Erasmus Huis dan Penderitaanku

Erasmus Huis  Seorang temen dari Q-Munity Kesetaraan Indonesia menggundang untuk hadir di acara mereka pada hari minggu sore kemaren (30 Juni 2013) di Erasmus Huis Jakarta.  Acaranya cukup menarik, ada diskusi yang bertema “Out in work space, Yay or nay? Dan pemutara film “Facing Mirrors”.

Ini adalah kali pertama aku ke acara khusus yang dilaksanakan oleh LGBT.  Tentu aku seperti alien yang terdampar di tengah-tengah manusia.  Aku seperti salah tempat, tidak punya teman saat duduk di ruang diskusi, di acara makan malam dan saat nonton film.  Orang-orang mungkin berpikir, kasian nih orang.  Tapi tidak masalah, sudah biasa, aku suka mengamati di dalam kesendirianku.  Dengan pandanganku, aku mempelajari lingkungan sekitar.  Langsung dapat banyak hal yang dapat dicerna dalam ruang imajinasiku.

Oh iya, pasti ditempat itu tidak semua LBGT karena undangannya untuk LGBT dan LGBT Friendly.  Ada juga nara sumbernya yang bukan LGBT.  Tapi benar-benar membuat aku tak tahu harus bersikap.  Takut aja sekiranya seorang gadis kuajak ngobrol, trus dianggap pdkt, atau malah dicemburuin gadis lain.  Atau bila mengajak ngobrol yang laki, tapi mereka biasanya dengan pasangannya. 🙂 Makanya lebih aman bagiku, duduk, diam, nikmati acara.

Satu hal yang tidak ku prediksi sebelumnya adalah, bahwa ruangan itu sangat-sangat dingin.  Aku hanya memakai celana cargo ¾, dengan kaos tipis. Pasmina saya taruh di tas, senjata kalo kedinginan.  Ternyata senjata itu kurang mumpuni!!!  Seharusnya aku juga bawa jaket tebal dan kaos kaki dan topi kupluk.  Setelah setengah dari film itu aku sudah mulai menggigil.  Aku mau meninggalkan ruangan, tapi sayang karena filmnya bagus banget.  Itu film Iran, sangat sulit mendapatkannya di toko DVD 🙂

Tepat pukul 10 PM filmnya selesai, aku langsung lari keluar ruangan dan ke luar gedung cari kehangatan.  Karena pasti udara di luar gedung lebih hangat.  Tapi ternyata tidak terlalu hangat.  Aku agak berlari menyebarng lewat jembatan penyebrangan dan menyetop taxi menuju selatan.  “Jangan pake AC pak!” kataku pada sopir.  Sepanjang perjalanan pulang itu mulutku bergumam kedinginan.  Beberapa kali si sopir melihat dari kaca spion.  “Tidak apa-apa pak, saya hanya kedinginan saja,” kataku menjelaskan.  Telingaku mulai mendenging, persendian kaku dan nyeri.  Sampai di rumah aku membalur seluruh tubuh dengan minyak kayu putih.  Minum teh hangat, minum ini itu supaya segera normal lagi tubuh ini.  Ternyata tidak semudah itu sodara-sodara.  Sepanjang malam itu aku menderita, tidak bisa tidur karena seluruh persendian sakit dan kulit terasa perih.  Isi perut seperti dikocok-kocok dan diare.  Masuk angin.  Demam.  Pusing.  Tak pernah terpikir bisa tersiksa sedemikian mengerikan akibat kedinginan.

Dulu, sekitar 4 tahun lalu pernah ke The Peak Bandung bersama gank Cina.  Dengan pedenya aku hanya mengenakan hotpans dan kaos lengan panjang, untungnya.  Setelah beberapa saat kedinginan menyerangku.  Gigiku gemeretak dan ribut karena saat itu aku masih pakai behel.  Teman-teman sampai mengolok-olok aku si gigi besi.  Tapi kedinginan itu bisa segera diusir dengan segelas bir.  Tapi ke gedung ini aku gak bisa bawa minuman penghangat 🙂

Aku memang tidak tahan dingin yang keterlaluan.  Tapi di rumah aku juga tidak bisa tidur kalau tidak ada AC, tapi suhunya hanya 25 drajat.  Itu AC yang baru di service, bila sudah mulai abis freonnya baru 20 drajat.  Tidak terlalu dingin, dan tidak panas.  Seperti itu suhu yang cocok dengan tubuhku.  Jadi bila aku terpapar udara dingin diluar batas normal suhu badan, aku langsung menderita, menggigil.  Oh iya, aku juga tidak tahan dengan kipas angin, masuk angin.  Keterlaluan!!!

Seharusnya hari ini aku bersama teman-teman alumni survey tempat reuni ke Cikole Bandung, tapi GATOT karena belum sembuh. 2 malam dan 2 hari, man!!!  Sungguh-sungguh penderitaan akibat kedinginan.  Itulah sebabnya sering mikir, gimana aku bisa hidup di tempat yang sedang musim salju?  Malam ini aku minta tolong nyokab untuk ngerokin punggung.  Kupikir itu caranya untuk mengeluarkan angin yg mengocok-ngocok perut.  Dan BOOM,…. Berhasil.  Punggung merah semua.  Jerit-jeritan karena sakit dikerokin.  Tapi setelah itu makan jadi terasa enak.

Oh iya, tadinya aku mau review film Facing Mirrors itu.  besok aja dech.  Ini sudah kepanjangan.  Noteself: jangan lupa bawa jaket dan kaos kaki kalo ke tempat dingin.!!  Sorry, ini edisi curhat.

Jakarta, July 2, 2013

Mery DT

Twitter:  @zevanya

 

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s