengan Roy.  Dan tentu saja Roy tidak suka dan cemburu pada Aryo karena Kinan lebih sering bersamanya.  Tapi Kinan tidak perduli.

Sebenarnya saat di kelas satu SMA, Kinan sempat suka pada teman sekelasnya.  Mereka tidak terlalu dekat memang, tapi Kinan suka mencuri-curi pandang padanya.  Kinan termasuk anak yang pendiam.  Dia lebih suka mengamati orang-orang di sekitarnya.  Jadi tidak ada yang tahu bila dia sedang menyukai seseorang.  Termasuk Amy, cewek manis yang periang.

Kinan punya buku gambar yang semua isinya adalah lukisan Amy.  Dia tidak pernah mau menggambar Amy di sekolah, tapi di kamar saat dia sendiri.  Walau mereka jarang sekali berbicara, memandanginya bersama teman-teman lain cukup menghibur Kinan.  Kinan sering terserang gugup bila tiba-tiba Amy menegurnya.  Suatu hari dia mendengar Amy akan pindah ke Surabaya setelah selesai ujian.  Berita itu membuatnya sedih sekali.  Hari terakhir ujian, Kinan memberikan sebuah lukisan terbaik dari koleksinya.  Dia memasukkan lukisan itu di dalam amplop besar supaya tidak ada yang mengetahui.  Sebagai kenang-kenangan katanya saat itu.  Amy sangat senang dan bangga menerima hadiah itu sehingga dia membukanya di depan teman-teman yang lain.  Kinan sempat malu dan takut bila perasaan yang dia sembunyikan diketahui orang lain.  Syukurnya yang dia takutkan tidak terjadi.  Rahasianya masih miliknya sendiri.

= Ʊ =

Jakarta, 12 November 2013

Mery DT

@zevanya

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Teaser “Mariage Blanc” BAB. 1 Bagian 1

  1. Sinyo says:

    Sejujurnya, bukunya dah jadi atau belum?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s