Renungan malam bersama Abah Iwan Abdulrachman

Abah Malam Keakraban Rimbawan atau MKR adalah semacam reuni nasional tahunan alumni Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman.  Tempat reuni selalu berganti-ganti tiap tahun.  Setelah 2009, tahun 2013 ini pun IKA Jabar-DKI-Banten menjadi tuan rumah dan kali ini venuenya adalah Cikole Jayagiri Jawa Barat. Acara MKR biasanya 3 hari 3 malam.  Peserta MKR Cikole ini sekitar 200 orang, totalnya sekitar 250 bersama keluarga alumni yang diajak serta.

Pada malam hari biasanya ada pertunjukan musik.  Untuk MKR Cikole ini kami sudah menjadwalkan seniman Ir. Iwan Abdulrachman yang sering dipanggil Abah Iwan yang berasal dari Jawa Barat yang juga merupakan pencipta lagu Hymne Universitas Mulawarman.  Pagelaran music Abah Iwan dilaksanakan tanggal 14 September 2013 malam di aula Grafika Resort Cikole.

Sebagai panitia, aku ikut survey lokasi bersama teman-teman panitia lainnya.  Bernegosiasi dan berdiskusi dengan manajemen Abah Iwan.  Saat itu semua berjalan sangat baik.  Tiba-tiba suatu malam, ketua panitia membaca ulang penawaran, ternyata ada yang salah dipahami.  Kemudian didiskusikan lagi dengan pihak manajemen.  Sempat terjadi kebuntuan sehingga kami anggap batal.  Tapi ternyata acara itu tetap berlangsung.  Tapi sudah ada ketidak puasan antara kedua belah pihak.  Kami (panitia) menganggap mereka (managemen) terlalu cerewet, mereka menganggap kami terlalu pelit.  Begitulah kurang lebih.  Karena aku tahu semua masalah, sehingga pada acara pementasan Abah Iwan itu aku seperti kehilangan nafsu untuk menikmatinya.  Aku tahu itu bukan salah Abah, tapi kesalah pahaman antara kami dan manajemen Abah.  Aku sempat berkomentar kepada teman yang duduk disebelahku “Ini apaan sik?  Pamer biodata!!”

Tapi seiring dengan pertunjukannya yang solo performance hanya dengan sebuah gitar, secara perlahan perasaanku diluluh-lantakkan.  Beliau semacam pendongeng yang bernyanyi dengan hati.  Semua lagu yang dia hasilkan melalui proses penciptaan yang unik.  Misalnya, saat menciptakan lagu hymne Universitas Mulawarman, dia pergi sendirian ke tengah hutan Kalimantan selama berhari-hari mendengarkan dedaunan dan gemercik air yang berbicara padanya untuk mendapatkan ROH lagu tersebut.  Berikut lirik dari lagu tersebut:

HYMNE UNIVERSITAS MULAWARMAN

Mulawarman dan bumi ini
Mulawarman dan diri kami
Satu dalam smangat dan cita
Menyala bagai matahari yang tak kami biarkan padam

Dengan darah dan keringatku
Akan kubuktikan baktiku
Bagimu rakyat dan bangsaku
Tumpuan harapan citaku
Mahakam akan menjadi saksi
Tak kami biarkan berhenti

Oh Mulawarman-ku
Tumpuan harapan bangsaku
Mahakam akan menjadi saksi
Tak kami biarkan berhenti

Ini adalah kali pertama aku menyaksikan pertunjukan seni Abah Iwan.  Dan aku JATUH CINTA.  Aku mendenggarkan setiap cerita yang mengantarkan sebuah lagu.  Dan aku menikmati setiap nada dari petikan gitarnya dan lagu yang dia bawakan.  Semua menjadi berbeda saat kita mendengarkan  sebuah lagu yang diawali dengan cerita dibalik penciptaan lagu tersebut.  Aku terkesan hingga menitikkan air mata saat Abah Iwan bercerita proses pembuatan lirik lagu “Burung Camar” yang dipopulerkan Vina Panduwinata.  Beliau pergi ke sebuah pantai selama berhari-hari.  Dalam awal lagu dia memuja keindahan alam di mana burung camar bercanda melayang-layang meniti buih.   Tapi kemudian keceriaan itu berubah drastis karena melihat seorang nelayan yang sudah tiga hari kelaparan. Maka terciptalah lirik ini;

Tiba-tiba kutertegun lubuk hatiku tersentuh
Perahu kecil terayun nelayan tua di sana
Tiga malam bulan tlah menghilang
Langit sepi walau tak bermega

Tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
Cuma kisah sedih nada duka hati yang terluka
Tiada teman berbagi derita
Bahkan untuk berbagi cerita

Aku tersentuh saat dia mengatakan; “Bukan cerita 3 hari tidak makan itu yang memilukan, tapi ketiadaan teman berbagi cerita apalagi derita, karena teman pergi menjauh dan sibuk dengan urusannya masing-masing.”  Aku pun merasakan seperti itu, menjauh dari teman yang membutuhkan bahu untuk menangis, atau di saat lain aku kehilangan bahu untuk berbagi beban dan tangis.

Tak terasa 2 jam pertunjukan telah usai.  Aku berdiri dan memberikan penghormatan melalui tepuk tanganku yang tulus.  Aku malu hati dengan celotehku diawal pertunjukan.  Setelah usai bersalam-salaman dengan para petinggi, aku mendekati beliau dan menyalaminya dan mengucapkan “Terima kasih pertunjukannya, Abah.  Saya sangat tersentuh dan sangat menikmati dongeng proses pembuatan lagu tersebut.  Saya sangat memahaminya.”  Tentu kalimat itu tidak lancar saya ucapkan karena berusaha menahan air mata yang mulai mengambang.  Aku terbata-bata.  Abah sempat menanya, “kamu kerja apa?” aku jawab “Aku penulis, makanya aku sangat paham proses penciptaan karya Abah.”  Dia tersenyum dan menggenggam tanganku erat.

Ya suatu keuntungan punya kesempatan menikmati pertunjukan beliau dan suatu kehormatan bisa bersalaman dan ngobrol dengan beliau walau sebentar.  Semoga Abah Iwan diberi umur panjang, sehingga aku masih bisa menikmati pertunjukannya di lain waktu.  Sehat selalu, Abah!

Jakarta, September 17, 2013

Mery DT

@zevanya

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s