I love you, Cibi!

Cibi1 Aku punya anjing jenis Shih Tzu – Maltese yang kuberi nama Cibi, pemberian seorang teman setahun yang lalu saat usianya 2 bulan.  Aku bukan penggemar Cherry Belle sehingga kuberi namanya Cibi, tidak sama sekali.  Namanya  bukan Chibi, tapi Cibi.  Nama itu tercetus begitu saja.  Ini sebenarnya bukan anjing pertamaku, karena ketika masih kecil kami sudah terbiasa memelihara anjing ras kampung.  Tapi anjing-anjing itu biasanya tidur di luar rumah.  Anjing penjaga.   Sementara Cibi adalah anjing di dalam rumah, malah dia seringan tidur denganku.  Dapat dikata Cibi adalah anjing pertama yang sangat attach ke aku.

Dia pernah membuat aku menangis tersendu-sendu ketika di usia 5 bulan dia diare dan muntah-muntah.  Dengan berlinang air mata aku membawanya ke dokter hewan di Ragunan.  Saat dia sakit diare yang ke dua kali, aku lebih tenang membawanya ke dokter.

Cibi ini tidak pernah di latih professional, hanya oleh aku dan orang-orang di rumah.  Dengan bahasa Indonesia tentunya.  Dia tidak mengenal kata perintah yang tunggal sepeti “duduk, berdiri, guling-guling, dll”, tapi kami terbiasa berbicara padanya.  Dan dia paham.  Misalnya kalo aku lagi kerja hingga tengah malam, dia tidur di bawah kursiku, trus kubilang “Cibi tidur dulu sama opung gih!”  Tak lama dia akan ke tempat tidur ibuku dan melungker di kaki ibuku.  Kalau aku sudah mulai berbaring, dia sigap meloncat ke tempat tidur dan melungker di ketekku.  Bila sudah bosan di bagian ketek, dia tidur di antara betisku.  Kalau dia dibawa jalan ke luar rumah, begitu pulang, dia akan langsung masuk ke kamar mandi minta dicucikan kakinya.  Awalnya memang dibiasakan seperti itu, lama-lama setiap masuk rumah setelah main di luar dia akan duluan ke kamar mandi menunggu kita untuk membilas kakinya.  Kalau ada orang asing ke rumah dia sudah siap-siap menggonggong trus kita bilang gak boleh gonggong, dia tak akan menggonggong tapi ngedumel dengan suara keselnya.  Untuk buah-buahan, Cibi paling suka makan timun dan jeruk.  Kalau tiba-tiba dia lepehkan timun yang kita kasi, trus kita kasi lagi ke dia dengan mengatakan “Cibi, kamu suka ini.”  dan dia akan makan.  Sangat menggemaskan.

Kebiasaannya yang tiada duanya adalah, sambutannya yang luar biasa bila kita pulang setelah beberapa saat di luar, seperti sudah setahun tidak ketemu.  Misalnya setelah pulang belanja grocery yang cuman 1 jam saja sambutannya sudah seperti lama sekali tidak ketemu.  Dia meloncar-loncat dan menciumi.  Apalagi bila aku baru pulang setelah beberapa hari di luar rumah, sampai besok lusa dia akan ngintilin aku kemana saja.  Mandi pun ditungguin di depan pintu.  Begitulah Cibi.

Sepuluh hari lalu tiba-tiba bulunya rontok, semula hanya sedikit, lama-lama melebar di bagian leher dan tengkuk.  Terus terang aku cemas sekali.  Hal pertama yang kulakukan tentu browsing mencari info tentang penyakitnya.  Karena selama ini Cibi tidak pernah punya kutu, jadi kupikir jamur.  Karena kata artikelnya jamurnya bisa dihilangkan dengan menggosok-gosokkan kunyit ke kulitnya, maka malam itu bulu Cibi diseputaran leher dan tengkuk menjadi kuning karena ku gosokkan kunyit.  Gw paling malas megang kunyit, tapi demi Cibi apapun kulakukan.  Tanganku pun menjadi kuning berhari-hari.  kemudian pintar-pintaranlah aku mengkombinasikannya dengan saleb jamur yang ku beli di apotek, juga obat minum yang kata apotekernya bagus untuk ngobati jamur.  Setelah 2 hari tetep tidak ada perubahan.  Aku juga memandikannya tiap hari (3 hari berturut-turut) dengan memakai sabun asepso.  Memang sejak awal aku sudah ingin membawanya ke dokter, tapi tidak ada yang mengantarkan.  Hari sabtu dua minggu lalu akhirnya kubawa ke dokter hewan di Ragunan.  Setelah diperikasa, dokter hewan yang berjilbab itu mengatakan itu bukan jamur. WHATTT???

Kata dokter, ada parasit yang hidup di bawah kulit yang menyerang daya tahan tubuhnya dan merontokkan rambutnya.  Itu bukan Jamur.  Ternyata beberapa hari ini aku salah memberi treatment!!!  Cibi kemudian disuntik anti parasit dan vitamin dan kudu membeli obat dari apotek.  Ini sudah 9 hari.  Rambutnya kupotong pendek dengan gaya segi (segitu-gitunya alias tidak beraturan), yang penting pendek dan tidak menambah kerontokan.  Secara penampilan Cibi berada dalam titik terendahnya.  JELEK.  Karena rambutnya jadi pendek sekali dia kelihatan kurus.  berbeda sekali dengan sebelumnya.  Sekeliling lehernya dan sebagian punggungnya menjadi botak.  Yang tinggal hanya kulit dengan bulu-bulu tipis yang baru tumbuh, seperti Chihuahua.

Tapi yang tak berubah adalah rasa cinta kami pada Cibi.  Dia tetap anak kesayangan di rumah.  Bagi kami Cibi bukan lagi seekor anjing, dia itu anggota keluarga.  Dia sudah seperti anak bagiku.  Walaupun dia sangat jelek seperti anjing kurap liar, tapi aku sangat-sangat mencintainya.  Tak terhitung berapa kali aku berdoa sambil menangis demi kesehatannya.  Sabtu ini dia harus ke dokter lagi untuk disuntik.  “Semoga Cibi sembuh total ya, nak! Semoga bulu-bulunya kembali seperti semula.  Kalaupun tidak secakep semula, aku tetap mencintaimu kok.”  I love you, Cibi… a lot!!!

Jakarta, 15 Oktober 2013

Mery DT

@zevanya

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to I love you, Cibi!

  1. Mery DT says:

    Emmm iaaaa nak.. hahahahaha….

    Like

  2. bybyq says:

    Saya sendiri punya banyak anjing di rumah. Jumlahnya 8 ekor. Nakal-nakal semua.
    Semenjak kami beranjak dewasa, orang tua di rumah tidak ada yang menemani, jadi Mama saya yang memang sejak dulu pencinta anjing mulai memelihara anjing-anjing ini. Btw, yang satu sedang hamil… moga-moga persalinan lancar, dan kami punya bayi baru di rumah ^__^

    Like

    • Mery DT says:

      8 ekor??? WOW banyak amattt….. Pasti seru banget tuh rumah 🙂 Apa lagi ada yg sedang hamil.. tambah rame tuh 🙂 Semoga anak-anaknya nanti sehat-sehat yaa… 🙂

      Like

      • bybyq says:

        Iya… Tadinya kami sih nggak berencana punya sebanyak itu. Satu daschund, satu Yorkie dan satu Maltese sudah cukup. Tapi kemudian mama kepengen nambah, dan nambah lagi, dan begitu si Yorkie dan Maltese melahirkan beberapa bulan lalu, mama saya ga tega jualnya. Breeder gagal, kata papa saya….
        Moga-moga proses kehamilan dan kelahiran berjalan lancar. Dokter hewan kami sih sudah geleng-geleng kepala, dan sampai minta tolong teman satu kliniknya buat bantuin ngerawat 8 monster di rumah…

        Like

        • Mery DT says:

          Iyaaa… ngebayangin 8 trus akan nambah lagi dalam waktu dekat… wah… kebayang sik hebohnya… Jadi ke shelter ya? hahahaha… Tapi anjing itu emang luar biasa. Suka cita yang mereka berikan dengan ketulusan dan kesetiaannya itu ketagihan.
          Cibi lagi menstruasi sik ini, waktunya di kawinkan, tapi aku gak siap bila harus nambah. Tempatku gak cukup untuk nambah anjing hehehe… Nanti-nanti aja deh… 🙂

          Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s